
Sreeettt....
Suara ban mobil yang di Rem dengan sangat keras kini berhasil membuyarkan lamunan Sheila yang sedang berada didalam bathup.Buru-buru ia menyelesaikan mandinya,tentu saja ia tidak mau kalau sampai Fajar memergoki dirinya sedang bersantai. Pria itu pasti tidak akan membiarkan dirinya berleha-leha mengingat setiap saat ada saja pekerjaan yang Priangan itu perintahkan untuk ia lakukan.
Secepatnya Fajar keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah. Di area tengah ia melihat pelayan baru yang bernama Lina itu, tatapan tajam setajam silet Fajar layangkan kepada Lina mengingat gadis itu sudah melalaikan tugas yang telah ia berikan pagi tadi.
"Dimana Nyonya?!. " tanya Fajar dengan suara menggelegar membuat Lina jadi gemetar.
"Ada d-di a-tas T-Tuan. " jawab Lina sambil gemetar.
Fajar langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, bertepatan saat itu Sheila sudah keluar dari kamar mandi dan masuk keruang ganti.Ia tidak mengira jika suaminya itu bisa secepat kilat naik ke atas, padahal suara mobilnya baru saja tiba.
Dengan santai Sheila memilih baju yang ada didalam kopernya, ia memang sengaja tidak menyusun pakaiannya di lemari yang ada disana karena gadis itu juga tidak yakin kalau ia akan tinggal disini selamanya.Hari ini ia memutuskan akan memakai daster lagi,karena cuma jenis daster yang ada disana. Entah kapan Mamanya menyiapkan daster untuknya, untung saja bukan lingerie yang Mamanya kirim kesini, bisa-bisa ia tidak memiliki pakaian untuk tidur.
Baru saja Sheila ingin memakai daster itu, tiba-tiba pintu dibelakangnya terbuka, Fajar yang baru membuka pintu itu langsung terkesiap saat melihat Sheila yang hanya mengenakan pakaian dalam saja dan baru akan memasang Daster ditangannya.
Fajar langsung menutup kembali pintu ruang ganti, ia masih merasa sedikit gugup walaupun sebelumnya mereka sudah pernah berada dibawah selimut yang sama tanpa apapun.
Jantung keduanya sama-sama berpacu kencang, amarah yang tadi ingin ia keluarkan kini seolah masuk kembali kedalam dirinya dan melempem.Fajar berusaha menguasai dirinya sendiri, ia tidak mau tergoda ataupun terlena melihat tubuh gadis itu.
Ia mengatur nafasnya beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya, begitu juga dengan Sheila yang masih berada didalam sana. Tak lama kemudian,Sheila keluar dari ruangan ganti dan sudah dalam keadaan memakai daster nya dan juga rambut yang sudah dikeringkan dan disisir rapi.
Fajar berlaga tidak peduli dan langsung masuk ke ruang ganti, ia melepas pakaiannya lalu kemudian memakai handuk.Karena kegugupannya ia pergi kekamar mandi dan melupakan semua amarahnya tadi.Niat ingin marah yang tadi berkobar entah pergi kemana.
Sheila tidak mau ambil pusing saat melihat tingkah aneh suaminya itu, baginya sudah untung pria itu tidak memarahinya lagi.Ia segera turun untuk mengambil minum didapur.
Setibanya di dapur, Sheila bertemu dengan Bik Tarnik yang sedang menyiapkan masakan kedalam wadah-wadah saji.
"Lagi apa Bik?. " sapa Sheila dengan ramahnya.
"Ah ini Nyonya, Bibik lagi nyiapin makan malam. " jawab Bik Tarnik.Wanita tua itu nampak malu-malu dengan Nyonya nya itu.
"Ada yang bisa saya bantu gak?. " tanya Sheila.
"Biar bibik aja Nya, nanti Nyonya capek. " ujar Bik Tarnik.
"Kalau cuma membawa ini kemeja makan,saya bisa kok Bik. " tanpa persetujuan Bik Tarnik, Sheila langsung membawa mangkuk berisi sup itu ke meja makan. Ia bahkan bolak-balik untuk mengambil makanan yang lainnya.
Fajar menyaksikan hal itu dari lantai atas.
"Hmm, tahu diri juga kamu rupanya."gumam Fajar.
setelah menyiapkan semuanya, Sheila kembali ke dapur untuk mengambil minum dan membawanya ke kamar.
