Your Revenge

Your Revenge
Diantara Dua Pilihan



Secepatnya Fajar menutup pintu mobilnya dan segera masuk, lalu mengemudikan mobilnya kembali ke jalan raya, sedangkan Angga dibiarkan terduduk kesakitan disana sendirian.


Sheila sangat merasa tidak enak dengan apa yang terjadi kepada Angga, karena demi membebaskan dirinya dari kungkungan Fajar, Angga harus menerima beberapa pukulan yang membuatnya terluka.Angga segera menelpon teman-temannya untuk datang menjemputnya di lokasi dimana ia berada sekarang setelah mobil yang dibawa Fajar hilang dari pandangannya.


"Shiiittttt, tunggu saja kau Pak Fajar, aku pasti akan membalas untuk rasa sakit ini!!." kesal Angga.


Sementara itu di dalam mobil Fajar, Sheila kembali terisak. Ia mencoba menahan laju air matanya, namun tidak bisa.Bahkan saat ini ia sedang memalingkan wajahnya menatap kearah kaca jendela, tak ingin membiarkan pria bernama Fajar itu menatap wajahnya.


"Siapa cowok yang tadi?, pacar kamu?. " tanya Fajar penuh selidik.


"Kakak tingkat! "jawab Sheila ketus.


"Tapi sepertinya dia rela bertarung demi membebaskanmu, pasti dia punya perasaan khusus sampai rela babak belur seperti itu." ujar Fajar.


"Bukan urusan Anda!, sekarang, tolong turunkan saya. Anda sudah puas membuat hidup saya tidak tenang belakangan ini,semuanya berantakan, saya juga masih harus kembali ke kampus. Kalau sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi, sebaiknya antarkan saya balik ke kampus,gara-gara Anda mobil saya tertinggal disana! . "ucap Sheila dengan nada kesal.


" Kamu akan saya antarkan kembali ke kampus, tapi kalau kamu sudah menandatangani surat perjanjian damai itu dengan saya!. "ujar Fajar tegas.


" Surat perjanjian apa lagi?, saya tidak akan sudi kalau harus menikah dengan Anda, asal Anda tahu ya, saya ini sudah punya pacar dan pacar saya itu sekarang sedang kuliah di Australia."jawab Sheila jujur, tapi hal itu tidak akan menyurutkan ambisi Fajar untuk membuat gadis itu menderita.


"Jangan kamu Pikir dengan kamu punya pacar, saya akan memaafkan dan mengampuni kamu Nona.Hati saya baru akan tenang jika saya bisa membuat kamu menderita, ingat itu!!. "


"Kalau begitu cekik saja saya, biarkan saya mati.Biar adil, nyawa dibayar nyawa!!. " sahut Sheila dengan beraninya.


"Kamu pikir itu bisa membuat saya puas?!, saya ingin kamu mengembalikan anak saya yang harus meninggal karena kelalaian mu itu!, dan jalan satu-satunya kamu harus mau menjadi istri saya sampai kamu melahirkan seorang anak untuk saya. Setelah itu saya akan langsung menceraikan kamu, bahkan saya mungkin akan membuang kamu seperti sampah. " ujar Fajar lagi.


"Untuk apa Anda melakukan semua itu,tidakkah Anda merasa bersalah jika anda memperlakukan seorang wanita seperti itu!?, mendiang istri Anda pasti tidak akan bahagia disana jika melihat kelakuan suaminya seperti ini!. " Sheila mencoba mencari celah agar Fajar mau mengerti.


"Istri saya pasti akan senang kalau saya bisa membalaskan dendam untuknya. " jawab Fajar.


"Sudahlah, sekarang saya minta turunkan saya. Saya harus kembali ke kampus!. "


"Saya bilang tidak bisa, ya tidak bisa! . Kamu harus ikut saya ke kantor saya untuk menandatangani surat perjanjian itu, karena kalau tidak, saya pastikan kamu akan malu seumur hidup kamu dan akan dipandang rendah oleh semua orang yang melihatmu karena mereka akan tahu kalau kamu adalah seorang pembunuh!. " ancam Fajar.


".... " Sheila tak bisa berkata-kata lagi, bagaimana perasaan orang tuanya yang mati-matian membelanya dan melindungi dirinya kalau sampai mereka tahu Sheila akan dipermalukan.


