Your Revenge

Your Revenge
Terpaksa Menikah Tanpa Cinta



Karena melihat kedatangan Tuan dan Nyonya Wibowo,membuat otak encer Fajar segera berjalan.Dengan paksa ia ingin menikahi gadis yang sudah menjadi penyebab kematian istri dan anaknya itu, Sheila yang diliputi rasa takut dan juga rasa bersalah, mau tak mau harus menuruti kehendak Fajar. Sheila tidak mau kalau sang Papa harus di penjara bila Fajar melaporkan kasusnya.


Ditambah lagi rasa bersalah yang sampai saat ini sering menghantui Sheila .Disetiap ia melihat pria itu, ia juga pasti akan teringat dengan kecelakaan itu.Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik,toh ini baru menikah .Sheila masih punya kesempatan untuk menolak memberikan pria itu anak, bukan?. Tapi bagaimana dengan hubungannya dengan Akash? , bagaimana kalau kekasihnya itu tahu kalau dia sudah menikah nantinya? "Aaaaaaahhhkkk!. " rasanya Sheila ingin berteriak didalam hatinya.


"Bagaimana? apa sudah bisa dimulai?. " tanya petugas KUA yang kini bertindak sebagai Penghulu yang akan menikahkan Sheila dan Fajar.


"Maaf sebelumnya. " Sheila menginterupsi dengan mengangkat tangan kanannya.


"Ya, silahkan Nona, apa ada yang perlu ditanyakan?. "


"Begini Pak penghulu, pernikahan ini 'kan hanya sebatas syarat perdamaian saja antara kami berdua.Jadi saya rasa, tidak perlu didaftarkan secara legalitas negara. Cukup nikah Siri aja. " ujar Sheila dengan sedikit gugup.


"Maaf Pak, saya keberatan!." ujar Fajar lantang.


"Bagaimana nanti dengan Akta kelahiran anak, jika nanti kamu hamil dan melahirkan? . Apa kamu tidak akan malu kalau kamu punya anak dan kesulitan untuk mengurus Akta kelahiran serta sekolah nya dan sebagainya?!." Fajar menatap Sheila dengan sedikit geram, ada kilat kemarahan dimatanya.


"Saya tidak ingin memiliki jejak sebagai bekas istri anda!,walaupun nanti status saya berubah menjadi janda, setidaknya tidak ada embel-embel bekas istri anda dibelakang nama saya. Saya tidak sudi!. " ujar Sheila.


"Saya tetap tidak setuju, pokoknya pernikahan ini harus sah baik secara Agama maupun secara hukum negara.Apa kamu mau membuat nama baik saya tercoreng? kamu lupa kalau saya ini seorang pengacara?!. " nada suara Fajar sudah mulai meninggi, sampai-sampai semua yang ada disana jadi kaget.


"Maaf, sebenarnya ada apa ini saudara Fajar?, apakah Nona ini terpaksa menikah dengan anda?, menikah itu sebaiknya tidak dengan unsur paksaan. Karena kalian akan menjalani kehidupan bersama kedepannya nanti. " nasehat Pak Penghulu.


Mendengar perkataan Pak penghulu itu, membuat Fajar dan Sheila saling bersitatap dalam waktu yang lama. Keduanya seolah tidak ada yang mau mengala untuk mengakhiri perang mata itu lebih dulu.


"Sudah-sudah, saudara Fajar dan saudari Sheila, apakah pernikahan ini mau dilanjutkan??. " tanya Pak penghulu.


"Tidak.!" jawab Sheila.


"Iya..! " jawab Fajar


nyaris bersamaan.


"Jadi dilanjutkan atau tidak, saya jadi bingung?!. " 😌


"Lanjut pak!. " ujar Fajar lagi, tanpa mengakhiri tatapannya ke arah Sheila.


Sheila yang hari itu didandani dengan riasan darurat karena tidak ada persiapan sama sekali, hanya menggunakan kebaya sederhana yang dibawakan oleh asisten pribadinya Fajar, tetap terlihat cantik karena aslinya memang sudah cantik.


Akhirnya walaupun terpaksa, pernikahan darurat itu pun terjadi juga.Dengan satu tarikan nafas, Fajar berhasil mengucapkan ijab qabulnya dengan menjabat tangan sang ayah mertua, Tuan Harianto Wibowo.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Sheila anindhita Wibowo Binti Harianto Wibowo dengan mas kawin uang seratus ribu rupiah, dibayar Tunai. " ucap Fajar.


"Sah, sah, sah. " Sahut semua orang yang hadir.


Pernikahan ini disaksikan oleh Kepala KUA dan Asisten Pribadi Fajar yang bertindak sebagai saksi. Sedangkan yang lainnya hanya Mamanya, dan beberapa petugas dari kantor Urusan Agama itu.


