You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 63



"Aldrich, aku tidak menyangka jika kejutannya adalah kedatangan mereka" Jasmine memeluk lengan suaminya dengan senyum sumringah.


Aldrich ikut tersenyum lega, tidak sia sia dia meminta Crystal datang kemari bersama kedua orang tuanya. Devan dan Clara tengah menikmati bulan madu keduanya, mereka menitipkan Crystal kepada Aldrich dan Jasmine.


Crystal bermain ayunan di halaman depan Mansion, Jasmine terlihat begitu bahagia karena bisa bermain bersama cucu pertamanya.


Jasmine sangat menantikan hari ini, hari dimana dia bisa menemani cucunya bermain seperti ini.melihat tawa ceria Crystal membuat Jasmine sedikit melupakan Maxim dan Maggie.Aldrich bahagia karena usahanya tidak sia sia dengan meminta Devan dan Clara menitipkan Crystal di sini beberapa hari.


Nenek , lihatlah !


"Aku ingin bermain layang layang" Crystal menunjuk ke atas langit dimana dia melihat layang layang terbang .


Jasmine terkekeh mendengar permintaan Crystal, Crystal seolah mengingatkan dirinya pada sosok Clara sewaktu masih kecil.


Aldrich menggelengkan kepalanya, dia berpikiran sama seperti Jasmine.Aldrich ingat saat dulu Clara kecil meminta dirinya menerbangkan layang layang,dan kini Aldrich melakukan hal yang sama untuk Crystal cucunya.


Dia benar benar mirip sekali dengan Clara!


Jasmine menoleh menatap Aldrich .


"Aku sependapat denganmu Jasmine" Aldrich ikut tersenyum.


Aldrich dan Jasmine menemani Crystal bermain di halaman Mansion.


**


Maggie tidak tega membangunkan Maxim yang masih tertidur pulas, hingga dirinya meminta izin cuti pada Nyonya Sarah.Maggie tidak tega meninggalkan Maxim sendirian,selain itu Maggie sendiri merasa lelah.namun, semalaman dia ingin menjaga Maxim. Maggie membiarkan Maxim beristirahat dan dirinya berada di sofa untuk menghindari agar tak mengenai luka Maxim.


Maggie menggigit jarinya sendiri, dia melihat wajah Maxim dengan seksama. dahinya mengerut semakin dalam, Maggie memicingkan matanya.terdapat Lingkaran hitam dibawah kantung mata Maxim.


Maggie bergelut dengan isi kepalanya yang mulai ramai, Maggie memikirkan semuanya hingga membuatnya tak menyadari dirinya begitu lama memandangi wajah Maxim.


Mengapa wajah Kak Maxim terlihat begitu lelah?


Sejak kapan Kak Maxim memiliki mata panda?


Astaga, apa mungkin Kak Maxim juga tidak tidur dengan nyenyak sama sepertiku?


Begitu banyak hal yang kini berputar di kepala Maggie, dia tidak menyadari jika Maxim telah terbangun dan kini sedang mengamati wajahnya dari tempat dia berbaring.


Maxim mengingat jika semalam Maggie begitu telaten merawat lukanya, Maxim tahu jika Maggie terjaga sepanjang malam untuknya.Wajah Maggie terlihat begitu kusam, bahkan Maxim melihat Maggie menguap hingga berkali kali. Maggie juga rela tidur di sofa sedangkan Maxim tidur dengan nyenyak di ranjang yang seharusnya di tempati.


Maggie tidak lagi sanggup menahan rasa kantuknya,mata sewarna madu yang tadi tengah sibuk melamun kan Maxim,perlahan terpejam perlahan dengan sendirinya.


Maxim bergegas menyingkap selimut yang menutupi separuh tubuhnya, dia sedikit berlari agar bisa menahan kepala Maggie yang hampir terantuk kaca jendela.


Maxim segera meraih kepala Maggie agar tidak terantuk kaca jendela,Maxim mengangkat tubuh Maggie lalu memindahkannya ke ranjang.


Kau pasti menikmati Sunrise sendirian, Kau begitu menyebalkan Maggie? Kau menikmati Sunrise tanpa mengajakku!


Maxim mengecup kedua kelopak mata Maggie lalu pipi dan terakhir mencubit hidung Maggie dengan gemas.


Maggie menggeliat, dia sedikit membuka matanya.Maxim masih memandangi wajah Maggie, dan Maggie yang sudah mengantuk melingkarkan tangannya di leher Maxim.


Maxim membalas senyum Maggie, Maggie menarik Maxim. Maxim ikut kembali berbaring dengan Maggie, Maxim tersenyum tipis saat Maggie kembali memejamkan matanya dan benar benar terlelap.


Apa Kau tidak ingin menanyakan keadaan hatiku saat melihatmu tersenyum semanis tadi Maggie?


