
Selama makan malam berdua itu, Fajar terus saja memperhatikan Sheila yang berada disamping kanannya.
"Tambah lagi makannya. " ujar Pria itu kepada istrinya yang dari tadi tak berani menatap kepadanya.
"Saya sudah kenyang Pak. " ujar Sheila sambil merapikan sendok di piringnya.
"Kamu gak usah malu sama aku,karena aku sudah tau kamu luar dalam. Jadi tidak perlu sok jaim begitu. " ujar Fajar bikin Sheila makin kesal aja.
Kalau saja ini adalah rumahnya, sudah pasti Pria itu akan ia tendang ke jalanan. Tapi sayangnya ini adalah rumah pria yang sialnya sudah resmi menjadi suaminya lahir dan batin itu, bukan miliknya.
Sheila hanya bisa diam di tempat saat Fajar menyuruhnya menunggu sampai ia menyelesaikan makannya.
"Tolong ambilkan air nya. " pinta Fajar saat gelas di tangannya sudah kosong dan minta diisi kembali.
Dengan rasa dongkol dihatinya, Sheila tetap melakukan apa yang diminta oleh suaminya itu.Sheila menuangkan air dari scan kaca ke gelas Fajar.
"Ternyata gadis ini bisa nurut juga, kalau sikapnya seperti ini terus- terusan dia terlihat manis juga." batin Fajar. Ia bahkan kesulitan bernafas saat melihat belahan dada Sheila yang terlihat dibalik dasternya yang berkerah agak rendah.
Setelah gelasnya terisi penuh,Fajar segera meminumnya hingga tandas.Ada sesuatu yang memanas didalam sana, membuat dadanya terasa panas dan jiwanya menggelora.
" Sial! apa aku sudah mulaii terbiasa dengan dirinya.Tidak! aku tidak boleh jatuh cinta padanya, aku tidak mau berkhianat dengan Jihan. "Batinnya.
Namun ditengah gemuruh dihatinya itu, ada suara seseorang yang membangunkannya dari lamunannya yang panjang..
" Maaf Pak Fajar, kalau boleh malam ini saya ingin tidur di kamar tamu saja, atau dikamar pelayan juga boleh."Sheila memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa menurutmu aku akan menurutimu?!. " tanya Fajar sambil menatap intens kedua bola
mata milik istrinya.
"Tentu saja, anda sudah mendapatkan semua yang ada pada diri saya.Sekarang saya sudah tidak punya apa-apa lagi.Bisakah anda bebaskan saja saya, saya janji akan melaporkan perkembangannya setiap kali ada sesuatu yang terjadi saya akan menghubungi anda. " ujar Sheila panjang lebar,tapi Pria itu malah menatapnya dengan tatapan yang penuh kecurigaan.
"Apa maksudnya ucapanmu itu?!. " tanya Fajar.
Mendapatkan tatapan yang menakutkan seperti itu membuat Sheila menjadi gugup, ia tak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada Fajar.
"M-Maksud saya,saya ingin kembali tinggal bersama orang tua saya. lagipula anda kan sudah mendapatkan apa yang anda mau dari saya.Kita hanya perlu menunggu sampai ada hasilnya,jika dalam dua minggu belum ada tanda-tanda kehamilan juga, maka anda bisa memanggil saya kembali. " ucap Sheila sambil terus tertunduk, ia tidak kuat kalau harus menatap mata Elang milik suaminya itu.
"Hekh!. " dengkus Pria itu.
Sheila terkesiap melihat Fajar yang berdiri dari duduknya secara tiba-tiba, jantungnya seperti ingin meloncat keluar.
"Sepertinya kamu belum mengenal saya sama sekali, kamu harus ingat kalau kamu itu sekarang adalah istri tawanan saya! jadi tentu saja kamu harus terus berada dalam pengawasan saya!. "
Fajar mendekatkan dirinya pada Sheila dan kini ia juga mencondongkan wajahnya ke depan wajah istrinya itu.
"Ikuti aku, atau kamu akan ku permalukan disini di depan Bik Tarnik dan juga Lina. " bisik Fajar tepat di telinganya.
Sheila menatap sekeliling, ternyata benar! dari tadi Bik Tarnik dan keponakannya si Lina sedang memperhatikan mereka berdua dari Pantry.
"B-Baik Pak. "
Mendengar itu Fajar kembali mencondongkan tubuhnya dan berbisik ditelinga Sheila"Jangan panggil saya Pak, kamu harus memanggil saya dengan ucapan yang romantis agar semua orang percaya kalau kita memang saling mencintai. "ucapnya.
" Apa ini?, kenapa dia bilang seperti itu?. "tanya Sheila didalam hatinya.