Sungguh miris nasib yang Sheila alami, sebagai putri tunggal seorang pejabat,harusnya pernikahannya dirayakan dengan megah, tapi yang ada pernikahan yang ia alami ini sungguh diluar kata megah. Yang ada malah sangat berbanding terbalik.


Mahar yang diberikan oleh Fajar pun cuma berupa uang seratus ribu rupiah, yang ia ambil secara asal dari dompetnya.Harga diri Sheila benar-benar hancur rasanya,ini bukan lah seperti pernikahan impian setiap gadis yang ada dimuka bumi.


Menikah terburu-buru seperti habis di grebek warga, dengan Mahar asal-asalan tanpa bertanya apa yang ia inginkan sebagai mahar terlebih dahulu,gaun dan riasan yang biasa-biasa saja,tak ada pesta meriah, dan yang paling Sheila tidak suka adalah pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.Iya, pria itu bukanlah Pria yang Sheila cintai, pernikahan tanpa cinta ini sudah membuat Sheila benar-benar merasa bahwa dirinya sangatlah menyedihkan.


Sheila tak dapat lagi membendung tangisannya, ia menangis sejadi-jadinya saat semua orang berkata 'Sah'.Bagaimana ia bisa tersenyum, kalau pernikahan ini sama sekali tidak ia inginkan.


Disaat Pak penghulu meminta mereka untuk menandatangani buku nikah dan juga berkas pernikahan lainnya, Sheila nampak ragu, namun tatapan mengintimidasi dari Fajar membuatnya sekali lagi menyerah dan mau menandatanganinya.


Apalagi setelah Pak penghulu meminta Fajar menyerahkan mas Kawin yang berupa selembar uang seratus ribuan yang sama sekali tak di beri mika ataupun hiasan, membuat Sheila merasa bahwa hidupnya akan ditukar dengan uang itu,Sheila pun menangis sejadi-jadinya. Bahkan kini ia berlari keluar gedung KUA sambil menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan siapa saja yang lewat dan menatapnya penuh tanda tanya.


Fajar yang masih berada di dalam kini mendengkus kesal karena ia merasa seharusnya dialah yang mempermalukan Sheila, tapi sekarang malah gadis itu yang sedang mempermalukan dia di hadapan Bapak penghulu dan semua yang hadir disana.Ia pun meminta asisten pribadinya untuk mengenjar Sheila dan membawanya kembali ke hadapannya.


Mama dan Papa Sheila pun tak kalah khawatir pada Putri mereka itu,Nyonya Fatiah juga mau keluar tapi ditahan oleh Fajar.


"Biarkan asisten saya yang akan mencarinya, Mama mertua. " ujar Fajar sambil mencium punggung tangan Nyonya Fatiah.Membuat Nyonya Fatiah jadi bergidik ngeri dengan tatapan dan perlakuan menantu barunya itu.


Kini Sheila sedang berlari tanpa tahu arah, ia masih menangis dengan riasan dan kebaya yang ia kenakan.Dengan air mata yang berderai ia pun menyetop taksi, untungnya ia berhasil menghentikan sebuah taksi dan segera ia masuk kedalam taksi tersebut, sehingga anak buah Fajar tidak bisa lagi mengejarnya.


Fajar yang mendapatkan laporan bahwa istrinya sudah kabur dengan menggunakan taksi jadi semakin geram. Ia mengepalkan tangannya dan meninju meja yang tadi dipakai untuk akad nikah. Kedua mertua barunya yang masih berada disana jadi ketakutan, apalagi setelah Fajar mengancam akan bikin perhitungan dengan putri mereka yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya Fajar.


"Bagaimana ini Pa?, Sheila pergi kemana?. " tanya Nyonya Fatiah yang tengah memeluk suaminya.


"Papa juga gak tahu Ma, nanti Papa usahakan untuk menemukan Sheila ya, Mama tenang dulu. " ujar Tuan Hari mencoba menenangkan istrinya.


"Awas saja kalau kalian terbukti bekerjasama dengan putri kalian itu untuk kabur dari saya, saya pastikan akan membuat hidupnya menderita dan semakin menderita setiap harinya!. " ancam Fajar kepada kedua mertuanya itu.


Lalu tanpa basa-basi ia segera meninggalkan tempat itu, yang ada didalam otaknya sekarang adalah segera mungkin menemukan istri barunya itu dan membuatnya membayar semua perbuatannya.


"Jangan kira kamu bisa lolos dari cengkraman ku!. " Ucap Fajar sambil menggenggam jari jemarinya sampai urat-urat nya muncul, saking geramnya.


*****