Your Revenge

Your Revenge
Kemana??



"Anak?!. " Sheila sangat takut ketika membayangkan akan hal itu.Fajar menginginkan seorang anak darinya, apakah itu artinya mereka akan melakukannya?, "Oh Tuhan, tolong Sheila. "


"Iya,anak.Sesuai dengan surat perjanjian yang sudah kamu tandatangani waktu itu, kamu harus melahirkan seorang anak untukku!Kecuali kalau kamu ingin selamanya menjadi tawanan Fajar Sidiq Mubarak. " ucap Fajar, sinis.


"Tentu saja aku ingin segera bebas dari penjara ini!. " sahut Sheila.


"Baiklah, kalau begitu malam ini kamu persiapkan dirimu!" tantang pria itu.


"Maksudnya?. " gadis itu malah balik bertanya.


"Tentu saja kita akan segera memprosesnya, jangan bilang kalau kamu tidak bisa juga melakukannya, karena saya tidak percaya kalau gadis seperti kamu ini masih polos." tatapan merendahkan itu lagi yang pria itu perlihatkan padanya.


"Asal anda tahu ya Pak Fajar Sidiq Mubarak yang terhormat!, saya Sheila Anindhita Wibowo memang masih suci dan belum pernah terjamah oleh siapapun! . " ucap Sheila.


"Oo ya, saya jadi penasaran. 🤔Apakah itu benar?? bukankah tadi malam saya juga sudah melihat tubuhmu yang menurut saya biasa-biasa saja. Bahkan saya juga sudah menyentuh beberapa bagian yang menurut saya tidak ada spesial-spesialnya sama sekali. " ejek Pria itu lagi.


Padahal tadi malam, ia bahkan kesulitan bernafas saat membuka pakaian gadis itu untuk menggantikan pakaian Sheila yang kotor berdebu.Ia juga bahkan berkeringat karena melihat tubuh gadis itu yang polos dan sangat indah dimatanya. Bohong sekali kalau ia tidak tergoda,bahkan junior nya juga menegang, namun ia mencoba menepis rasa itu saat debaran jantungnya sudah sulit dikendalikan.


Tak dapat di pungkiri oleh Fajar, jika dia merasakan debaran yang serupa saat dulu ia bersama almarhumah Jihan, bahkan debaran kali ini rasanya lebih dahsyat.


Seandainya ia bisa jujur pada dirinya sendiri,mungkin ia akan menerkam gadis itu semalam. Tapi tidak dengan otaknya yang mendustai hatinya, ia memikirkan cara lain untuk memiliki anak dari gadis itu. Entah cara apa itu, yang pasti ia hanya ingin tujuannya tercapai.


****


Sore ini, Fajar membiarkan Sheila untuk mengerjakan pekerjaan yang mudah saja, yaitu menyiram tanaman di taman, tapi kali ini ia terus mengawasinya. Takutnya nanti gadis tawanannya itu kabur begitu saja, ia sudah sangat hafal tabiat Sheila yang suka kabur-kaburan.


"Sheila yang mendapatkan udara segar sangat senang kali ini, seharian didalam rumah bukanlah tipenya. Ia memang bukan anak rumahan yang betah dirumah seharian tanpa keluar rumah, setidaknya kali ini ia cukup beruntung karena pria itu menyuruhnya untuk menyiram tanaman di taman.


" Bagus!, setidaknya dalam menyiram tanaman kamu saya anggap lulus. "ujar Fajar menilai hasil kerjanya.


" Setelah ini, kamu segera mandi yang bersih dan bersiaplah untuk nanti malam. "tambah pria itu lagi.


Deggg....


Wajah Sheila mendadak tegang,jujur ia sangat takut sekali kalau pria pengacara itu akan menyentuhnya lebih jauh.Yang semalam saja dia tidak ingat apa saja yang dilakukan oleh Fajar kepadanya. Tapi ia tahu kalau hal itu belum terjadi, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Apakah ia akan menolaknya, atau ia harus pasrah begitu saja?, entahlah.


" Apalagi yang kamu tunggu?, ayo cepat kamu masuk dan bersihkan tubuhmu. Aku sudah menyiapkan pakaian yang harus kamu pakai nanti malam. "ujar Fajar.


Dari raut pria itu, tidak ada yang aneh. Terlihat datar dan biasa saja.Sesantai itu ia membicarakan soal membuat anak?.


