
Ucapan Bik Tarnik masih saja terngiang di telinga Fajar,sehingga membuatnya jadi kepikiran terus dari tadi.
"Apa benar, dia hamil? " gumam Fajar.
Bahkan saat dirinya sedang bersama para klien pun, Fajar masih saja terbayang-bayang dengan kata-kata,"Sheila hamil."
" Ada apa Pak Fajar? Kelihatannya Anda sedang memikirkan sesuatu. Dari tadi saya perhatikan, Anda sedang tidak fokus, " tegur kliennya itu.
" Ah, gak ada apa-apa kok, Pak. Saya hanya sedang ada sedikit masalah, tapi itu hanyalah masalah kecil saja. Jangan khawatir. "Fajar berusaha untuk menutupi kegalauannya.
" Baiklah, bisakah kita lanjutkan? "tanya klien pentingnya itu.
" Silakan! "ucap Fajar.
Setelah meetingnya berakhir, Fajar segera mengambil ponselnya. Dia harus menghubungi istrinya agar dia bisa tahu apa benar Sheila sedang hamil atau tidak, atau jangan-jangan dia hanya berpura-pura saja bilang ke Bik Tarnik kalau dia sedang hamil.Tapi kan, tadi Bik Tarnik bilang kalau Sheila hanya mengatakan kalau dia pengen curhat sama mamanya.
Fajar harus segera menghubungi wanita-wanita itu. Beberapa kali dia menelpon, tapi nomor istrinya itu tidak aktif. Fajar jadi kesal, bisa-bisanya Sheila tidak mengaktifkan ponselnya.
Pria itu jadi kian kesal,dia langsung pergi untuk menyusul Sheila ke rumah orang tuanya.
Di tengah perjalanan, dirinya baru ingat dengan ibu mertuanya. Fajar pun memutuskan untuk menghubungi Nyonya Fatiah. Mamanya Sheila itu mungkin saja nomornya masih aktif. Semoga saja dia mau mengangkat telepon dari Fajar.
Benar saja, panggilannya tersambung. Segera Fajar memasang headset di telinganya,bersiap untuk bicara dengan sang mama mertua.
"Assalamu'alaikum, ada apa Nak Fajar? " tanya mama mertuanya itu.
"Wa'alaikum salam Ma, maaf mengganggu, " sapa Fajar canggung.
Walaupun dirinya dan Sheila sudah terbilang lama menikahnya, tapi hubungan Fajar dan mertuanya tidak begitu baik hingga dia bisa leluasa. Sikap Fajar yang terkesan dingin,membuat jarak mereka masih ada.
Meski Nyonya Fatiah sangat menyambutnya sebagai bagian dari keluarga mereka, tapi mereka tidak seakrab itu, ditambah mereka juga jarang bertemu.
"Iya, ada apa, Nak Fajar? " tanya Nyonya Fatiah lagi.
"Maaf Ma, apa boleh saya tahu di mana Mama dan Sheila sekarang berada? " tanya Fajar pada sang mama mertua.
"Kami lagi di rumah sakit, kenapa?" tanya Nyonya Fatiah."Apa kamu tidak tahu bagaimana kondisi Sheila sekarang? Suami macam apa kamu ini? Kenapa kamu bisa membiarkan istri kamu periksa kandungan sendirian tanpa kamu dampingi?! "
Fajar merasa tertampar dengan ucapan mama mertuanya itu. Dia saja tidak tahu kalau Sheila benar-benar mengandung.
"Rumah sakit mana, Ma? Aku akan segera ke sana. "Fajar segera menuju parkiran, dia ingin segera sampai di rumah sakit yang Nyonya Fatiah katakan.
" Rumah sakit Ibu dan Anak Citra Kasih."
Fajar segera menuju ke sana, namun sayangnya keadaan jalanan yang macet menghambat laju kendaraannya.
BAMMM
Fajar memukul setir mobilnya. "Sial, pakai macet, lagi! " ucapnya, kesal.
******
Setengah jam berlalu, mobil Fajar baru saja terlerai dari kemacetan yang menjebaknya. Sudah setengah jam, 'sudah pasti Sheila dan mamanya pasti sudah keluar dari rumah sakit, 'fikir Fajar.
***
Tiba juga akhirnya dia di RSIA Citra Kasih, Fajar berlarian menuju ruangan dokter spesialis kandungan setelah dirinya bertanya kepada suster jaga.
"Di mana dia? " Fajar melihat-lihat ke sekelilingnya.Tidak ada Sheila maupun mama mertuanya di sana.
"Nyonya Sheila Anindhita Mubarak, "
Fajar pun menoleh, terlihat Sheila yang baru saja keluar dari ruangan dokter, sedang berbicara dengan suster itu didampingi oleh sang mama.
