
Sorot mata Fajar yang seakan menusuk sampai ke relung hati Sheila, memaksa wanita itu mundur ke belakang. Sheila tersudut di tepian tempat tidur, sementara suaminya itu terus maju dan menghimpit tubuhnya.
Fajar tak melepaskan Sheila sedikitpun dari tatapannya, pria berewokan tebal itu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila. Dengan mata yang mengintimidasi, membuat tubuh Sheila bergetar ketakutan.
"Apa kamu masih menginginkan dia? " tanya Fajar lembut, tapi menusuk.
"Ti-tidak Mas, aku hanya membuka akun sosial mediaku, dan aku juga baru tahu kalau dia mengirimi aku pesan. " Sheila menjawab dengan sedikit terbata.
Fajar menyatukan kening mereka berdua, menatap manik mata Sheila dari dekat hingga hidung keduanya bersentuhan.
"Jangan coba-coba main hati di belakangku! Atau kamu akan tahu sendiri akibatnya! " ancam pria bertubuh atletis itu kepada istrinya yang kini meringis ketakutan.
Tak lama kemudian, Fajar menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Sheila. Pria itu lalu membuang muka dan langsung berjalan keluar kamar meninggalkan istrinya yang sedang shock sendirian.
****
Fajar berdiri di depan pinggiran pembatas lantai dua,sambil melihat ke bawah. Tangannya mengepal menahan amarah. Tanpa pikir panjang, dia meninju pilar besar di sampingnya. Saking kuatnya tinjuan itu, hingga tangannya mengeluarkan darah segar karena permukaan kulitnya pecah.
Fajar meringis kesakitan, tapi dia masih bisa menahannya sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya dengan cepat.
Lina yang baru saja selesai menutup semua jendela di lantai bawah, tak sengaja melihat tuannya itu meringis kesakitan dari bawah. Gadis itu buru-buru naik untuk memastikannya.
" Tuan? Tuan tidak apa-apa ?" tanya Lina.
" Cckkk! " Mulut Fajar mendesis." Sssshhh." Lain yang diharapkan, lain pula yang datang.
Lina jadi bingung, bagaimana caranya agar tuannya itu suka kepadanya. Boro-boro suka, baru di tanya gitu aja, pria idamannya itu malah berlaga acuh tak acuh.
sulit sekali menaklukkan dia, fikir Lina.
" Tolong ambilkan kotak obat dan bawakan kemari! " titah Fajar.
" Baik Tuan, sebentar saya ambilkan di bawah." Lina bergegas lari menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.
Gadis itu sangat senang karena dia mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Fajar, apalagi barusan tuannya itu tidak menolak tawaran bantuan darinya.
Dengan cepat, Lina mencari kotak obat, sampai-sampai seluruh lemari dapur jadi berantakan, karena ternyata gadis itu belum tahu di mana letaknya kotak obat itu.
Bik Tarnik yang mendengar suara barang berjatuhan, mengira kalau ada maling yang masuk ke dalam rumah. Beliau yang tadinya sudah beristirahat, kini terpaksa keluar lagi dari kamarnya.
" Ya ampuuuun, Li... na! Ternyata kamu...malingnya! " bentak Bik Tarnik pada keponakannya itu.
" Husssstttt! Bibik bisa gak sih gak usah pakai teriak-teriak segala, aku lagi cari kotak obat nih! Tuan Fajar sedang terluka, jadi sekarang aku sedang mencari kotak obat untuk mengobati luka Tuan. " Lina menjelaskan kepada bibiknya itu.
" Terluka? Kok Bisa? Di mana? Kena apa?" tanya Bik Tarnik beruntun.
" Satu-satu dong Bik. Lina bingung nih jadinya, cepat katakan di mana letaknya kotak obat itu? " Lina sudah kesal sekali, karena Bik Tarnik, tugasnya dari majikan tersayangnya itu jadi terlambat dikerjakan.
" Bukan di sini, tapi tuh di lemari yang sana tuh, tempat menyimpan obat-obatan," tunjuk Bik Tarnik pada semua lemari kaca kecil yang ada di dinding.
" Dasar anak gak tahu diri, di kasih tahu bukannya terimakasih. Nyebelin! " Bik Tarnik jadi kesal banget dengan kelakuan Lina sang keponakan, semuanya jadi berantakan tapi tidak diberesin.
