
Maggie yang sudah kekenyangan tertidur di sofa, dia tidur dengan nyenyak setelah menghabiskan 3 bungkus Snack.
Maxim yang telah menyelesaikan ritual mandinya,mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.Maxim tidak melihat Maggie di dalam kamar,Maxim begitu penasaran dengan isi kertas pemberian Maggie.
Maxim lalu membuka isi kertas yang sempat tertunda karena Mr.Victor juga Tiffany. Maxim perlahan membaca kata demi kata yang tersemat di kertas putih itu.
Perlahan tapi pasti sudut bibir Maxim melengkung sempurna, Maxim kembali membaca ulang kertas itu.
Astaga,Aku akan kembali menjadi Ayah! " Maxim mengusap wajahnya, dia begitu bersuka cita melihat isi kertas ini. Maxim segera mencari keberadaan Maggie, dia begitu bahagia dengan hadiah Maggie ini.
Maggie!
Maggie,Kau-
"Ya Tuhan, Bisa bisanya dia tertidur pulas setelah menyimpan kabar bahagia ini dariku?" Maxim dibuat terkejut dengan Posisi Maggie yang tertidur dengan pulas nya, sedangkan Maxim dilanda rasa bahagia yang tengah membuncah di hatinya.
Maxim memindahkan Maggie dengan hati hati ke kamar, dia tidak ingin mengusik tidur Maggie. Maxim tak henti tersenyum sedari tadi dia mengetahui kehamilan Maggie, Maxim bahkan masih berdiam diri menunggu Maggie terbangun.
Maxim mengelus pelan pipi mulus Maggie, sesekali Maxim menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah ayu Maggie.
Maxim mencium kening istrinya itu dengan cukup lama, tanpa terasa Maxim meneteskan air matanya.
Maxim sungguh sungguh terharu dengan kabar bahagia ini, pantas saja Maggie terlihat berbeda dari biasanya. Maxim kini tahu mengapa Istrinya itu, terkadang terlihat aneh akhir akhir ini.
Maggie mengernyit, dia merasa terganggu sesuatu.Maggie perlahan membuka matanya, Maggie mendapati Maxim tengah mengecup keningnya dengan mata terpejam dan pipi yang sudah basah dengan air mata.
"Kak Maxim, Apa yang Kau lakukan?"tanya Maggie dengan wajah bingungnya.
Maxim menjauhkan wajahnya dari Maggie, Maxim segera menghapus air matanya.
"Kau menangis?" kembali Maggie bertanya.
Maggie bangkit dari tidurnya, dia mengubah posisinya setengah duduk.Maggie dibuat bingung saat Maxim tiba tiba memeluk dirinya.
Maxim mendekap Maggie dengan begitu erat, Maggie semakin bingung karena Maxim hanya diam saja tak mengatakan apapun.
"Ada Apa dengan Kak Maxim?" batin Maggie.
"Kak Maxim Apa semuanya baik baik saja? " tanya Maggie.
"Diam lah, biarkan seperti ini untuk beberapa saat! " Saut Maxim.
"Mengapa tidak Kau Katakan padaku tentang kehamilan mu secara langsung Maggie?"gumam Maxim.
"Apa, Jadi Kau sudah membaca hasil pemeriksaan ku? " Maggie melepas pelukan Maxim.
"Mengapa Kau harus berteka teki dengan kabar bahagia seperti ini? "gerutu Maxim.
"Aku tidak menyembunyikannya, aku hanya ingin menjadikan kabar ini kado spesial untukmu.namun, Kau malah merusak semuanya! " Celoteh Maggie.
"Merusak bagaimana ?"tanya Maxim.
"Kau menghabiskan begitu banyak waktu untuk membuka hadiahku! " gerutu Maggie.
"Kau tahu sendiri jika Tuan Victor mengajakku berbincang, dan yah Kau benar. aku memang sempat melupakan hadiah itu, tapi ini semua karena salahmu juga. Kau sendiri yang tidak mengatakannya secara langsung! " Tegas Maxim.
"Jadi semua ini salahku? " tanya Maggie.
