
Fajar yang mengemudikan mobilnya, sementara mobil Sheila kini berada di belakang, dikemudikan oleh supir dari kantor Fajar.
Sheila nampak kebingungan,dari tadi ia hanya diam saja.Fajar jadi bingung dengan perubahan sikap Sheila ini,tadi istrinya itu nampak bahagia ketika mendengar keputusan hakim atas kebebasan dirinya. Tapi mengapa sekarang wajahnya murung seperti itu?
" Ada apa?apa kamu menyesal karena sudah berdiri di pihak ku?" tanya Fajar tiba-tiba.
Sheila menoleh sejenak pada suaminya itu,ia bingung harus menjawab apa.Ia tidak mungkin bercerita pada Fajar tentang semua yang Angga katakan padanya tadi.
Sheila hanya bisa menggelengkan kepalanya,"Tidak ada apa-apa,aku senang kamu bisa bebas,"ujar Sheila.
"Benarkah?lalu kenapa wajah kamu murung? apa,,, kamu sakit? " tanya Fajar lagi.
Wajah Sheila memang nampak pucat,Fajar juga tau,kapan wajah istrinya itu mulai berubah.Ia memendam keingintahuan nya itu di dalam hati,Fajar juga penasaran dengan apa yang di bicarakan Angga dengan istrinya itu.Nanti ketika sampai di rumah,barulah ia akan mengajak Sheila bicara lebih jauh mengenai Angga.
"Apa sebaiknya kita langsung mampir ke rumah sakit dulu untuk memeriksakan kondisi kamu?sepertinya kamu sedang tidak enak badan." Fajar mencoba menaruh punggung tangan kiri nya di kening Sheila.
Namun dengan cepat,Sheila menepis dan menghalanginya.Ia merasa tidak perlu ke rumah sakit.
"Gak usah Mas,paling aku hanya masuk angin biasa.Nanti juga baikan kalau sudah istirahat," ujar Sheila.
"Baiklah kalau begitu,sebaiknya kita langsung pulang saja.Hari ini sangatlah melelahkan sekali,aku juga butuh istirahat.Besok akan ada persidangan klien besar ku, jadi malam ini aku masih harus menyiapkan bahannya." Fajar baru ingat kalau dirinya masih ada pekerjaan yang lainnya.
"Bukankah Mas Fajar belum boleh membela klien di pengadilan?"tanya Sheila.
"Akan aku wakilkan pada rekan ku yang lain. Kami hanya harus menyiapkan bahannya bersama-sama.Kasus ini lumayan besar, jadi harus di persiapkan oleh tim pengacara utama."Tanpa sadar, Fajar kini sudah mulai bercerita banyak pada sang istri.Dirinya mulai nyaman berbagi cerita dengan wanita yang pernah sangat ia benci.
Sheila merasa sangat di hargai sebagai seorang istri.Seorang suami memang sudah sewajarnya selalu berbagi cerita,suka dan duka kehidupan kepada pasangannya.
Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri, sampai detik ini, ia masih menganggap Fajar seperti orang asing.Orang asing yang terpaksa hidup bersama dalam satu rumah dan kamar yang sama.
Mampukah dirinya membagi masalahnya dengan sang suami?Sheila merasa ia tak kan sanggup untuk melakukannya.Apalagi tadi Angga sepertinya tidak sedang main-main dengan ancamannya.
Entah apa yang Angga ketahui tentang dirinya, peristiwa kelam itukah? atau tentang kasus korupsi yang ayahnya lakukan? entahlah, rasanya kepala Sheila mau pecah sekarang.
Terlalu banyak yang wanita cantik itu fikirkan saat ini,sampai-sampai ia tidak sadar kalau mereka sudah tiba di rumah.
"Ayo turun, " ajak Fajar.
Sheila terkejut karena melihat mobil itu sudah berada di halaman rumah suaminya.Dengan perasaan galau,ia pun membuka pintu mobil di sebelahnya dan turun dengan langkah gontai.
Fajar yang berjalan di depannya sama sekalian tidak mengetahui kalau istrinya hampir saja jatuh.
"Pak Fajar,istri Anda hampir saja jatuh, "teriak supir kantor yang tadinya mengantarkan mobil Sheila ke rumah.
Sontak saja Fajar langsung menoleh ke belakang. Sheila sudah hampir jatuh,dan dengan sigap Fajar menangkap tubuhnya.
" Sheila,kamu kenapa? "panggil Fajar.
Fajar segera membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar tamu di lantai satu.Ia bergegas membuka sepatu Sheila dan juga melonggarkan celana yang Sheila kenakan.
" Bik,Bik.....,Bik Tarnik,cepat bawakan segelas air! "teriak Fajar, ia sangat panik mendapati Sheila mendadak pingsan dan masih tidak sadarkan diri.
