You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me ~Part 65



"Kenapa aku memikirkan Daniel?"Tiffany duduk kembali ke meja kerjanya.


Matanya sesekali melihat ke arah lobi, dia tidak menemukan Daniel duduk di sana seperti sebelum sebelumnya.


Sudah sejak tiga hari ini,Tiffany tidak melihat Daniel mengunjungi Kantor Maxim seperti sebelumnya.


Daniel duduk berdiam diri di dalam mobil, dia memilih tidak masuk ke dalam Kantor Maxim dan menunggu di lobi seperti biasanya.Daniel tidak ingin Tiffany merasa terganggu akan kehadirannya.Daniel tidak ingin membebani Tiffany dengan kehadiran dirinya, Daniel tidak ingin Tiffany mengira dirinya memaksa Tiffany untuk menerima cintanya.


"Akan lebih baik jika seperti ini saja! " batin Daniel .


Daniel mengotak atik ponselnya, Daniel memandangi chat terakhir antara dirinya dan Tiffany.Daniel tersenyum getir, semua ini hanya sesaat dan Tiffany akan Daniel jadikan sebagai bentuk kenangan terindah untuknya.


Daniel seharian duduk menunggu di dalam mobil, setelah melihat Tiffany keluar dari kantor Maxim menjelang malam. barulah dirinya akan ikut pulang, Daniel hanya ingin memastikan keselamatan Tiffany Wanita yang tengah mencuri hatinya.


**


"Maggie kenapa kau diam saja? " Jawab aku Maggie.


Maxim mengernyit heran melihat Maggie diam dan hanya memandangi ke wajahnya.


"Aku sangat bahagia Kak Maxim. " Maggie tersenyum dengan tetap menatap Maxim..


"Lalu, Mengapa tadi Kau menangis? " tanya Maxim dengan dahi yang mengerut.


"Aku menangis karena bahagia, semua ini pernah hanya menjadi khayalan untukku Kak Maxim. Aku pernah mengira jika Kau hanya mencintai Anna dan tidak mencintaiku".


Maaf karena sikapku membuatmu berpikir seperti itu, tapi percayalah aku sungguh menyesali semuanya!


"Maggie, Apa Kau mau memaafkan aku? " Maxim merasa cemas menunggu jawaban Maggie.


Maggie mengangguk, dia kembali memeluk Maxim.


"Aku merasakan hal yang sama denganmu Kak,Aku bahkan kehilangan kedamaian saat menjauh darimu.


Maafkan kecerobohan ku yang menyebabkan kita kehilangan calon bayi kita." Maggie mengeratkan pelukannya.


"Tidak, jangan menyalahkan dirimu sendiri untuk hal itu.kejadian itu sudah menjadi ketentuan tuhan Maggie,Seharusnya aku tidak menyalahkan mu waktu itu dan membuat keretakan dalam hubungan kita!"


Maxim melepaskan pelukannya, lalu meminta Maggie menatapnya.


"Tatap aku Maggie!." pinta Maxim.


"Maukah Kau kembali ke Mansion bersama denganku ,dan membangun kembali Rumah tangga kita seperti sebelumnya?."Jemari Maggie berada dalam genggaman Maxim.


Maggie tersenyum dan perlahan mengangguk dengan pasti.


Maxim bernapas lega, dirinya sempat mengira jika Maggie akan menolak untuk kembali bersama dengannya. namun, kini Maxim begitu lega mendengar Maggie memaafkan dan mau kembali padanya tanpa syarat apapun.


"Maggie!."


"Hm, iya. Ada apa Kak?"


"Aku,"


Tatapan Maxim dan Maggie terkunci satu sama lain, ada sinar kerinduan yang begitu mendalam dalam diri Maxim dan Maggie.bau harum dari lilin aromaterapi menambah kesan romantis malam itu. Maxim dan Maggie terhanyut dalam kerinduan, keduanya sama sama menunjukkan bentuk rindu lewat pelukan hangat yang membawa mereka melewati malam yang begitu indah.


Malam yang berbeda dan lebih terasa indah dari malam sebelumnya,dimana Maxim belum mengungkapkan perasaan cintanya.


**


"Selamat pagi Crystal!".


"Selamat pagi Kakek, Nenek ".


"Crystal, Kau ingin makan apa sayang? " Jasmine menatap wajah imut Crystal dengan gemas.


"Aku ingin makan panekuk saja Nek".Crystal memainkan mobil mobilan di tangannya.


Aldrich menggelengkan kepalanya melihat tingkah Crystal yang lebih menyukai mainan mobil ketimbang boneka.


"Kau lihat itu sayang! Crystal kita benar benar terlihat seperti Clara kecil. " Aldrich tersenyum melihat ke arah Crystal.


Jasmine meletakan panekuk di piring Crystal dan Aldrich.Jasmine duduk dan mulai bergabung dengan Aldrich dan Crystal menikmati sarapan mereka bersama.


**


Maggie menggeliat, dia mengernyit saat merasakan perutnya tertindih sesuatu.Tangan kokoh Maxim melingkari perutnya, Maxim mengernyit saat merasakan pergerakan Maggie yang menyingkirkan tangannya.


Maggie bergegas membersihkan dirinya, dia merasa begitu lapar hingga terbangun dan ingin segera mengisi perut kosongnya.