Tapi tidak bagi gadis itu, jantungnya bahkan sudah ingin melompat keluar dari dadanya. Bayangan akan berbagi tempat tidur dan merelakan dirinya untuk pria yang sudah menjadi suaminya itu juga sudah membuatnya panas dingin.


Sheila segera berlari ke dalam,ia tidak sanggup kalau harus berhadap-hadapan seperti ini dengan pria tampan itu.Tampan tapi sadis, itulah yang ia rasakan. Tidak mungkin ia bisa memaafkan pria yang merusak kehidupan dan impiannya itu.


Sampai saat ini, Sheila masih menyimpan cintanya untuk Akash, meskipun mereka belum juga saling memberi kabar beberapa hari ini. Sheila jadi teringat dengan ponselnya, ia baru sadar kalau dua hari ini ia tidak melihat ponselnya. Entah ada dimana ponsel itu sekarang, apakah di pria itu.


Jawabnya adalah " Iya. "


*


*


*


"Apa dia mau mengajak aku pergi?. " ucap gadis itu lirih.


"Ah, masabodoh lah,aku tidak peduli.Mau apapun itu, yang penting aku tidak harus melayani dia diatas ranjang. Itu akan lebih baik bagiku. " ujar Sheila lagi.


*


*


*


Hari sudah menunjukkan jam 7 malam.Sheila sudah menanti panggilan dari suaminya, ia juga sudah mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Fajar. Sambil melihat tampilannya di cermin, Sheila juga memoles pipi dan bibirnya dengan sedikit compact powder dan juga lipstik yang ada di meja rias. Entah sejak kapan benda itu ada disana, mungkin Sheila saja yang tidak menyadarinya.Tak lupa ia juga memakai maskara di bulu matanya yang lentik, jadi semakin lentik dan terlihat tebal.


Hanya ada tiga benda itu disana selain sisir dan parfum.Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis itu tampil cantik, karena aslinya memang sudah cantik, alis Sheila yang sudah terbentuk secara alami tidak memerlukan eye brow untuk membuat tampilannya lebih hidup.Gadis itu memang sudah cantik dari sononya.


Tokkkk .... tokkkk... tok.....


"Iya, sebentar. " Sheila meraih gagang pintu untuk membukanya .


"Eh, Bibik rupanya. Sudah kembali Bik?. " tanya Sheila ketika yang ada dibalik pintu ternyata bukanlah Fajar, melainkan pembantunya yang waktu itu pernah membawakan makanan untuknya.


"Iya Nyonya,semalam Tuan Fajar telepon dan minta saya untuk segera kembali. Katanya rumah gak ada yang membersihkan. " jawab Bik Tarni dengan jujur, tapi itu cukup menohok bagi Sheila, karena memang dia gak ada bakat bersih-bersih rumah.


"Jadi Bibik baru sampai, jam berapa?. " tanya Sheila.


"Baru aja Nya,tadi habis ketemu Tuan Fajar dan diminta manggilin Nyonya untuk ke ruang tamu katanya. " jawab Bik Tarni.


"Ke ruang tamu?. "


"Iya Nya, Nyonya sudah di tunggu disana. " jelas Bik Tarni.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih ya Bik. " ujar Sheila, ia pun segera menutup pintu dan langsung mengikuti Tarni ke ruang tamu.


Ternyata disana Fajar sudah menunggunya dengan setelan yang rapi, berupa kemeja abu-abu yang dipadukan dengan sweater berwarna biru navy kombinasi abu dan setelan celana jeans senada, membuat pria itu tampak gagah dan sangat tampan.


Sejenak Fajar pun terlena melihat tampilan Sheila,walaupun sedang menggunakan tunik yang panjangnya selutut dan celana jeans berbahan karet, Sheila nampak tetap cantik, apalagi gadis itu juga memakai riasan yang ia siapkan.


Karena tidak begitu mengerti soal make-up,ia pun mempersiapkan secara acak saja, itu juga bekas istrinya yang sudah meninggal.


Sheila tidak menghiraukan tatapan dari pria itu, ia hanya melihat kearah luar pintu. Sepertinya suaminya itu akan mengajaknya pergi keluar, mobil sudah siap di luar.


"Ayo kita pergi. " ajak suaminya itu.


"kemana?. " tanya Sheila, ia harus tahu kemana pria itu akan membawanya.