Aku sungguh malu padamu, Kau masih bisa tersenyum dan rela mengobati luka tanpa memperdulikan dirimu sendiri.


Tidurlah Maggie!.


Saat Kau bangun nanti, aku berjanji senyum itu akan selalu menghiasi paras cantikmu.


Maxim menaikkan selimut ke tubuh Maggie, Maxim perlahan menjauhkan tangan Maggie yang memeluknya. Maxim meninggalkan Maggie dan membersihkan dirinya.


**


"Apa, jadi Maggie tidak masuk ke toko hari ini"


Edward berniat menjenguk Maggie karena Edward takut jika Maggie sedang sakit.


Edward yang melihat Maxim sudah mendapatkan makanan dan akan keluar dari barisan, memilih mengikuti Maxim. Edward mencurigai Maxim,dan dia berniat membuntuti Maxim.


Maxim menenteng semua belanjaannya, dia kembali ke apartemen dan kamarnya sendiri.Edward mengernyit saat melihat Maxim berjalan dengan begitu banyak barang bawaan di tangannya.


"Sebenarnya apa yang pria itu mau lakukan? dia mau pergi kemana?". Edward yang sedang membuntuti Maxim kehilangan jejak Maxim saat berada di keramaian. Edward terjebak diantara barisan orang orang yang akan memasuki lift.


Edward akhirnya memilih ikut masuk ke dalam lift dan menjenguk Maggie tanpa membawa apapun.


**


Maggie tidak menemukan Maxim di manapun, dia memegangi kepalanya yang seakan pusing memikirkan semua ini.


"Dimana Kak Maxim?


aku tidak bisa menemukan dia di manapun".Maggie mengernyit saat mendengar suara pintu yang di ketuk dari luar.


Seketika Maggie tersenyum dia bergegas melangkah membuka pintu.


Senyum Maggie pudar saat melihat Edward lah yang berdiri di balik pintu kamarnya.


"Hei, ada apa ini?


Senyum mu menghilang saat pintu sudah terbuka"Edward masuk ke dalam kamar Maggie.


"Tidak, aku pikir kau orang yang sedang kucari " celoteh Maggie sembari menyusul Edward yang sudah duduk dan memainkan ponselnya.


"Maggie Tolong bantu aku mengerjakan tugas kuliahku! "pinta Edward pada Maggie sembari mengeluarkan buku buku miliknya.


Maggie hanya mengangguk, Maggie akan menyingkirkan Maxim sementara dari pikirannya.


**


Maxim mengusap keringat yang mulai membasahi dahinya. Maxim menata kembali semua persiapan kejutan untuk Maggie. Maxim akan membuat Maggie mengingat hal ini, dan ini akan menjadi malam istimewa untuk Maggie. itulah yang Maxim harapkan, dia akan berusaha meminta maaf dan menyatakan perasaannya pada Maggie.


"Aku harus menata lilinnya agar tidak berantakan " Maxim kembali berkutat dengan semua hal hal yang menguras tenaganya.


Maxim melirik ke arah jam dinding, dia begitu tidak sabar menunggu malam nanti.Maxim mencium bau aroma tidak sedap, dia mencium dirinya sendiri .


"Astaga, aku sampai lupa untuk membersihkan diriku sendiri " Maxim menggelengkan kepalanya, dia menertawakan dirinya sendiri.


**


Maggie, apa pria asing itu masih ada disini? "Edward merapikan buku buku miliknya dan memasukannya kembali dalam tas.


Maggie mendadak teringat kembali Maxim, dia sendiri tidak tahu kemana Maxim. saat dia terbangun, Maxim sudah tidak ada di kamarnya.


"Tidak, dia sudah pergi" ucap Maggie dengan wajah lesu.


"Syukurlah, jika seperti itu,Aku tidak harus memikirkan keselamatanmu" Edward berpamitan pada Maggie.


Maggie menutup pintu kamarnya setelah Edward pergi. namun, sebelum Maggie kembali mencapai ranjang ketukan pintu kembali terdengar.


Maggie melangkah dengan malas membuka pintu itu, dia memicingkan matanya saat Edward kembali ke kamarnya.


"Ponselku tertinggal, aku akan mengambilnya" Edward masuk dan benar saja ponselnya ada di nakas.


"Apa masih ada yang tertinggal?" tanya Maggie.


"Tidak, hanya ini. Maaf sudah mengganggumu!


hanya gumaman yang di berikan Maggie.


Maggie menutup kembali pintu kamarnya. namun, Maggie lupa mengunci kamarnya karena di begitu ingin buang air kecil dan sudah menahannya sejak tadi.


**


Maxim melangkah berniat menemui Maggie di Kamarnya. dia ingin memberikan gaun pada Maggie untuk kejutan malam ini.Maxim menenteng paper bag di tangannya, dia tersenyum bahagia karena malam ini akan menyatakan perasaannya pada Maggie.


...