Your Revenge

Your Revenge
Hanya Berpura-pura



Suasana pagi yang sejuk dan hangatnya mentari memaksa Sheila untuk membuka matanya yang masih terasa berat,seketika Fajar berpura-pura seakan-akan ia masih tidur saat ia merasakan pergerakan istri barunya itu.


Sheila sangat kaget mengetahui dirinya sedang berada didalam dekapan seorang Fajar Sidiq Mubarak yang sangat dibencinya. Secepatnya ia menjauhkan dirinya dari pria itu.Perlahan ia melangkah tanpa menimbulkan suara dan keluar dari kamar itu.


Fajar yang memang sudah bangun dari tadi hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Sheila.


"Dasar gadis tengil, suka sekali kabur-kaburan. " ujar nya.


"Eh..🀭sekarang kan dia sudah gak gadis lagi. Aku lupa kalau aku sudah merenggut nya. "Fajar menyugar rambutnya yang berasa gerah.


Masih bisa ia mencium aroma rambut Sheila yang menempel di kaos yang ia kenakan.Ah... rasanya seperti itu rupanya kalau punya istri baru.


Tapi tunggu, ia tidak boleh terlihat mudah dimata wanita itu. Walau bagaimana pun Fajar akan tetap menunjukkan sisi dirinya yang berbeda pada wanita yang ia nikahi untuk membalaskan dendamnya.


Dia tidak boleh terlihat lemah, 'sebaiknya sekarang ia akan membuat beberapa peraturan lagi untuk menyulitkan wanita itu'.pikirnya.


*


*


*


Lain Fajar lain pula Sheila, saat ini dia sedang berada didapur dengan rambut yang digelung ke atas.Ia memang tidak bisa memasak, tapi ia hanya ingin membuat secangkir kopi untuk mengusir kantuknya.


" Ada yang bisa saya bantu Nyonya?. "tanya Lina, salah satu ART yang terlihat masih muda, dia adalah keponakannya Bik Tarnik.


" Maaf, nama kamu siapa ya?.Kita belum pernah bertemu sebelumnya, kalau sama Bik Tarnik saya sudah kenal. "tanya Sheila dengan ramahnya.


" Nama saya Lina Nyonya, saya keponakannya Bik Tarnik.Kebetulan saya baru diterima kerja disini oleh Tuan Fajar, jadi pas Bibik saya pulang ke kampung kemarin saya ditawarin pekerjaan ,dan saya langsung mau Nyonya. "jawab Lina.


"Ooo, begitu rupanya.Gak usah panggil Nyonya, lagipula saya gak akan selamanya jadi Nyonya dirumah ini. " ujar Sheila.


"Loh, kenapa bisa begitu Nyonya?. " tanya Lina, bingung.


"Iya, begitulah.Saya hanya akan disini sampai saya..., ah sudahlah.Kamu lanjutkan saja pekerjaannya, saya mau duduk di teras samping dulu ya."Sheila membawa cangkir kopinya ke teras samping.Disana ada sebuah sofa panjang yang biasa dipakai untuk bersantai.


Lina sedikit ngilu melihat cara berjalan Nyonya nya itu karena Sheila berjalan dengan sangat hati-hati dan sedikit ngangkang.


"Ssshht.. dasar pria tidak tahu diri,bisa-bisa nya dia melakukan ini padaku.Ternyata benar kata orang,yang pertama kali itu sakit sekali, tubuhku rasanya mau terbelah semalam.Nyeri banget. " gerutunya.


Sheila tidak tahu kalau semenjak tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikanya dari balik kaca.Pria itu sangat tersinggung dikatakan tidak tahu diri oleh istrinya sendiri.


Ternyata sejak tadi Fajar juga sudah mendengarkan pembicaraan antara istrinya dan juga pelayan barunya.Hatinya sedikit terluka karena mendengar Sheila mengatakan tidak akan selamanya menjadi Nyonya dirumah ini.Harusnya dia senang karena melihat musuhnya menderita, tapi kenapa hatinya yang malah terluka?.


Saat Lina akan menyapanya, ia mengangkat sebelah tangannya dan menempelkan jari telunjuknya di bibir agar gadis itu tidak jadi bicara, ia tidak mau kalau Sheila sampai menyadari kehadiran dirinya.


Fajar membiarkan istrinya itu menikmati kopinya, lalu ia sendiri berjalan menghampiri Lina.


"Lina, nanti bilang sama Nyonya kalau saya sudah berangkat ke kantor karena ada rapat dengan klien.Kamu yang akan mengawasinya, ikuti dia kemana pun,jangan sampai lengah. Karena kamu saya pekerjakan sebagai pengawasnya.Kalau ada apa-apa kamu segera hubungi nomor ini. " Fajar menyodorkan selembar kartu nama miliknya kepada Lina. Sementara gadis itu seolah terpaku dan terpukau melihat majikannya yang sangat tampan itu. 😍


Fajar menjentikkan jarinya karena Lina tak kunjung menyambut kartu nama yang ia sodorkan.


"I-iya,b- baik Tuan. "jawab gadis itu sambil tergagap.


