
Fajar merasakan ada yang aneh dengan perkataan Sheila tadi,tapi kesibukannya menangani kasus mengalihkan fikirannya. Saat ini, Fajar memang tidak sedang memegang kasus apapun, tapi kontribusi nya di dalam pemecahan masalah di firma hukum miliknya, tentu saja masih sangat di butuhkan.
Para klien sudah sangat percaya kepadanya, sudah berbagai kasus mereka yang mereka percayakan pada Fajar, dan mereka tidak pernah kecewa.Bisa di bilang, kalau menggunakan Fajar sebagai pengacara mereka, maka mereka pasti bisa menang.
Tidak salah kalau Fajar di nobatkan sebagai Lawyers Of the year.Rata-rata orang yang memakai jasanya, semua puas dan tidak ada yang kecewa.
Hal itu juga lah yang membuat pundi-pundinya semakin banyak dan berlimpah, belum lagi di tambah usaha percetakannya yang kini kembali mendapatkan orderan bernilai ratusan juta hingga milyaran rupiah.Tentu saja, Fajar hanya punya sedikit waktu untuk sekedar beristirahat dan bersantai.
Ditambah lagi,akhir-akhir ini, dia juga harus merjibaku menghadapi gangguan dari pihak Angga.Bertambah pula lah masalah yang harus dia hadapi, membuatnya harus bekerja dan berfikir dengan keras hingga tak kenal waktu.
****
Di kamar....
Sheila sedang merapikan pakaiannya yang baru saja di antarkan oleh Bik Tarnik ke kamar nya, ada juga beberapa kemeja dan Jas suaminya yang sudah di loundry.Semuanya sudah rapi sekarang.
Di sela kesibukannya,Sheila jadi teringat kalau dirinya belum sempat memeriksakan kehamilannya ke dokter. Entah benar dia hamil, atau hanya masuk angin belaka. Sampai saat ini dirinya belum mengalami yang namanya ngidam.
Akhirnya, Sheila memutuskan untuk keluar rumah sebentar.Sheila pun mencoba untuk meminta izin kepada suaminya.
Saat ini Fajar sedang sibuk di depan komputer, Sheila jadi takut kalau nanti malah mengganggu.Fajar merasa kalau dari tadi ada yang sedang memperhatikan dirinya.Dia pun melirik dengan ekor matanya.
"Ada perlu apa? Kenapa dari tadi kamu lihatin aku terus? " tanya Fajar pada istrinya itu.
Sheila jadi gelagapan, karena ketahuan oleh Fajar.Tapi dia buru-buru mendekat agar kesempatan itu tidak hilang.
"Mas... "
"Kenapa? Apa ada yang mau kamu katakan? " tanya Fajar sambil terus mengetik.
"Boleh gak,aku izin keluar rumah sebentar?"tanya Sheila dengan perasaan sedikit takut. Tahu sendiri kan kalau Fajar sampai marah, suaminya itu akan berubah menjadi pria yang mengerikan.
" Mau kemana malam-malam begini?"Matanya melirik sebentar pada sang istri.
"Aku... aku... mau ke apotek, " jawab Sheila jujur.
"Mau ngapain ke apotek?! " Fajar menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi menari lincah di atas keyboard.
Sheila jadi bingung bagaimana menjawabnya, dirinya masih malu kalau harus berterus terang untuk bilang " Aku rasa, aku hamil. "Semua itu hanya berani dia ucapkan di dalam hatinya saja.
"Aku harus membeli sesuatu di sana, " jawab Sheila.
"Kamu ingat kan, kalau kamu baru saja kembali ke rumah karena kasus penculikan?Jadi untuk apa kamu pergi keluar saat malam-malam begini?Besok saja ke apotek nya. " Fajar tidak mau terjadi hal buruk lagi kepada Sheila.
"Tapi Mas.... "
"Tidak ada tapi-tapian,sebaiknya kamu segera tidur.Lihatlah itu, badan kamu lesu dan muka kamu pucat seperti itu.Tidurlah! "
Kali ini Sheila tidak bisa membantah, apalagi saat Fajar masih dalam mode serius seperti ini. Dia harus bisa bersabar, walaupun sebenarnya mini market letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Melihat wajah sedih Sheila, Fajar jadi merasa bersalah karena sudah berkata sedikit keras kepada istrinya tadi.Fajar pun menghentikan pekerjaannya dan mencoba untuk mengembalikan keadaan.
"Maafkan aku, tadi...aku terlalu kasar. " Fajar tidak mau kalau mereka ribut lagi.