" Kamu lupa kalau saya memiliki begitu banyak relasi dan juga klien. Apa jadinya kalau sampai dari mereka semua , ada yang tahu kalau kita menikah tanpa adanya rasa cinta dan bahkan sebaliknya, kita menikah karena adanya dendam kesumat dihati saya..."terdengar suara Fajar menarik nafas dalam.
"Hufftt."
"Ayo ikut aku. " Tanpa ada Babibu Fajar menarik tangan Sheila, tapi dengan gerakan pelan.
Sebenarnya Bik Tarnik sudah tahu sedikit banyak tentang bagaimana keduanya bisa menikah,tapi ia tidak ingin terlalu kepo dengan urusan majikan.
*
*
*
Fajar melepaskan cekalan tangannya dari tangan Sheila, lalu pria itu segera rebahan di tempat tidur dalam kondisi menelungkupkan tubuhnya.
"Pijitin aku. " ujar Fajar dengan lembut.
"Tumben dia jadi lembut begini.?" batin Sheila.
Sheila pun menuruti apa yang di perintahkan padanya, ia segera naik ke atas tempat tidur dan mulai memijat tubuh bagian belakang Fajar yang masih terbungkus kaosnya.
"Sial, pijatan wanita ini ternyata nikmat sekali. Bisa-bisa aku terlena dibuatnya. " benak Fajar.
Sheila terus memijat nya dengan lembut.
"Kalau kamu ingin kuliah, aku akan mengizinkanmu. " ucap Fajar.
"Yang benar Pak?, anda serius?.Jadi saya bisa kuliah lagi? Terimakasih Pak. " ucap Sheila kegirangan.
"Tapi... " tiba-tiba Ucapan Fajar kembali terdengar angker di telinga Sheila.
"T-tapi apa Pak?. " tanya Sheila ,mukanya sudah kembali pucat.
"Tapi kamu harus memuaskan saya. " jawab Fajar sambil berbalik badan dan kini ia dalam kondisi terlentang dan menaruh sebelah tangannya dibawah kepalanya.
"Memuaskan seperti apa maksud Anda!?. "
Tatapan Mata Fajar menuntun mata Sheila untuk melihat kearah mana mata itu membimbingnya.
"Apa?!. " sontak saja darah wanita itu berdesir hebat.Bagaimana tidak, ternyata mata Fajar membimbingnya untuk melihat juniornya yang kini mulai menegang.
"Kamu tentu tahu kan apa saja kewajiban seorang istri itu?Mulai sekarang kamu harus belajar bagaimana cara memuaskan dan melayani suami. " ucap Fajar kembali.
"Tapi_." Sheila ingin menolak, namun tangan Fajar sudah menarik tangannya lagi sehingga tubuhnya jatuh diatas tubuh suaminya itu.
"Ayo lakukan!, kamu masih ingin kuliah kan?. " tawar Fajar.
Sheila tampak masihh berpikir.
"Apa salahnya aku melayaninya, toh kami memang sudah menikah.Meskipun begitu aku masih ingin kuliah sampai tinggi. "
"Bagaimana?apa kamu ingin berhenti kuliah sampai disini?!. " ancam Fajar, sambil menciumi leher Sheila yang masih bengong dan nampak berfikir, sampai-sampai ia tidak sadar kalau suaminya itu sekarang mulai mencium bibirnya yg merah dan tipis itu.
"Mmmmph." Sheila tersadar dari lamunannya.
Ia memukuli dada Fajar yang bidang itu dengan kedua tangannya agar suaminya itu maupun untuk menghentikan aksinya main sosor.
Fajar akhirnya melepaskan tautan bibir mereka,"Kamu masih harus banyak belajar soal ciuman,dan belajarlah sama aku. "ucapnya.
Kini pria itu kembali tidak bisa menguasai dirinya, otak dan hatinya menolak, tapi gairah saat dada mereka bersentuh membuatnya tak kuasa menahan gelora.
Begitu pula dengan tubuh Sheila yang tak mampu menolak perlakuan lembut yang Fajar lakukan saat ini,ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa terbuai seperti ini.
Tidak seperti percintaan pertama mereka, kali ini keduanya melakukannya dengan saling menuntut.Seolah mereka memang benar-benar pasangan yang saling membutuhkan.
Satu jam kemudian,Sheila yang kecapean kini masih berada didalam pelukan suaminya. Tiba-tiba." Cup. "
"I love You Jihan ku sayang. " ucap Fajar, ternyata pria itu sedang berhalusinasi dengan membayangkan Sheila sebagai almarhumah istrinya, 'Jihan'.
Sheila kaget saat ia merasakan kecupan basah di keningnya. Darahnya berdesir hebat merasakan getaran yang tak biasa.
Seketika pikirannya melambung membayangkan sang kekasih yang jauh disana.
"Maafkan aku Akash. " lirihnya. Tak terasa air matanya mulai jatuh kembali tanpa suara masih.