Fajar tersenyum lega ketika bisa melihat istrinya lagi.
"Ada apa, Sus? " tanya Sheila.
"Ini,buku untuk kontrol anda ketinggalan di dalam, dan ini ada resep vitamin tambahan yang harus di minum. Anda bisa menebusnya di apotek." Suster itu memberikan secarik kertas yang langsung di raih oleh Sheila, dan kemudian dimasukkannya ke dalam tas yang dia bawa.
Setelah suster itu pergi, Fajar berniat untuk mendekati istrinya dan bertanya semua pertanyaan yang sedari tadi mengganggu fikirannya.
Namun tiba-tiba langkah Fajar terhenti saat dirinya mendengar Sheila dan mama mertuanya sedang mengobrol, Fajar bersembunyi dibalik tiang penyangga rumah sakit.
"Bagaimana ini Ma? Aku ternyata beneran hamil, " ujar Sheila.
Mata Fajar sampai melotot mendengarnya. "Sheila hamil? " ucapnya lirih.
Tak dapat dia pungkiri, jantungnya berdebar saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya itu, dia akan jadi seorang ayah.Fajar masih setia menguping pembicaraan istrinya dan mertuanya.
"Bagus kan, sayang. Setelah anak itu lahir, kamu bisa terbebas dari cengkraman suamimu itu,dan kamu bisa menjalankan kehidupanmu seperti yang kamu inginkan. "
Hati Fajar sangat tak terima, mendengar ucapan mertuanya itu. Apa maksud mama mertuanya berkata demikian?
"Sheila ragu Ma, Sheila belum mau kasih tahu Mas Fajar kalau sekarang Sheila sedang mengandung anaknya, " ucap Sheila.
Di balik tiang besar itu, Fajar menggenggam erat tangannya sendiri. Menahan gejolak amarah yang kian memuncak di dadanya.
"Loh, kenapa? " Mama Fatiah panik, dia tidak tahu kalau Sheila ingin menyembunyikan semuanya dari Fajar, tadi dia sudah sempat memarahi Fajar karena dia menganggap Fajar lalai dalam menjaga putrinya yang sedang hamil, tapi ini, kok?
"Aku... " Sheila menghentikan ucapannya, dia bingung.
"Jangan bilang kalau kamu sudah jatuh cinta sama dia.Aaaa, kalau itu memang benar,artinya impian Mama bisa terwujud sayang. " Mamanya malah senang.
"Maksud ,Mama? " Sheila tidak menyangka kalau mamanya malah mendukung Fajar ketimbang dirinya.
Begitu juga dengan Fajar, tadi dia mengira kalau Mama mertuanya tidak menyukai dirinya. Tapi ternyata?
Nyonya Fatiah keceplosan, ternyata dirinya lebih suka kalau puterinya bisa menjalani rumah tangga dengan pria mapan seperti Fajar.
"Ups! Hehehe. Mama cuma suka aja kalau kamu jadi istri pengacara terkenal seperti dia. Kamu tahu kan sayang, kasus Papa mu?Jadi ,jika sewaktu-waktu kasusnya ini terungkap, kita bisa meminta tolong Fajar untuk mengurus nya." ucap sang mama.
"Apa?! Jadi Mama sudah tahu soal kasus korupsinya Papa? " bisik Sheila.
"Iya sayang, sekarang Papa sedang berusaha untuk melenyapkan barang bukti.Dia juga sudah mengembalikan sebagian dari uang itu. Sebenarnya ini bukan sebuah korupsi yang Papamu lakukan sendiri, tapi Papamu di jebak oleh rekannya. Sekarang memang belum terungkap, tapi mungkin tidak lama lagi semuanya akan muncul ke permukaan. " Nyonya Fatiah tiba-tiba menyeka air matanya yang keluar dengan deras tanpa dia pinta.
"Sabar Ma, Sheila juga tidak tahu harus berbuat apa. Papa 'kan punya tim pengacara pribadi, jadi kita coba minta mereka untuk berusaha membebaskan Papa dari jerat hukuman, " ucap Sheila.
"Sulit sayang, bukti pentingnya sudah berada di tangan rekan Papa yang menjebaknya. Dia pintar sekali membalikkan fakta, seakan-akan Papa lah yang bersalah."
"Siapa orang itu, Ma? "tanya Sheila.
"Orang itu adalah, Papanya Angga."
"Apa?! "
Sheila dan juga Fajar sama-sama terkejut, tapi Fajar tetap berada dibalik tiang itu, dia tetap bersembunyi agar istri dan mama mertuanya tidak tahu kalau dia sudah mengetahui semuanya.