Your Revenge

Your Revenge
Sheila Menghilang



Sudah dua hari Sheila beristirahat di rumah, ia tidak mau ketika di ajak Fajar untuk pergi ke dokter.Fajar juga tidak mau memaksakan istrinya itu untuk ke dokter.Semua Fajar lakukan agar Sheila tidak merasa tertekan, entah kenapa ia tidak ingin jika melihat Sheila menangis.


Walau bagaimana pun Sheila tetaplah gadis muda yang masih labil emosinya, sedewasa apapun sikapnya, tapi ia tetaplah seorang wanita muda yang masih mempunyai jiwa pemberontak di dalam dirinya.Fajar faham betul akan hal itu.


****


Hari ini Sheila ingin pergi ke kampusnya, meskipun badannya belum begitu baikan.


"Apa kamu yakin akan pergi ke kampus hari ini?kondisi kamu masih kurang sehat. Itu,muka kamu juga masih sedikit pucat." Fajar hendak mengelus wajah Sheila perlahan.


Sheila memegangi tangan Fajar yang akan menyentuh wajahnya, "Aku udah sehat kok Mas," ujar Sheila.


"Kalau kamu yakin bisa, ya gak pa pa. Tapi, jujur saja aku sangat khawatir kalau si Angga itu akan mengganggu kamu saat di kampus nanti."Fajar sangat yakin akan hal itu.


"Aku akan berusaha untuk menghindarinya Mas,aku juga hanya akan ambil satu kelas aja hari ini." Sheila masih bersikukuh untuk berangkat ke kampusnya.


"Baiklah, biar aku yang akan mengantar kamu sampai ke kampus.Hari ini aku masih bebas tugas, ya... walaupun masih harus mengontrol pekerjaan mereka semua lewat e-mail, tapi bisa lah kalau cuma antar kamu aja." Fajar segera mengganti pakaiannya.


Sheila hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa kalau si arogan sudah memaksakan kehendaknya.Mau tak mau hari ini ia akan di antar oleh suami tampannya yang arogan itu, ya.. itung-itung gak perlu nyetir sendiri lah.


*****


Tiba juga mereka di kampus, suasana kampus hari ini sangat ramai.Baru saja Sheila akan turun dari mobil suaminya, tiba-tiba tangannya di tarik oleh sang suami.


"Biasakan pamit dulu sama suami, " ujar Fajar.


Sheila kaget,tak biasanya Fajar minta di pamitin seperti ini."Oke,aku pamit dulu."Sheila hendak salim pada suaminya itu, tapi Fajar malah menarik Sheila ke dalam pelukannya.


Sheila makin terkejut, ia tidak menduga kalau Fajar akan memeluknya.Tepat di depan sana, Angga melihat keduanya berpelukan di dalam mobil, ternyata Fajar sengaja melakukan hal itu untuk memanasi Angga.Namun Sheila tidak menyadarinya.


Saat ia keluar dari mobil, semua mahasiswi dan mahasiswa uang lain melihat ke arahnya.Ia sudah bergelar Nyonya sekarang, Nyonya Fajar Sidiq Mubarak.


Hari ini Fajar tidak ada pekerjaan yang mendesak,jadi ia memutuskan akan mengawasi Sheila saja dari dalam mobil.


Beberapa jam berlalu,Fajar menerima sebuah telepon dari kantornya.Asistennya mengabarkan bahwa terjadi kesalahan dalam berkas yang sudah di buat.Oleh sebab itu,Fajar harus datang ke kantor nya untuk menandatangani berkas yang sudah di perbaiki ulang pengetikan nya.Dengan berat hati,Fajar terpaksa harus pergi untuk menandatangani ulang berkas itu dan meninggalkan Sheila di kampusnya.


****


Sepanjang jam kuliah,Sheila terus saja merasa mual.Raysa yang duduk di sampingnya juga merasakan ada keanehan pada sahabatnya itu.


" Kamu sakit, Sheila?Kok muka kamu pucat banget, aku antar ke ruang kesehatan yuk."Raysa ngotot mengajak Sheila ke ruang kesehatan ia sangat mengkhawatirkan kondisi Sheila.


Raysa memintakan izin kepada dosen agar Sheila bisa di bawa ke ruang kesehatan, " Bu, Sheila lagi gak enak badan.Saya mau izin untuk mengantarkannya ke ruang kesehatan,"ujar Raysa.