Yang pasti, kalau nama baik Sheila tercemar maka nama mereka sebagai orang tuanya Sheila juga sudah pasti akan tercemar. Sheila menggelengkan kepalanya ketika membayangkan hal itu.


"Kenapa?!, kamu gak mau kan kalau Papa dan Mama mu yang sosialita itu kehilangan muka mereka, apalagi saya juga punya sebuah kartu truf yang bisa membuat karir politik Papa mu yang sok dan sombong itu hancur tak bersisa. " ancam Fajar.


"Lihat saja, nih!. " Fajar mengambil sebuah amplop cokelat dari dasbor mobilnya dan melemparkan nya kepangkuan Sheila.


Dengan rasa penasaran yang teramat dalam, Sheila segera membuka amplop cokelat itu dan membukanya dengan tidak sabar. Matanya tiba-tiba membelalak saat ia melihat ada beberapa foto sang Papa yang sedang melakukan sebuah transaksi di tempat yang sepi.Di sana terlihat jelas wajah Tuan Hari yang sedang menerima sekoper uang dari seseorang.


"Bagaimana Nona?, apa kamu ingin keluarga yang kamu bangga-banggakan itu hancur?.Kamu tinggal pilih, menikah dan melahirkan seorang anak untuk saya.. atau...kamu akan melihat kehancuran keluarga mu dan betapa malunya kalian nanti untuk bisa melihat dunia luar?!. " Fajar tersenyum miring dan melesatkan mobilnya masuk kedalam pagar sebuah rumah yang berukuran sangat besar, dengan halaman yang luas dan taman yang indah, tak lupa air mancur yang dengan cantiknya menari-nari dibagian depan rumah.


Sheila baru tersadar disaat mobil yang ia tumpangi itu sudah berhenti dan Fajar meminta dirinya untuk segera turun dari mobil.


karena Sheila tak kunjung turun dari mobilnya, Fajar langsung membuka pintu mobil dibagian sebelah Sheila. "Tunggu apalagi?, ayo turun!. " ujarnya.


"Tempat apa ini?!. "tanya Sheila.


" Tadinya aku akan mengajakmu ke kantorku, tapi aku baru ingat kalau surat perjanjian itu sudah dikirimkan asisten ku kerumah. Jadi ayo cepat masuk dan tanda tangani!. "ucap Fajar dengan menyentak tangan Sheila.


" Ta-pi... s-saya harus memikirkannya dulu. "


"Apa kamu masih mau memilih?, atau saya akan kirimkan foto-foto Papa kesayanganmu itu ke KPK?. "


"Jangan..! " teriak Sheila, ia tentu saja sangat mengkhawatirkan Papanya.


"Kalau begitu, tunggu apalagi. Cepat setujui perjanjian itu!, ingat Nona, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya!. "nada ancaman kembali terdengar dari mulut Fajar, sehingga membuat bulu kuduk Sheila berdiri.


Terbayang di benaknya saat Fajar memukul telak Angga tadi, semakin membuat Sheila merasa bahwa ia benar-benar tidak punya pilihan.Sheila pun terpaksa ikut masuk kedalam rumah milik Fajar itu dan ia pun mengikuti kemanapun langkah kaki pria itu membawanya.


Sampai tibalah mereka di sebuah ruangan yang lumayan besar, sepertinya itu adalah ruang kerja Fajar yang ada dirumah ini.Tersusun ratusan buku-buku tebal tentang hukum di rak-rak dari kayu yang tersusun rapi merapat ke dinding.


Sheila mengedarkan pandangannya sejenak untuk melihat-lihat, sekilas ia mengagumi gaya interior rumah ini yang semua furniture nya terlihat dipesan secara khusus, sehingga sangat pas dengan bentuk ruangannya.


Fajar menyadari kalau gadis dibelakangnya kini sedang terpukau dengan tumpukkan buku tentang hukum yang berjejer rapi di rak miliknya.


" Kamu lihat sendiri 'kan?, sepertinya kamu akan betah kalau tinggal disini untuk satu tahun saja, sampai anak itu lahir. "ujar Fajar.


" Anak yang mana?, Anda sepertinya sangat yakin sekali ya?!. "Sheila mencoba tetap terlihat tegar, walaupun dihatinya sedang down se-down down nya.


" Itu terserah kamu!, pilihannya ada padamu.Saya hanya akan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang kamu pilih, gampang kok bagi saya. Yang pasti keduanya akan membuatmu sama-sama menderita. "ujar Fajar dengan santainya.