Your Revenge

Your Revenge
Cepat Tandatangani!



Keduanya masih saja terlibat cekcok,entah sejak kapan, tapi mereka kini lebih terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang bertengkar.


Sheila memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari jeratan Fajar.Ia sengaja berjalan kearah pintu sambil terus menjawab setiap perkataan yang pria itu lontarkan.


Sadar kalau Sheila sedang ingin memperdaya dirinya,Fajar langsung menariknya kembali secepat kilat dan mengunci pintu secara otomatis dengan remot kontrol yang ada disakunya. Ternyata kamar ini sudah dilengkapi dengan peralatan canggih.


"Heyyy!! apa yang hendak anda lakukan?. Sudah saya bilang, saya tidak akan bisa menikah dengan anda.Sampai mati pun saya tidak akan sudi!. " Sheila meronta-ronta minta dilepaskan.Namun bukannya melepaskan,tapi Fajar malah terus menarik tubuh gadis itu sampai merapat ke tubuhnya.


"Jangan kira saya tidak bisa bersikap kasar sama kamu ya!!. "ancam Fajar yang mulai terpancing emosinya.


" Anda seorang pengacara, tapi anda tidak bisa berfikir dengan jernih, kematian istri anda juga bukan sepenuhnya salah saya.Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu, salah satunya adalah faktor cuaca yang buruk pada hari itu.Coba seandainya anda mengajak istri anda untuk berteduh terlebih dahulu alih-alih melanjutkan perjalanan ditengah hujan petir itu.Mungkin saya juga tidak akan bertemu dengan kalian dijalan!. "ujar Sheila lantang.


" Saya bilang diam ya DIAM!. "teriak Fajar ditelinga Sheila.


" Lepaskan saya! , saya tidak mau berada disini. Saya mau pulang!!. "teriak Sheila,namun percuma saja, ruangan itu kedap suara.


"Hahahaha." tawa Fajar memecah.


"Dasar orang gila!. " ketus Sheila yang terus saja memberontak dalam pelukan pria itu.


"Duduk disini dan diamlah!." Fajar mendudukkan Sheila di kursi meja komputernya.


Fajar menekan interkom dan melakukan panggilan, sepertinya panggilan itu kepada pelayan dirumah itu.


"Tarnik,bawakan makanan dan air minum kekamar saya, secepatnya!. " ujar pria itu melalui sambungan interkom rumahnya.


"Saya tidak mau makan, tapi saya mau pulang kerumah saya!. " ujarnya.


"Sudah saya bilang, saya akan mengantarkan kamu pulang setelah surat ini kamu tandatangani, kalau tidak... jangan pernah bermimpi saya akan melepaskan kamu dari penjara ini!. " tukas Fajar lagi.


Sekeras apapun Sheila memberontak, tapi tetap saja pria itu tidak melepaskannya juga.


"Saya beri kamu waktu untuk berfikir selama 15 menit dari sekarang,setelah itu saya ingin Jawaban pastinya. Ya atau Tidak?!. " ujar Fajar. Lalu pria itu duduk di kursi yang berada di hadapan meja komputer itu.Menunggui Sheila untuk segera tanda tangan atau gadis itu malah tidak mau tanda tangan dan memilih nama baiknya dan juga orang tuanya hancur.


"Kamu lihat ini!. " Fajar kini memperlihatkan video call nya dengan anak buahnya yang sudah siap didepan kantor polisi untuk memberikan bukti kejahatan Papanya. Mata Sheila membelalak, ia tidak percaya kalau pria didepannya itu tidak pernah main-main dengan perkataannya.


Sheila bingung harus bagaimana, pilihan yang ia hadapi, keduanya sangatlah sulit.


"Kamu lihat Nona, saya mempunyai begitu banyak salinan foto-foto itu. Bahkan anak buah saya juga memiliki yang lainnya.Apa kamu masih tetap pada pendirian kamu?!. " ujar Fajar dengan entengnya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?. " Sheila benar-benar tidak punya pilihan.Hatinya gusar.


Dengan menghela nafas berat, akhirnya Sheila mau tak mau harus bersedia untuk menandatangani surat perjanjian itu, meskipun dihatinya terasa sangat berat.


Fajar bahkan juga sudah menyiapkan materai diatas kertas putih itu.


"Cepat tandatangani, setelah itu saya akan segera mengantarmu pulang!. "ujar Fajar.


Dengan berat hati Sheila segera menandatangani surat itu." Nih, sudah!!."ujarnya ketus.


Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi, ia pun akhirnya mengangis dengan kerasnya. Sedangkan pria yang memaksa dirinya malah sedang tersenyum puas bahkan sekarang ia sedang tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahha 🤣🤣. "


"Selamat datang dipenjara ku Nona Sheila Anindhita Wibowo!. " ujar nya jumawa.


*****


Sesuai dengan perkataannya tadi, Sheila diantarkan pulang oleh Fajar ke rumahnya setelah ia harus menghabiskan makanan yang dibawakan oleh pelayan dirumah Fajar, karena ini sudah sangat sore, percuma kalau ia kembali ke kampus dulu untuk mengambil mobilnya.Bahkan tasnya juga masih tertinggal disana.


