
Saat Sheila terbangun dari tidurnya, Fajar masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.Sheila menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, dan dia berusaha untuk bangkit perlahan agar tak menimbulkan gerakan yang berarti di kasur itu.
Hari ini, Sheila memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Disini terlalu rentan baginya, setiap hari bagaikan di dalam neraka saja ketika dia dan Fajar bertengkar. Jadi untuk menghindari pertengkaran itu, Sheila akan pulang dan tinggal bersama papa dan mamanya.
Dia tidak membawa barang apapun selain tas jinjing dan juga laptop serta kebutuhan kuliahnya, karena dia juga belum tahu akan berapa lama menginap disana.
Karena Fajar masih tidur, Sheila pun pergi diam-diam. Perlahan membuka pintu kamar dan menutupnya kembali tanpa meninggalkan suara.Semua dia lakukan agar Fajar tidak terjaga dari tidurnya.
"Berhasil." seru Sheila puas ketika dia bisa sampai di lantai bawah.
Keadaan rumah masih sepi, namun Bik Tarnik sedang sibuk membuka gorden jendela.
"Pagi Bik, " sapa Sheila.
"Eh, Nyonya Sheila. Mau kemana pagi-pagi begini? " tanya Bik Tarnik kaget.
Sheila tidak bisa bercerita banyak sama Bik Tarnik, jadi dia hanya bisa bilang kalau dia sekarang sedang ada janji dengan mamanya dan mungkin nanti malam gak bisa pulang ke rumah ini.
"Kok gak pulang ,Nya ? " tanya Bik Tarnik, dia malah ngeri, kalau nyonya nya gak pulang.
Bisa berbahaya nanti, kalau tidak ada Sheila di rumah.Yang ada, nanti malah si Lina bikin ulah lagi.
"Saya lagi pengen nginap di tempat Mama Bik,pengen tanya-tanya soal kehamilan. Siapa tahu dalam waktu dekat ini saya bisa hamil, maklumlah Bik, saya kan baru saja menikah dan belum punya pengalaman sama sekali. " Tak sengaja Sheila malah curcol.
Bik Tarnik tersenyum mendengarnya, dia turut senang kalau Sheila benar-benar hamil.Itu artinya majikannya akan segera punya anak, dan mereka pasti tidak akan bercerai kalau sudah ada anak di antara mereka.
"Bibik do'akan, semoga Nyonya Sheila dan Tuan Fajar segera di beri momongan. " Harapan tulus dari Bik Tarnik.
"Makasih ya Bik. " Sheila memeluk pelayannya itu dengan tulus.
"Ah, Nyonya. Peluk-peluk Bibik, padahal Bibik belum mandi loh ,Nya. " Bik Tarnik jadi gak enak hati, pasti bau iler.
Sheila hanya membalasnya dengan senyuman. "Saya juga belum mandi kok Bik, jadi kita sama, hehehe,"ujar Sheila.
" Kalau Nyonya belum mandi, kok malah mau pergi? "Bik Tarnik mendadak curiga, pasti ada yang gak beres nih sama hubungan Nyonya dan Tuannya.
" Sudah ya Bik, nanti saya kesiangan. Mumpung Mama belum berangkat kerja butik nya. "Sheila segera pamit kepada Bik Tarnik, dia sengaja buru-buru cabut agar Bik Tarnik gak punya kesempatan untuk bertanya lagi.
****
Di sepanjang perjalanan, dia tak lupa mematikan ponselnya. Hari ini dia tidak mau diganggu.Sekalipun Fajar yang mencarinya, dia tidak akan perduli.
Sheila ingin mamanya yang mengantarkan dirinya ke dokter kandungan, mungkin dia akan merasa lebih tenang kalau dirinya didampingi sang mama.
***
Di kamarnya
Fajar mengucek matanya ,saat dia sadar kalau ini sudah pagi. Suara kicauan burung sudah melintas beberapa kali di atas genting rumahnya, menandakan waktu subuh sudah berlalu.
Pria bertubuh tegap itu tersentak, saat cahaya matahari pagi menembus gorden jendelanya yang sedikit tersingkap. Perlahan matanya menoleh ke sebelah ranjangnya, sang istri sudah tidak berada di sana.
" Pergi kemana dia sepagi ini? "gumam Fajar.
