Your Revenge

Your Revenge
Menangisi Dosa



Mendengar cerita dari anak itu, mendadak lutut Sheila kaku. Rasanya semua tubuhnya tak bisa bergerak, ini sungguh tak pernah ia prediksi akan terjadi didalam kehidupannya. Hidupnya yang dulu sempurna,kini sudah tercoreng dengan dosa yang sama sekali tak pernah ia inginkan untuk melakukannya.


Sheila menangis sejadi-jadinya,dipinggir jalanan itu.Ia terduduk,tanpa beralaskan apapun.Hingga remaja itu menyadarkannya dengan menyodorkan nya segelas air mineral.


"Kakak kenapa, ini diminum dulu airnya. "


"Ah,,,, iya. Maaf. Kakak cuma shock aja dengar cerita kamu. Terimakasih ya airnya. Ini untuk kamu. " Ujar Sheila sambil merogoh uang di sakunya, selembar uang merah ia berikan kepada remaja penjual asongan itu.


"Gak ada kembaliannya Kak. " jawab anak itu.


"Gak usah dikembalikan, itu semua untuk kamu. Terimakasih sudah menceritakan semuanya sama Kakak ya. " ujarnya.


"Iya Kak, sama-sama. " jawab anak itu, kemudian ia permisi untuk lanjut berjualan lagi.


Menyesal sudah tak ada gunanya, kini Sheila hanya bisa berjalan gontai meskipun tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Wajar saja kalau Pria itu akan menuntut balas kepadanya, ia memang bersalah karena sudah membuat Pria itu kehilangan orang-orang tercintanya.


Dengan tertatih, Sheila menghampiri warung yang juga terkena dampak dari kecelakaan itu.Memang kondisi warung itu sudah diperbaiki, dan bahkan sudah direnovasi menjadi lebih modern dengan dinding beton yang semula hanya dari papan.


Dengan sedikit rasa takut, Sheila masuk kedalam warung tersebut.Pemilik warung yang menjual bermacam gorengan dan juga mie instan beraneka rasa itu pun terkejut melihat kehadiran Sheila di warungnya.


"Neng ini yang waktu itu nabrak warung saya 'kan?. " tanya Ibu pemilik warung.


"Iya Bu,saya da-tang ke-sini ingin me-minta ma-af se-cara lang-sung ke-pada I-bu dan juga su-ami Ibu. " ujarnya Sheila terbata.


"Sudah dimaafkan kok Neng, lagi pula Papa nya Neng sudah menggantikan warung kami dengan yang baru, dan lebih bagus. " ujar Ibu itu.


"Lalu bagaimana dengan keadaan suami Ibu?.Apakah sehat?. " tanya Sheila mulai mencair.


"Tuh suami saya, dia baik-baik saja kok Neng. Malahan sudah bisa jualan lagi. "


"Oh, baguslah kalau begitu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya. " Sheila mengeluarkan kartu namanya dari dalam tasnya lalu memberikannya pada istri pemilik warung itu.


"Wah, gak usah Neng. Uang yang diberikan oleh Papa nya Eneng aja masih banyak kok Neng.Bahkan bisa buat makan dua tahun, terimakasih banyak loh Neng. Nanti sampaikan salam kami buat kedua orang tuanya Eneng. " jawab Ibu itu.


"Syukurlah kalau begitu Bu,Oh iya Bu. Apa Ibu tau siapa nama-nama korban yang menggunakan sepeda motor sport waktu itu?" Sheila tak menyiakan kesempatan untuk bertanya.


"Ooh, yang istrinya meninggal itu ya Neng.Eh.. maaf,Ibu keceplosan. " tiba-tiba saja suami Ibu itu memanggil istrinya.


"Ibu, sini!. " panggilnya.


Entah apa yang dibicarakan oleh pasangan itu, yang pasti setelah itu Ibu pemilik warung tak kembali lagi ke hadapan Sheila.


Sheila yang merasa diabaikan langsung pergi dari sana,ini sudah terlalu sore. Sebentar langit akan menjadi gelap.


Akhirnya Sheila hanya bisa pamit sambil teriak, "BU, SAYA PERMISI YA... " seru nya.


"IYA NENG.. " sahut Ibu itu.


****


Sheila merasa Ibu pemilik warung dan suaminya itu sengaja merahasiakan nama korban yang ingin ia ketahui.Lagi-lagi Sheila merasa curiga pada Papa dan Mama nya. Mungkinkah ini semua mereka yang mengaturnya, sehingga para korban, dan semua bukti rekaman CCTV pun seolah lenyap tak bersuara.


Ternyata benar, itu pesan dari si pengacara yang hari ini dan besok menjadi dosen tamu di kampusnya.Dengan malas namun disertai sedikit rasa penasaran, Sheila membuka pesan itu.Matanya terbelalak ketika mengetahui isi pesan tersebut.