" Nyesel saya ajakin kamu ke sini!" Bik Tarnik balik badan,hendak kembali ke kamarnya.
Tapi setelah tiga langkah, pembantu itu pun berhenti. Bik Tarnik jadi khawatir kalau keponakannya itu akan berbuat hal yang tidak-tidak lagi seperti waktu itu.
Mengingat kejadian waktu itu, Bik Tarnik langsung mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Wanita parubaya itu kemudian menyusul keponakannya ke atas.
Sesampainya di atas, Bik Tarnik melihat Lina yang sedang duduk di lantai sambil mengobati tangan Fajar yang terluka. Majikannya itu duduk di sebuah sofa panjang di pinggir balkon pembatas lantai dua.
Dengan langkah pelan, Bik Tarnik menghampiri majikannya itu. Fajar sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, sambil memejamkan kedua matanya.
Bik Tarnik berdiri di belakang Lina, dia ingin mengawasi keponakannya itu agar tak salah langkah.
"Biar Bibik saja yang membalut luka, Tuan," ujar Bik Tarnik.Dia sengaja menguatkan suaranya agar Fajar bangun. Lina juga terkejut.
Benar saja, Fajar langsung terbangun dari lelapnya.
"Bik, sejak kapan Bibik di situ? " tanya Fajar pada pelayan yang sudah lama bekerja kepadanya itu.
"Baru saja Tuan, Bibik dengar dari Lina kalau Tuan sedang terluka. Sini, biar Bibik saja yang mengobati, Lina belum terlalu bisa membebat luka, Tuan," ujar Bik Tarnik, dia harus bisa membuat Lina menjauh dari Fajar.
"Ini sudah hampir selesai kok ,Bik! " Lina begitu kesal dengan bibiknya itu, selalu saja ingin menggagalkan semua rencananya.
Fajar yang seorang pengacara, hanya diam saja. Dia hanya memperhatikan bagaimana cara Bik Tarnik dalam mengatasi keponakan gan*ennya itu. Tanpa di kasih tahu dia juga sudah tahu apa motif yang tersembunyi di dalam benak Lina.
"Lina, tadi Bapakmu telepon ke HP Bibik, katanya nomor kamu gak aktif, coba kamu cek sana! " Bik Tarnik hanya membuat alasan saja, dia mau Lina menjauh dari tuannya.
"Ah, palingan Bibik bohongin Lina aja, Lina masih mau di sini melayani Tuan, " ujar Lina ketus.
Bik Tarnik tak tahu harus menjauhkan Lina dengan cara apalagi, keponakannya itu sudah pintar membalas ucapannya sekarang.
Fajar merasa pusing sekali, apalagi masalahnya sendiri belum terselesaikan. Ini malah disuguhi drama bibi dan keponakannya yang semakin membuat kepalanya semakin ruwet saja.
"Sudah, sudah! Sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing. Saya ingin istirahat. " Fajar berdiri dari duduknya, lalu dengan langkah gontai, dia kembali ke kamar.
Lina dan Bik Tarnik hanya bisa saling pelotot karena keduanya tak ada yang mau mengalah satu sama lain. Bik Tarnik lalu menarik tangan keponakannya itu untuk turun ke bawah.
****
Fajar membuka pintu kamarnya perlahan, takut kalau istrinya itu sudah tertidur. Fajar tahu kalau sikapnya tadi sangat keterlaluan, padahal wajar saja kalau Sheila masih memiliki rasa dengan mantan pacarnya, mengingat pernikahan mereka juga bagi Sheila adalah suatu pemaksaan. Tapi, meskipun begitu, Fajar tidak ingin kalau wanita yang sudah dia nikahi masih memikirkan pria lain. Mau ditaruh di mana harga diri seorang Fajar sang pengacara ternama, kalau dia sampai membiarkan istrinya selingkuh mata seperti itu?
Sheila yang bergelung di dalam selimut hanya bisa diam membisu, dia belum tidur. Hanya saja dia masih belum mau berbicara dengan laki-laki yang baru saja bertindak kasar terhadapnya itu.
Sungguh itu sangat menyakitkan sekali bagi Sheila, apalagi dirinya saat ini berkemungkinan tengah mengandung anak dari laki-laki itu.