You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 51



Astaga Kak Maxim ini...


Mulut Maggie seakan terbungkam melihat kejutan indah terpapar nyata di depan matanya.


Maggie bergegas masuk melihat keindahan dekorasi kamar bayi yang diam diam di persiapkan oleh Maxim.


Maggie menyentuh keranjang bayi yang telah ada di hadapannya,Maggie juga melihat semua perlengkapan dari mulai pakaian, sepatu dan kereta bayi sudah terpenuhi di kamar itu.


Kedua sudut bibir Maxim melengkung sempurna.Maxim ikut bahagia melihat istrinya yang begitu bahagia terlihat dari pancaran merona wajah cantik Maggie.


Maxim mendekati Maggie lalu memeluknya dari belakang,Maggie mengusap perlahan punggung tangan Maxim yang melingkar di perutnya.


"Apa Kau bahagia dengan kejutan kecil ini, Maggie? " Ucap Maxim dengan sangat lirih.


Maggie mengangguk tanpa keraguan, Maggie membalikkan tubuhnya. Kini Kedua manik indah mereka bertemu, kembali Maxim tersenyum dengan mengelus sisi wajah Maggie.


"Terima Kasih atas semua kejutan indah ini Kak Maxim". Maggie menggigit bibir bawahnya, seketika momen Maxim yang sedang sibuk bermain ponsel terlintas di benak Maggie.


Maggie, hai...


Ah, iya Kak. Ada apa?


Apa yang sedang Kau pikirkan?


Tidak Kak, aku hanya sedang berpikir tentang semua ini.


Maksudmu?


Kapan Kau mempersiapkan semuanya Kak, dan bagaimana Kau bisa melakukannya dengan sangat baik?


"Maggie, aku sudah membelinya sejak dua hari yang lalu. Aku meminta beberapa Karyawan mencari semua kebutuhan calon anak kita, dan aku sengaja mengajakmu untuk keluar agar anak buah ku bisa menyiapkan kejutan untuk mu".


"Apa Kau senang dengan kejutan ini Maggie?".


"Aku sangat senang Kak Maxim, aku begitu bahagia melihat semua ini".


"Aku ingin sekali mendengar Kau mengatakan Cinta padaku Kak Maxim, Aku akan terus menunggu hari dimana Kau mengatakan cinta padaku Kak " batin Maggie bergumam.


**


Nona ... Hai Nona Sekretaris!.


Tiffany membelalakkan matanya saat melihat Daniel memasuki ruangannya, Tiffany semakin kalang kabut saat menyadari jika ini hampir menjelang malam.


Tiffany terpaksa lembur karena ketidakhadiran Maxim, hingga mau tak mau Tiffany harus mengatur ulang semua jadwal atasannya.


Nona, Aku ingin...


Berhenti, Tuan Jangan mendekat atau Kau akan ku lempari sepatu.


Daniel yang melihat ketakutan di wajah Tiffany, malah merasa gemas dan ingin sedikit menggoda gadis itu.


Daniel menutup pintu ruangan Tiffany dan berjalan pelan ke arah gadis itu. Tiffany semakin gelisah, dahinya bahkan sampai berkeringat.


Daniel melonggarkan dasi yang sejak pagi membuat ia merasa gerah, Daniel juga melepas jas kemejanya.Tiffany duduk dengan tidak tenang di tempatnya,satu tangannya bersiap melepaskan sepatu hak tinggi miliknya. Jika Daniel berusaha untuk bertindak macam macam dengannya.


Nona sekretaris, maukah Kau menemani ku makan malam?


Daniel duduk di seberang meja di hadapan Tiffany, Tiffany memicingkan matanya saat mendengar ucapan Daniel.


"Makan malam? "Tiffany mengangkat alisnya.


Daniel mengangguk, memang apa yang Kau pikirkan Nona ?


"Matilah aku, Ya Tuhan Tiffany. Apa yang Kau pikirkan? " gerutunya dalam hati.


"Tidak, tidak ada yang Ku pikirkan". Aku,


"Aku tidak menerima penolakan nona, dan aku harap Kau tidak usah berpikiran yang tidak tidak tentangku".


"Apa? Apa Maksud perkataan mu".Tiffany semakin keras mengelak, dia berusaha menepis opini Daniel. namun, memang tadi sempat terlintas pikiran buruk tentang pria ini.


"Entahlah, aku merasa kau berpikiran buruk tentang ku". Daniel mengangkat bahunya acuh.


**


Maxim menepuk pelan punggung Maggie yang kini bersandar di atas dada bidangnya.


"Jadi, besok Kau akan berangkat sendiri atau bersama Tiffany?".


