Your Revenge

Your Revenge
Surat Panggilan



"Maaf Kak, terimakasih atas perhatiannya.Kalau begitu saya permisi dulu."Sheila tak ingin lama-lama bersama Angga, takutnya nanti laki-laki itu merasa diberikan harapan.


Dengan cepat Sheila mengambil langkah besar agar segera menjauh dari Angga,walaupun dikampus ini belum ada yang tahu kalau dia sudah menikah, tetapi didalam hatinya ia akan tetap menjaga marwahnya sebagai seorang wanita yang sudah bersuami agar tidak terlalu dekat dengan lawan jenis yang bukan suaminya.


*


*


*


Sementara itu, Fajar kini tengah menambah kecepatan mobilnya,ia sepertinya sedang emosi karena tadi sempat melihat tangan Angga yang menyentuh kening istrinya.Ditambah lagi dengan berita tentang dirinya yang disomasi oleh seorang pengusaha ternama. Fajar ingin segera mengetahui siapakah orang yang sudah berani melaporkan dirinya.


" Siapa yang sudah berani mencari perkara dengan ku?!. "gumamnya.


Dengan kesal Fajar menggenggam erat kemudi.Akhirnya ia sampai juga di depan gedung kantor advokad yang ia pimpin.


Fajar segera turun dan disambut oleh asistennya.


"Gawat Pak, gawat. " ujar sang asisten sambil mengikuti langkah Fajar yang terus memasuki gedung dan naik ke lantai dua.


"Mana, sini saya lihat surat somasinya!. " ujar Fajar sambil menadahkan tangan kirinya. Pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya dan asistennya segera menyerahkan surat yang dimaksud oleh Fajar.


"Ini Pak Fajar suratnya. "


Fajar membacanya dengan seksama,setelah membaca dan mencermati isi surat itu Fajar baru teringat dengan penganiayaan yang telah ia lakukan kepada seorang mahasiswa dari kampus yang sama dengan tempat istri barunya berkuliah.


"Hmm, rupanya pemuda itu.Sial!, berani sekali ia main-main denganku.Rupanya ia bernyali juga,mentang-mentang anak pengusaha kaya. Kamu fikir aku akan gentar berhadapan dengan orang tuamu itu. 😏" Fajar tersenyum miring sambil meremas surat somasi itu ditangannya.Lalu dengan kesal ia melempar kertas yang sudah remuk itu kedalam tempat sampah yang ada di sudut ruangan.


"Segera buatkan surat tuntutan balik kepada pemuda yang bernama Angga itu!. " ujar Fajar.


"Maaf Pak, atas dasar apa kita melaporkannya?. " tanya sang asisten.


"Buat laporan karena ia sudah berani mengganggu wanita yang sudah bersuami. " jawab Fajar.


"Baik Pak, tapi siapa nama wanita yang sudah bersuami itu? apakah anda mengenalnya?. Apa hubungannya dengan kasus penganiayaan ini?. " tanya asistennya lagi.


"Sheila Anindhita Wibowo Mubarak. " ujar Fajar lantang.


"Apa Pak?. "


"Bocah tengik itu sudah berani mengganggu istri saya,sudah tentu saja akan menghajarnya habis-habisan." ujar Fajar.


"Baik Pak, saya mengerti. "


Sang Asisten pun segera pergi untuk membuatkan apa yang Fajar perintahkan.Fajar tidak akan semudah itu untuk di taklukkan,apalagi kalau sudah menyangkut miliknya.Ia akan memastikan kalau Sheila akan berada di pihaknya untuk menjadi saksi kunci dari kasus ini.Meskipun saat penganiayaan itu terjadi Sheila belumlah menjadi istrinya, tapi baginya itu tidaklah sulit untuk menekan wanita itu agar mau mengaku kalau mereka terlibat sebuah hubungan asmara saat itu.


Setelah kepergian asistennya, Fajar sejenak teringat dengan apa yang tadi ia lihat di kampus istrinya.Pria itu kembali mengeratkan genggamannya, giginya gemeretup menahan bara amarah yang kini sedang meletup-letup di dadanya.


"Wanita itu, apa dia lupa dengan statusnya, apa aku perlu membuat pengumuman kalau dia adalah istriku?!. " gumam Fajar.


****


Selesai mengikuti beberapa mata kuliah, Sheila kini bingung mau pulang dengan apa. Dia baru ingat kalau dia sama sekali tidak membawa uang sepeserpun.Didalam koper yang dikirim oleh Mamanya tidak ada barang pribadinya seperti dompet, kartu kredit dan juga uang.


Sheila sama sekali tidak tahu kalau semua itu sudah disita oleh suaminya.Fajar sengaja melakukan hal itu karena ia ingin Sheila tidak bisa kabur darinya kalau gadis itu tidak memiliki uang, ponsel, dan semua kartu yang dia punya.Tapi untuk ponsel, ia harus memberikannya agar tetap bisa melacak dimana pun Sheila berada.


