Your Revenge

Your Revenge
Mau kah Sholat Subuh Bareng?



Sheila merasa sangat kesal,mengapa pula Mamanya menyuruh Fajar untuk menginap disini, dan lebih tepatnya dikamar ini.Ini kan kamarnya, seharusnya sang Mama tahu mana yang ia suka dan mana yang ia benci.


Jelas-jelas ia menikahi pria itu karena keterpaksaan,menurut Sheila seharusnya alasan itu saja sudah bisa membuat Mamanya tahu kalau ia sama sekali tidak menginginkan pria itu. Apalagi sekarang ia harus sekamar lagi dengan Fajar dikamar pribadinya sendiri,Sheila benar-benar tidak habis fikir dengan Mamanya.


Fajar masih disibukkan dengan pekerjaannya hingga larut malam,ia sempat melirik beberapa kali ke arah tempat tidur. Dimana sekarang Sheila sedang berbaring menyamping dan membelakangi dirinya.


Fajar tidak mau ambil pusing akan hal itu,pekerjaannya masih menumpuk.Tidak ada waktu bagi dirinya untuk berdebat,ia terus melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam hingga selesai.


Setelah pekerjaannya selesai, Fajar mencoba meregangkan otot-otot nya yang mulai kaku karena terlalu lama duduk sambil mengetik di laptopnya.


"E-aaaahhh." suara Fajar membuat Sheila terusik, sehingga ia pun terbangun tatkala Fajar beringsut naik ke tempat tidur.


"Anda maupun ngapain?!. " tanya Sheila yang panik mendadak.


"Aku? ya mau tidur. " jawab Fajar santai.Ia meletakkan kacamata yang tadi ia pakai untuk bekerja di atas nakas.


Baru saja Fajar akan merebahkan tubuhnya, Sheila kembali buka suara.


"Ini kamar saya,saya harap Anda cukup tahu diri untuk tidak tidur satu ranjang dengan saya.Walaupun kita memang sudah menikah, tapi itu hanya sebatas kontrak saja. Saya rasa saya tidak harus membagi ranjang pribadi saya dengan Anda.Jadi sebaiknya malam ini Anda tidur disofa saja!." tegas Sheila.


Fajar malah menanggapinya dengan senyuman miring,tanpa ragu pria itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang ngomel-ngomel itu.


Semakin Fajar merangkak maju,semakin Sheila mundur kebelakang hingga akhirnya ia terlentang di kasur dan suaminya itu berada tepat di atasnya dengan senyuman khasnya yang membuat Sheila merasa diremehkan.


Sheila terus membalas tatapan Fajar dengan tatapan kebencian yang sangat dalam, ia ingin menunjukkan pada pria itu kalau ia tidak bisa di tindas, apalagi ini dirumah orang tuanya, disini dia lah yang berkuasa,bukan Fajar.


Keduanya saling menatap dan akhirnya Fajar tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat pakaian tidur yang dipakai oleh istrinya itu sedikit terbuka dibagian dadanya.


Sheila baru menyadari kalau suaminya itu terus menatap ke arah dadanya,seketika itu pula ia berusaha untuk bangkit dan mendorong dada Fajar yang semakin mendekat dan nyaris menghimpit dirinya.


"Apa yang mau Anda lakukan?,dasar bajingan!."gertak Sheila sambil berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Fajar agar menjauh darinya.


Tapi tenaga Sheila tak sekuat tenaga suaminya itu,upaya yang ia lakukan pun sia-sia belaka karena Fajar kini malah dengan mudahnya mencengkram kedua tangannya di atas kepala dan membuat Sheila tidak bisa berkutik lagi.Tapi kali ini sikap nya sama sekali tidak menyakiti tangan Sheila, ia melakukannya dengan lembut tidak seperti waktu itu.


"Jangan uji kesabaranku, atau kamu memang sengaja ingin membuat libido ku naik? hekh!!" goda Fajar.


Sontak saja Sheila jadi takut kalau kejadian kemaren malam terulang lagi.Mungkin kalau bagi pengantin baru yang lain ,seminggu pertama pernikahan itu adalah masa yang paling indah, tapi tidak bagi Sheila.


"Anda mau apa?,lepaskan saya!.Saya akan relakan kamar ini untuk Anda, dan saya yang akan tidur dikamar tamu."ujar Sheila.


"Tidak ada yang akan tidur di kamar tamu, kita berdua akan tetap tidur disini layaknya suami istri lainnya yang tidur berdua.Bukankah kita juga sudah dua kali melalui tidur yang bukan sekedar tidur berdua saja?, kamu tidak perlu merasa canggung begitu dengan saya. " goda Fajar.


Sheila melengoskan pandangan nya,ia tidak mau melemah karena godaan yang Fajar lakukan.


