
Sesuai dengan keinginan istri barunya itu, Fajar membantu menyelesaikan urusan Bapak supir taksi sehingga supir taksi itu bisa dibebaskan dengan jaminan.
Fajar menyeringai licik didepan wajah Sheila, seolah memberi tahu pada gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu bahwa Sheila sudah berhutang budi kepadanya.
Tentu saja Sheila merasakan sebuah ketakutan tersendiri kala mata mereka bersirobok. Gadis cantik nan manis itu seketika menjadi murung saat menyadari bahwa kini ia sudah tidak bisa kabur lagi dari pria dihadapannya.
****
Pak Romi mengantarkan kepergian keluarga itu sampai ke depan halaman polsek.Sejauh itu pulalah, Fajar terus bersikap manis kepada Sheila seolah mereka menikah karena cinta. Padahal semua itu hanyalah kepura-puraan Fajar saja.
Setelah Papa dan Mamanya menolak membawanya pulang karena dianggap sudah menjadi tanggungjawab suaminya,kini Sheila mau tak mau harus ikut dengan Fajar pulang kerumah suaminya itu.
Bahkan Sampai sekarang Sheila merasa kalau semua ini hanya mimpi buruknya saja.Ia ingin cepat-cepat bangun dari mimpi buruk ini.Apalagi disepanjang perjalanan, Fajar hanya diam dan fokus menyetir.Sheila pun tak mau menoleh ke arah pria pemaksa itu. Ia sibuk dengan fikirannya sendiri, ia mencari cara agar bisa kabur dari Fajar bagaimana pun caranya.
Diam-diam Fajar terus memperhatikan gerak-gerik Sheila dari samping, karena gadis itu masih saja menoleh keluar kaca mobilnya, dan sepertinya tidak berniat untuk melihat ke arahnya ataupun ke arah depan.
Fajar kembali tersenyum menyeringai,bisa-bisanya gadis itu mengabaikan dirinya.
"Jangan berfikir kalau kamu bakalan bisa kabur dari aku lagi!!, saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi dari saya sampai saya sendiri yang akan membuang kamu!. " ancam Fajar.
Mendengar hal itu Sheila hanya bisa diam, ia masih sibuk dengan fikirannya sendiri, ia tidak mau ribut.Lebih tepatnya saat ini ia sedang ingin menghemat energi, sambil mencari celah untuk bisa kabur lagi.
"Ya Allah, tolong hamba ðŸ˜. "
Meskipun terlihat tegar, namun sesungguhnya bathinnya saat ini sedang menangis, entah apa yang akan dilakukan suaminya itu setelah ini.Sheila tidak mampu untuk membayangkan nya.
****
Di persimpangan jalan, Nyonya Fatiah meminta kepada suaminya untuk bertemu Sheila sebelum mereka berpisah. Hari ini putrinya menikah tanpa pesta meriah, ia tau bagaimana perasaan putrinya itu.Ia hanya ingin memeluk Sheila sebelum mereka harus tinggal dirumah yang berbeda.
"Berhenti dulu Pa!?, Mama pengen peluk Sheila. Anak kita satu-satunya sekarang baru saja menikah. Papa tahu kan mereka menikah karena apa,walau bagaimana pun, Sheila kita tidak pernah mencintai Pria itu Pa. Entah bagaimana Sheila akan diperlakukan oleh suaminya, Mama khawatir Pa. " rengek Nyonya Fatiah kepada Tuan Hari.
"Baiklah Ma, Papa juga merasakan hal yang sama.Papa juga ingin memeluk anak kita Ma. " Akhirnya Tuan Hari menghentikan laju kendaraannya dan melambaikan tangannya kepada mobil Fajar yang ada dibelakang mobilnya untuk berhenti juga.
"Apalagi yang orang tuamu mau??!, kenapa berhenti segala?!. " tanya Fajar dengan sedikit kesal. Ia pun menghentikan laju mobilnya dan menepi.
Sheila merasa ini adalah kesempatan emas baginya.Tanpa disuruh ia langsung melepas Seatbeltnya dan turun tanpa diminta oleh Fajar terlebih dahulu hingga Pria itu mendesis geram.
Secepatnya Fajar juga turun dan menangkap pergelangan tangan istrinya itu.
"Lepas Pak Fajar, lepasin!. " sentak Sheila.
"Mau kemana kamu hah?!. " ujar Fajar dengan emosinya ia mengeratkan cengkramannya sehingga Sheila merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya. Tangan yang putih muluskan itu berubah menjadi merah lekam.
"Hentikan nak Fajar! , jangan bersikap kasar seperti itu kepada putri kami, saya mohon. ðŸ˜" ujar Nyonya Fatiah.
"Anda mau apalagi,Mama mertua?. " tanya menantunya itu dengan nada kesal.
"Mama hanya ingin memeluk Sheila sebelum kami berpisah rumah Nak. " jawab Nyonya Fatiah dengan lembut.
"Mama... " Sheila berlari kepelukan Mamanya, rasanya ingin sekali ia berada didalam pelukan Mamanya lebih lama lagi,ingin ia tumpahkan segala kesedihan yang mendalam yang hatinya rasakan saat ini,betapa tidak?, ia harus mengubur cintanya dalam-dalam, entah bagaimana nanti ia menyampaikan berita ini kepada Akash sang kekasih.
