
Lagi-lagi Sheila terkejut dengan pengakuan Fajar, rasanya bibirnya tiba-tiba berubah menjadi kelu. Dia tidak tahu harus bicara apa dengan suaminya itu. Yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah kata "Maaf."
Fajar bangkit dan berbalik ke arah kamar mandi dan meninggalkan Sheila. Tadi dia memang sengaja melakukan hal itu, untuk membuat Sheila mengakui kehamilannya.
Melihat sikap Fajar yang tiba-tiba mengacuhkannya, Sheila jadi merasa sangat bersalah.
Bagaimana ini? Apa Mas Fajar benar-benar marah? Gumam Sheila.
Tak mau hanya menunggu, Sheila pun mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Mas, apa kamu marah sama aku?" tanya Sheila sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.
Fajar tak mau menjawab, dia hanya berdiam diri di dalam sana sambil menopangkan kedua tangannya di atas meja wastafel dan menatap tubuhnya di cermin kamar mandi.
"Maafin aku Mas, aku gak bermaksud menyembunyikannya dari kamu. A~Aku hanya tidak ingin kalau nanti, kamu akan mengambilnya dari aku," ucap Sheila.
Fajar begitu kesal mendengarnya, dia langsung membuka pintu kamar mandi itu dan menarik tangan Sheila untuk masuk ke dalam.
Sheila ketakutan, dia takut kalau Fajar akan berlaku kasar lagi kepadanya seperti dulu. Sheila melindungi perutnya, dia juga takut kalau Fajar akan menyakiti anaknya.
Mata Fajar menatap ke arah tangan Sheila yang memeluk perutnya sendiri.
"Kenapa? Apa kamu mengira kalau aku akan menyakitinya? Apa kamu kira aku akan memisahkannya darimu setelah dia lahir? " tanya Fajar.
"Bukan, bukan begitu Mas. " Tubuh Sheila gemetar, apalagi saat tangan suaminya itu mulai mengusap perutnya yang masih rata.
Fajar menyatukan kening mereka berdua, kedua tangannya menangkup pipi sang istri.
"Apa kamu masih meragukan kesungguhan ku?" tanya Fajar.
"Tidak, Mas."
"Lalu kenapa kamu harus takut? Kita akan membesarkan dia bersama-sama."
Fajar kembali memberi jarak agar bisa melihat mata Sheila dengan seksama, menyelami apa saja yang ada di dalam hati dan fikiran istrinya itu melalui matanya.
"Aku tidak takut sama sekali, aku hanya khawatir saja," ucap Sheila gemetar.
"Khawatir? Khawatir kenapa? " cecar Fajar.
Sheila mencoba menatap mata Fajar. "Aku khawatir, kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, Mas. "
"Atas dasar apa kamu berfikiran demikian? "
"Karena sikap kamu selalu berubah-ubah, kadang baik kadang seketika berubah jadi menyeramkan. Aku takut, kamu akan memperlakukan aku seperti dulu, saat awal-awal kita menikah.
Fajar bisa melihat ketakutan yang amat sangat, di dalam mata istrinya itu. Dia jadi merasa tidak tega untuk menekannya.
Sheila harus mengakui dan menceritakan padanya , apa saja yang sudah di rencanakan oleh keluarga istrinya itu.
******
Sementara itu di penjara, Angga sedang di besuk oleh papanya.
"Kenapa kamu begitu gegabah! Hah?!" Papanya Angga memarahi putra kesayangannya itu.
"Aku gak gegabah Pa, ini semua karena si Fajar itu! Pokoknya aku gak mau kalah sama dia!" Angga tetap tidak mau terima. Dia pasti akan membalas Fajar suatu hari nanti.
******
Seminggu kemudian, Pak Hari mendapatkan panggilan dari kepolisian. Ternyata apa yang beliau takutkan selama ini, menjadi kenyataan.
Kasus korupsi yang melibatkan dirinya kini sudah dilaporkan oleh seseorang, dan seseorang itu adalah papanya Angga. Mantan rekan bisnisnya yang sudah berhasil menjebak dirinya, sehingga kini dia masuk ke dalam permainan yang diciptakan oleh temannya itu.
