You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 59



Maxim mengernyit saat samar samar telinganya mendengar kegaduhan yang menganggu tidurnya, Maxim yang masih mengantuk membuka paksa matanya karena suara bising itu kian menembus gendang telinganya.


Maxim berjalan dengan malas, dia mengecek hal apakah yang menganggu tidurnya di pagi buta seperti ini.


Maxim mengernyit saat melihat dua orang berdebat di depan pintu kamarnya, dengan beberapa alat dapur berserakan di lantai.


Sudah ku bilang berhenti lah memasak, Kau hanya akan menghancurkan dapur dan mengotorinya? "Ucap pria berkepala plontos di hadapan Maxim ".


"Mengapa Kau selalu melarang ku,aku hanya ingin membuatkan mu makanan dengan tanganku sendiri?"Wanita bertumbuh gempal memasang wajah sedih, bahkan tangisannya kian terdengar kencang.


"Aku hanya tidak ingin Kau terluka, Kau selalu bertindak ceroboh Karena itu aku melarang mu."


"Jika Kau terus melarang ku memasak,lalu kapan aku akan bisa memasak jika aku tak pernah mencobanya ". Wanita bertubuh gempal itu menangis tersedu, tangisannya sungguh membangunkan beberapa penghuni kamar lain.


Keributan tetangga kamar Maxim itu membangun kan beberapa penghuni kamar lainnya.hingga akhirnya sang suami itu terlihat merayu dan membujuk istrinya.


"Sayang, Jangan Menangis.kemari lah !" Pria berkepala plontos itu merangkul istrinya,lalu membawa masuk sang istri kedalam apartemen.


Tak lama Pria berkepala plontos itu ,keluar dan memunguti perabotan dapur yang berceceran.


Maxim membuka mulutnya lebar,dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Sial, pagi buta seperti ini aku harus melihat sepasang suami istri bertengkar dan mereka kembali berbaikan di depanku.


"Astaga,mereka tidak memikirkan perasaanku".Maxim menggeleng tidak percaya dengan apa yang di lihat lihatnya.


Maxim kembali masuk ke kamarnya sendiri, Maxim bingung ingin melakukan apa.


"aku sudah tidak mengantuk lagi, apa yang harus aku lakukan?.


rasanya menikmati Sunrise adalah pilihan terbaik".gumam Maxim.


Pagi pertama Maxim menikmati sunrise di Manchester,Maxim membayangkan saat saat pagi dimana Maggie akan mendatanginya dengan membawakan minuman untuknya lalu mereka akan menikmati sunrise bersama.


Maxim kini menyadari betapa berharganya kehadiran Maggie, Maxim mulai merasakan bagaimana rasanya rindu akan semua tingkah Maggie yang selalu membuatnya tertawa selama ini.


"Aku merindukanmu Kak Maxim" Maggie tersenyum dengan meminum segelas susu coklat hangat yang sejak tadi dia nikmati.


Seandainya Kau di sini bersamaku Kak, Aku harap Kau bisa menikmati Sunrise di Manchester pagi ini.entah mengapa ? rasanya, aku seperti sedang menikmati Sunrise bersama denganmu.


"Aku merindukan percakapan kita diantara Sunrise dan segelas kopi yang selalu kau teguk di setiap pagi. aku juga merindukan sepotong senyum dan pelukan selamat pagi yang selalu kau berikan.Aku rindu padamu Kak, sungguh".Maggie tersenyum mengingat hari dimana dia Maxim belum mengalami keretakan seperti sekarang.


Kedua manusia itu tidak saling mengetahui, jika sebenarnya mereka sama sama menikmati Sunrise.Mereka berada di satu kota yang sama, hanya saja tidak dalam satu atap.


**


Maggie memarkirkan sepedanya, dia masuk dan menyapa Nyonya Sarah pemilik Toko.


"Selamat pagi Nyonya Sarah" .Maggie meletakan tas selempang nya di meja kerja.


"Selamat pagi juga untukmu Maggie, Oh iya. Maggie hari ini Edward sedang cuti, apa kau bisa mengurusi toko sendiri?".


Maggie mengernyitkan dahi, baru kali ini Maggie tahu jika Edward cuti. biasanya Edward tidak pernah meminta cuti, bahkan di hari libur pun. Edward akan tetap masuk dan membuka toko.


"Apa Kau keberatan berada di toko sendirian Maggie?".Nyonya Sarah kembali mengulang pertanyaannya, karena Maggie terlihat melamun.


"Tidak, Tidak. aku tidak keberatan Nyonya, Kau bisa percayakan padaku. Aku tidak masalah bila harus bekerja sendiri hari ini".Maggie meyakinkan Nyonya Sarah.