Nyaris saja ia ketahuan karena sudah terpesona dengan ketampanan majikannya sendiri.Bik Tarnik memang sudah bercerita kepadanya waktu dikampung kalau majikannya ini baru saja menikah setelah ditinggal mati istrinya yang pertama.Mendadak Lina menyesali kenapa baru sekarang ia ikut bekerja dengan bibiknya, tahu begitu dari dulu aja dia ikut. Siapa tahu dia yang akan dijadikan Nyonya berikutnya.


Tapi seketika ia mengingat perkataan Sheila tadi, kalau dia tidak akan selamanya menjadi Nyonya dirumah ini. Itu artinya dia masih punya kesempatan untuk menjadi Nyonya yang ke tiga. 😁😁Lina tersenyum senang membayangkan dia akan menggantikan Sheila dan menjadi Nyonya dari rumah mewah ini.


" Kartu nama Pak Fajar, yess aku akan mengsave nomornya 😁. "gadis itu buru-buru mengambil ponsel di sakunya dan segera menyimpan nomor majikan tampannya itu.


" Gantengnya... 😘. "Lina sampai mengecup layar ponselnya yang tersimpan kontak Fajar.


*


*


*


Sheila yang sudah selesai minum kopi kembali masuk ke dalam rumah, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau Lina sekarang sedang sibuk berselfie dengan berbagai gaya.Karena mereka seumuran, Sheila rasa tak ada salahnya karena memang Lina baru pertama kali tinggal dirumah ini, sama seperti dirinya.Hanya saja bedanya ia terlahir sudah memiliki segalanya, jadi tidak akan silau dengan yang namanya kekayaan seperti yang ditunjukkan oleh Lina.Kelihatan sekali kalau gadis yang berasal dari kampung itu memang baru pertama melihat kemewahan.


" Lina,saya ke atas dulu ya. Mau mandi. "ujar Sheila sambil mengangkat dasternya yang lengket karena keringat.


" Eh.. iya Nyonya, tadi Tuan juga minta saya untuk bilangin ke Nyonya kalau beliau sudah berangkat ke kantor karena ada pertemuan penting dengan klien katanya. "


"Tumben pria itu pake acara nitip pesan sama ART. " benak Sheila.


"Saya gak peduli dia mau ngapain, saya mau naik dulu ya. " ujar Sheila lagi, lalu ia segera naik ke atas untuk membersihkan tubuhnya.


Sejenak terlintas didalam benaknya "Terserah anda mau pergi atau gak, bukan urusan saya. Malahan bagus kalau anda tidak balik lagi selamanya!. " kutuk Sheila didalam hatinya.


*


*


*


Di kantornya, Fajar terlihat sedang sibuk bersama asisten dan juga dua orang kliennya, mereka sedang membahas sebuah kasus besar.Firma hukum yang dinaungi Fajar sebagai pimpinannya mendapatkan tawaran kasus besar, jadi sekarang mereka sedang sibuk untuk mengumpulkan beberapa bukti untuk menekan pihak lawan agar bisa memenangkan kasus ini.


"Bagaimana Pak Fajar, apa ada kemungkinan kita akan memenangkan kasus ini?. " tanya kliennya.


"Tentu saja, saya bisa melihat peluang besar disini, pihak kita pasti akan memenangkan kasus ini. " jawab pria yang baru semalam belah duren itu.πŸ˜‚πŸ˜‚


"Itulah sebabnya kami mempercayakan kasus ini kepada Firma hukum Anda Pak Fajar.Karena sudah terbukti kualitas dan kualifikasinya, anda memang pengacara yang hebat. " sahut rekan kliennya itu.


"Terimakasih pujiannya, sebenarnya saya juga masih harus banyak belajar lagi. " jawab Fajar merendah.


Akhrinya pertemuan itu usai juga,Fajar pun kembali ke ruangannya.Tapi sampai jam makan siang, Fajar belum juga mendapatkan laporan dari Lina pelayan barunya mengenai Sheila.


Beberapa kali ia mengecek ponselnya, barangkali ada pesan atau misscall ,tapi nihil.


Fajar juga belum meminta nomor telepon gadis itu, sedangkan ponsel Sheila masih ia sita.


Akhirnya Fajar menghubungi telepon rumah untuk memastikan,dan kali ini Bik Tarnik lah yang menjawab.


"Hallo, assalamualaikum. Kediaman Bapak Fajar Sidiq Mubarak, dengan siapa ini?. " tanya bik Tarnik.


"Ini saya Bik, bagaimana keadaan Sheila, ah maksud saya Nyonya?. " tanya Fajar.


"Oo, sebentar saya lihat Tuan. Tadi saya sedang sibuk memasak makan siang didapur. Saya belum melihat Nyonya hari ini. " sahut pembantunya itu.


"Apa?! " Fajar kaget dan berteriak, ia takut kalau wanita itu pergi dari rumahnya secara diam-diam.


"Dimana keponakan Bibik yang baru saja bekerja itu, siapa namanya?. "


"Lina ,Tuan. "


"Iya, Lina. Tadi saya sudah menyuruhnya untuk mengawasi istri saya, cepat kamu cari dia dan suruh dia menelpon dan melaporkan hasil kerjanya sama saya, segera!. " perintah Fajar.


"Baik Tuan. " Bik Tarnik langsung menaruh telepon sembarangan dan bergegas mencari keponakannya, Lina.