
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Sheila segera menuju ke kamar.Hal pertama yang ia lakukan adalah masuk ke kamar mandi.Seperti biasa,Sheila menyikat giginya dan juga mencuci wajahnya.Ia juga memakai cream malam di wajahnya agar tetap terawat.
Barulah setelah semuanya selesai, Sheila keluar dari kamar mandi.Entah di mana Fajar saat ini, ia tidak ada di kamar.Mungkin ia sedang berada di ruang kerjanya yang terletak di sebelah kamar utama itu, di kamar paling ujung.
"Katanya ada yang mau dibicarakan,tapi orangnya malah gak ada.Ah sudahlah,mendingan aku tidur saja. "Sheila ngedumel sendiri, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak menunggu Fajar lagi.
Kini,Sheila sudah terlarut dalam mimpinya.Ia bahkan tidak menyadari saat Fajar masuk ke kamar dengan membawa satu bundel kertas ditangannya,dan mematikan lampu utama di bagian atas plafon kamar.Kini hanya berpendar cahaya lampu nakas saja yang masih tersisa.
Fajar duduk di pinggir tempat tidur.Diperhatikan nya wajah teduh Sheila yang saat ini sedang terpejam,entah mengapa ia merasakan kenyamanan saat menatap wajah wanita yang sudah dinikahinya karena dendam itu.
Terkadang,Fajar merasa seperti seorang laki-laki arogan yang telah memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita.Namun jika ia teringat akan kematian sang istri tercinta, rasanya ia ingin wanita dihadapannya ini merasakan rasa sakit yang almarhumah Jihan rasakan menjelang sakaratul mautnya.
Perlahan Fajar mengulurkan tangannya, menyentuh rambut yang menutupi sebagian pipi Sheila.Ditatapnya wajah cantik yang nampak teduh dan alisnya yang sejajar indah dengan bulu matanya yang lentik.
Kulit putihnya yang bersinar meskipun dengan cahaya yang minim,ditambah lagi dengan bibir ranumnya yang menggugah gairah siapapun laki-laki yang memandangnya.
Fajar tanpa sadar mendekatkan bibirnya ke bibir merah muda itu,ia ingin mencuri sebuah ciuman dari wanita yang sudah berstatus sebagai istri baginya.
Sangat aneh memang, biasanya suami istri selalu berbagi suka dan duka dengan kompak, tapi tidak dengan pasangan ini.Fajar merasa akhir-akhir ini ia sering merindukan kebersamaan mereka berdua di atas ranjang yang sama,memadu kasih walaupun dengan keterpaksaan yang ia ciptakan untuk gadis itu.
Ingin rasanya ia menerkam istri kecilnya itu,tapi ada rasa iba didalam hatinya. Ia tau bagaimana perasaan wanita jika dia perlakukan secara semena-mena. Tapi lagi-lagi hasrat didalam diri pria itu belum juga surut.
Perlahan tapi pasti, Fajar menyesap bibir ranum istrinya itu berkali-kali.Sampai pada akhirnya Sheila yang merasakan kalau itu bukanlah di dalam mimpinya belaka,jadi terbangun.
"Mas Fajar, kamu. " Mata Sheila melotot melihat kelakuan suaminya itu.
Saat ini, Fajar sudah ada di atas tubuhnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Mas?" tanya Sheila sambil berusaha menghindar.Ia mencoba untuk duduk dan mundur ke belakang.
Namun Fajar malah semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Sheila, sehingga sekarang kondisinya tubuh mereka berdua berhimpitan dengan Sheila berada di bawahnya.
Fajar merebahkan tubuhnya sepenuhnya diatas tubuh Sheila,membuat Sheila bernafas sedikit terengah-engah.
"Mas ma-u a-pa? " tanya Sheila terbata.Ia tidak sanggup menatap mata Fajar yang telah berkabut gairah.
"Aku inginkan kamu,malam ini kita akan mengulanginya kembali agar cepat jadi janinnya," bisik Fajar di telinga Sheila.
Sheila tak kuasa untuk menolaknya, meskipun ia sangat ingin.Otaknya menyuruh nya untuk melawan,sedangkan tubuhnya menginginkan lebih setiap sentuhan yang Fajar lakukan.
