You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 48



Maggie, apa kau sudah tertidur?


Sudah, pergilah!


Selesaikan saja kesibukanmu, aku tidak mau bicara dengan mu kak.


Kau tidak mau bicara padaku? lalu tadi itu apa?


Maxim terkekeh, dia sudah menebak jika Maggie pasti akan merajuk dan kini tebakannya terjawab sudah.


Jangan menyentuhku!


Sudah, pergilah!


"aku mengantuk" Maggie memiringkan tubuhnya memunggungi Maxim.


Maxim terkekeh dia lalu bangkit dan meraih satu bantal, kembali Maxim berniat menjahili Maggie.


Baiklah, jika kau ingin aku pergi maka aku akan tidur di ruang tamu saja!


Maggie yang berpura sudah memejamkan matanya seketika kembali membuka matanya.


"Mengapa Kak Maxim berkata seperti itu, seharusnya dia membujukku lalu berusaha meminta maaf padaku karena mengabaikan ku tadi" gerutunya dalam hati.


Maxim membuat suara langkah kaki dia berpura pura keluar kamar, Maggie yang mendengar itu semakin merasa kesal.


Maxim tidak benar benar pergi dari kamar setelah sampai di pintu, dia kembali melangkah ke dekat ranjang. namun, dia membaringkan dirinya di karpet bulu yang tersedia di lantai, Maxim bersembunyi agar Maggie mengira jika dirinya benar benar keluar dari kamar.


Maggie menoleh, dia benar benar kesal karena mengira Maxim pergi dari kamar dan meninggalkannya sendiri .


Kak Maxim benar benar menyebalkan!


Aku tadi hanya asal bicara, dan sekarang Kak Maxim tega meninggalkanku sendirian.


Manusia Menyebalkan, egois, jelek,tidak peka.


Kak Maxim pria payah.


Dasar Lelaki, tidak tahu cara membujuk istri yang sedang marah!


Maggie tak henti menggerutu, dia mengumpat tiada henti hingga Maxim yang mendengar berusaha keras menahan tawanya yang hampir pecah.


Maggie lalu memilih tidur tanpa mengecek keberadaan Maxim.


Selang beberapa menit, dengkuran halus dari Maggie mulai terdengar menyelinap pendengaran Maxim.


Maxim yang merasa situasinya sudah aman, berpindah mendekati Maggie dan kembali tidur di ranjang.


Menatap wajah damai Maggie saat pemilik mata sewarna madu itu terpejam seperti ini adalah hobi Maxim.


Kau bilang aku begitu menyebalkan, tapi kau lebih menyebalkan nona Orlando.


Maxim memeluk Maggie, dia melingkarkan tangannya dan mendekap Maggie dengan erat.


Maggie yang merasa terganggu dengan gerakan Maxim, tampak membuka sedikit matanya.


Maxim yang menangkap pergerakan Maggie lalu tersenyum saat manik Maggie terlihat mengecil karena mengantuk.


Kau disini,


Maxim mengangguk,lalu mengecup kening Maggie.


Tidurlah lagi, aku menemanimu!


Hanya anggukan kecil yang di berikan Maggie, dia tidak punya sisa tenaga lagi untuk sekedar bertanya atau kembali berdebat dengan Maxim. rasa kantuk sudah melanda bola matanya, Maggie memilih memejamkan kembali manik sewarna madu itu.


*


Kau yakin ingin bertemu dengan Daniel?


Kak Maxim, kau sudah menanyakan puluhan kali?


Tidak, baru kedua kali ini . Maxim menatap Maggie dengan ragu.


Maggie Ada satu hal yang harus kau ketahui tentang Daniel?


Daniel adalah, -


Tunggu,biar ku tebak .


Lalu dia ingin memintamu membawa serta istrimu untuk pertemuan kalian?


benar begitu bukan?


Maxim menunduk, dia menghembuskan napas berat yang tengah melingkupi relung dadanya yang kian terasa sesak mengatakan kebenaran tentang Daniel.


Maggie dengarkan aku, Daniel adalah


"Sudahlah Kak Maxim, Mengapa tidak kita temui saja dia sekarang juga agar aku tidak mati penasaran karena ucapan mu yang membingungkan itu. " gerutu Maggie ".


