
Sepanjang malam gadis itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang tidak mujur.Jika biasanya ia akan diperlakukan bak Tuan Putri dirumah orang tuanya, tapi disini... ia bahkan tidak lebih baik dari pada seekor bina*ang.
Fajar membuatnya harus mengalami yang namanya dikurung ditempat yang kotor dan pengap. Tangisan pilu Sheila pun tidak bisa membuat pria itu merasa iba.
"TOLONG BEBASKAN SAYA DARI SINI!!!.. hiks.. hikss .. " Pekiknya mengiba.
Tapi tak satupun orang dirumah itu yang datang membantunya, karena memang saat ini Fajar sudah meliburkan semua pelayan yang ada dirumah itu.Semua pelayan diizinkan pulang ke kampung halaman mereka selama satu bulan penuh.Entah apa tujuan dari pria pengacara itu.
Bukan hanya kedinginan dan kepengapan yang Sheila rasakan, tapi juga kelaparan. Bahkan ia belum sempat makan dari siang, tadi pagi saat akan berangkat kuliah yang akhirnya tidak jadi, ia hanya sempat minum susu setengah gelas karena insiden klakson mobil yang dibunyikan nyaring oleh Fajar.
Kini Sheila hanya bisa duduk sambil memeluk kedua lututnya, suara-suara aneh dari balik tumpukan kardus didalam gudang itu membuat Sheila ketakutan.Sepertinya gudang itu dipenuhi dengan tikus, jangkrik,dan kecoa yang pastinya sangat menjijikkan.Sheila terus menangis, hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
*
*
*
Sudah hampir tengah malam,Fajar masih tidak bisa juga memejamkan matanya.Fikirannya sedang gusar sekarang, disatu sisi ia masih teringat dengan kenangan indah dengan almarhumah istrinya.Namun disisi lain ia juga memikirkan Sheila yang kini sedang ia sekap di gudang.Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?.
Fajar melirik jam weker yang ada di nakas,ini sudah enam setengah jam sejak ia mengurung Sheila digudang pengap itu.Hati nuraninya bergejolak menentang, walau bagaimana pun aslinya dia bukan orang jahat, apalagi menyiksa seorang wanita, itu sama sekali tidak pernah ada didalam kamusnya.
Tapi ini Sheila, wanita yang sudah menyebabkan ia kehilangan kebahagiaan terbesarnya.Rasanya cukup adil jika ia memperlakukan wanita itu dengan tidak baik.Anggap saja itu sebagai balasan dari apa yang sudah ia perbuat.Hati kecil Fajar terus berperang, ia dilanda dilema.
Sampai akhirnya ia memilih untuk melihat keadaan istri barunya itu digudang yang ada dilantai bawah.Fajar setengah berlari menuruni anak tangga rumahnya,entah kenapa ada perasaan takut yang melanda hatinya,takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada gadis itu.Sebut saja ia sedang mengkhawatirkan gadis cantik yang kini sedang ia sekap.
Sembari berjalan menuju gudang, ia pun menyalakan sebagian lampu agar bisa melihat lebih terang,begitu juga dengan lampu yang ada didalam gudang.
Perlahan Fajar mendekatkan telinganya ke pintu gudang untuk mendengarkan suara apa yang ada didalam sana.Tidak ada suara apapun yang terdengar selain suara cicitan tikus yang saling bersahutan dengan suara jangkrik, tiba-tiba saja Fajar merasa sesuatu sudah terjadi pada gadis itu, karena sejak beberapa menit ia menempelkan telinganya, tak ada sedikitpun suara Sheila yang terdengar di telinganya.
Hatinya mendadak khawatir, tidak mungkin gadis itu bisa melarikan diri dari sana, apalagi pintu jendela gudang itu sudah dipasang terali besi dan sekarang dihalangi oleh banyak kardus dan juga lemari-lemari bekasi yang sudah tidak terpakai.
Secepatnya Fajar merogoh kunci yang ada disaku celananya, ia membuka pintu itu dengan perasaan was-was.Lampunya memang sudah ia nyalakan, dan setelah pintu dibuka... 😨
Fajar terbelalak melihat kondisi Sheila yang tersender dibekas sofa yang sudah kotor berdebu dengan tumpukan kardus-kardus bekas disampingnya.Melihat kondisi gadis itu yang tidak terbangun meskipun gerakan dan langkahnya menimbulkan suara yang berisik, Fajar mendadak panik.
Tangannya terulur untuk memeriksa suhu di kening Sheila.
"Apakah dia sedang tidur?? atau.. dia...????. "
Kepanikannya makin menjadi saat ia merasakan suhu tubuh Sheila yang tinggi.Gadis itu demam dan sekarang ia mungkin bukannya tidur melainkan sedang tidak sadarkan diri alias pingsan.
Menyadari hal itu, Fajar mencoba untuk membuat gadis yang berstatus sebagai istrinya itu untuk bisa bangun.Ia mengguncangkan tubuh Sheila berulang kali, namun tetap tidak ada respon dari gadis itu.
Karena panik dan takut, Fajar langsung menggendong tubuh cantik yang kotor berdebu itu ke kamar tamu yang ada dilantai bawah.Baginya sekarang gadis itu harus segera ditolong agar gadis itu bisa cepat sembuh,baru setelah itu ia bisa melaksanakan balas dendamnya.