"Aku akan menyelesaikannya sendiri, lagi pula Tiffany harus mengurus sisa pekerjaan yang aku tinggalkan selama aku di Jepang".


"Kak Maxim apa aku boleh ikut?".


"Sayang, aku hanya pergi 3 hari saja. itu bukan waktu yang lama, aku hanya meninjau cabang kantor baruku bersama Mr. Wong".


Jadi, Kau tidak akan mengajakku!


"Aku hanya tidak ingin membuatmu lelah, lagi pula Kau sedang hamil. Aku ingin Kau di rumah saja, dan menjaga kesehatanmu".


Percayalah, aku hanya memikirkan kesehatanmu dan calon anak kita Sayang.


Maggie mendongak saat mendengar Maxim mengucapkan kata Sayang, kata yang jarang sekali di ucapkan pria itu.


Ini sudah hampir larut, Tidurlah!


Maggie tersenyum lalu mengangguk, Maxim mengecup kening Maggie dan mengeratkan pelukannya.


Maggie memejamkan matanya, senyumnya tak luntur dari paras indahnya.Maxim menghirup aroma fruit surau Maggie dengan tangan yang terus menepuk punggung Maggie.


**


Tiffany yang selesai membasuh wajahnya tengah melihat cermin, Tiffany menyeka wajahnya dengan handuk kecil. Untuk pertama Kalinya, Seorang Tiffany Matthew makan malam bersama Pria.


"Astaga,ada apa dengan otakku ini? Tiffany sadarlah, Kau ini harus bekerja bukan memikirkan Rekan Kerja atasanmu". gerutunya pada diri sendiri.


Tiffany yang tadinya ingin menolak ajakan makan malam Daniel, akhirnya menerima tawaran itu.


Tiffany menganggap dengan itu dirinya bisa menebus rasa bersalahnya, karena sempat terlintas pikiran buruk tentang Daniel.


**


"Aku masih belum bertemu dengannya, aku akan berusaha untuk menepati janjiku".


Daniel mematikan sambungan telepon miliknya, Daniel mengusap kasar wajah kusut yang terpatri akhir akhir ini.


**


Aroma kopi menyengat hidung Maxim, saat pria itu menghirup udara sekitar. Maxim yang tengah menikmati sunrise di balkon, teralihkan saat Maggie membawa kopi untuknya.


Maxim menerima kopi yang dibawakan Maggie,perlahan Maxim menyesap kopi yang Maggie buat.Maggie ikut menikmati sunrise di hadapannya dengan segelas susu hangat di tangannya.


Setelah puas menikmati sunrise ,Maxim membersihkan diri. Maggie sendiri, menyiapkan semua keperluan Maxim.


"Apa Kau memikirkan sesuatu? " Maxim yang sudah rapi memergoki istrinya kembali melamun kan sesuatu.


Maggie tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


Aku akan berangkat sekarang, Jangan terlalu banyak berpikir. Aku hanya pergi untuk bekerja, dan tidak ada hal penting yang harus Kau pikirkan.


Aku tidak akan macam macam di luar sana, Kau tidak usah khawatir Maggie.Lagi pula, tidak baik jika kau banyak berpikir dalam kondisi mu yang sedang berbadan dua seperti ini .


Kau mengerti kan maksudku?


Baiklah Kak Maxim, Kalau begitu aku akan menunggu kepulangan mu.


Maggie mengantar Maxim hingga di depan rumah,Maxim mulai melajukan kendaraannya menjauh dari Mansion.


"Benar Kata Kak Maxim, aku harusnya tidak banyak berpikir. Lagi pula, Kak Maxim tidak dekat dengan siapapun setelah Anna tiada. Tiffany sendiri hanya gadis muda dan dia terlihat gadis baik baik.


Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentang Tuan Leon dan Elsa.sebaiknya, aku telepon saja mereka".


**


Tiffany membelalakkan matanya, saat lagi dan lagi Daniel duduk di ruang lobi seperti sebelum sebelumnya.


"Apa Tuan Daniel tidak punya pekerjaan, selain menghabiskan waktunya duduk di lobi kantor orang lain".Tiffany menggeleng tidak percaya pada tingkah pria yang akhir akhir sering muncul di tempatnya bekerja.


"El, bagaimana Keadaanmu ?".


Maggie, semuanya baik baik saja!


Maaf aku harus menutup teleponnya dulu, lain kali aku akan menghubungi mu.


El, Elsa tunggu!


Tut tut tut.


"Aneh sekali !


Tidak biasanya Elsa mengabaikan ku".Maggie membatin.


...