
Tanpa orang rumah ada yang tahu, Sheila saat ini sedang menangis didalam kamar suaminya itu.Ia teringat kembali tentang kejadian tadi malam saat Fajar memaksakan kehendaknya,walaupun ia mencoba untuk tegar, tapi di saat ia hanya sendirian seperti ini ia merasakan betapa hancur, rapuh, dan tidak berdayanya dirinya saat ini.
Ingin rasanya ia menelpon Mamanya untuk sekedar berbagi kabar,ia sangat kangen dengan mamanya.Sudah dua hari ini mereka tidak banyak bicara, terakhir hanya disaat pernikahan dadakan itu saja.Sebuah pernikahan yang jauh dari ekspektasi dan khayalan Sheila selama ini, jauh,jauh sekali.
Dahulu Sheila selalu memimpikan akan menikah dengan laki-laki yang ia cintai dan juga mencintai dirinya.Laki-laki bak pangeran berkuda putih yang akan memenuhi semua keinginannya, memperlakukan dirinya bagai seorang tuan putri, sama seperti yang kedua orang tuanya lakukan selama ini.
Lamunannya yang jauh menembus awan seketika terhempas saat ketukan pintu kamar terdengar semakin cepat dan kuat.
"Iya, siapa?." tanya Sheila sambil menyeka air matanya yang mengalir dipipi.
" Ini saya Nyonya, tadi Tuan telepon. jawab aja disaluran nomor 2 Nyonya. "ujar Bik Tarnik dari balik pintu. Ternyata bukannya mencari keponakannya, ia malah langsung pergi menuju kamar majikannya untuk mengabari Sheila.Percuma jika ia mencari keponakannya dulu, ia sudah tahu tabiatnya Lina keponakannya itu.
" Baik Bik, akan saya jawab."jawab gadis itu, dengan malas ia pun mengangkat gagang telepon dan menempelkan ditelinganya,lalu memencet angka 2 sesuai petunjuk Bik Tarnik.
"Hallo, ada apa Anda mencari saya Pak Fajar?" tanya Sheila dengan enggan.
"Apa kamu sudah makan siang?. " tanya Fajar ragu, sebenarnya ia bingung mau membicarakan soal apa dengan istri barunya itu.Ia sedikit terkejut ketika suara yang ia dengar adalah suara wanita yang sudah resmi menjadi istrinya, bukan suara pembantu barunya.
"Kenapa memangnya?, ini kan belum waktunya makan siang. " jawab Sheila.
"Jangan kira kalau aku mengkhawatirkan kamu ya!, aku hanya tidak mau kalau kamu sampai mati kelaparan dirumahku.Sebaiknya kamu cepetan makan siang, lalu setelah itu aku ingin kamu ambil kunci ruang kerjaku di laci nakas sebelah tempat tidurku yang ada gantungan Dinosaurus nya, kamu bisa mulai membersihkan ruangan itu.Hari ini aku tugaskan kamu untuk menyusun semua buku berdasarkan warnanya. Setelah aku pulang nanti aku akan memeriksa dan menilainya. Awas kalau sampai ada yang salah!. " ancam Fajar panjang lebar.
"Apa anda sudah gila?!. " tegas Sheila.
"Kamu sudah berani mengatai aku gila ya?!, awas saja kalau kamu tidak bisa melaksanakan tugas dari ku!. " ancam Fajar lagi.
"Terserah mau bisa atau tidak, anda kira saya takut, apa?!. " tukas Sheila.
"Pokoknya aku tidak mau tahu,kalau kamu sampai gagal ataupun tidak sanggup melakukannya, maka aku akan menghukummu!. " ancam Fajar lagi, bulu kuduk Sheila sampai meremang membayangkan apa lagi kira-kira yang akan dilakukan pria itu untuk menghukumnya?.Jangan bilang kalau Fajar akan menghukum dirinya dengan hal yang sama persis seperti kejadian tadi malam. 'Oh No.'
"Baiklah, saya terima tantangan anda,tapi kalau saya berhasil melakukannya, maka anda harus membiarkan saya kembali berkuliah seperti biasanya mulai besok. " tantang Sheila.
Fajar tidak langsung mengiyakan, ia sedang menimbang-nimbang. Awalnya ia ingin menghancurkan hidup gadis itu sehancur-hancurnya, melarangnya kuliah dan menjadikan Sheila tawanan di rumahnya,sehingga masa depan gadis itu menjadi hancur dan suram.Tapi setelah ia pikirkan lagi, rasanya ia juga tidak tega kalau istrinya itu harus mengulang lagi,padahal Sheila termasuk mahasiswi yang berprestasi.
"Oke, saya setuju. Kita akan lihat bagaimana kemampuan kamu yang kamu sombongkan itu, kalau kamu berhasil menyusun semua buku berdasarkan warnanya sampai adzan Magrib nanti, maka kamulah pemenangnya." ujar Fajar.
Sheila langsung mematikan sambungan telepon itu,lalu ia bergegas mengambil kunci di nakas,meninggalkan kamar dan langsung ke ruang kerja Fajar. Ia ingat betul kalau ruang kerja suaminya itu sangat luas, disana sangat banyak sekali buku-buku tentang ilmu hukum, sudah seperti perpustakaan besar saja.
"Semangat💪." ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Sheila mulai menurunkan semua buku satu persatu dan langsung menyamakannya sesuai warnanya di rak buku.
Ruangan ini hanya dibersihkan seminggu sekali, itulah sebabnya Sheila harus merasakan sesaknya debu diantara buku-buku yang jumlahnya ribuan itu.
Sudah tiga jam Sheila menata buku-buku itu, bahkan ia belum sempat makan siang."Aduh, bagaimana ini?, sudah jam 2 lewat, tapi warna yang tersusun baru buku yang warnanya hijau dan hitam saja, bagaimana ini?. "gumamnya.
Sheila mau tak mau harus mempercepat lagi gerakan tangannya,walaupun hal itu malah membuatnya semakin cepat kelelahan.
Sementara itu di kantornya, Fajar sedang tersenyum menatap layar komputernya yang menampilkan sosok sang tawanan yang sangat kesibukan, meringis, melihat terus kearah jam yang ada didinding, gelisah,ingin cepat menyelesaikan tugasnya.
" Aduh, bagaimana ini?. "Sheila semakin panik karena melihat tumpukkan buku-buku yang belum tersusun.
Ingin rasanya ia berteriak.
*
*
*
"Fajar tersenyum penuh Kemenangan, Ia melihat Sheila yang merasa kelaparan kini sedang menelpon pelayan melalui interkom diruangan itu.Sheila memesan makanan kepada Bik Tarnik atau siapa saja yang mengangkat agar bisa mengantarkan makanan kepada dirinya.
" Bisa merasa lapar juga kamu ternyata,aku pikir kamu akan menahan lapar sampai bukunya tersusun berdasarkan warnanya."gumam Fajar.
Tak lama, masuklah Bik Tarnik dengan membawa nampan berisi makanan.Sheila langsung menyantap semua menu buatan Bik Tarnik, apalagi ada salad buah juga disana.
" Enak Bik, nanti kapan-kapan bisa gak ajarin aku masak?. "tanya Sheila.
" Boleh Nyonya, dengan senang hati. "jawab Bik Tarnik.