
Maggie menggeleng keras ,saat Maxim berusaha menggapai bibirnya.
Maxim yang mulai kesal pun bertindak di luar dugaan.entah Maxim sadari atau tidak, Maxim menampar pipi Maggie dengan cukup keras.
Maggie menatap Maxim dengan terkejut, pipinya yang tertampar tapi hatinya yang merasa Seribu kali lebih sakit dari luka tamparan di pipinya.
Maggie tidak mengerti, Mengapa Maxim bersikap seperti orang kesetanan malam itu. bahkan Maxim menarik lengannya dengan kasar, Maxim menjatuhkan Maggie di tempat tidur dengan aura yang membuat Maggie ketakutan.
Maxim menerkam Maggie dengan liar, Maggie yang tidak mengerti akan Sikap Maxim hanya mampu tertunduk di bawah kuasanya.
Maggie tidur dengan mengeratkan selimutnya, dia terisak tanpa bersuara .Maggie menggenggam erat selimut yang menutupi tubuh polosnya dan Maxim yang sudah tertidur pulas.
Maggie menangisi dirinya sendiri, meski Maxim suaminya namun Maggie merasa harga dirinya seperti sudah hancur lebur karena cara Maxim memperlakukannya malam ini sangatlah berbeda. Maxim tidak pernah memaksanya, namun sikap Maxim tadi sungguh melukai perasaannya.
*
Anna menatap kesal pada pintu kamarnya yang tak kunjung terbuka, dia menatap jam yang sudah menunjukan pukul 01.00 dinihari sedangkan Maxim tak kunjung menemuinya.
Anna yang kesal hendak menemui Maxim di kamarnya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara yang kian menambah kesal moodnya malam itu.
Suara yang Anna yakini berasal dari kamar Maggie dan Maxim, Anna tahu jelas suara itu.
Anna memilih kembali ke kamarnya , wajahnya merah padam, telinganya panas mendengar suara itu, amarahnya kian memuncak.
Sial....
Anna tak henti mengumpat di dalam hati ia menggerutu tiada henti, Anna telah gagal menjebak Maxim dalam siasatnya.
Anna berjalan kembali ke kamarnya, langkahnya terhenti sejenak. Anna menatap lekat pintu ruang kerja Maxim yang tertutup.Anna memicingkan matanya,isi kepalanya terus saja mencari cara agar Maxim bisa dalam kendalinya sama seperti dulu.
Anna meneliti satu persatu berkas berkas yang tertumpuk dan berjajar rapi di atas meja kerja Maxim.
Tangannya dengan jeli membuka lembaran demi lembaran dokumen itu ,hingga mata Anna tertuju pada sebuah Map berwarna merah muda yang terletak di sudut rak atas.
Anna meraih Map itu dan membaca isi file nya, Senyum mengembang di bibir Anna. Anna kembali ke kamarnya dengan membawa file temuannya itu.
*
Maxim memegangi kepalanya, dia menatap sebelah sisi ranjang dan tidak mendapati Maggie di sebelahnya.
Maxim memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. sekelebat ingatan saat semalam ia menampar Maggie dan berakhir dengan keadaan seperti ini melintas di memori Maxim.
Sial ...Bodoh Sungguh bodoh....!
Mengapa semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku!
Maggie pasti akan merasa terluka karena sikapku semalam, aku bahkan menamparnya.
Mengapa semalam aku begitu menginginkan Maggie, aku bahkan tidak bisa menahan hasrat sialan ku!
Maggie duduk memakan sarapannya dengan melamun. Maggie masih memikirkan Maxim yang dengan mudahnya menampar dirinya semalam, Maggie yang sibuk bergelut dengan pikirannya menoleh saat mendapat sapaan dari Anna.
Apa semalam Kau menikmati tidurmu Maggie?
Anna duduk di depan Maggie, dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Mengapa kau bertanya seperti itu? Aku pikir itu bukanlah urusanmu!
Maggie menyesap susu hangat yang tadi ia buat sebelum kedatangan Anna.
Aku harap itu bukan malam terakhir kalian Maggie!
Maggie menatap Anna dengan kedua alis yang menyatu.
Kau tahu Maggie, Semalam Aku menambahkan sesuatu di minuman Maxim.
Aku pikir ia akan mencari ku untuk membantunya mengatasi rasa sakit di tubuhnya itu, namun Sialnya aku salah. Maxim kembali ke kamarnya, dia seharusnya kembali ke kamarku namun Sepertinya obat itu bekerja lebih cepat dari seharusnya.
Maggie tersedak mendengar pengakuan Anna, dengan frontal nya Anna terang terangan mengakui tindakannya yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Suaminya.
Maggie bangkit dari duduknya, dia hendak mengucapkan sesuatu namun sebuah Suara membuat ia kembali bungkam.
Maggie... Anna...
Anna bergegas mendekati Maxim, dia merangkul pinggang pria itu tanpa peduli tatapan terkejut Maxim dan Maggie.
Maggie menatap dengan jengah tingkah Anna yang sangat agresif di hadapan Maxim.
Maxim kebetulan sekali, aku ingin menunjukan sesuatu padamu.