Tak terasa air mata Sheila pun luruh juga, ia menangis dipelukan sang Mama.
"Jangan menangis sayang, nanti Mama akan sering mengunjungi kamu. Kamu tenang ya, kita masih bisa kontek-kontekan kok. " Ujar Nyonya Fatiah, mencoba menenangkan putrinya sambil mengelus rambut hingga ke punggung Sheila.
"Maaf!, saya rasa sudah waktunya kami pergi. Ini sudah mau hujan, cuacanya tidak baik. " ujar Fajar, seakan sengaja memutuskan pelukan antara Ibu dan anak itu.
Mau tak mau keduanya harus berpisah, sekali lagi Sheila memeluk Mamanya dan mengucapkan selamat tinggal.Sedangkan didalam hati Fajar, ia bersumpah tak akan membiarkan mertuanya terus mengunjungi istrinya itu.Yang ada malah dia akan selalu menghalangi Sheila untuk maju dan berkembang, ia akan menjadikan gadis itu sebagai pemuas hasratnya sampai ia benar-benar merasa puas dengan balas dendamnya dan Sheila bisa segera melahirkan seorang anak untuk dirinya dan masih banyak lagi rencana gila lainnya yang ia susun didalam otak cerdasnya itu.
"Jangan lupa kalau ada apa-apa telepon Mama ya sayang. " ucap Nyonya Fatiah yang sangat merasa khawatir sebelum akhirnya Sheila sudah dibawa oleh Fajar dengan mobilnya meninggalkan pertigaan itu terlebih dahulu.
****
Sheila yang masih menangis membuat Fajar merasa jengah,"Diamlah! aku tidak suka mendengar tangisanmu itu. Berisik!!. "bentak Fajar.
" Tidak suka??, bukankah seharusnya Anda senang saat melihat saya terpuruk seperti ini!. Atau jangan-jangan Anda mulai terbawa perasaan ?!. "ejek Sheila.
" Aku bilang diam itu artinya kamu harus DIAM!!. "bentak pria itu lagi.
Sheila terkesiap, ia sungguh tak menduga kalau nasibnya akan seburuk ini.Haruskah ia menyalahkan takdir?!.
Mobil yang dikemudian Fajar mulai memasuki sebuah rumah yang pernah Sheila datangi waktu itu.Rumah yang akan menjadi penjaranya, rumah yang akan menjadi saksi bisu kesedihannya. Sheila menatap rumah itu dengan tatapan sendu sebelum ia dipaksa Fajar untuk turun dari mobil pria itu.
Dengan langkah ragu, Sheila mengikuti Fajar yang menariknya masuk kedalam, dan kini ia langsung dibawa menuju ke sebuah kamar.
Jangan mengira kalau Fajar akan membawa Sheila ke kamarnya, karena Fajar tidak akan sudi jika ia harus membagi kamar miliknya dengan wanita yang sudah ia yakini menjadi penyebab kematian istri dan anaknya itu.
Sheila dimasukkan ke sebuah gudang yang penuh dengan barang-barang tak terpakai, yang bau dan pengap.Fajar mendorong tubuh Sheila sampai terhuyung tak berdaya ke lantai yang kotor itu.
" Awwww...!!. "pekik Sheila, pantat dan sikut nya menghantam lantai. Ia kesakitan.
" Hekh!!, jangan kira kamu akan bisa tidur dengan nyaman dirumah ini!. "ujar Fajar yang selalu memasang tampang marahnya di hadapan Sheila.
Gadis itu hanya bisa berusaha bangkit sendiri, meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit karena terjatuh barusan.
" Malam ini kamu nikmati malam pertama pernikahan kamu di gudang ini! ingat ya,anggap saja ini adalah hukuman karena kamu sudah mencoba kabur dari saya tadi. Dan kalau kamu coba-coba untuk kabur lagi, saya akan membuat kamu tidak bisa berjalan. Ingat itu!!!. "bentak pria itu sambil memegang dagu Sheila dan mendorongnya kasar.
Sheila meringis kesakitan,kebaya putih yang masih melekat ditubuhnya itu pun sudah berubah menjadi cokelat, karena debu yang kini menempelinya.
Tanpa diberikan selimut atau perlengkapan tidur yang lainnya, Fajar meninggalkan Sheila sendirian diruangan itu, bahkan lampunya sengaja ia matikan karena sakelar untuk lampu gudang itu ada didekat pintu gudang bagian luar.
" Jangan matikan lampunya, tolong. Pak Fajar. Saya takut gelapðŸ˜ðŸ˜. "Sheila hanya bisa menangis sambil mencoba meraih gagang pintu dan menggedor-gedor daun pintu itu. Tapi Fajar tak bergeming, ia masih tetap pada pendiriannya dan meninggalkan Sheila yang hampir mati ketakutan diruangan gelap dan pengap itu.
***
Kini Fajar sedang memandangi foto almarhumah istrinya,diusapnya kaca yang menjadi bingkai foto tersebut".Sayang,, apa kabarmu hari ini sayang?.Aku sudah memenjarakan wanita itu digudang, aku akan membuat ia merasakan betapa tersiksanya kamu saat kamu harus meregang nyawa karena keteledorannya!. " ucap Fajar sambil meratap.