Maxim membuka malas kedua netra hitamnya, dia menatap sisi kosong yang telah di tinggalkan Maggie.Maxim membalikkan tubuhnya,lalu senyuman terbit di wajahnya. Maxim mencium aroma roti panggang yang menggoda indera penciumannya, dia menghirup aroma itu seketika rasa lapar hinggap di dalam diri Maxim.


Maxim bangkit dia duduk dan bersandar pada kepala ranjang, Maggie datang dan membawa satu nampan penuh makanan. Maggie tersenyum manis pada Maxim,Maggie menghampiri suaminya dengan wajah merona.


"Hm, Apa ini Maggie,Kau membawakan makanan sebanyak ini? " Maxim menatap makanan di hadapannya.


"Aku sangat lapar Kak,Ayo.Makanlah bersamaku!" Maggie memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Apa Kau tidak ingin menyuapiku? ".Maxim menatap Maggie dengan menaikturunkan alisnya.


"Makan saja sendiri,Kau tidak ingat.sejak Kau datang kemari,aku bahkan tidak mengurusi perutku ! ". Maggie mengerucutkan bibirnya.


Maxim terkekeh, dia membenarkan ucapan Maggie.


Maxim ikut menyantap sarapan paginya.dia makan dengan tangannya sendiri.Maggie begitu lahap menyantap sarapannya, Maxim tidak tega mengganggu Maggie yang tengah menikmati sarapannya.


Beberapa menit kemudian, terdengar dering ponsel milik Maxim yang memecah keheningan pagi.


Drrt. .drt. drr...


Maxim meraih ponselnya, dia melihat pakaian berserakan. Maxim meraih celana pendek yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya. Maxim mengangkat panggilan Video Call yang ternyata dari Jasmine.


"Siapa? "Ucap Maggie di sela sela makan.


"Mommy" Saut Maxim.


"Paman,Kapan Kau akan kembali? "Suara Cryatal terdengar pertama kali saat panggilan itu terhubung.


"Hai, Little girls! " Maxim menunjukkan ponselnya pada Maggie.


"Maggie, lihatlah siapa yang menelpon kita! ".


"Astaga, Crystal! " Maggie menyimpan makanan dan menyingkirkan nampannya. dia bergegas mendekat pada Maxim.


"Crystal,Kau cantik sekali sayang! " Puji Maxim dengan menatap Maggie.


Maggie mengangguk menyetujui pujian Maxim.


"Paman, Kenapa Kau tidak memakai baju?." Suara Khas milik Crystal membuat Maggie dan Maxim saling memperhatikan diri mereka sendiri.


"Bibi,Mengapa lehermu merah merah seperti itu?. " Kalimat Crystal itu membuat rona merah menyembul di kedua pipi Maggie.


"Hm, bibi hanya. ini karena, " Maggie kehilangan kata katanya dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Crystal Sayang, Kau tahu tidak? Semalam bibi Maggie di gigit serangga. Jadi, semua lehernya merah terkena gigitan serangga itu!." timpal Maxim.


Maxim menahan tawanya, mendapati raut wajah Maggie menjadi masam dan menahan kesal.


"Paman, Kenapa tidak Kau pukul saja serangga nya?."Celoteh Crystal dengan wajah polosnya.


"Bagaimana mungkin paman memukulnya?bibi Maggie malah sangat menyukai serangga yang menggigitnya itu".Maxim memasang wajah kesal yang dibuat buat.


"Benarkah? Bibi Maggie Jangan menyukai hewan yang melukai mu " Keluh Crystal dengan wajah menggemaskan.


"Crystal Sungguh sangat menggemaskan, rasanya aku ingin cepat memiliki buah hati ." Maggie membatin.


Maggie tengah sibuk melamun kan hal yang paling dia nantikan,Maxim mencuri pandang pada Maggie sebentar.


"Crystal, berikan ponselnya pada Nenek Sayang!." Suara Jasmine terdengar di seberang sana.


Maxim dan Maggie menyadari jika ponsel Yang di pegang Crystal bergerak gerak dengan gambar lantai dan seisi Mansion dengan tidak jelas.


"Nenek ini, pegang lah !." Crystal memberikan ponselnya pada Jasmine.


"Terima Kasih Sayang, bermainlah dengan Kakek mu di taman belakang! ". Jasmine membenarkan ponselnya, dia menatap wajah Maxim dari balik ponsel.


"Maxim bagaimana kabarmu, Apa Maggie bersamamu? ".Jasmine merasa cemas, karena Maxim belum memberinya kabar apapun.


Maxim tersenyum, dia mengarahkan ponselnya pada Maggie. Maggie tersadar dari lamunannya, dia menatap ponsel dan menyapa Jasmine.


"Maggie, Apa Semuanya baik baik saja? " Jasmine menahan senyumnya, dia tidak melanjutkan niatnya untuk menanyakan hubungan Maxim dan Maggie.


"Maggie, bisakah Kau membawakan oleh oleh untuk Mommy saat Kau pulang nanti".Seru Jasmine.


Maggie tersenyum, dia mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu berikan Mommy cucu! " Saut Jasmine dengan terkekeh.


Maggie dan Maxim saling memandang, lalu Maxim menyahuti lebih dulu ucapan Jasmine.


"Mommy tenanglah, Kau akan memiliki banyak cucu dari kami !"


Bukankah begitu Maggie?. " Maxim menahan tawanya.


Maggie tersenyum dengan kaku di hadapan Jasmine.