Berbagai media kini meliput berita ini, nama Pak Harianto yang begitu dipuja-puja pun, kini berubah jadi dicaci-maki orang. Tak jarang, tetangga yang selama ini tak begitu mengenal beliau, kini mendadak kenal karena banyak sekali wartawan yang mendatangi kediaman Pak Harianto Wibowo ini.
Sheila begitu bingung menghadapi kasusnya ini. Dirinya yang tengah hamil muda, terpaksa harus berjuang untuk kebebasan Sang Ayah.
Sebagai seorang suami dari Sheila dan juga seorang menantu dari Pak Hari, tentu saja nama baik Fajar juga sedang dipertaruhkan.
pengacara kondang itu harus bisa bersikap bijak dalam menentukan langkah pembelaan untuk mertuanya. Dalam seminggu kasus ini bergulir, Fajar belum juga mendapatkan bukti-bukti yang dimaksud olehnya ibu mertuanya.
Orang suruhan Fajar yang berada di rumahnya Angga, belum juga mendapatkan petunjuk. Entahlah bohong atau tidak, tapi Fajar merasa kalau papanya Angga sengaja melakukan pengaduan ini, karena dia ingin bernegosiasi atas kasus Angga yang masih di dalam penjara karena sudah menculik Sheila.
Fajar tak gentar, saat ini dia juga menyewa beberapa bodyguard khusus untuk mengawal rumahnya dan juga rumah mertuanya.
Pak Hari memang belum ditahan, tapi beliau tidak bisa berpergian kemana-mana selama masa penyelidikan.
"Bagaimana ini Pa?" Mama Fatiah merasa sedih dengan nasib keluarganya saat ini, pemberitaan di media massa memang sudah sangat memojokkan nama Pak Harianto sebagai koruptor.
Sudah seminggu ini Mama Fatiah tidak berani keluar rumah, bahkan untuk ke butiknya saja, wanita itu ketakutan. Para pencari berita suka menunggui dirinya di depan butik, bahkan banyak dari mereka sampai menggerubutinya seperti semut yang sedang menggerubuti gula.
"Mama gak usah khawatir, kita sudah mempersiapkan diri sejak lama. Sekarang Sheila sudah berada di tangan yang tepat, Papa sudah cukup tenang sekarang. Walaupun nanti Papa harus di penjara, tapi setidaknya kalian berdua masih punya Nak Fajar yang akan melindungi kalian berdua," ujar Pak Hari dengan wajah sedihnya.
"Apapun yang terjadi, jangan biarkan kamu dan putri kita hidup menderita. Mama pasti sudah tahu kan, apa yang harus kalian lakukan? "Pak Hari malah membuat istrinya itu menangis di dalam pelukannya.
"Mama gak bisa hidup tanpa Papa," ujar Mama Fatiah.
"Papa juga, Ma." Pak Hari mencoba menenangkan istrinya itu.
Orang suruhannya kini sedang memantau rumah papanya Angga, begitu juga dengan orang suruhan Fajar.
Gerak-gerik sekecil apapun yang terjadi di rumah papanya Angga itu, mereka akan mencatat dan melaporkannya kepada Pak Hari, begitu juga suruhan Fajar akan melaporkan semua yang mereka lihat dan juga mereka dengar kepada majikannya.
Tugas mereka adalah mengumpulkan barang bukti sebanyak-banyaknya untuk melawan papanya Angga di pengadilan nanti.
Sheila dan Fajar yang masih berasa di Villa, kini sedang makan malam bersama. Suasana villa yang berada di sekitar pinggiran kota, membuat suasananya nyaman sekali. Apalagi buat Ibu hamil seperti Sheila.
Di saat Sheila akan mengganti bajunya, tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang.
"Jadi hari ini, kita pulang ke rumah?" tanya Fajar di telinga Sheila.
"Aku harus pulang Mas, Papa pasti membutuhkan kita," jawab Sheila.
"Baiklah, kalau begitu, sebelum pulang, kita..... ??" ujar Fajar sambil mengetukkan kedua jari telunjuk kanan dan juga kirinya.
"Apa gak nanti aja, setelah kita tiba di rumah?" tanya Sheila.
"Aku maunya sekarang, sayang," ucap Fajar.
Apa itu tadi? Sayang?? Sheila sangat terkejut dengan panggilan baru dari suaminya itu.