Ayo ikut dengan ku!
Anna menggelayuti lengan Maxim dan membawa Maxim menjauh dari Maggie.
Maxim menatap Maggie, ia ingin meminta maaf atas tindakan kasarnya semalam. Maggie mengacuhkan tatapan Maxim, entahlah rasanya Maggie terluka di dua tempat. Tubuh dan hatinya merasa tersakiti karena kehadiran Anna, Maggie bisa saja memperlakukan Anna dengan kasar dan mengusir wanita itu dari Mansion ini.
Maggie hanya ingin melihat sendiri, jika Maxim lah yang meminta Anna pergi. seberapa jauh Maggie mencoba memisahkan Anna, Maxim sendiri lah yang masih mempertahankan kehadiran Anna dalam hati dan hidup pria itu.
*
Maxim menggenggam erat berkas di tangannya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat.
Anna tersenyum menatap perubahan sikap Maxim.
Kau akan lihat Maggie seberapa jauh tindakanku untuk bisa menyingkirkan mu dari hidup Maxim."batinnya bergumam".
Maggie sedang menikmati tidur siangnya, semalam ia tidak begitu menikmati waktu tidurnya.
Manik sewarna madu milik Maggie terpejam sempurna.dengkuran halus mengisi keheningan kamar saat Maxim duduk menunggu Maggie terbangun dari tidurnya.
Mengapa Kau membohongiku ? Wajahmu bahkan terlihat seperti bidadari, Kau begitu polos untuk melakukan semua ini.aku tidak percaya Kau bisa melakukan semua ini Maggie?
Maxim menatap Maggie dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.Maxim menatap cermin di hadapannya, ia mencoba berusaha mengingat beberapa hal yang hilang dalam memorinya.
Mengapa begitu sulit untuk mengingat semuanya?
Arghhh sial... Kepalaku sakit sekali!
Maxim merintih dengan memegangi kepalanya.
Maggie mengernyit saat mendengar kegaduhan di kamarnya.
Prang....
Maxim melemparkan semua benda yang berjejer rapi di meja rias dengan meracau tidak jelas.
Maggie membuka matanya perlahan, Mata Maggie membulat sempurna melihat benda benda berserakan di kamarnya.
terdengar bunyi gemericik air kran yang mengalir, Maggie menatap pintu kamar mandi.
Maggie bangkit dari ranjang, dia membereskan semua benda yang berserakan di lantai.
Mengapa berantakan sekali? Semua ini tidak mungkin terjatuh sendiri, pasti ada yang menjatuhkannya.Maggie memunguti satu persatu benda benda itu hingga kembali rapi.
Maggie mengernyit saat melihat air keluar dari pintu kamar mandinya, Maggie segera mengetuk pintu kamar mandi berkali kali.
Kak Maxim apa itu kau? Kak Maxim tolong matikan kran airnya, airnya hampir membasahi lantai kamar kita.
Kak Maxim.....
Kak Maxim apa kau mendengar ku? Maggie berulang kali memanggil nama Maxim, namun tak ada sahutan apapun dari Maxim.
Ya tuhan bagaimana ini? Maggie membuka pintunya namun pintu itu terkunci.
Maggie ingat ia menyimpan kunci cadangan, Maggie meraih kunci cadangan di lemari kecil. Maggie bergegas membuka pintu kamar mandi itu, Maggie menutup mulutnya dengan tangan saat melihat Maxim terduduk lemas dengan memegangi kepalanya di bawah kucuran Shower.
Kak Maxim apa yang terjadi? apa kepalamu sakit?
Maxim menatap Maggie dengan tatapan yang sulit Maggie mengerti.
Maggie merangkul Maxim, Maggie mematikan kran airnya dan membawa Maxim ke ranjang.
Kak Maxim apa yang sebenarnya terjadi?
Maggie mengeringkan rambut Maxim dengan handuk, rasanya Maggie tidak tega melihat Maxim yang mendadak menjadi pendiam seperti ini.
Aku ingin kita bercerai,
Maggie tertegun mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Maxim,
Maggie lalu tertawa, dia melanjutkan kembali niatnya mengeringkan surau Maxim.
Kak Maxim bercanda mu sungguh tidak lucu!
Kau ingat tidak saat Kau meminta ku untuk, -
Maggie tidak melanjutkan ucapannya lagi saat mendengar Maxim membuka suaranya.
Menandatangani kertas perjanjian pernikahan kita, Aku tahu akan hal itu dan itulah alasan mengapa aku ingin bercerai dengan mu.
Maggie menatap tidak percaya pada ucapan Maxim.
Kau ingin kita bercerai Kak, tapi mengapa mendadak Kau memutuskan hal ini.
Kau membohongiku, Kalian semua berbohong padaku .Maxim menatap Maggie dengan tatapan tajam dan menusuk.
Maggie sendiri menatap Maxim dengan mata sendu,Maggie memikirkan ucapan Maxim.
*
Mengapa mendadak Kak Maxim ingin bercerai? Maggie membatin.
*See You ❤❤❤
Terima Kasih untuk semua bentuk dukungan kalian, baik like, komen dan vote nya sejauh ini*.