Your Revenge

Your Revenge
Baru Sadar



Terakhir kali Fajar datang ke villa ini, saat dirinya kehilangan istri tercintanya, Jihan. Di Villa inilah, dirinya menyelidiki siapa orang yang sudah mengemudikan mobil yang menabrak mereka pada hari itu.


Luka yang di alami Fajar memang tergolong ringan, tapi mendiang sang istri menderita luka di kepalanya, sehingga nyawanya tak bisa diselamatkan.


Kenangan akan Almarhumah Jihan begitu kental di seluruh villa ini, wanita soleha itu selalu mengajaknya ke sini setiap sebulan sekali. Hal itu kembali mengingatkan Fajar pada balas dendamnya kepada Sheila. Gadis yang mulai dicintainya, tapi juga sangat di bencinya.


Bukankah pernikahan mereka akan segera berakhir, kalau anak yang di kandung oleh Sheila telah lahir nanti?


Sesuai perjanjian, Sheila hanya harus melahirkan seorang anak untuknya, lalu setelah itu, dia akan membebaskannya.


Fajar dilema. Itu artinya, pernikahannya dengan Sheila hanya akan bertahan kurang lebih sembilan bulan lagi. Wajar saja jika waktu itu Fajar memergoki Sheila yang sedang membuka kembali akun instagramnya dan mungkin ingin kembali menghubungi mantannya.


Mungkin Sheila sudah mulai bersiap -siap untuk meninggalkan dirinya jika sudah melahirkan nanti, dan kembali kepada Akash, mantan kekasihnya yang tinggal di Australia.


Memikirkan hal itu saja,membuat Fajar frustasi. Pria itu duduk di lantai dan bersandar di tepian tempat tidur. Sebelah kakinya terangkat untuk menopang sebelah lengannya



Sekarang dia sudah berganti pakaian yang lebih santai.Berbagai fikiran buruk tentang Sheila dan keluarganya berseliweran di dalam benak Fajar.


"KAMU FIKIR KAMU SIAPA?! " teriaknya frustasi.


****


Sedangkan di rumah orang tuanya, Sheila sedang dimanja dan disayang bak putri raja. Papa dan mamanya secara bergantian menyuapi mulutnya dengan buah-buahan segar, agar cucu mereka tumbuh dengan sehat.


Mereka sangat antusias dalam menyambut kehamilan anak satu-satunya itu, sebentar lagi mereka akan menyandang gelar Omah dan Opah.


"Pa, Ma, Sheila jadi galau deh, " curhat Sheila.


"Galau bagaimana sayang? " tanya mamanya.


Ingin rasanya cerita soal perjanjian yang dia tanda tangani dengan Fajar sebelum mereka menikah, tapi Sheila jadi ingat kalau perjanjiannya sudah pernah di perbaharui, menjadi seumur hidup. Ada rasa lega di hatinya.


"Gak jadi deh, Ma." Calon ibu itu malah tertawa. "Hahaha."


"Kamu aneh ih, tadi katanya lagi galau. Sekarang malah ketawa gitu, ngeri Mama jadinya. "Mama Fatiah hanya bercanda.


******


Di saat bersamaan, Fajar juga ingat kalau perjanjiannya sudah dia perbaharui. Wajah murungnya kini kembali berbinar. Untuk apa dirinya harus stres memikirkan bagaimana setelah anaknya lahir, mereka akan tetap selalu bersama.


Akan tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Fajar masih harus menyelesaikan kasus mertuanya juga. Sebelum kasus itu mencuat, dia harus bisa menemukan bukti valid yang menyatakan kalau papa mertuanya itu tidak bersalah.


Fajar menghubungi orang-orang kepercayaannya, dia meminta mata-mata nya itu untuk segera menyelidiki papanya Angga, secara lebih detail lagi. Fajar berharap, akan segera menemukan bukti yang dibilang oleh mama mertuanya.


****


Sekarang hari sudah berganti, Sheila masih berada di rumah orang tuanya. Semalaman mereka bersama, bercanda dan bercerita hingga larut malam.


"Hoammmm." Suara kuapan Sheila terdengar di penjuru dapur.


"Masih ngantuk, Non? " tanya Bik Oni.


"Iya nih, Bik, "jawab Sheila dengan nada manja nya yang sangat di rindukan oleh Bik Oni.


" Bagaimana kalau saya bikinin Non Sheila, segelas cappucino?" tanya Bik Oni pada Nona kesayangannya itu.


" No, no, no! "ucap Sheila sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


" Loh, kenapa gak mau sih, Non? " Bik Oni jadi heran. Biasanya nonanya itu paling suka.


" Gak boleh, Bik. Kan sekarang ada Baby di dalam sini. " Sheila mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Eh, iya Non, Bik Oni lupa," ucap Bik Oni sambil nyengir kayak kuda.


