
Fajar bergegas turun ke bawah, ia merasa harus mendinginkan hatinya yang mulai terasa panas.Fajar menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.
Baru saja dirinya akan membuka lemari es besar itu, tiba-tiba ada suara seseorang yang mengejutkannya.
"Tuan sedang mencari apa?Biar saya yang ambilkan, " tawar gadis pelayan yang tak lain adalah Lina.
Fajar pun mundur beberapa langkah dari depan kulkas, memberi celah agar Lina bisa mengambilkan apa yang ia butuhkan, bukan bermaksud apa-apa, dirinya hanya ingin pelayannya itu melakukan tugas-tugasnya saja.
Selama ini, yang Fajar tau, Lina sangat jarang bekerja di rumah.Semua pekerjaan rumah rata-rata Bik Tarnik yang melakukannya, sedangkan Lina kebanyakan hanya bermain HP dan nonton TV, atau kalau gak keduanya ,Lina lebih suka untuk jalan-jalan keluar.
"Ambilkan aku minuman kaleng yang dingin, dua!" Fajar berdiri di dekat pantry sambil memainkan ponselnya.
Dengan senang hati, Lina melakukan apa yang di perintahkan oleh majikan laki-laki nya itu.Pria incarannya.
"Ini Tuan, apa ada lagi? " Tanya Lina sambil mengerlingkan matanya malu-malu, di hadapan Fajar.
Jujur saja, di dalam hatinya,Fajar sangat eneg melihat tingkah pelayan baru itu."Idihhh."
"Ambilkan sepiring kue juga, tadi aku lihat ada kue di sana," ujar Fajar.
Cepat-cepat,Lina mengambil piring dan menaruh potongan-potongan kue brownies di atasnya.
"Segini cukup,Tuan? "
"Hmm, " jawab Fajar malas.
Lina kemudian mengambilkan sebuah nampan dan menaruh piring berisi kue, beserta minuman dingin itu ke atasnya."Ini Tuan, "ujarnya seraya memberikan nampan itu kepada Fajar.
" Terimakasih. "Fajar pun segera pergi dari sana, ia membawa nampan ditangannya ke kursi santai di teras samping rumah.
Lina yang melihat Fajar pergi ke arah pintu samping, begitu kegirangan. Hari ini, sikap Fajar tidak kasar kepadanya,sungguh suatu peluang bagus untuk bisa merebut hati majikan tampannya itu.Lina tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
" Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu? "Tiba-tiba Bik Tarnik membuyarkan lamunan keponakannya itu.
" Ah, Bibik! Bikin Lina hampir jantungan tau'."ujar Lina, terkejut.
"Kamu itu ya, jangan kebanyakan melamun. Sebaiknya kamu itu pulang saja ke desa kalau sudah tidak mau bekerja di sini. Bibik jadi malu sama kelakuan kamu,masih ingat tidak waktu Tuan Fajar marah-marah kemaren?! " Bik Tarnik benar-benar kesal sama kelakuan keponakannya itu.Hanya menyusahkan dirinya saja.
"Iya, "jawab Lina sambil cemberut, bibirnya usah kayak bibir bebek yang di monyong-monyongin.
Lina tidak peduli apa yang baru saja dikatakan oleh bibik nya itu.Satu hal yang ia fikirkan, adalah bagaimana caranya,ia bisa merebut hati Fajar dan bisanya jadi Nyonya dari rumah besar ini?
Lina tersenyum kembali, ia punya ide kali ini.Dirinya akan pura-pura bekerja menyiram tanaman di taman samping.Meskipun biasanya ia menyiram tanaman di pagi hari, tapi kali ini,ia akan menyiram tanaman di sore hari.
Gadis itu mulai menyalakan keran dan menghubungkannya dengan selang panjang yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.Ia melakukannya sambil bernyanyi riang untuk menarik perhatian Fajar.
" Hey! Hentikan nyanyian mu itu! Berisik! Lain kali, siram saja tanaman itu di pagi hari,ini sudah hampir malam,kerjakan pekerjaan di dapur saja! ."Fajar sangat tau apa yang ingin di lakukan oleh pelayan seperti Lina.
" Entah apa lagi yang akan di lakukan oleh gadis desa ini? Semakin hari semakin banyak tingkahnya, ia kira aku bisa semudah itu jatuh hati kepadanya, sementara istriku saja begitu cantik dan baik,"ucap Fajar lirih.