Selepas kepergian Nyonya Sarah, Maggie segera melakukan tugasnya.Maggie sendiri mulai membersihkan beberapa bunga, membuang daun daun yang mulai kering dan merangkai beberapa buket bunga.


"Permisi, Tuan apa kau pernah melihat wanita ini?".Maxim menunjukkan foto Maggie pada beberapa pejalan kaki.


"Baiklah, Terima Kasih " Maxim belum juga mendapat titik terang keberadaan Maggie.


Maxim tahu dirinya menjadi pusat perhatian, namun Maxim mencoba mengabaikan hal itu. tujuan dan niatnya kemari adalah mencari dan membawa kembali Maggie, wanita yang sudah menjadi istrinya.sekaligus memperbaiki hubungan dan menyelamatkan keutuhan rumah tangga mereka.


Maxim memilih beristirahat di sebuah kedai kopi, dia akan melanjutkan pencarian setelah mengisi kembali tenaganya.


Edward mengaduk kopi yang dia pesan, setelah selesai melakukan Video Call dengan kakaknya. Edward memilih menikmati waktu cuti yang hari ini diambilnya.


Kopi pesanan Maxim datang, Maxim menatap sekelilingnya. Kedai ini tidak terlalu ramai, namun ada beberapa pengunjung yang memenuhi separuh ruangan.


"Tidak ada salahnya aku bertanya pada salah satu dari mereka, siapa tahu. ada yang pernah bertemu Maggie?" Batin Maxim bergumam.


Maxim bangkit dan berjalan menuju tempat duduk yang kebetulan di duduki Edward.


"Permisi, Maaf mengganggu Waktumu.Aku sedang mencari seseorang, bisakah Kau membantuku? " Maxim bertanya kepada Edward yang terlihat sedang menyeruput kopi.


"Tentu Saja, Kau bisa tunjukkan saja fotonya"Edward meletakan gelas yang tadi di pegang nya.


"Apa Kau pernah melihat wanita ini?" Maxim menunjukkan ponselnya pada Edward, Edward menerimanya.


Edward mengernyitkan dahinya, dia menatap Maxim.


"Maaf, Sepertinya ponselmu mati Tuan".Edward memberikan kembali ponsel itu pada Maxim.


Apa, Benarkah?


Maxim mencoba menyalakan ponselnya, dan benar saja perkataan Edward.


Sepertinya ponselku kehabisan daya, Maaf sudah mengganggu waktumu Tuan.Edward mengangguk, Maxim kembali ke mejanya sendiri.


Maxim kembali ke penginapan tanpa hasil apapun, hari ini Maxim lupa mengisi baterai ponselnya hingga pencariannya sedikit tertunda.


**


Maxim menyalakan rokok, dia menghembuskan asapnya ke udara.Maxim begitu ingin segera menemukan Maggie, dan mengatakan semua rasa penyesalannya pada Maggie.


Maggie kembali ke kamarnya sendiri, bekerja di toko seharian seorang diri membuat ia merasa lebih lelah dari hari biasanya.


Maggie membaringkan dirinya di ranjang, diraihnya bingkai foto Maxim. Jemari Maggie perlahan mengusap wajah Maxim di foto itu, Mata Maggie mulai berkaca kaca.


"Aku mencintaimu Maggie".


"Akan aku katakan padamu, jika aku sudah menemukan mu.Aku akan menghilangkan keraguanmu,Aku akan meyakinkanmu jika aku juga mencintaimu Maggie " Maxim tersenyum dan memejamkan manik hitamnya.


Maggie terperanjat dari tidurnya, Maggie mengusap dahinya yang berkeringat.Maggie membuka bingkai foto Maxim yang terbalik di pelukannya,Maggie meletakkan bingkai itu di sebelahnya.


"Astaga, Ternyata hanya mimpi" Ujar Maggie.


Kak Maxim mengutarakan perasaannya padaku, sayangnya itu hanya dalam mimpiku saja.Maggie menenggak air putih yang tersedia di meja kecil hingga tandas, Maggie kembali mencoba untuk tertidur kembali.


"Mengapa Juga aku harus bermimpi seperti itu,? "gerutu Maggie pada dirinya sendiri.


Tapi mengapa rasanya mimpi itu seperti nyata,aku benar benar seperti mendengar suara Kak Maxim tadi.


Ah, Sudahlah. Untuk apa aku berharap seperti itu, pada akhirnya aku sendiri yang akan menelan kekecewaan.


Maggie menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, Maggie memilih melanjutkan tidurnya.


dia tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, karena Maggie tidak ingin kembali merasakan sakitnya tertampar oleh realita.


See you ❤


*Jangan Lupa, Like, Komen Vote yah.