Sheila jadi ingat, seharusnya dia berbelanja beberapa kebutuhan ibu hamil untuk dirinya, seperti susu khusus ibu hamil, bantal ibu hamil, dan beberapa daster. Yaaaa, walaupun perutnya terlihat masih rata. Dia jadi membayangkan bila nanti perutnya sudah membesar, akan seperti apakah bentuk tubuhnya?


***


Susu buatan Bik Oni, ternyata nikmat juga. Dalam sekali minum, Sheila bisa menghabiskannya hingga tandas tak bersisa. Entah itu bawaan bayi atau memang susunya yang enak.


Di saat dirinya sedang membantu Bik Oni beres-beres di dapur, tiba-tiba mamanya datang.


"Sayang, kemari sebentar!" panggil Mama Fatiah.


"Ada apa, Ma? "


"Ini ada telepon buat kamu, " ujar Mama Fatiah sambil memberikan ponselnya kepada Sheila.


"Dari siapa, Ma? " tanya Sheila. Dia jadi takut kalau yang menelponnya ternyata adalah Fajar.


"Siapa lagi, sayang. Ya dari suami kamu lah, " jawab Mama Fatiah.


Seketika jantung Sheila berpacu lebih kencang, orang yang dari semalam selalu mengganggu fikirannya malah sekarang sedang mencarinya.


"Hallo, assalamu'alaikum, Mas. " Sheila mencoba bersikap biasa saja, walaupun dia takut kena marah, karena sudah pergi tanpa bilang dulu ke suaminya itu.


"Wa'alaikum salam, sedang di mana kamu?" tanya Fajar.


"Di rumah Mama, " jawab Sheila singkat.


Terdengar suara dengkusan dari hidung Fajar.


"Tadi aku telpon ke rumah, Si Lina bilang kamu belum pulang sampai sekarang. Kamu juga menelpon ke rumah tadi malam untuk mencari saya. Terus, kamu juga bilang sama dia kalau dia harus kasih tahu kamu bila aku sudah pulang ke rumah. Kenapa? " tanya Fajar lagi.


"Hah! Kenapa apanya? " Sheila pura-pura bingung dan tidak mengerti.


"Kenapa kamu cariin aku? Setelah kamu pergi begitu saja tanpa pamit dulu sama aku! "


Sheila jadi merinding, sudah jelas kalau suaminya itu sedang marah dan meminta penjelasan darinya. Memaksa dirinya untuk berterus terang tentang perasaannya.


"Eee, soalnya.... aku.... ada yang..., " ucap Sheila terbata-bata.


"Ada yang apa? Cepat katakan! " Fajar sebenarnya sudah tahu apa yang mau dibicarakan oleh istrinya itu. Tebakan Fajar, Sheila ingin membicarakan perihal kehamilannya.


Lama tak ada jawaban dari istrinya itu, sementara Mama Fatiah sudah dari tadi ingin meminta ponselnya yang sedang dipakai sang putri telponan.


"Bentar ya, Ma. " Sheila memberi isyarat pada Mama Fatiah.


Fajar pun mengerti, jadi dengan cepat dia berkata, "Cepat kamu datang ke sini! Aku akan kirim supir untuk menjemput kamu di rumahnya Mama, setelah itu kamu akan di antar ke tempatku," ujar Fajar.


"Aku bisa pulang sendiri ke rumah, Mas. Tidak perlu di jemput supir segala." Sheila menolak.


"Ini bukan di rumah, tapi di villaku. Kamu belum tahun tempatnya, jadi kamu tak bisa datang ke sini sendirian. Bahaya juga buat kamu, jadi menurut saja. Biar Mang Mardin yang nyupirin kamu! "


Ucapan Fajar sudah seperti titah raja bagi Sheila. Dari awal mereka menikah, mana pernah Sheila bisa menolak apapun yang diucapkan oleh Yang Mulia Fajar Sidiq Mubarak ini.


"Oke, baiklah! " Mau tak mau, dia harus mau.


Setelah panggilan diakhiri, segera Sheila mengembalikan ponsel mamanya. Sekarang dia harus bersiap, sebelum supir bernama Mang Mardin yang Fajar kirim tiba di rumah ini.


"Aku mau mandi dulu, Ma. Makasih ya ponselnya." Sheila berlari naik ke kamarnya di lantai atas.


"Hati-hati dong sayang. Ingat! Sekarang kamu sedang berbadan dua, jangan lari-lari! Apalagi saat naik tangga," seru Mama Fatiah yang sangat mengkhawatirkan putri dan calon cucunya.


"Iya, Ma. Tenang aja ya... " Sheila selalu bisa menjawab apapun yang mamanya katakan. Memang ya, anak tunggal. 😅