Fajar menggosok-gosok telapak kaki istrinya itu,sejenak ia teringat saat ia harus kehilangan Jihan untuk selamanya.Fajar menggelengkan kepalanya, air matanya mulai menetes,ia sangat khawatir sekali kalau hal itu akan terjadi lagi pada dirinya.
" Sheila,sadarlah Sheila,"ujarnya sambil menepuk-nepuk pipi Sheila agar segera sadar.
Bik Tarnik datang dengan cepat,ia membawa air putih di atas nampan,"ini Tuan,Nyonya kenapa Tuan ? " Bik Tarnik kaget melihat keadaan Sheila yang pingsan.
"Cepat ambilkan minyak angin atau minyak kayu putih di kotak obat ,Bik! " Titah Fajar lagi.
Bik Tarnik langsung pontang-panting berlari tunggang-langgang mencari keberadaan minyak kayu putih yang diminta oleh majikannya.
Fajar tak habis akal,ia segera menuangkan air di tangannya dan memercikkan sedikit air ke wajah Sheila,dan berhasil.
Akhirnya Sheila sadar juga,ia mulai membuka matanya.Kepalanya masih terasa pusing,ia terus memegangi kepalanya.
"Bagaimana?apa yang kamu rasakan? " tanya Fajar khawatir.
"A-ku,baik-baik saja, " jawab Sheila dengan suara lesu.
"Bagaimana mungkin baik-baik saja, kamu pingsan, dan itu lama sekali. " Fajar nampak gusar,ia masih cemas.Rasa takutnya kehilangan untuk yang ke-dua kalinya tadi datang menyergap dadanya.
"Aku baik kok,cuma pusing aja,"ujar Sheila,ia masih mencoba untuk terlihat kuat.
"Kamu yakin?"tanya Fajar.
"Iya,aku sangat yakin.Mungkin ini karena aku belum sempat makan siang tadi,jadi badanku lemas,"ujar Sheila.
Bik Tarnik datang dengan membawa minyak kayu putih yang Fajar minta,"Ini minyaknya Tuan,"ujar Bik Tarnik.
"Berikan padaku,biar aku yang akan menggosokannya ke tubuh istriku, " Ujar Fajar.
Sheila mendongak,matanya membulat menatap Fajar tanpa berkedip saat Fajar menyebutnya sebagai 'istriku'.
"Baik Tuan,kalau begitu,,, Bibik siapkan makan malam dulu untuk Tuan dan Nyonya,"ujar Bik Tarnik.
"Jangan lupa,buatkan sup buat Nyonya ya,agar tubuhnya lebih hangat."Fajar sangatlah perhatian.
***
Setelah kepergian Bik Tarnik,Fajar duduk lebih mendekat kepada Sheila.Tangannya sudah mulai membuka tutup botol minyak kayu putih itu.
"Berbalik lah! " ujarnya.
"Ha?? " Sheila malah bengong.
"Balikan badanmu,biar aku gosokkan minyak kayu putih ini, " titah Fajar.
"Tidak usah,aku bisa melakukannya sendiri,"tolak Sheila.
Walaupun mereka sudah sering berhubungan,tapi untuk hal seperti ini rasanya masih canggung.Anneh.... 😅
Fajar menarik nafas dalam,ia sama sekali tidak memiliki niat lain, " Aku hanya ingin membantu mu, "ujarnya lagi.
" Iya,aku tau.Tapi sungguh,aku bisa menggosokkan nya sendiri,Mas Fajar keluarlah!"tolak Sheila lagi.
Namun bukannya keluar, Fajar malah menutup pintu kamar rapat-rapat dan kemudian menguncinya dari dalam.
"Sekarang sudah tidak akan ada yang akan datang dan melihat tubuh mu itu selain aku, suamimu.Jadi, cepat berbalik! " Fajar yang sudah kadung kesal, kini membalik tubuh Sheila secara paksa,lalu ia menyingkap baju yang Sheila kenakan dan mulai menggosokkan minyak kayu putih itu di punggung istrinya.
"Selesai, sekarang bagian perut." Fajar kembali meminta Sheila untuk berbalik dan rebahan.
"Biar aku saja, " tolak Sheila lagi,ia hendak merebut botol minyak kayu putih itu dari tangan Fajar.
"Sudah, menurut saja.Kalau kamu sakit,kamu juga akan menyusahkan aku.Jadi aku gak mau kalau kamu sakit,kamu harus tetap sehat,"ujar Fajar lagi.
Sheila sudah tidak bisa lagi menolak,ia hanya bisa menikmati setiap gosokan tangan Fajar yang menyentuh bagian perutnya dengan lembut.
Rasanya menenangkan,Fajar ternyata adalah sosok pria yang perhatian dan juga lembut. Hanya saja,selama ini sikapnya itu tertutupi oleh sikap kasar yang sengaja ia tunjukkan untuk balas dendamnya kepada istri ke-duanya itu.