Dengan perlahan tapi pasti,Fajar kembali mengajak Sheila mengarungi malam panjang yang melelahkan.Tidak seperti sebelumnya yang penuh penolakan,kali ini Sheila terkesan menikmatinya.
Apalagi permainan yang Fajar tunjukan saat ini sangatlah lembut,sehingga membuat dirinya terbuai.Walaupun pada akhirnya ia terkulai lemas tak berdaya dibuat suaminya itu.ðŸ¤ðŸ¤
Ini ke tiga kalinya mereka melakukan penyatuan selama mereka menikah.Fajar selalu mengeluarkan benihnya di dalam rahim Sheila, berharap akan tumbuh Fajar junior disana secepatnya.
Tapi disisi hatinya yang lain, ia tidak ingin janin itu hadir begitu cepat,entah kenapa ia merasa takut kalau semua nya cepat berakhir.
Ada rasa tidak rela di hati Fajar,kalau hal itu benar-benar terjadi.Fajar mengecup kening Sheila, saat penyatuan itu sudah selesai.Dan anehnya Sheila juga meresapi nya saat Fajar mendaratkan bibir diatas keningnya.
Ada perasaan syahdu di sana,setelah itu Fajar juga membawa dirinya kedalam pelukan pria itu tanpa ada penghalang apa pun diantara keduanya yang sama-sama polos.
Sentuhan kulit dengan kulit itu menimbulkan percikan-percikan api cinta diantara mereka, namun keduanya sama-sama menampik akan hal itu.
"Sheila, " ucap Fajar saat Sheila mulai memejamkan mata di dalam dekapannya.
"Apa kamu mau mendengar sesuatu? " tanya Fajar kemudian.
"Apa?" jawab Sheila dengan pertanyaan lagi.
"Mungkin saat ini aku belum bisa memastikan mengenai perasaan ku terhadapmu itu seperti apa.Tapi jika seandainya nanti kamu hamil anakku, apakah kamu ingin kita tetap bercerai? " tanya Fajar.
"Bukankah semuanya akan berjalan sesuai perjanjian kita waktu itu. " Sheila menjawab sambil mendongak,menatap Fajar yang juga menatap dirinya.
"Bagaimana kalau aku menginginkan adanya sedikit perubahan didalam surat perjanjian kita waktu itu?"tanya Fajar.
Kalau boleh jujur,rasanya ia gak kan kuat kalau sampai benar-benar berpisah dengan wanita yang selalu membuat dirinya berdebar belakangan ini.
Wanita ini juga sudah bisa mengembalikan senyumannya yang hilang akibat kepergian Jihan.
"Perubahan yang seperti apa?" tanya Sheila kepada Fajar.
Fajar langsung meraih bundel kertas yang ia bawa dari ruang kerjanya.
"Bacalah, aku ingin kita membuat pasal perubahan yang baru.Sehingga tidak akan ada yang merasa dirugikan.Baik kamu ataupun aku."Fajar membantu Sheila untuk duduk dan menyadarkan dirinya Didada bidang suaminya itu.
Tingkah mereka ini sudah seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya.Walaupun sedikit canggung,tetapi tidak secanggung kemaren-kemaren.
Sheila membaca surat perjanjian baru yang diajukan oleh Fajar.
" Ini? "Sheila melihat ada pasal baru yang ditambahkan oleh Fajar.
Pasal baru itu berbunyi:
{Apabila dalam masa setahun menikah, Sheila sebagai pihak 2 dinyatakan hamil dan melahirkan dan ada perasaan cinta diantara pihak 1 dan pihak 2.Maka perjanjian ini dianggap batal}
" Ada apa?"tanya Fajar.
"Pasal yang ini,apa maksudnya?"Sheila memperlihatkan pasal yang ia maksud.
" Oh, yang itu.Aku harap kamu juga mau mengerti apa yang aku maksud."Fajar membuka selimut dan segera memakai celananya.
Sheila bingung, kenapa Fajar malah bangkit dari tempat tidur.Dilihatnya suaminya itu sedang menuju ke meja komputer yang ada dikamar itu.Fajar lalu membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru.