
Setelah menaruh kopernya di kamar Fajar,Sheila langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.
"Mau mandi? " tanya Fajar.
"Kelihatannya? " Sheila malah balik bertanya.
Fajar hanya menggelengkan kepalanya dan membiarkan Sheila memasuki kamar mandinya.
Walaupun hari ini hubungan mereka sedikit ada perkembangan,tapi tidak ada perubahan kalau didalam kamar tidur.Keduanya nampak masih sama-sama canggung,meskipun Fajar sudah menunjukkan beberapa kebaikannya kepada sang istri.
Selesai mandi,Sheila langsung bersiap untuk ke dapur,sedangkan Fajar kini juga mengikuti dirinya turun ke bawah.Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.
Sheila menghampiri Bik Tarnik yang sedang mencuci piring bekas makannya dan Lina.
"Bibik udah masak untuk sore ini? " tanya Sheila.
"Belum Nya,tadi kan Nyonya bilang mau sekalian belajar masak sama saya. " Bik Tarnik masih melanjutkan mencuci piring yang tinggal satu lagi.
"Iya Bik,aku pengen belajar masak opor ayam.Bisa?"tanya Sheila.
"Bisa dong Nya,kecil itu mah.Biar saya siapkan bahannya dulu,"ujar Bik Tarnik.
"Biar aku aja Bik,Bibik tinggal sebutin aja apa saja bahannya,aku yang akan ngeluarinnya dari kulkas."Dengan percaya diri Sheila membuka lemari es yang besar itu.
"Baik Nya,yang pertama Ayamnya,Nya."
"Oke,ini ayamnya."Sheila mengeluarkan seekor ayam utuh dari dalam kulkas dan menaruhnya di atas meja dapur.
"Lalu,santan nya Nyonya. " Bik Tarnik menunjukkan santan kemasan yang sudah ada di bagian pintu kulkas.
Dengan sigap, Sheila mengambilnya dan menaruhnya di dekat Ayam tadi.
"Habis itu, apalagi Bik? " tanya Sheila penuh semangat.
"Ya, siapin Bumbu nya Nyonya. "
"Apa aja? " tanya Sheila lagi.
"Bibik bantuin ya?"
"Saya aja Bik, hari ini Bibik jadi pengawas saja, ajarin Sheila dari jauh. "
Bik Tarnik mengernyitkan dahinya,ia khawatir sekali kalau masakan sang Nyonya baru tidak akan berhasil.
Dengan telaten Sheila mengikuti arahan dari Bik Tarnik,dan akhirnya jadi juga Opor ayam yang ia masak dengan tubuh yang penuh darah ayam.Untung tadi ia pakai celemek dulu sebelum memotong ayam itu menjadi beberapa bagian.
Bik Tarnik sampai ingin tertawa,tapi ditahannya karena takut sang Nyonya tersinggung.
Sementaranya itu,Fajar yang menyaksikan kekonyolan Sheila saat memasak melalui kaca yang ada di ruang tengah merasa sangat terhibur,sedari tadi tak henti-henti ia tertawa meskipun tanpa suara,karena ia membekap mulutnya sendiri.
Dapur yang tadinya sudah bersih,sekarang jadi berantakan sekali.Kuah opor yang muncrat sana sini,membuat Sheila yang baru menyadari hal itu langsung tersenyum kepada Bik Tarnik.
"Hihihi, nanti Sheila bantuin Bibik membersihkannya 'ya. "
"Tidak usah Nyonya,biar Bibik aja yang bersihkan, " ujar Bik Tarnik.
"Ya udah,sekarang saatnya kita cicipin dulu opor ayamnya."Sheila mengambil sepotong opor Ayam dan menaruhnya ke atas piring, lalu diberikan kepada Bik Tarnik.
Dengan sedikit ragu Bik Tarnik mulai mencicipi opor ayam buatan Sheila itu.Saat daging ayam dan kuahnya mulai mendarat di lidahnya, mata Bik Tarnik mengerejap...
"Wah, enak Nyonya.Serius, Nyonya berhasil."
"Mmm, bener Bik.Ternyata Sheila bisa masak."Ia melompat-lompat kegirangan. Untuk pertama kalinya makanan yang ia masak dengan tangannya sendiri berhasil dan bisa di makan.