"Kamu tidak boleh mati semudah ini, aku baru saja akan memulai balas dendamku! . " ucap Fajar sambil menggosok-gosok kaki Sheila yang terasa dingin.
Namun sebesar apapun usahanya, gadis itu tak kunjung sadar juga.Kini ia hanya bisa memikirkan cara yang lainnya agar bisa menyelamatkan gadis itu, tapi tidak mungkin kalau ia akan membawanya ke dokter.
Melihat pakaian Sheila yang kotor,Fajar berinisiatif untuk menggantinya.Namun pakaian gadis itu belum dikirim dari rumahnya.Tadi selepas dari akad nikah, gadis itu sempat kabur dan mereka bertemu dikantor polisi, lalu setelah itu Fajar langsung membawanya kerumah ini.
Sheila sama sekali tidak punya persiapan sama sekali, semuanya terjadi secara tiba-tiba begitu saja tanpa ia sempat bersiap. Seketika Fajar teringat akan baju-baju istrinya yang sudah meninggal.'Biarlah malam ini ia meminjamkan baju almarhumah istrinya untuk gadis itu.'fikirnya.
Mungkin gadis itu kehabisan oksigen, mengingat udara didalam gudang itu sangat kotor dan berdebu.Namun saat ia akan membantu menggantikan baju di tubuh Sheila,jari Fajar mendadak kaku.
Walaupun gadis itu memang sudah sah menjadi istrinya, tapi Fajar masih ragu untuk sekedar menyentuh, apalagi kalau harus membuka pakaian Sheila tanpa gadis itu menyadarinya.
Tapi tak ada yang bisa ia mintai tolong dirumah ini, salahnya sendiri karena sudah memberikan cuti untuk semua pelayannya.
Setelah menimbang beberapa kali, akhirnya Fajar memberanikan dirinya untuk membuka pakaian yang melekat ditubuh istrinya yang sedang pingsan itu satu persatu.
Tatapannya terpanah melihat kulit mulus gadis dihadapannya,Fajar mencoba menampik hasrat membuncah yang tiba-tiba hadir didadanya.
Bohong jika dia tidak tergiur dengan pemandangan indah itu, cepat-cepat ia menutupi tubuh istrinya itu dengan selimut karena bayangan almarhumah istrinya yang sudah tiada tiba-tiba juga melintas di benaknya.
Fajar meyakinkan dirinya kalau ia hanya mencintai istrinya,dan tidak untuk Sheila.Ia mencoba menampik semua godaan yang muncul.
"Aku sangat membencimu gadis pembunuh! aku membantumu kali ini hanya agar kamu tidak mati secepat ini.Aku belum puas membalas semua perbuatanmu!. "oceh Fajar sambil terus memakaikan baju tidur yang berupa piyama itu.
Setelah piyama itu sudah terpasang, sekarang ia pun langsung menyeka tubuh gadis itu dengan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat mulai dari wajahnya sampai ke ujung-ujung jari tangan dan kakinya yang terlihat kotor.
" Baru sehari jadi istri kamu sudah sangat menyusahkan aku! . "gumamnya sambil terus menjaga Sheila yang masih belum sadar juga.
Berjam-jam sudah Fajar mengompres kening gadis itu, sampai- sampai ia ketiduran disamping Sheila sambil memeluk gadis itu ,karena tubuh Sheila yang menggigil kedinginan sejak semalam.
*
*
*
Ketika pagi datang, dan matahari kini sudah menghangatkan bumi dengan sinarnya.Gadis yang semalaman tidak sadarkan diri itu pun mulai mengerjapkan kedua matanya.
Ia masih memegangi kepalanya yang masih terasa pusing karena perutnya masih kosong.Namun Sheila tersentak saat ia melihat ke sekiranya, ia baru menyadari kalau ia sudah tidak berada digudang terkutuk itu.Sepertinya ini adalah sebuah kamar, tempat tidurnya nyaman dan juga besar, ditambah lagi bantal gulingnya yang sangat hangat dan " Apa ini??, suara dengkuran halus ini?? dan hembusan nafas di pipinya ini?? oh tidak....???!!. 😲"
Perlahan Sheila mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang kini sedang memeluknya, karena posisinya sekarang ini sedang dipeluk oleh seseorang dan ia sedang menjadikan lengan orang itu sebagai bantal nya.
Betapa kagetnya ia saat ia melihat siapa orang itu,Sheila tidak bisa tidak panik.Ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Pergerakan spontan Sheila sudah membuat singa yang sedang tertidur pulas itu terbangun,Fajar pun baru menyadari kalau posisi mereka sekarang ini sangat ambigu.
"Apa yang terjadi?! " tanya Sheila, ia masih tak percaya kalau ini nyata.
"Hekh!!, sudah sadar kamu rupanya!. " bentak Fajar dengan matanya yang melotot tajam dan alisnya yang menukik.
"Kamu apain saya? kenapa saya bisa ada disini? semalam kan saya berada di gudang yang pengap, lalu... ini...??." fokus Sheila teralih ke pakaian yang kini ia kenakan.
Sheila segera duduk dan kemudian beranjak dari tempat tidur.Ia juga menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Siapa yang mengganti pakaian saya?!, saya masih ingat.. semalam saya masih mengenakan kebaya dan Anda mengurung saya digudang!!. " ucap Sheila penuh amarah.
Sementara Fajar malah tersenyum smirk, ia menatap gadis itu dan kini ia pun bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Sheila dan membuatnya terpojok sampai menabrak pintu kamar mandi.