Namun sesampainya dirumah, Sheila sangat terkejut ketika melihat mobilnya sudah ada di garasi lengkap dengan tasnya juga yang sudah ada didalamnya.


"Bagaimana?, apa kamu terkesan dengan apa yang sudah saya lakukan?!. "ujar Fajar dengan seringainya yang sinis.


" Masuklah dan jangan kemana-mana lagi, aku rasa kedua orang tuamu juga tidak cemas menantikan kedatanganmu. "bisik Fajar ditelinga Sheila,tentu saja Sheila jadi meremang mendengarnya, karena hembusan nafas Fajar telah menerpa kulitnya.


Sheila bergidik ngeri akan hal itu, bisa-bisa ia akan mati muda kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini.Apalagi pria itu kini tengah main mata dengannya dengan tatapan liciknya yang disertai seringai licik juga disebelah sudut bibirnya.


" Aku pulang dulu, calon Nyonya Fajar Sidiq!. "ucapnya.


****


Setelah didalam rumah,Sheila malah mendapatkan kedua orang tuanya sedang asyik bercanda berdua ditepi kolam renang.Sama sekali tidak ada gurat khawatir diwajah keduanya.


" Mama,Papa?!. "ujarnya heran.


" Eh.. sayang, kamu sudah pulang? bagaimana sayang, pasti kamu senangkan karena abis pulang jalan-jalan sama Alya dan juga Raysa. "ujar sang Mama.


Sheila heran, kenapa orang tuanya bisa mengira ia habis jalan sama teman-temannya.


"Mama tahu dari mana kalau Sheila habis jalan-jalan sama mereka berdua?. " tanyanya.


"Tadi supirnya Raysa yang antar mobil kamu kerumah, dia bilang kamu mau jalan-jalan pakai mobilnya Raysa. " jawab Nyonya Fatiah.


Jelas saja Sheila merasa ada yang janggal.Ia sangat yakin kalau ini semua ada hubungannya dengan seorang Fajar Sidiq Mubarak.


"Memang ciri-ciri supirnya kayak gimana Ma yang tadi ngantar mobilnya Sheila?. " Tanyanya lagi.


"Muda, tegap, tapi pakai masker. Mama gak bisa lihat orangnya. Tapi kayaknya pakai seragam hitam-hitam begitu deh. Mama gak begitu ingat sayang. "


"Aneh, supirnya Raysa kan mang Sapri, orangnya kepala pelontos dan perutnya gendut. " ujar Sheila.


"Mungkin dia sudah ganti supir sayang. " sahut sang Mama.


"Kayaknya gak mungkin deh Ma, Raysa gak ada cerita sama sekali sama Sheila. "


"Coba kamu telepon saja teman kamu itu untuk memastikan. " ujar sang Mama.


"Oke deh Ma,Sheila mau ke kamar dulu. " ujar Sheila sambil berlalu ke kamarnya sambil mencari kontak Raysa di ponselnya.


Panggilan pun tersambung dan diangkat oleh sahabatnya itu. "Wiihhh,panjang umur. Baru aja aku sama Alya ngebahas soal kamu tadi di telepon. " ujar Raysa.


"Eh.. kamu kemana aja tadi?. Apa benar kamu pergi bareng sama Pak Fajar si dosen tamu itu?. " tanya Raysa.


"Gak ada, yang ada aku diculik sama tuh orang. "


"Diculik bagaimana?" tanya Raysa lagi.


"Ya, kamu dipaksa ikut sama dia. "


"Wah asyik dong, tapi kalau Alya dengar soal ini dia pasti bakal patah hati berat. " ujar Raysa.


"Maksud kamu?!. "Sheila yang memang tahu kalau Alya menyukai Fajar masih tak percaya kalau Alya ternyata memiliki perasaan yang lebih daripada kekaguman biasa kepada dosen tamu itu.


" Ya kamu kayak gak tahu aja, Alya kan sudah jatuh cinta sama Pak Fajar sidiq, si Duren sawit. "jawab Raysa lagi.


" Duren sawit?!. "Sheila bingung.


" Gak gaul deh kamu, duren sawit itu Duda Keren Sarang Duit. "jawab Raysa.


" Ha??!. "Sheila jadi cengo.


" Ihh apaan?, gak ada keren-kerennya menurut aku. "ucap Sheila lagi.


"What?!, cowok kayak Pak Fajar kamu bilang gak keren. Wah buta kali 'ya?. " eh Raysa malah ngegas.


"Gak kok, siapa yang buta.Duda sadis gitu kok direbutin, ih gak banget!. " tukas Sheila.


"Hati-hati kalau ngomong, entar jatuh cinta baru tau rasa kamu!. "


"Gak akan, dan gak akan mungkin. " ujar Sheila mantap.


"Awas kamu ya. " sahut Raysa.


Maksud hati untuk menanyakan soal siapa supir baru Raysa, kini sudah hilang dari ingatan Sheila. Mereka malah berdebat.