" Mau kemana kamu?. "tanya Fajar yang berpapasan dengan dirinya ditangga.
" Mau ke atas ,Pak Fajar. Permisi. "ujar Sheila sambil melangkah naik.
" Tunggu dulu!. "ujar pria itu.
Sontak saja langka kaki Sheila langsung terhenti.Ia pun menoleh, " Ada apa lagi Pak Fajar? "tanyanya.
" Temani saya makan malam. "jawab pria itu.
" Ayo, saya tunggu di meja makan. "ujar Pria itu lagi.
Dengan langkah gontai Sheila melangkahkan kakinya kembali ke dinning room.Malas banget rasanya makan bersama manusia kulkas super nyeremin yang satu ini.
" Duduk lah!. "pinta suaminya itu.
Dengan malas Sheila menarik salah satu kursi yang berjarak dua kursi dari tempat duduk Fajar.
" Jangan disana, tapi duduklah disini. "tunjuk Fajar padahal sebuah kursi yang letaknya persis disebelah kirinya.
" Iya. "jawab Sheila malas sambil memasukkan kembali kursi yang tadi urung didudukinya.
Kembali ia melangkah dan mengikuti instruksi suaminya itu untuk duduk di kursi yang Fajar suruh.
" Tolong ambilkan nasinya. "pria itu kembali memerintah.
Dengan berat hati Sheila menurutinya, lalu suaminya itu kembali memberi kode dengan gerakan mulutnya untuk diambilkan lauk yang lainnya.
Kembali dengan sedikit malas dan jengah Sheila mengambilkan apa yang diminta oleh suaminya itu.
" Tunggu apa lagi ?, kamu juga ambillah makanan untuk mu. "ujarnya.
" Maaf Pak, bukankah anda tadi bilang hanya mau ditemani makan?. "tanya Sheila lancang.
Tangggg.....
Suara sendok dan garpu yang di lepaskan begitu saja.
" Kamu jangan buat selera makan saya jadi hilang ya, jadi istri itu tidak usah memancing-mancing emosi suami!. "bentak Fajar.
Sheila hanya bisa-bisa tertunduk dengan perasaan kacau dihatinya, ia tidak menyangka kalau sekarang Fajar jadi semarah itu.
" Tarnik, Bik Tarnik!! "seru Fajar.
" Iya Tuan, ada apa?. "tanya Bik Tarnik yang datang sekonyong-konyong ketakutan.
" Cepat isi piring wanita itu dengan nasi dan juga lauk,jangan sampai saya hilang kesabaran!. "bentak Fajar.
Sheila merasa kasihan sekaligus bersalah dengan Bik Tarnik, gara-gara dirinya Bik Tarnik jadi kena marah. Bik Tarnik juga sedikit terluka mendengar bentakan Fajar. Sejak menikahi istri barunya ini, Majikannya itu jadi berubah 180 derajat. Dulu Fajar dan almarhumah istrinya sangat menghormati dirinya meskipun ia hanya seorang pembantu.
Fajar tidak pernah berkata-kata kasar sedikitpun padanya, sikap pria itu selalu bersahaja,bahkan dikenal lembut dan juga sangat baik.Tapi sekarang semuanya sudah berubah,bik Tarnik hanya bisa meyakinkan dirinya kalau majikannya mungkin sedang ada masalah sehingga tidak bisa mengendalikan emosinya.Dan dapat Ia tebak kalau sumber masalah nya itu adalah Nyonya barunya, Sheila.
Sheila yang merasa tidak enak hati mencoba menghentikan Bik Tarnik yang sedang mengisi piring miliknya, " Sudah bik, gak usah. Saya bisa sendiri kok Bik. "ujarnya.
Fajar hanya melirik dengan tatapan mautnya. Bik Tarnik membiarkan Nyonya nya itu mengambil alih piring ditangannya.
Segera Fajar mengibaskan tangannya setelah itu,memberi kode agar Bik Tarnik segera pergi dari sana.
" Lain kali jangan buat saya emosi lagi. Makanlah, karena setelah ini kita perlu bicara."tambah Pria itu lagi.
Mendengar hal itu,Sheila hanya bisa menghela nafas pelan agar rasa kesalnya tidak ketahuan oleh suami killernya itu.