
Seperti yang Fajar katakan, supir yang bernama Mang Mardin itu sudah datang. Bik Oni memberitahu nonanya kalau supirnya sedang menunggu di bawah.
Sheila segera turun ke bawah untuk berpamitan dengan sang mama, entah mengapa suasana hatinya hari ini mendadak jadi happy dan berbunga-bunga.
Rasanya sangat bahagia, ketika dia membayangkan akan segera bertemu dengan suaminya, Fajar. Setelah berpamitan, Sheila segera pergi dengan menggunakan mobilnya tapi di supirin sama Pak Mardin.
Tak ada obrolan di antara supir dan nyonya bos itu saat di dalam mobil. Sheila hanya menyerahkan kunci mobilnya saja tadi, karena dia melihat suaminya benar-benar hanya mengirim supir tanpa kendaraan. Mungkin, biar lebih efisien.
Sheila makin penasaran dengan tempat yang akan ditujunya ini. Apakah benar, suaminya itu punya sebuah Villa? Ah, dia jadi membayangkan akan melihat sebuah bangunan yang unik dan megah, dihiasi banyak tanaman bunga dan juga pemandangan yang menyejukkan mata.
Beberapa jam di perjalanan, tempat yang dituju akhirnya terlihat juga. Ternyata letaknya tak begitu jauh dari kota, villa ini memang berbentuk unik, tetapi tidak terlalu besar seperti apa yang ada di dalam bayangannya. Hanya ada sebuah kolam renang di bagian belakangnya.
Mang Mardin menyerahkan kembali kunci mobil Sheila, setelah mereka turun dari mobil.
"Ini kuncinya, Nyonya, " ujar Mang Mardin.
"Kamu bawa kembali saja mobil itu ke rumah. Ingat! Ke rumah saya! Jangan ke tempat lain! Bilang sama Bik Tarnik untuk menyimpan kuncinya dengan benar. " Tiba-tiba Fajar keluar dari Villa miliknya.
Sheila fikir, mungkin Fajar ingin mereka kembali ke rumah dengan satu mobil yang sama. Akhirnya Sheila menyerahkan kembali kunci mobilnya ke tangan Mang Mardin untuk dibawa.
****
Setelah supir itu pergi, Fajar menatap istrinya yang sudah menghilang sejak kemaren dengan tatapan elang yang dia miliki. Sheila sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, wanita itu malah berlari kepelukan Fajar, sehingga membuat Fajar menjadi tertegun dengan perlakuan Sheila padanya.
Pria itu hanya berdiri kaku dan bingung harus membalas pelukan istrinya atau malah mengacuhkannya begitu saja. Fajar memang terlalu angkuh untuk mengakui kalau dia juga merindukan istrinya itu.
Merasa pelukannya tak mendapatkan balasan, Sheila melerai tangannya dan mundur beberapa langkah.
"Maaf, tadi aku kira Mas Fajar merindukan aku, sampai memintaku untuk datang kemari." Sheila tertunduk sedih, matanya terasa panas dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan lokal.
Melihat itu, Fajar malah menarik tangan Sheila untuk masuk ke dalam villa. Sheila terkejut saat tangannya berada dalam genggaman suaminya itu. Bibirnya pun tersenyum.
Fajar membawa Sheila ke bagian belakang villa.
"Duduklah! " ucap Fajar, saat mereka berada di Gazebo dekat kolam renang.
Tanpa berfikir panjang, Sheila pun duduk di Gazebo itu. Tiba-tiba Fajar membuka kaos yang di pakainya, begitu juga dengan celana panjang yang dia pakai, hingga hanya menyisakan celana pendek saja.
Sheila menutup matanya dengan kedua telapak tangan karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh fajar. Entah apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, wajahnya Fajar hari ini terlihat lebih segar dengan rambutnya yang sudah di potong lebih pendek, entah kapan pria itu ke Barbershop?
BYURRRR....
Terdengar suara orang terjun ke kolam renang. Sheila segera membuka matanya, rupanya suaminya itu yang sedang berenang di kolam.
Fajar berenang dengan gaya kupu-kupu, sehingga menampakkan otot punggung dan juga lengannya yang begitu tercetak sempurna.
Mata Sheila seakan dimanjakan dengan melihat otot-otot indah itu. Apalagi setelah suaminya itu muncul di pinggiran kolam renang dengan rambut basahnya yang masih meneteskan air di sekujur wajahnya.
Pemandangan itu sungguh sangat seksi di mata Sheila, matanya tak berhenti mengagumi ciptaan Tuhan yang satu itu. Menurutnya, hari ini Fajar terlihat seratus kali lipat lebih tampan dari biasanya.
Suaminya itu menaiki tangga dan keluar dari kolam renang. Mata Sheila semakin melotot, bahkan dia sampai menelan salivanya.
Fajar membilas tubuhnya di shower yang terdapat di sisi kolam renang, sembari melirik ke arah istrinya.
Sheila segera mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda, karena takut ketahuan kalau dirinya sedang terpesona dengan suaminya sendiri. Bisa tengsin dia, hehehehe.
Fajar sudah sukses membuat hatinya berdegup kencang, Sheila sampai harus memegangi dadanya, takut kalau jantungnya itu akan melompat keluar.
Sheila tertunduk malu, dia tidak sanggup menatap mata suaminya itu. Sheila hanya tersenyum kecil, dan kembali menundukkan kepalanya.
Tanpa Sheila sadari, kini Fajar malah berbaring di pangkuannya, tangan kanannya terus mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
Sheila sangat terkejut, dia bahkan menahan nafasnya untuk sesaat karena oksigen di sekitarnya tiba-tiba terasa menipis.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Sheila, takut.
"Tolong keringkan rambutku, setelah itu pijatkan sedikit, kepalaku rasanya berat sekali, pusing," jawab Fajar sambil memejamkan matanya.
Walaupun tampak ragu-ragu, Sheila menuruti semua yang Fajar katakan. Dengan lembut, dia mengeringkan rambut suaminya itu memakai handuk kecil yang tadi Fajar pegang. Lalu setelahnya, dipijat nya pelan-pelan kepala suaminya itu.
Fajar juga sangat menikmati setiap sentuhan dari tangan Sheila. Matanya memang terpejam, tapi semua itu karena Fajar terlalu menikmati sentuhan itu.
Lama Fajar terpejam di pangkuannya, sehingga Sheila mengira kalau suaminya itu sudah tertidur. Perlahan, Sheila mendekatkan bibirnya ke kening Fajar.
CUP !
Sebuah kecupan mesra mendarat di keningnya Fajar. Seketika mata Fajar terbuka, ditatapnya mata sang pencuri ciuman.
Sheila gelagapan, karena dia baru saja ketahuan. " Ups! " Sheila pun hanya bisa diam mematung.
"Apa kamu sangat merindukanku? " tanya Fajar. Tak sedetikpun matanya berkedip sambil menatap Sheila.
Sheila makin gelagapan, dia bingung harus menjawab apa. Melihat hal itu, Fajar segera menarik tengkuk istrinya itu, dan membuat bibir mereka berdua menyatu.
Terjadilah saling bertukar saliva di antara keduanya.Ciu*an itu semakin dalam, sehingga Fajar pun bangkit dan langsung mengangkat tubuh istrinya itu memasuki kamarnya di lantai dua Villa dengan gaya bridal style.
Saat keduanya sudah tiba di kamar itu, Fajar segera menaruh Sheila di atas tempat tidur dan mulai menindih nya.
"Mas," cegah Sheila.
"Ada apa? " Fajar tak berhenti untuk men*iumi istrinya itu.
"Aku mau bicara dulu, " ujar Sheila.
"Nanti saja, aku tak bisa menundanya lagi," jawab Fajar.
Dan terjadilah apa yang mereka inginkan.
"Hati-hati, Mas. Ada dia di sana. "
Sejenak Fajar berhenti, dia tahu apa yang di maksud oleh Sheila. Itu pasti mengenai calon anak mereka.
Fajar mengecup lama perut istrinya itu. Membuat Sheila jadi bertanya-tanya, apakah suaminya itu sebenarnya sudah tahu tentang kehamilannya? Apa mamanya yang memberi tahu Fajar soal ini?
"Sehat-sehat ya, kamu di sana.Daddy akan pelan-pelan, " bisik Fajar di perut Sheila.
Sontak saja Sheila kaget bukan kepalang. Dia pun langsung duduk dan membenarkan selimut untuk menutupi dirinya.
"Jadi kamu sudah tahu, Mas? "
"Sudah, tapi sayangnya ada orang yang ingin merahasiakannya dari Ayahnya sendiri, " sindir Fajar.
Mata Sheila membelalak mendengar itu.