"Kau lihat itu nak,Papah mu yang salah. dia yang lelet,tapi terus saja menyalahkan Mamah mu yang cantik ini! " Ucap Maggie sembari mengelus perutnya yang masih datar.
"Astaga, para wanita ini selalu merasa benar sendiri.Maggie bahkan tidak ada bedanya dengan Clara dan Mommy." batin Maxim.
Maggie terisak dia menangis karena Maxim menyalahkannya, Maxim mengusap wajahnya.Maxim tidak mengerti jika Maggie akan menjadi sensitive seperti ini.Maggie yang notabene sudah cengeng menjadi semakin mudah menangis karena hal hal kecil.
Maxim lalu mencoba membujuk Maggie, dia tidak ingin Maggie menangis seperti anak kecil.
"Maggie, tolong dengarkan aku. aku tidak bermaksud menyalahkan mu, iya semua memang salahku yang lelet! " Rayu Maxim.
"Jangan menangis lagi yah, semua memang salahku! " Maxim memeluk Maggie, tangis Maggie pun mereda.
Maxim menghembuskan napasnya, saat Maggie berhasil kembali tenang dan tangisan manjanya terhenti.Lain Kali Maxim akan berhati hati,dia tidak ingin hal kecil seperti ini membuat Maggie menangis lagi.
**
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya ! " Maggie dan Maxim tersenyum mengiyakan sapaan para karyawannya.
Maxim dan Maggie akan memasuki ruang kerja Maxim,Lalu langkah keduanya terhenti saat terdengar suara seseorang memanggil nama Maggie.
Maggie !
Maggie menoleh, Maxim yang mendengar nama istrinya di panggil ikut menoleh ke arah sumber suara.raut wajah Maxim berubah saat melihat Daniel berdiri di ambang pintu kantornya.
"Untuk apa lagi Pria brengsek itu kembali kemari?"batin Maxim.
"Daniel, Kemari lah! " ucap Maggie dengan tersenyum.
"Maggie, Apa yang kau lakukan? " tanya Maxim.
"Kau tahu kan siapa dia,Apa kau sudah lupa? " timpalnya lagi.
Kali ini aku minta, Diam dan dengarlah dulu penjelasannya Kak Maxim! " Ucap Maggie menenangkan.
Hai Maxim, Maggie! " sapa Daniel.
Maxim mengalihkan wajahnya ke arah lain, Maggie tersenyum pada Daniel lalu dia melihat ke arah Maxim yang membuang pandangan ke arah lain.
"Maggie,Sebenarnya aku kemari hanya untuk berpamitan padamu! "ucap Daniel dengan mata yang mencari cari sesuatu.
"berpamitan! " Maggie membeo.
Daniel menganggukkan kepalanya.
"Maxim,Aku sungguh menyesal atas kesalahanku di masa lalu.Kuharap suatu hari nanti, Kau akan memaafkan ku! " Ucap Daniel.
"Kak Maxim pasti akan memaafkan mu! "Ucap Maggie dengan menarik wajah Maxim agar menghadap Daniel.
Maxim mengacuhkan ucapan Maggie.Daniel hanya diam mendengarkan.
"Kak Maxim Apa Kau ingat hari dimana aku pingsan di jalan tempo lalu,pria yang menolongku itu Daniel!" . Ucap Maggie.
"Iya, aku tahu.Dia juga yang mengantarmu hingga pulang ke rumah. Aku mengingatnya Maggie,sangat mengingatnya !" Maxim dan raut wajah yang masih kesal.
"Apa Kau tahu Kak?Saat Daniel menolongku waktu itu,Aku sudah mengandung calon anak kita.Karena itu aku memaafkan Daniel,Daniel menyelamatkan Calon bayi kita.Aku juga yang meminta Daniel membantu Tiffany menyiapkan pesta ,jadi jangan pecat Tiffany untuk hal ini!".Ucap Maggie.
