
Niat awal Fajar yang tadinya ingin menemui Sheila, sekarang jadi berubah. Diam-diam dia pergi dari sana, ada rasa kesal di hatinya. Mendengar pembicaraan istri dan mama mertuanya, ternyata bisa membuat Fajar panas juga.
"Ternyata itu tujuan Mama Fatiah, jadi dia ingin memanfaatkan aku sebagai tameng pelindung bagi Papa Hari." Fajar menarik dasinya kasar dan melemparnya ke jok samping kursi kemudi.
Dengan cepat dia pergi meninggalkan rumah sakit itu, sebelum Sheila dan mama mertuanya menyadari bahwa dirinya tadi berada di sana.
Mobil Fajar melesat dengan cepat menggunakan jalan alternatif yang tak terkena kemacetan. Pria bertubuh atletis itu menuju ke sebuah Villa kecil miliknya yang selalu dia kunjungi saat dirinya sedang galau dan banyak fikiran.
Tiba-tiba dia memutuskan untuk berlibur seharian ini, toh semua urusan bisnisnya sudah selesai dia tangani.
Menjauh sejenak dari gadis bernama Sheila Anindhita Wibowo yang berniat ingin menyembunyikan kehamilannya, menjauh dari Bu Cindy yang selalu mencari perhatiannya di kantor, menjauh dari Lina, si pembokat centil yang selalu ingin menggodanya, dan juga segala hal yang membuat otaknya pengang.
Pria tampan itu membuka satu persatu kancing kemejanya dan melemparnya ke sembarang arah.
"Aaaaaaaaaa! " Fajar berteriak untuk melepaskan semua penat yang ada dalam hatinya di halaman villa.
Sudah terlalu banyak yang menyiksa dadanya hari ini. Sheila, wanita yang dia nikahi untuk membalaskan dendam kematian sang istri, kini sedang mengandung anaknya. Tapi mengapa wanita itu seolah ingin menyembunyikan kehamilannya dari suaminya sendiri.
"Apa sebenci itu kamu sama aku?Sampai-sampai kamu 🅣🅘🅓🅐🅚 ingin memberitahuku? " kesahnya.
Malam ini dia juga memutuskan untuk menginap di villa ini, jauh dari keramaian, sehingga mungkin saja fikirannya akan jadi lebih tenang.
*****
Sementara itu, Sheila dan mamanya juga sudah kembali ke rumah Wibowo. Malam ini dia juga akan menginap di sini, dia tidak akan pulang ke rumah suaminya.
Sikap Fajar yang tiba-tiba baik dan dalam sekejap mata juga bisa tiba-tiba jadi jahat dan pemaksa, membuat Sheila takut kalau nanti mereka akan bertengkar lagi.
***
Mamanya heran, kenapa tadi mereka tidak bertemu dengan Fajar di rumah sakit, padahal jelas-jelas kalau menantunya itu bilang dia akan menyusul mereka ke rumah sakit.
"Aku rasa, dia tidak bersungguh-sungguh ingin menjadikan Sheila istri untuk selamanya. Laki-laki di mana-mana sama saja, hanya mau enaknya saja. Setelah tujuannya tercapai, langsung dia tinggal begitu saja." gumamnya.
" Mama tadi ngomong apa? Siapa yang di tinggal? "tanya Sheila.
" Ah, gak ada kok, Sayang. Papa mu, dari tadi gak pulang-pulang. Mama kesal banget di tinggal-tinggal melulu." Mama Fatiah berkilah.
Sheila memegang tangan mamanya itu. "Mama bagaimana sih? 'Kan ada Sheila di sini," ucap Sheila.
"Iya sayang, maafin Mama, ya. Habisnya Mama juga pengen kita bertiga sama Papa bisa makan siang bareng-bareng," jelas Mama Fatiah.
"Ooo, itu. Sheila juga pengen. Ma. Telepon aja Papanya agar cepat pulang. Kita akan merayakan kehamilan Sheila bersama-sama," usul Sheila.
"Oke, kamu juga telepon suamimu. Minta dia untuk datang ke sini, kita bisa kumpul keluarga, " ujar Mama Fatiah.
Dia gak tahu aja kalau Sheila memang sedang ingin menghindari suaminya itu. Calon ibu itu malah menggelengkan kepalanya cepat.
"Gak usah, Ma. Mas Fajar itu orangnya sibuk, dia mana mungkinlah punya waktu. Pekerjaannya sangat padat. "
Sheila heran sama Mamanya, masa' gak peka banget kalau hubungannya dengan suaminya itu tidaklah baik-baik saja, bukankah dia sudah bilang tadi di rumah sakit kalau dia akan menyembunyikan kehamilannya ini dari suaminya, Fajar.