" Kalau memang berhasil,mana?aku juga mau icip-icip.Cepat hidangkan di meja makan, aku sudah lapar,"ujar Fajar yang tiba-tiba masuk ke area dapur.
Sheila yang sejak tadi melompat-lompat kegirangan,kini jadi terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.
"B-b-baik,"ucap gadis itu.
Fajar tersenyum sebelum meninggalkan dapur,ia merasa sikap istri barunya itu sangat konyol." Lucu sekali, "gumam pria itu sambil geleng-geleng kepala.
*
*
*
Dengan tangan yang gemetar,Sheila menyajikan hasil masakannya di hadapan suaminya itu.
" Ini, silakan dimakan,Mas."Sheila langsung mundur kebelakang saat Fajar mulai Menyendokkan nasi dan juga opor ayam itu ke piringnya.
"Kamu gak makan?"tanya Fajar,ketika melihat Sheila hanya berdiri kaku di sampingnya.
" Nanti aja,aku bisa makan bareng Bik Tarnik dan juga Lina, "jawab Sheila dengan wajah seperti orang ketakutan.
"Gak usah takut,aku gak akan marah kok kalau pun opor ayam ini rasanya gak enak setelah aku memakannya, " ujar Fajar lagi.
Sheila makin ketar-ketir mendengar apa yang barusan Fajar katakan,rasanya sudah seperti mau sidang skripsi saja.
Pelan tapi pasti,Fajar mulai memasukkan nasi dan opor ayam buatan Sheila ke dalam mulutnya.Dengan seksama Sheila memperhatikan ekspresi dari wajah suaminya itu.Inilah pertama kalinya ia berhasil memasak sesuatu,dan pertama kalinya juga masakannya dicicipi oleh seorang pria yang telah bergelar suaminya.
Tak ada ekspresi apapun dari wajah suaminya itu,Fajar hanya makan dalam diam dan tidak membuat reaksi apapun.
Dengan santai, pria itu menghabiskan beberapa potong Opor ayam buatan Sheila.Sheila hanya bengong menyaksikan Fajar yang makan dengan lahapnya.
Setelah perutnya kenyang terisi,Fajar pun bangkit dari meja makan dan berjalan menghampiri Sheila. "Besok-besok kamu bisa belajar masak lagi menu lainnya sama Bik Tarnik, " ujar pria itu dengan ekspresi datarnya.
Sheila mengira kalau Fajar telah menilai masakannya tidak enak, lagi pula apa pedulinya.'Mau enak atau tidak bagi Fajar,itu juga tidak penting.Tapi 'kan,tadi dia masak dengan susah payah, masa' tidak ada sedikitpun apresiasi sih. 'batin Sheila.
Tak lama kemudian Fajar kembali mendekatkan bibirnya di telinga Sheila "Opor buatan kamu enak banget,aku suka." Setelah berkata-kata seperti itu,Fajar langsung pergi ke atas.
Baru saja Sheila ingin membereskan meja makan sambil senyum-senyum sendiri,tiba-tiba Fajar yang masih berada di tangga kembali memanggilnya.
"Sheila."
"Ya, " jawab Sheila.
"Setelah makan,naiklah ke kamar.Aku tunggu," ujar Fajar dengan lantang.
Jantung Sheila sampai deg-degan mendengar hal itu."Dia kenapa?"gumam Sheila lirih sambil memegangi dadanya yang bergemuruh.
Tadi Fajar tersenyum kepadanya untuk pertama kalinya,walaupun sebenarnya sudah sering pria itu tersenyum karena Sheila, tapi baru kali ini Fajar melakukannya di hadapan Sheila secara langsung.
"Ciee, Nyonya Sheila.Kelihatannya Tuan sudah kesemsem deh sama Nyonya," goda Bik Tarnik.
"Kesemsem bagaimana Bik?,kami itu musuh bebuyutan," tukas Sheila sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Gak usah Nyonya, biar Bibik aja yang lanjutin.Nyonya segera makan,nanti takutnya Tuan udah nungguin." Bik Tarnik mengambil alih piring kotor dari tangan Sheila.
"Baiklah." Sheila pun menurut saja apa kata Bik Tarnik.