..."Kamu tidak boleh menghindari saya, karena bagaimana pun juga pasti saya bisa membuat kamu tidak bisa berkutik! ingat itu. Besok kamu tetap harus jadi asisten saya!! jangan orang lain!!. "...


Sekarang bagaimana?,tadi Sheila sudah minta digantikan oleh Alya untuk menjadi asisten si pengacara itu.


"Bodoamat lah!! aku juga gak akan berangkat ke kampus besok. Terserah mau dapat nilai atau gak lagian sikapnya itu sangat ketus dan pemaksa. Lebih-lebih aku ini kacungnya. " gerutu Sheila.


Ia pun melajukan mobilnya untuk kembali kerumah,dimana dari tadi Mamanya sudah menantikan kepulangannya. Ternyata Ibu pemilik warung itu sudah memberi tahu Nyonya Fatiah kalau Sheila mendatangi dirinya dan suaminya di warung mereka dan bertanya soal korban yang lainnya.


Hal itu membuat Nyonya Fatiah dan Tuan Hari begitu khawatir, namun mereka tidak mau menghubungi Sheila dan menyuruhnya cepat pulang.Mereka takut kalau putrinya itu akan curiga kepada mereka.


"Bagaimana ini Pa?, bagaimana kalau Sheila tahu soal korban yang meninggal itu!. " Nyonya Fatiah benar-benar cemas.


"Sudahlah Ma,muka Mama jangan tegang begitu, nanti yang ada Sheila akan semakin curiga sama kita.Mama gak mau kan kalau kita sampai dianggap putri kita sudah berbohong kepadanya. "ujar Tuan Hari.


"Papa sih, kenapa kita gak jujur aja sih Pa. Toh Mama yakin kalau suatu hari nanti pasti putri kita akan mengetahui semua kebenarannya.Kalau sudah begitu, pasti dia akan sangat kecewa pada kita Pa. "


"Sudahlah Ma, Papa bilang cukup ya cukup!. gak usah dibahas lagi. Masalah ini sudah kelar, bahkan pihak kepolisian pun tidak ada yang mengungkit kasus ini lagi.Toh kita kan juga sudah bertanggungjawab dengan memberikan santunan kepada para korban. " ujar Tuan Hari lagi.


"Tapi bagaimana kalau Sheila sampai tau, kalau dia sudah menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya Pa?. "


"Papa sudah bilang, itu semua kecelakaan Ma.Putri kita tidak sengaja,ini diluar kendali kita Ma, semua kehendak yang diatas. " Tuan Hari sudah sedikit emosi, karena istrinya itu terus saja membuat kepalanya sakit.


"Apa benar semua yang barusan Sheila dengar Pa?. " tanya Sheila yang kini berdiri diambang pintu ruang keluarga.


Sontak saja hal itu membuat kedua orang tuanya itu menoleh ke arahnya.Meskipun ia sudah tau sebelumnya dari anak remaja penjual asongan itu, tapi kali ini ia kembali terkejut mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang dengan sengaja telah menyembunyikan hal penting ini darinya.


"Sheila... " mata Nyonya Fatiah sampai membola.


"Sheila... dengerin penjelasan Mama dulu sayang. " Nyonya Fatiah mengejar Sheila yang langsung berlari ke kamarnya dengan deraian air mata.


"Sayang, tunggu Nak. Mama bisa jelasin.. " Namun Sheila yang merasa telah dibohongi hanya bisa menangis dan duduk terpekur di sudut kamarnya.


Melihat itu, Nyonya Fatiah merasa hancur.Putri satu-satunya yang ingin mereka jaga perasaannya kini sudah tau semuanya.


"Aku seorang pembunuh Ma, pembunuh.... hiksss... hiksss hiksss. " ratapnya.


"Nggak sayang, kamu bukan pembunuh. Itu hanya kecelakaan Nak, kamu tidak bermaksud menyebabkan semuanya.Iya kan?." ujar Sang Mama sambil memeluk dan mengelus kepala putri nya itu.


"Tapi tetap saja Ma,Sheila udah membuat orang lain menderita karena kehilangan orang yang ia cintai. " Sheila kembali terisak, menangisi dosa yang sudah terjadi.


"Sudah sayang,kalau menangis bisa mengurangi beban dihati kamu,menangislah dipelukan Mama nak. " ujar Nyonya Fatiah.


Seketika air mata Sheila kembali tumpah dengan derasnya, sampai-sampai membasahi baju yang Mamanya kenakan.


"Sekarang beri tahu Sheila Ma, siapa nama korban yang memakai sepeda motor itu? . Sheila ingin meminta maaf secara langsung Ma. " ucap Sheila ditengah isakannya.


"Itu.... itu..... " Nyonya Fatiah tampak ragu, sepertinya ia mengkhawatirkan sesuatu.Tapi entahlah apa yang menyebabkan ia takut ketika akan menyebutkan nama korban yang diminta putrinya.