"Saya nyerah,saya mau tidur saja.Silahkan kalau Anda mau tidur disini,tapi jangan harap bisa macam-macam sama saya lagi,saya tidak akan sudi.Cepat minggir,saya udah ngantuk." ujar Sheila sambil merebahkan kembali kepalanya di atas bantal dan kembali memiringkan tubuhnya membelakangi Fajar.


Untungnya Fajar juga sedang sangat capek, ia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum akhirnya ia kembali ke tempat tidur dan ikut tertidur disamping istri ke-duanya itu tanpa ada lagi drama.


*


*


*


Tanpa mereka sadari pagi ini saat Adzan Subuh berkumandang, posisi keduanya saling memeluk dan Sheila dengan nyenyak nya berada di dalam pelukan Fajar.Saking nyenyak nya pula,ia sampai tak terbangun meskipun suara Adzan dari masjid terdengar begitu lantang dari kamar Sheila.


Pelan-pelan Fajar berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan istrinya itu namun Sheila malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Fajar.


Ingin rasanya Fajar membangunkannya, tapi melihat tidur Sheila yang pulas,hati nurani Fajar mendadak tidak tega.Ia pun berusaha untuk tidak mengusik tidur Sheila dan tetap berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan istrinya itu.


Pada akhrinya Sheila terbangun juga karena merasakan ada pergerakan di kasurnya,ia kaget karena saat ini posisinya sedang memeluk erat Fajar dan kakinya ada di atas kaki pria itu.


Sheila terkesiap,ia sangat malu.Bukankah semalam ia yang menjaga jarak,tapi kenyataannya pagi ini ia malah tanpa sadar sudah melanggar ucapannya sendiri.


Fajar menahan senyuman di sudut bibirnya, ingin rasanya ia mempermalukan gadis itu dengan mengulangi ucapannya tadi malam, tapi Fajar tidak mau kalau nanti mereka berakhir dengan perdebatan lagi.Jadi sebaiknya ia segera bangun dan mengambil wudhu untuk menunaikan sholat Subuh.


Saat Fajar keluar dari kamar mandi,Sheila sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Mau ambil wudhu juga? " tanya Fajar.


"Saya mau pipis!, untuk apa Anda tahu! buruan minggir!." ketus Sheila.


"Kali aja kamu mau Sholat subuh berjamaah bareng aku."ujar Fajar.


Sejenak Sheila merasa ada angin segar yang


berhembus di telinganya.Ia tertegun sejenak, sebelum akhirnya ia tersadar kembali saat Fajar kembali buka suara.


"Mau gak,sholat bareng?.Kalau mau aku bakal tunggu." ujar Fajar lagi dengan nada lembut.


"Ya udah, tunggu bentar.Saya mau bersih-bersih dan wudhu dulu." jawab Sheila tanpa menoleh sedikitpun.


Fajar pun tersenyum mendengarnya,ia tidak menyangka kalau istrinya itu mau ia jadikan makmum sholat nya.


Dengan setia Fajar menantikan Sheila keluar dari kamar mandi.Ia sudah membentangkan dua lembar sajadah yang ia ambil di lemari istrinya itu menghadap ke arah kiblat.


Tak lama kemudian Sheila keluar dengan wajah sudah basah karena air wudhu,begitu juga bagian Anggota wudhu yang lainnya di tubuh gadis itu.


Fajar menoleh ke arah Sheila, sejenak tatapan mereka bersirobok.


"Maaf, tadi aku lancang buka lemari kamu untuk mengambil sajadah.Ternyata koleksi perlengkapan sholat kamu banyak juga."ujar Fajar.


"Itu bukan sekedar koleksi,tapi saya memang memakai mereka secara bergilir setiap tiga hari sekali." jawab Sheila.


"Oh,begitu ya.Baguslah,jadi tidak di hitung sebagai sesuatu yang mubazir di mata Allah." tambah Fajar lagi.


Sheila mengambil mukenah nya dan memakai mukenah itu di hadapan Fajar.Hati Fajar mendadak bargetar hebat melihatnya. Menurutnya Sheila sangat cantik dengan balutan mukenah dan juga hijab.Ingin sekali rasanya ia memerintahkan istrinya itu untuk segera berhijab,tapi ia tidak ingin terlalu gegabah.Bukankah wanita itu ibarat tulang rusuk yang bengkok?,butuh waktu untuk meluruskannya.Kemaren saja Sheila juga menolak saat ia minta menggunakan hijab ke kampusnya.


"Sudah siap?. " tanya Fajar lagi.


"Sudah." jawab Sheila.


"Coba baca Iqomah. " ujar Fajar lagi.


Dengan malas Sheila melakuan Iqomah.Fajar sangat senang mendengar nya. Ternyata istrinya itu tak sebobrok yang ia kira,buktinya Sheila ternyata mengerjakan sholat,bukan hanya islam KTP doang.


Fajar mengulum senyuman sebelum akhirnya keduanya sholat berdua dengan Fajar yang menjadi Imam bagi istrinya itu untuk pertama kalinya.