Jadi,Daniel yang,-
Maggie mengangguk membenarkan,Maggie senang melihat Maxim mengulurkan tangannya pada Daniel.Daniel tersenyum dia menerima uluran tangan Maxim.Keduanya berjabat tangan dengan saling bertukar senyum.
Terima Kasih banyak Daniel telah menyelamatkan calon bayiku!" ucap Maxim .
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu,Karena Kebaikan hati istrimu.dia memaafkan kesalahanku !" ucap Daniel .
"Kalau begitu aku harus segera kembali ke Jepang, Sekali lagi Terima Kasih Maggie .Maaf darimu yang aku cari telah aku dapatkan !" Ucap Daniel.
Maggie tersenyum, sedikit kerutan nampak di dahi Maggie.Maggie begitu heran melihat Daniel yang seolah mencari sesuatu.Maggie mengikuti gerakan mata Daniel,namun tak menemukan apapun sebagai jawaban kebingungannya.
"Daniel! " Seseorang meneriaki nama Daniel.
Ketiganya menoleh bersamaan. Maxim nampak bingung dengan kehadiran wanita yang entah siapa, sedangkan Maggie ini kali kedua dirinya bertemu dengan wanita ini.
"Kenapa berpamitan saja lama sekali, waktu kita tidak banyak, bisa bisa kita akan tertinggal pesawat !" keluh Renata.
"Uhm, iya iya aku tahu!
Renata sebaiknya kau tunggu di mobil, sebentar lagi aku akan menyusul mu! " Daniel mendorong Renata keluar terlebih dulu.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin Kau bicarakan lagi, Aku pamit pergi.Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan! " Ucap Maxim.
"Uhm, Maggie.Tolong katakan pada Maxim untuk tidak memecat Tiffany" Pinta Daniel.
Maxim yang akan melangkah ke ruangan, menyahuti perkataan Daniel yang masih bisa dia dengar.
"Kau tenang saja Daniel, Tiffany tidak akan Ku pecat.hari ini dia meminta izin cuti untuk merawat bibinya yang sedang sakit! " Maxim menghilang di balik pintu.
"Pantas saja, Tiffany tidak ada di meja kerjanya" batin Daniel.
"Sepertinya,sedari tadi Daniel mencari Tiffany !" batin Maggie.
"Tapi ada hubungan apa diantara mereka berdua? "Timpalnya lagi dalam hati.
"Maggie, Aku permisi.Sekali lagi Terima Kasih karena sudah memaafkan kesalahan ku! "Ucap Daniel.
"Semua orang berhak menerima kesempatan kedua,Kau juga sudah memperbaiki kesalahanmu dengan menyadari kesalahanmu!
Terima Kasih juga karena telah membantuku!" Maggie dan Daniel lalu saling mengakhiri pertemuan terakhir itu.
Pada hari itu Daniel meninggalkan Singapore beserta kenangan yang tertinggal di kota itu. Kota yang menjadi saksi penolakan cinta Daniel seumur hidupnya, Kota yang berisi tentang gadis bernama Tiffany.Sekertaris Maxim yang terlihat kalem tapi kenyataannya susah diam jika sudah berbicara.
Daniel dan Renata duduk bersebelahan dengan Daniel yang terus melamun. Renata yang memperhatikan Daniel merasa heran melihat tingkah sahabatnya ini.
"Mengapa aku merasa Sikap Daniel berubah semenjak ada di kota ini? "gumam Renata dalam hati.
**
Tiffany menuntun Emma untuk berbaring di ranjang, Tiffany baru saja memeriksakan keadaan Emma bibinya.
"Bibi, Kau harus banyak beristirahat.Aku akan memasak bubur untukmu! " Tiffany akan beranjak pergi tapi Emma menahan pergelangan tangannya.
"Maaf Sudah merepotkan mu Tiffany! " Ucap Emma dengan suara lirih.
"Bibi Kau ini bicara apa ?Kau sama sekali tidak merepotkan ku! " Tiffany mengusap air mata Emma.
"Bibi,sejak kecil Kau yang merawat ku. jadi, kali ini izinkan aku untuk merawat mu! " Tiffany tersenyum dan kembali meneruskan niatnya.
...