"Duh, aku lupa kalau aku sama sekali tidak punya uang." keluh Sheila.


"Alya, Raysa. " panggil Sheila kepada kedua sahabatnya itu.


"Ada apa?. " tanya Raysa.


"Sudah kita cuekin aja yuk, dia juga masih gak mau cerita sama kita soal tanda itu. " ajak Alya pada Raysa.


"Tapi kan Al, Sheila juga teman kita. "Ujar Raysa.


" Udah, biarkan dia berfikir dulu.Nanti kalau dia sadar apa kesalahannya, dia pasti akan cari kita lagi. "Alya sepertinya masih memendam kesal karena saat di acara seminar waktu itu, Sheila yang jadi aspri Fajar bukanlah dia.


" Maaf ya Shel,aku harus pergi. "ujar Raysa yang sedang ditarik-tarik tangannya oleh Alya.


Tinggallah Sheila sendirian, ia jadi semakin bingung kenapa sikap kedua sahabatnya jadi berubah se drastis itu terhadap dirinya. Sheila hanya bisa berjalan ke parkiran dengan tertunduk lesu sambil menendang botol air mineral kosong yang ia temui di jalan.


Niat hati ingin belanja beberapa buku kini ikut pupus, ia juga tidak habis fikir kenapa hidupnya tiba-tiba berubah se menyedihkan ini.Mulai dari kecelakaan itu, lalu terpaksa menikahi Fajar yang notabene adalah suami korbannya,setelah itu ia bahkan tidak punya uang sekarang.


Tiba-tiba Sheila teringat akan ponselnya, ia ingat kalau dirinya juga memiliki aplikasi dompet digital di ponselnya. Cepat-cepat Sheila mengaktifkan ponselnya,dengan senyuman penuh harapan akan keberlangsungan hidupnya.


Setelah aplikasi itu terbuka,ternyata saldonya lumayan juga.Ada sekitar 14 juta 500 rb lagi uang yang tersisa di sana, sementara itu ia kembali mengecek aplikasi yang satunya yaitu M-banking yang terhubung dengan tabungan dan kartu ATM miliknya.Sheila berharap kalau rekeningnya itu belum di blokir oleh orang tuanya.


"Alhamdulillah, ternyata semuanya masih aman. Untung pria itu mengembalikan ponselku, kalau tidak matilah aku. " ujar Sheila sambil mengelus dadanya, lega.


Tak ingin membuang waktu,ia segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke toko buku.


Disaat Sheila sedang menunggu taksi online yang dipesannya, ia menerima sebuah panggilan dari seseorang yang tidak ingin ia lihat.Siapa lagi kalau bukan Fajar sang suami pemaksa.


"Ada apa lagi dengan pria arogan ini?. " Batin Sheila.


"Assalamu'alaikum Pak Fajar, ada apa?. " tanya Sheila ketika panggilan itu diangkatnya.


"Kamu sudah selesai kuliahnya?. " tanya Fajar.


"Baru saja selesai Pak, eh Mas. " jawab Sheila.


"Kamu tunggu di sana, sebentar lagi saya jemput kamu. " ujar Fajar.


"Tapi Pak, eh Mas... saya sudah pesan taksi online. " jawab Sheila.Ia juga tidak mau dijemput oleh suaminya itu, bagaimana jika ada anak kampus yang melihat.


"Sudah, tidak usah tapi-tapi. Saya sudah on the way. Kamu tunggu saya, lima menit lagi saya sampai, batalkan saja pesanan taksinya."


ujar Fajar.


"Darimana dia punya uang untuk memesan taksi?. " batin Fajar.


"Tapi taksinya sudah datang nih. " jawab Sheila lagi.


"Sudah, batalkan saja,suruh dia tunggu. Biar nanti saya yang akan bayar. "Fajar tetap ngotot.


Aduh, ingin rasanya Sheila naik saja ke dalam taksi itu dan kabur dari suaminya, ia juga sudah rindu ingin kembali kerumah orang tuanya.Kenapa semenjak ia menikah, kedua orang tuanya seolah membiarkan ia sendirian menghadapi semuanya.Mereka bahkan jarang menelpon, atau bertanya kabar dirinya.


Walaupun mereka masih tinggal di kota yang sama,tapi seolah mereka tinggal beda planet saja.


Sheila ingin sekali bertemu kedua orang tuanya itu dan menanyakan alasan mereka mengabaikan dirinya. Tapi lagi-lagi ia tidak punya kesempatan untuk melakukan semua itu. Hidupnya sudah seperti seorang narapidana, terkurung disangkar emas.