"Gak papa kok Mas, aku juga yang tak tahu waktu. Sudah malam begini masih mau keluar, " ucap Sheila .
"Atau gini aja, kamu bisa minta tolong sama Satpam di luar untuk beliin.Kalau gak, suruh si Lina aja, bagaimana? "usul Fajar.
" Gak perlu lah Mas, besok aja aku beli sendiri."Sheila sudah tidak mood.
"Mas gak lanjut kerja? "
"Nanti saja, mataku juga sudah ngantuk.Nanti habis subuh bisa di lanjutkan lagi, " jawab Fajar.
"Ooo."
"Selamat malam, " ujar Fajar.
"Malam juga. "Sheila menarik selimutnya lalu kemudian merebahkan kepalanya di atas bantal empuk itu.
Hatinya masih gelisah, sebelum dia benar-benar tahu dia beneran hamil atau tidak.Sheila memiringkan tubuhnya membelakangi Fajar. Dia tidak ingin kalau Fajar sampai tahu kalau dirinya belum juga tidur.
Tiba-tiba, ada yang melingkar di pinggangnya. Ya, itu memang ulah tangannya Fajar.Pria itu memeluknya erat dari belakang, membuat Sheila merasa sesak, sekaligus hangat. Hembusan nafas suaminya itu, menambah kesan angin surga di ceruk lehernya.
" Mas, geli. "Sheila tidak bohong, dia memang merasakan geli, karena janggut Fajar yang mulai tumbuh memanjang menggelitik di leher dan telinganya.
" Tapi kamu suka 'kan? "tanya Fajar.
Ini pertama kalinya mereka bicara hal-hal yang bersifat sensual seperti itu.Biasanya Fajar tidak pernah berkata-kata manis kepadanya, apalagi merayu.
" Tidurlah, aku hanya ingin memelukmu seperti ini."Fajar mengatakannya dengan kedua matanya yang masih terpejam.
Sesekali dia juga menghujani kepala Sheila dengan ke*upan hangat, membuat Sheila jadi makin gak bisa tidur.Tidak dapat dia pungkiri kalau pelukan Fajar sangat membuatnya nyaman.
Waktu berlalu, Sheila mengira kalau Fajar masih terjaga.
"Mas,bagaimana kalau aku... hamil? Apa tanggapanmu Mas? " tanya Sheila ragu-ragu.
Dengan jantung yang berdebar, Sheila menantikan tanggapan dari suaminya.Detik demi detik berlalu,tak ada jawaban dari Fajar.Sheila pun merasa heran, kenapa suaminya itu tidak memberikan jawaban apapun atas perkataannya barusan.
" Apa Mas Fajar tidak suka?Tapi kan,,,dia yang menantikan seorang anak,"batin Sheila.
Karena penasaran, dia pun berbalik ke arah suaminya. "Yaa, dia tidur. Padahal aku sudah berusaha keras untuk mengatakannya, " keluh Sheila.
Perlahan Sheila mengembalikan kepala suaminya ke bantalnya sendiri,lalu dia pun mencoba untuk tidur walaupun sebentar.
****
Sheila akhirnya terjaga di sepertiga malam,namun tak bisa kembali tertidur.Dia memilih untuk sholat tahajjud saja untuk meminta petunjuk kepada Allah, bagaimana cara terbaik agar dirinya bisa memberi tahu tentang kemungkinan kehamilannya kepada suaminya itu.
Dalam do'a nya, Sheila meminta agar dirinya diberikan kekuatan dalam menjalani kehamilannya nanti.Tak lupa pula, dia mendo'akan sang suami, dan juga calon bayinya yang ada di dalam kandungan, semoga semuanya sehat, dan dilancarkan segala urusannya.
Fajar yang mendengar suara tangis lirih Sheila, jadi terbangun.Tak biasanya istrinya itu bangun di tengah malam dan mengerjakan sholat tahajjud sambil menangis di atas sajadah.
Fajar bangkit perlahan dan menghampiri Sheila. "Ada apa? Kenapa kamu menangis? " tanya Fajar sambil mengelus punggung Sheila.
Sheila terkejut, dia tidak tahu kalau Fajar terbangun dari tidurnya.
"Mas Fajar, maaf... pasti kamu terbangun gara-gara mendengar rintihanku. " Sheila jadi tak enak hati, secepatnya dia hapus air mata yang membasahi mata dan pipinya.
"Bukan karena itu, " jawab Fajar bohong.
"Kenapa kamu menangis malam-malam begini? " tanya Fajar.
"Karena... "