Lalu pria itu bangkit dari tidurnya dan duduk di tepian ranjang. Meregangkan kedua tangannya yang mulai terasa pegal.
Mata Fajar tiba-tiba tertuju pada meja komputer yang ada di sudut kamarnya, semalam dia ingat betul, ada laptop Sheila di sana. Wanita itu menaruhnya setelah dia memergoki Sheila yang sedang melihat-lihat profil mantan cowoknya di Instagram.
"Apakah dia masih marah, karena semalam sikapku sedikit keterlaluan? "gumam Fajar.
" Aaaaaakhhh! "Pria itu kemudian mengacak-acak rambutnya asal.
Beberapa saat kemudian, dia pun bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi.
" Ini pasti gara-gara gak bisa tidur semalam, jadi aku kesiangan. "Fajar merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol emosi nya kalau sudah berhubungan dengan Sheila.
Untuk apa dia marah, sedangkan dirinya sendiri saja masih sering mengingat mendiang istri pertamanya.Bahkan tadi malam, dia sempat memandang Sheila sebagai Jihan.
Apa itu tidak keterlaluan? Fajar mendesah kesal" HAH! Aku gak boleh mudah emosian seperti ini. Apapun yang terjadi, wanita itu tidak boleh lepas dari genggamanku! "ucap Fajar penuh semangat, sambil menatap wajahnya di cermin.
Fajar segera keluar dari kamar mandi dan menuju ke walking closed miliknya. Dia sempat memeriksa bagian Sheila, baju kotor bekas Sheila tadi malam pun tidak ada di dalam keranjang kotor itu.
" Aku terlalu banyak berfikir, mungkin dia lagi nyiapin sarapan di bawah, "lirih Fajar.
Setelah berganti pakaian, pria itu langsung bersiap untuk bekerja.Memakai dasi dan juga jas dengan rapi, memberi rambutnya gel rambut dan menyisirnya ke belakang.
Setelah semuanya selesai, Fajar langsung memasangkan kaus kaki dan juga sepatunya.
Sekarang saatnya dia memasukkan beberapa berkas yang semalam belum selesai dia checklist.
" Nanggung, di kantor aja ngerjainnya,"ujarnya.Lalu dia membawa semuanya turun ke bawah menuju meja makan.
Suasana meja makan yang sepi, membuat Fajar jadi bertanya-tanya, " Dimana dia?"ucapnya lirih.
Bik Tarnik datang menghampiri dirinya, pelayan itu menyuguhkan secangkir kopi susu dan juga dua potong sandwich sayuran didalam piring saji.
"Silahkan, Tuan. Selamat sarapan, " ujar Bik Tarnik.
Fajar heran, kok Sheila tidak nampak di dapur. Dia sampai menengok beberapa kali ke arah pantry.
"Tuan cari Nyonya Sheila ya? "tanya Bik Tarnik,pelayannya itu sangat peka.
Fajar menyeruput kopi susu yang Bik Tarnik hidangkan." Apa Bibik tahu di mana dia?"tanya Fajar kemudian.
"Tahu Tuan, tadi Nyonya Sheila pamit ke saya, mungkin tadi Tuan masih tidur. "
Bik Tarnik jadi ragu untuk cerita, dia tak menyangka kalau nyonyanya ternyata belum pamit pada suaminya sendiri.
Fajar menatap matanya Bik Tarnik yang belum juga menjawab pertanyaan nya, membuat Bik Tarnik jadi gelagapan.
"Tadi, Nyonya Sheila bilang, dia... mau ke rumah orang tuanya, Tuan, " Ujar Bik Tarnik.
"Ke rumah orang tuanya? Sepagi ini? " Fajar benar-benar tidak mengerti, kenapa Sheila harus pergi ke rumah orang tuanya sepagi ini.
"Dia bilang gak, kenapa dia harus ke sana? " tanya Fajar lagi.
Bik Tarnik jadi bingung harus bagaimana menjelaskannya. "Eeeee, tadi sih Nyonya bilang... katanya, dia mau curhat ke mamanya soal kehamilan, tanya-tanya gitu Tuan. "
Fajar terkejut sampai dia tak sadar sudah menyemburkan kopi yang sedang dia minum.
"Apa Bik?Kehamilan? " tanya Fajar tak percaya.
"Benar Tuan, kayaknya Nyonya sedang hamil ,Tuan," jelas Bik Tarnik.