" Huuuuuu,asyik ya jadi penganten baru."Sorakan dari mahasiswi yang lain pun tak terelakkan.


" Sudah cukup! kalian ini,senang sekali lihat teman lagi kesusahan. Bukannya mau nolongin. "Bu Dosen langsung memberikan izin agar Sheila bisa segera di obatin.


Begitu keluar dari kelas,Sheila langsung berlari menuju toilet. Ia sudah tidak tahan untuk memuntahkan isi perutnya yang terasa sangat mual.


" Apa kamu hamil Sheil? "tanya Raysa yang setia mengusap-usap punggung Sheila.


Sheila terkejut mendengar ucapan Raysa, " Ha-mil??apa aku hamil?, "gumam Sheila sambil memegangi perutnya.


" Iya, kamu kan sudah menikah. Pasti kamu juga sudah pernah melakukannya dengan Pak Fajar ,bukan? "tanya Raysa lagi.


Sheila tak pernah memikirkan kalau dia hamil secepat ini,ia terlalu sibuk akhir-akhir ini mengejar ketertinggalannya.Kalau benar ia hamil,itu artinya dirinya akan segera terbebas dari Fajar setelah anaknya lahir.


Ada rasa sedih di hatinya,tapi ada juga rasa bahagia yang ia rasakan.Benarkah ia akan menjadi seorang Ibu?tapi setelah anaknya lahir, apakah mereka masih tetap bisa bertemu?'berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


" Ada apa? kenapa kamu malah sedih? "tanya Raysa,gadis itu bisa melihat perubahan raut wajah Sheila yang tiba-tiba terlihat murung.


" Gak,gak ada apa-apa kok.Aku, hanya belum siap saja kalau harus jadi seorang Ibu.Kamu tau kan? aku masih kuliah,perjalanan ku masih panjang."Sheila menundukkan kepalanya, ia mengusap-usap perutnya sendiri dengan lembut.


Sheila membayangkan ada sesosok janin di dalam sana yang hidup di dalam rahimnya.Air mata Sheila menetes,mengalir tanpa dia minta.


Melihat itu, Raysa jadi ikutan sedih.Ia segera mengantarkan Sheila ke ruangan kesehatan.Setelah mengantarkan Sheila, Raysa terpaksa harus meninggalkan Sheila sendirian di sana bersama dengan dokter jaga, karena ia harus segera kembali ke kelas.


Dari hasil pemeriksaan tadi, dokter menyimpulkan kalau Sheila benar-benar hamil.Tapi di ruang kesehatan ini,tidak ada alat-alat pemeriksaan kehamilan.


"Jadi kamu sudah menikah? selamat ya, menurut saya kamu menunjukan gejala-gejala seorang wanita yang sedang hamil. Jadi sebaiknya kamu harus banyak beristirahat dan nanti kamu periksakan lagi kondisi kandungan kamu ke dokter kandungan.Saya tinggal dulu sebentar,ada yang harus saya ambil di ruang obat-obatan ." Dokter itu pergi keluar dan tinggallah Sheila sendirian di sana.


Hari ini asistennya tidak masuk, sehingga hanya dokter itu sendiri yang harus melayani pasien di kampus ini.


Tanpa disadari oleh siapapun, seseorang sedang mengintai dari tempat persembunyiannya. Angga sedang mengawasi ruangan kesehatan itu,ia sekarang sedang menelpon para anggota genknya untuk membantu dirinya menculik Sheila.


Karena kelelahan, Sheila pun tertidur. Ia tidak menyadari kalau bahaya kini sedang mengintai dirinya.


Angga sudah meminta teman-teman nya untuk menyiapkan mobil dan juga membantunya membawa Sheila keluar dari sana secara diam-diam.


Memanfaatkan situasi kampus yang sepi karena para mahasiswa dan mahasiswi lainnya sedang berada di dalam kelas, Angga berhasil menyuruh teman-teman nya membawa Sheila pergi dari sana.


Sementara Angga,masih tetap berada di kampus untuk menguatkan alibi kalau dirinya tidak ada kaitannya dengan hilangnya Sheila dari ruangan kesehatan.


Di saat dokter itu kembali,Sheila sudah tidak ada lagi di sana.Dokter mengira kalau Sheila sudah merasa baikan dan pergi dari sana sendiri.Ia sama sekali tidak curiga kalau Sheila di culik, karena tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali.