
"Jadi gak Mbak naik?. " tanya supir taksi online yang sudah menunggu dari tadi, tapi penumpangnya malah sibuk teleponan.
"Maaf ya Mas, gak jadi. Tapi Mas nya tenang saja, saya tetap bayar kok sesuai aplikasi. " Sheila segera melakukan pembayaran.Akhirnya taksi online itu pergi juga.
Baru saja Sheila mau duduk di bangku kosong depan kampus, ada suara yang memanggilnya.
"Sheila."ujar suara itu.
Sheila tersentak dan terkejut, ternyata itu adalah Angga.
"Belum pulang?. " tanyanya.
"Ee, belum Kak. Ini juga lagi nunggu jemputan. " jawab Sheila seadanya.
"Bareng sama aku aja. " ajak Angga.
"Maaf Kak, kayaknya gak usah deh Kak.Sebentar lagi jemputannya juga datang. " tolak Sheila lagi, bisa berabe kalau sampai suaminya itu memergoki dirinya ngobrol seperti ini dengan Angga, walaupun dibelakang Angga masih ada anggota Genk nya yang lain juga.
"Ayolah Bro,kita kan masih ada pertandingan basket habis ini.Jangan sampai kita telat,entar yang ada kita bakal di diskualifikasi. " ujar Reymond.
"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya. Kalau nanti jemputan kamu gak datang juga, kamu hubungi aja nomor ini. " Angga menyodorkan sebuah kartu nama kepada Sheila.
Karena gak enak kalau menolak, akhirnya Sheila pun menerima kartu nama itu meskipun berat.
*
*
*
Angga kini sudah pergi bersama rekan-rekannya,cowok itu pantang menyerah juga meskipun Sheila tidak pernah menerima tawarannya.Dimatanya Sheila merupakan cewek yang membuatnya penasaran karena sulit untuk ditaklukkan.
sreettt...
Mobil Fajar berhenti tepat di hadapan Sheila.Pria itu pun turun dari mobilnya dengan cepat,dari kilatan matanya sudah bisa ditebak kalau sekarang ini kondisinya sedang marah.
"Ayo pulang!. " ujarnya secara kasar sambil menarik tangan Sheila.
Untung saja suasana di depan kampus sudah mulai sepi karena sebagian Mahasiswa sudah pada pulang, dan sebagian lagi masih didalam.
"Pelan-pelan Pak, eh... maksud saya Mas. " Sheila mencoba melepaskan cekalan tangan Fajar yang sangat ketat di pergelangan tangannya.
Bukannya melepaskan, Fajar malah menyeretnya untuk segera masuk kedalam mobil.
Setelah memastikan istrinya duduk dengan tenang dan tidak memberontak lagi,Fajar segera melajukan mobilnya.Sheila dilanda ketakutan,ia tidak berani membuka suara.
"Asyik kamu ya?!. " amarah Fajar kembali memecah keheningan.
"Maksud Pak Fajar apa?. " Sheila bingung, entah apa lagi yang sudah membuat suaminya ini marah-marah kepadanya.
"Sudahlah tidak usah ngeles,aku sudah lihat semuanya. " ujar Fajar.
"Saya tidak mengerti apa yang anda maksud?. " Sheila makin bingung.
"Kamu tahu apa maksudku. " ujar Fajar lagi.
"Terserah, saya pusing. Bisa tolong antarkan saya ke Toko buku?, saya harus membeli beberapa buku untuk menunjang materi yang sedang saya pelajari. " ujar Sheila kemudian.
"Kita langsung pulang, tidak ada acara ke Toko buku segala. " jawab Fajar.
"Aku bilang tidak perlu ya tidak perlu, dirumah sudah banyak buku milikku.Kamu bisa pakai semuanya, asalkan kamu jaga dengan baik dan jangan sampai ada kerusakan sedikitpun. " ujar Fajar.
Sheila tidak tahu harus bagaimana lagi,kini tubuhnya merosot dan terduduk lemas seakan tak berdaya. Pupus sudah harapannya untuk refresing di toko buku, pupus juga harapannya untuk mengunjungi kedua orang tuanya setelah itu.
Melihat wajah Sheila yang berubah menjadi murung, Fajar jadi sedikit iba.Sesekali ia melirik ke arah wanita yang tadi malam sudah berbagi selimut dengannya.
Sheila yang sedari tadi hanya tertunduk lesu tidak mengetahui kalau saat ini mobil yang dikemudikan oleh suaminya itu sudah berhenti didepan sebuah Mall yang ada di kota ini.
"Ayo turun, katanya mau beli buku. " ajak Fajar.
Mendengar itu, Sheila langsung mendongakkan kepalanya melihat sekeliling. Matanya seketika berbinar,ada secercah kebahagiaan di sana.
