
Entah bagaimana ceritanya, saat ini pasangan itu sudah berada di bawah,di meja makan.Bocoran aja nih ya, tadi,di kamar mandi mereka gak ngapa-ngapain, cuma mandi aja sendiri-sendiri walau dalam waktu yang bersamaan.Satunya mandi di bathup, satu lagi mandi di Shower, Pada akhirnya keduanya tidak saling melihat satu sama lain, karena arahnya berlawanan.
Lina dibantu oleh Bik Tarnik sedang menyiapkan meja makan.Setelah sholat Magrib bareng,pasangan itu turun dengan wajah yang semringah.Siapapun yang melihatmu rona merah di wajah mereka,pasti akan berpikiran hal yang sama.
"Apakah mereka sudah saling jatuh cinta sekarang? " batin Lina, wajah gadis itu sudah tak bisa di sembunyikan lagi kegeraman nya melihat pasangan majikannya itu.Khususnya pada Sheila, yang ia anggap sebagai rivalnya.
"Ndok,masuk kamar sana! " Bik Tarnik memerintahkan Lina untuk segera masuk ke kamarnya.Mengingat kejadian kemaren, Bik Tarnik tidak ingin kalau hal seperti itu terulang lagi.Ia harus bisa menjaga kelakuan keponakannya yang suka bertingkah aneh-aneh.
Lina jadi cemberut,ia menatap kesal kepada Bibik nya itu.Kakinya pun di hentakkan,karena emosi.Sekarang Bibik nya makin ketat kepada dirinya,semakin banyak juga aturannya sejak kejadian tadi siang.
Sementara itu,Fajar dengan lembut dan penuh perhatian menarikkan sebuah kursi untuk Sheila.Sheila pun tersenyum dan langsung duduk.
"Terimakasih." Sheila pun mengucapkan terimakasih pada sang suami.
"Sama-sama." Fajar membalasnya dengan disertai senyuman.
Tanpa di minta, Sheila Menyendokkan nasi ke piring Fajar,begitulah juga dengan lauk dan juga sayurnya.Sangat perhatian sekali, membuat Fajar merasakan kebahagiaan di dalam hatinya.
"Silahkan di makan, " ujar Sheila.
"Kamu juga,ayo makan. " Fajar sengaja menunggu Sheila mengisi nasi dan lauk ke piring nya sendiri,agar mereka bisa-bisa makan bareng.
Keduanya makan dan diselingi dengan berbincang ringan mengenai kasus melawan Angga.
"Mbak Cindy itu,teman Mas 'ya? " tanya Sheila, kepo.
"Kenapa? " Fajar balik bertanya.
"Gak kenapa-napa sih,cuma pengen tau aja, " jawab Sheila.
"Dia itu salah satu pengacara yang bergabung di Firma aku.Selama ini pekerjaannya cukup bagus kok , " jelas Fajar.
Di hati Fajar, ia seperti menangkap sebuah sinyal aneh dari istri barunya itu,sepertinya Sheila sedang ingin menyelidiki hubungannya dengan Cindy.
"Ooo, kirain...? " Ucap Sheila menggantung.
"Kirain apa? kamu pasti mikir yang aneh-aneh 'kan? " tanya Fajar.
"Gak kok,aku cuma merasa kalau Mbak Cindy itu kayaknya suka deh sama Mas Fajar.Kenapa gak dipacarin aja? " tanya Sheila lagi.
Sontak Fajar jadi menghentikan makannya, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya.Wajahnya sudah berubah masam,sekarang.
"Mas Fajar marah 'ya?maaf." Sheila jadi ketakutan kalau suaminya itu akan marah padanya yang banyak tanya.
"Aku gak marah,cuma.... kamu lucu kalau lagi cemburu. " Fajar tersenyum ke arah Sheila, dan melanjutkan makannya.Ia langsung tidak tega ketika melihat mata Sheila yang Berkaca-kaca.
"Apanya yang tidak benar dengan hubungan kita? kita ini suami istri yang sudah menikah secara hukum negara dan juga hukum Agama.Tidak ada yang salah sama sekali. " Fajar menatap mata Sheila dengan penuh pertanyaan.