"Ada apa sebenarnya dengan Kak Maxim? dia sendiri yang memintaku ikut menemui rekannya. namun, dia sendiri yang seolah takut jika aku nantinya bertemu dengan pria bernama Daniel itu?" Maggie bergumam dalam hatinya.


Maxim menggaruk hidungnya yang tidak gatal, dia merasa bersalah karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya sejak tadi.


Maggie benar jika dirinya membuat kalimat yang membuat Maggie kebingungan mencernanya.


Maxim menghembuskan perlahan napasnya, dia menahan lengan Maggie yang akan beranjak dari kursi.


Dengarkan aku,


Apa Kau ingat peristiwa yang menimpamu, saat kita menghadiri pesta Mr. Wong di Jepang?


Maggie mengernyitkan dahinya, nampak ia sedang mengingat ingat peristiwa yang Maxim katakan.


Cukup lama Maggie terdiam dengan posisi berdiri sedangkan Maxim masih setia menggenggam jemari Maggie.


"Kak Maxim aku tidak mau mengingat peristiwa itu" Lirih Maggie ".


Maxim bangkit dari posisi duduknya, dia berpindah mendekap wajah Maggie dengan kedua tangannya.


Aku tahu Kau akan mengatakan ini jika mengetahui siapa Daniel?


Sekarang kau tahu kan? alasan dibalik kekhawatiran ku sejak tadi, Aku tidak akan memintamu untuk menemui Daniel lagi.


Kakak, Jadi Maksudmu Daniel ada hubungannya dengan peristiwa itu.


Dia orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itu.


Maggie tersenyum getir, dia mengangguk dengan wajah yang sudah tertekuk.


Jangan bersedih, aku akan mengatakan pada Daniel jika kau tidak bisa bertemu dengannya. Maxim meraih wajah Maggie agar menghadapnya.


Maxim mengecup air mata yang mengalir kala melihat sebutir air mata bertengger di wajah Wanita yang di cintai nya.


Sekelebat bayangan saat saat mengerikan itu kembali terputar di memory Maggie, Maggie yang tadinya begitu bersemangat dan ceria kini senyumnya tertutup kabut.


Maxim mengutuk dirinya sendiri karena ia seharusnya tidak mengatakan semua sejak awal.


Drrt. .drttt... drrt... Dering ponsel milik Maxim memecah keheningan diantara dua manusia yang tengah terhanyut dalam lamunan masing masing.


Maggie dan Maxim melirik kearah ponsel yang tergeletak di nakas.


"Tiffany".


Maggie membatin.


Maxim memicingkan matanya, dia mengamati gestur wajah Maggie yang nampak melihat dengan begitu serius kearah layar ponsel.


"Aku rasa, aku akan mencari sekertaris baru jika kau tidak menyukai Tiffany".


"Apa Maksudmu Kak? "Maggie bergantian menatap heran dengan kedua alis terangkat saat Maxim mengatakan hal yang menurutnya aneh.


Aku akan memecat Tiffany jika kau merasa terganggu karena dia. aku bisa mencari sekretaris yang seumuran dengan Emma agar kau tak perlu cemburu padaku.


Jangan Konyol Kak Maxim, Mana mungkin kau memecat karyawan mu tanpa alasan. Kau tidak bisa memperlakukan Karyawan mu seperti itu, aku tidak keberatan jika Tiffany tetap menjadi sekretaris mu.


Angkatlah Kak Maxim, mungkin ada hal penting yang ingin Tiffany katakan padamu!


Kau tidak keberatan aku menerima panggilan dari Tiffany saat sedang bersama dengan mu?


Maggie hanya memberikan senyum manis miliknya diiringi anggukkan kecil yang membuat Maxim terkesima karena Maggie kembali Ceria. Setidaknya tidak ada hal yang lebih membuat Maxim tenang selain raut bahagia dan senyum terurai dari wajah wanitanya.


Maggie yang mendadak merasa lapar, lalu berpamitan pada Maxim untuk pergi ke dapur.


Maxim menerima panggilan Tiffany,Maxim tak bisa melepaskan tatapannya dari Maggie saat Maggie berjalan menjauh darinya. Maxim terus saja menatap punggung Maggie hingga bayangan Maggie menghilang dari balik pintu.


...