Seseorang di balik pintu kaca saat ini sedang tersenyum mendengar ucapan suaminya,Sheila baru saja ingin menghampiri Fajar, tadi. Saat Fajar tiba-tiba membandingkan dirinya dengan Lina,sang pelayan.
Hatinya jadi seperti berbunga-bunga, tapi ia kembali teringat akan pertengkarannya dengan Fajar barusan di kamar.Mereka harus segera menyelesaikannya saat ini juga, sebelum semuanya jadi berlarut-larut.
Sheila selalu melihat Papa dan Mamanya selalu cepat berbaikan kalau keduanya habis bertengkar.Ia akan mencontoh hal itu dari mereka, agar kehidupan rumah tangganya bisa langgeng, ya... walaupun pada akhirnya mereka memang harus berpisah,karena surat kontrak itu masih belum di musnahkan, hanya di tambahkan klausul nya saja.Entah itu akan bisa terwujud atau tidak,tidak akan ada yang tau kecuali Tuhan yang Kuasa.
Sheila berjalan mendekati suaminya,ia akan mencoba untuk berdamai dengan keadaan kali ini.Sebagai seorang istri, ia pun tak segan untuk meminta maaf terlebih dahulu,biarlah ia yang memulai duluan,Sheila tidak mau jika nanti di saat ia sudah memeriksakan kandungannya,Fajar tidak ada di sampingnya.
"Mas, " panggil Sheila, sebelum ia ikut duduk di sofa,yang diduduki oleh Fajar.
Fajar pun menoleh sesaat, walaupun setelah itu ia pun langsung membuang pandangannya ke arah tanaman-tanaman yang ada di taman, untuk menghindari tatapan dengan mata sang istri.
"Kenapa kamu ke sini? Harusnya kamu istirahat saja di kamar! "Fajar seperti bersikap acuh tak acuh di hadapan Sheila, padahal tadi dia baru saja ketahuan memuji istrinya itu diam-diam.
"Mas, sedang apa disini? " Sheila hanya berbasa-basi, ia juga tau kalau Fajar sedang memikirkan sesuatu, dan mungkin itu soal pertengkaran mereka barusan.
"Menurut kamu? " Fajar malah balik bertanya,entah kenapa dirinya masih tidak mau menatap mata istrinya.Seperti anak kecil yang sedang merajuk saja.
"Aku minta maaf kalau tadi aku salah, ya... walaupun...rasanya kata-kata kamu tadi sangatlah menyakitkan di hati aku,tapi aku capek kalau kita harus bertengkar terus." Sheila mencoba membuka pembicaraan ini.
Fajar tersenyum kecil, dalam hatinya juga ingin berbaikan, walaupun masih ada yang mengganjal di sana.Foto-foto itu,itu masih teringat jelas di dalam otaknya, berputar-putar seperti sebuah kaset kusut yang tak ada hentinya.
"Sudahlah, tidak usah di fikirkan. Sebaiknya, kamu masuk dan beristirahat di kamar.Di sini anginnya mulai dingin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. " Fajar pun berdiri dan mengajak istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Ayo,masuk! "
"Tapi, minuman dan kuenya? " Sheila melihat minuman itu baru saja di teguk sedikit oleh suaminya.
"Ini, biar aku yang membawanya ke kamar. " Fajar pun membawa nampan itu di tangannya.Kali ini, Fajar juga ingin berbaikan,karena pertengkaran hanya akan menciptakan jarak diantara keduanya,sementara di hati Fajar,istrinya itu sudah sangat ia rindukan.
***
Setibanya di kamar, Fajar menaruh nampan yang ia bawa. "Kamu pasti lapar? Makanlah kue nya, itu juga masih ada sekaleng soda, minum saja. " Fajar menawarkannya kepada Sheila.
"Aku gak minum soda,Mas," jawab Sheila.
"Kenapa? " Fajar heran,karenanya ia pernah memergoki Sheila yang mengambil sekaleng minuman soda di kulkas dan meminumnya dengan cepat di depan kulkas.
"Karena...., ah nanti juga kamu akan tau sendiri."Sheila pun tersenyum penuh kebahagiaan, sebentar lagi ia akan jadi seorang ibu,dan dirinya akan segera memberitahukan semuanya kepada Fajar kalau ia sudah memeriksakan dirinya ke dokter kandungan,nanti.Bisa di bilang, ini akan jadi sebuah kejutan untuk suaminya itu.