Fajar bisa melihat perubahan mood yang signifikan diwajah istrinya itu.Tanpa sadar ia pun tersenyum,sejenak ia teringat akan almarhumah istrinya yang selalu tersenyum setiap hari. Terbayang kembali moment-moment indah ketika bersama Jihan dulu.
Tanpa fikir panjang, Sheila segera turun dari mobil Fajar dan berjalan lebih dulu tanpa menghiraukan Fajar yang masih terlarut dalam lamunannya di dalam mobil.
Ketika Sheila sudah tak terlihat,barulah Fajar tersadar dari lamunannya yang melambung tinggi bersama almarhumah istri pertamanya.
"Astaghfirullah." Fajar mengusap wajahnya sekilas ketika kesadarannya kembali.
"Dimana dia?. " Fajar kaget karena Sheila sudah tidak ada lagi didalam mobil.Ia pun segera bergegas turun dan mencari keberadaan istri barunya itu.
Tujuan utamanya adalah ke toko buku yang ada di lantai dua Mall.Lama berkeliling, Fajar tak kunjung menemukan Sheila. Beragam dugaan hinggap dikepalanya, terlintas dipikirannya kalau istrinya itu sengaja ingin kabur darinya.
Karena tak juga ketemu,Fajar naik ke lantai 4 Mall. Disana ia pun mencari Sheila persis seperti anak ayam yang kehilangan induknya., hingga sampai lah ia di sebuah toko buku yang menjual lebih banyak buku dibandingkan toko buku yang lainnya yang ada di Mall itu.
Fajar memasuki toko tersebut dan mencari-cari kalau-kalau sang istri kecilnya itu ada disana.Sudah hampir putus asa dan ingin menelpon Sheila saja, tapi tiba-tiba ia melihat Sheila yang sedang membantu seorang anak kecil mengambil buku yang diinginkan anak itu.
Tangan anak itu tidak bisa menjangkau tempat buku yang tinggi, oleh sebab itu Sheila menawarkan untuk membantunya mengambil buku yang anak itu mau.
Dengan lembut Sheila memberikan buku itu kepada anak perempuan tersebut dan anak itu pun tersenyum menyambutnya.
"Terimakasih kakak cantik,kakak baik deh. " ujar anak itu.
"Sama-sama sayang. " jawab Sheila sambil mengelus rambut anak itu dengan lembutnya.
Fajar yang menyaksikan hal itu tersentuh, ia bisa melihat kalau Sheila memiliki hati yang tulus dan juga penyayang.Sejenak Fajar jadi membayangkan seandainya nanti mereka memiliki seorang anak, pasti Sheila bisa menjadi seorang Ibu yang baik bagi anaknya.
Akan tetapi, tiba-tiba pula Fajar teringat kalau pernikahannya dengan Sheila hanya berdasarkan atas balas dendamnya.Kalau pun nanti Sheila mengandung dan melahirkan anaknya,mereka tidak akan pernah menjadi sebuah keluarga yang utuh layaknya keluarga bahagia lainnya, karena sesuai dengan surat perjanjian itu, Sheila akan bebas setelah ia berhasil melahirkan seorang anak untuk Fajar.
Fajar menggelengkan kepalanya, ia tidak mau terlena dan terbuai dengan kelembutan yang ditunjukkan oleh gadis itu.Ia harus tetap fokus pada misi balas dendamnya, tidak boleh sampai ada yang namanya main hati ataupun main perasaan. Dalam hubungan ini tidak boleh ada cinta didalamnya, karena kalau sampai ia jatuh cinta dengan gadis cantik itu, sudah dapat dipastikan dialah yang akan kalah.
Setelah memberikan buku anak itu, Sheila pun bermaksud untuk membawa buku-buku yang sudah ia pilih ke kasir untuk membayarnya.
Fajar diam-diam mengikutinya dari belakang.
"Total semuanya jadi 568.000 rupiah ,Mbak. " ujar Mbak kasir.
Baru saja Sheila ingin melakukan pembayaran melalui QR, tiba-tiba Fajar sudah menyodorkan kartu kreditnya dari arah belakang Sheila.
"Pakai ini ,Mbak. " ujar Fajar.
"Wah, anda ini kan pengacara terkenal itu. Fajar Sidiq Mubarak 'kan?. " Mbak kasir itu malah terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Fajar.Matanya tak berkedip sedikitpun, dengan mulutnya yang menganga karena shock sekaligus bahagia bisa bertemu orang ternama, idolanya.
"Maaf Mbak, bisa cepat sedikit gak.Soalnya saya masih ada keperluan lain." Sheila menyela,ia juga heran kenapa Mbak kasir itu juga bisa terpesona dengan wajah suaminya itu, padahal dia sendiri yang bertemu setiap hari saja tidak tertarik sedikit pun.
"Aneh." gumam Sheila.