"Maaf, aku salah bicara. Maksudku tidak seperti itu. Aku... hanya.... " Sheila bingung harus bagaimana, dia takut Fajar tersinggung dan marah.
"Sudahlah, lanjutkan makan saja!Lain kali kamu gak perlu memancing hal yang bisa membuat aku marah.Bu Cindy itu bukan siapa-siapa bagi aku,dia hanya rekan kerja, itu saja yang perlu kamu ingat dan kamu tahu, " jelas Fajar lagi.
Sheila menunduk, "Baik,aku gak akan banyak tanya lagi. "
Selera makan Fajar jadi hilang,Lina saja sudah cukup membuatnya pusing.Sekarang, Sheila juga ingin membuatnya pusing.
"Lanjutkan makannya dan jangan bicara lagi,setelah selesai makan baru kita bicara."Bukan lagi sebuah obrolan,tapi lebih ke sebuah perintah.Fajar sangat malas kalau membicarakan soal wanita di luar sana, karena sebenarnya ia adalah tipe laki-laki setia.
Namun Sheila tetaplah Sheila yang tak banyak tahu dengan karakteristik Fajar yang sebenarnya.Tinggal satu rumah dalam beberapa minggu ini memang membuatnya sedikit tau,tapi bukan berarti ia sudah mengenal Priangan itu secara keseluruhan.
Memang butuh waktu bagi pasangan dadakan seperti mereka untuk bisa saling mengenal lebih jauh.Sebagaimana Sheila yang belum begitu mengenal siapa Fajar, begitu pula dengan Fajar yang masih belum mengenal bagaimana sifat Sheila yang sebenarnya.Walaupun tak dapat di pungkiri kalau istrinya itu ternyata adalah wanita yang baik, penurut dan perhatian.
***
Di tempat berbeda,Angga sedang bertemu dengan para bawahannya.Termasuk juga pria yang kepergok oleh Fajar saat di kantor polisi.
Pria bernama Raka itu terlihat gugup. Sikapnya yang tidak biasa itu,dengan mudah bisa menimbulkan kecurigaan di mata Angga.
"Ada apa Raka?kenapa kamu terlihat gugup?" tanya Angga curiga.
"Sa-sa-ya,saya biasa aja kok Bos.Hanya saja, saya sedang kebelet pengen buang hajat.Permisi duluan Bos. " Raka pura-pura memegangi perutnya dan langsung pamit undur diri ke belakang.
Kecurigaan Angga kepada Raka sedikit berkurang,dan ia lanjut berdiskusi dengan semua anak buahnya.
"Bagaimana hasil kerja kalian? " tanya Angga pada salah satu anak buahnya yang ia minta untuk menyelidiki tentang seluk-beluk keluarga Sheila.
"Lapor Bos, ternyata cewek itu adalah anak seorang pejabat.Dia anak satu-satunya Bos, " jelas pria berbadan sedikit gempal itu.
"Kalau itu aku sudah tau!Apa kamu menemukan kelemahan mereka yang bisa membuat saya memenangkan kasus ini, misalnya hal tersembunyi atau rahasia dari keluarga itu?" tanya Angga lagi.
"Belum tau Bos, saya sedang menyelidiki dan mencari tau kapan cewek yang bernama Sheila itu menikah dengan seorangFajar Sidiq Mubarak? karena Pak Fajar ini sebelumnya kan sudah punya istri, dan istrinya baru saja meninggal beberapa minggu yangg lalu." Pria itu kembali menjelaskan.
"Kamu lanjutkan pekerjaanmu!"Angga memerintahkan anak buahnya itu untuk pergi.
" Baik Bos, "jawab pria itu.
Di balik tembok,Raka benar-benar menjadi tukang kuping pembicaraan orang.Ancaman Fajar soal Video nya yang sedang mem videokan secara diam-diam saat Sheila sedang di dalam ruangan penyidik,membuat Raka merasa nyawanya lebih terancam.
Ibarat kata pepatah ,itu "Bagai makan buah si mala kama.. "