****
Karena merasa sebagai seorang istri, dia tetap harus meminta izin untuk menginap di luar rumah pada suaminya, maka Sheila pun mencoba menghubungi Fajar lewat telepon rumah setelah sholat Magrib.
Beberapa kali, panggilan itu tidak di angkat, namun akhirnya ada juga yang mengangkat panggilannya.
"Hallo, rumah Pengacara Fajar Sidiq Mubarak di sini, dengan siapa saya bicara?" tanya seorang wanita dengan nada centil.
"Tuan, ada?" Sheila sengaja langsung pada intinya.
Tiba-tiba terlintas dalam fikiran Lina untuk memperkeruh suasana di antara kedua majikannya itu.
"Tuan, lagi dikamarnya. Tadi dia sedang mandi, Nyonya. Lina sudah melihatnya, badannya Tuan Fajar sungguh sangat bagus, perutnya six-pack, oh...seksinya...," puji keponakannya Bik Tarnik itu.
Rasanya Sheila ingin melemparkan gagang telepon itu ke wajahnya Lina yang super genit. "Kalau ngomong itu yang sopan, Lina! Saya tidak sedang bercanda! " tukas Sheila kesal.
"Loh, kok Nyonya Sheila jadi marah sih? 'Kan Lina cuma bicara yang sebenarnya saja. " Lina mencoba untuk terus memprovokasi Sheila.
Sheila sudah hafal betul dengan kebiasaan buruk pelayan yang satu itu. Lagian Sheila juga tahu, kalau Fajar tidak pernah menyukai Lina. Mana bisa dia di kipas-kipasin.
"Cepat katakan! Dimana Tuan kamu!? " Sheila sudah tidak mau di ajak bercanda lagi.
Lina jadi kesal,mulutnya sudah komat-kamit karena tidak suka. "Tuan Fajar belum pulang! " ucap Lina, ketus.
"Belum pulang? Kemana Dia? "
"Mana saya tahu lah, Nyonya. Mungkin dia ada rapat dengan kliennya, "ucap Lina.
Hati Sheila kesal sekali mendengarnya." Jadi jam segini dia juga belum pulang? Gimana mau jadi calon Ayah yang baik untuk anaknya? "gumam Sheila.
" Apa Nyonya?Siapa yang akan jadi calon Ayah? " Ternyata Lina masih ada di ujung telepon.
"Bukan urusanmu! Sebaiknya kamu nanti telepon saya di nomor ini, catat nomornya! "
"Sebentar Nyonya,saya ambil kertas sama pena dulu." Lina menyiapkan pena dan kertas untuk mencatat.
"Berapa nomornya Nyonya? " hanya Lina.
"08xxxxxxxxxx," ujar Sheila.
"Baik, Nyonya," ucap Lina dengan mulutnya yang dicebak-cebikkan.
" Segera kabari saya, kalau Tuan Fajar sudah pulang! Ingat! Jangan sampai lupa, " titah Sheila.
Dia sudah tidak mau bermanis-manis lagi dengan yang namanya Lina. Sheila tidak suka dengan bibit yang berpotensi jadi pelakor seperti itu.
" I-Iya Nyonya, iya, " Lina jadi kaget saat Sheila berulang kali membentak dirinya.
Bisa galak juga ternyata si Nyonya, batin Lina.
Sheila menutup telepon itu, lalu dia menghampiri Papa Mamanya di meja makan.
*****
Tadi siang mereka gak bisa makan bersama Pak Hari, tapi malam ini, mereka bertiga bisa makan malam bersama seperti dulu, saat Sheila belum menikah. Dia tetap menjadi anak kesayangan kedua orang tuanya.
Nyonya Fatiah memberitahukan tentang kehamilan putrinya kepada sang suami. Pak Hari sangat terkejut, dia tak menyangka kalau hubungan Sheila dan Fajar sudah bisa sampai ke tahap ini. PUNYA ANAK.
" Jadi sebentar lagi, Papa akan menjadi Opah, dong? " tanya Pak Hari, seakan tak percaya kalau dirinya akan segera punya cucu.
"Iya, Pa," jawab Sheila.
"Alhamdulillah, akhirnya rumah ini akan ramai dengan suara cucu," ucap syukur Pak Hari.
" Alhamdulillah ya, Pa, "sahut Nyonya Fatiah.
Mereka bertiga saling berpelukan.