
Daniel menginjak rem mobilnya dengan gerakan cepat, dia hampir saja menabrak wanita yang berdiri di tengah jalan. Bunyi rem mobil Daniel terdengar memenuhi jalanan sepi yang Daniel lewati itu.Daniel mengacak kasar surau miliknya, dia meluapkan amarahnya dengan memukul setir karena hampir saja dia mencelakai orang lain.atau lebih tepatnya, wanita itu memancing emosi Daniel.Daniel merasa sudah benar benar lelah, dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
Daniel menatap tajam dengan amarah yang mulai menyelimutinya, Daniel melihat Wanita di hadapannya tengah menutupi telinganya. Punggung Wanita itu nampak bergetar, entah karena takut atau tengah menangis.Daniel turun dan mendekati Wanita itu, agar menyingkir ke bahu jalan.Selain mengganggu kendaraan yang akan melintas, juga membahayakan nyawa Wanita itu sendiri.Daniel ingin menegur Wanita yang menghalangi jalannya itu.
"Nona,Apa Kau sudah bosan hidup?" Seru Daniel sembari memasukan tangannya ke dalam saku celana berbahan kain.
"Nona, Menyingkir lah dari tengah jalan seperti ini ,Kau bisa membahayakan orang lain dan dirimu sendiri! "Daniel mengernyit heran saat Wanita itu tampak diam saja.
Wanita itu seperti tidak mendengarkan teguran dari Daniel. Daniel dengan ragu memegang bahu wanita itu, yang masih bergetar hebat.
"Nona Apa Kau mendengar ku!" Daniel menaikkan nada bicaranya, karena mulai geram tidak mendapat respon apapun.
Daniel membulatkan matanya saat melihat wanita yang hampir di tabrak olehnya itu berbalik ke arahnya. Daniel dan Wanita itu, beradu pandang sejenak.
**
Tiffany melemparkan tasnya ke kasur, Tiffany melepaskan ikat rambutnya. dia segera menjatuhkan dirinya ke kasur, Tiffany menghela napas dengan lega.Meski kakinya terasa pegal karena berjalan kaki hingga ke rumah,Tiffany bersyukur tidak menemui hal hal buruk yang sempat terlintas di benaknya. Tiffany mengistirahatkan tubuh lelahnya,Mata Tiffany terpejam dengan sendirinya.
**
Keesokan paginya Maggie yang menunggu Maxim tengah bersiap, tak sengaja teringat sesuatu.Maggie bangkit dari duduknya, dia melangkah ke meja rias.
Maggie menatap kalender di hadapannya dengan tersenyum. dia tidak sabar untuk mengatakan pada Maxim, bahwa akan kembali hadir anggota keluarga baru dalam rumah tangga mereka.
"Astaga, hari ini hari jadi pernikahanku dengan Kak Maxim! " Maggie menggigit bibirnya sendiri, dia lalu memikirkan sesuatu.
Seulas senyum mengembang di wajah Cantik Maggie, Maggie mengelus perutnya dan dia meletakan kembali kalender di tangannya.
Maxim keluar dari kamar mandi, dia mengernyit saat mendapati Maggie pergi dari kamar dengan senyum bahagia. Maxim melirik kalender yang tadi di letakkan Maggie.
"Ada Apa dengan Maggie, hanya memandangi kalender saja bisa membuatnya bahagia? " gumam Maxim.
Maxim menyusul Maggie untuk sarapan ,dia tidak henti memperhatikan Maggie yang terlihat bahagia sekali. Maxim kebingungan sebab kemarin mood Maggie sangatlah buruk, apalagi mengingat Maggie marah saat dirinya tidak mengizinkan Daniel untuk masuk dan malah mengusirnya secara halus.
Tut ...
Maggie meraih ponselnya, dia membaca pesan masuk dari Emma.Maggie nampak berpikir keras, mengapa mendadak Emma ingin bertemu dengannya di kantor Maxim.
"Kak Maxim hari ini aku akan ikut denganmu ke kantor, boleh tidak?" ucapan spontan Maggie membuat Maxim menghentikan gerakan mulutnya yang tengah mengunyah.
Alis Maxim terangkat, dia lalu mengangguk mengiyakan.
"Aneh Sekali, tidak biasanya Maggie meminta izin seperti ini hanya untuk datang ke kantor! " batin Maxim.
**
"Bibi Emma,Kau membuatku harus kehilangan jam tidurku! " Tiffany mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Sudahlah Tiffany, Kau ini hanya tidak tidur nyenyak malam ini saja bukan!" Emma menyentil dahi Tiffany.
Tiffany memutar malas bola matanya, tapi demi kebahagiaan Emma Tiffany lalu mengalah.
Tiffany menatap dirinya di cermin,Tiffany merapikan kembali penampilannya. Emma dan Tiffany meminta beberapa pegawai untuk membantunya menyiapkan pesta kejutan Sederhana untuk Atasannya Maxim.
Semua persiapan telah selesai di kerjakan, Emma dan Tiffany telah meminta semua karyawan bersiap menunggu kedatangan Maxim.
"Bibi, Apa Kau yakin Nyonya Maggie akan ikut datang kemari? " Tiffany merasa ragu, dia tidak ingin semua rencana ini gagal.
"Entahlah, tapi Aku sudah memintanya kemari untuk membicarakan sesuatu ! " Emma juga tampak sedikit ragu.
"Semoga saja,semuanya berjalan sesuai rencana " Tiffany mencoba bersikap optimis .
Emma mengangguk mengiyakan, dia lalu mengajak Tiffany untuk bergabung bersama rekan kerja yang lainnya.
**
Maggie dan Maxim berada dalam satu mobil, Maggie nampak tengah memikirkan cara mengatakan kehamilannya kali ini pada Maxim.Maggie ingin menjadikan kabar bahagia ini,sebagai kado spesial hari jadi pernikahan mereka.
Maggie tidak salah memutuskan untuk menemui Emma, karena dengan ini Maggie mendapatkan ide untuk memberi kejutan pada Maxim.
Maxim dibuat bingung dengan tingkah Maggie yang sejak pagi tak henti tersenyum bahagia. Maxim yang dilanda rasa penasaran mulai bertanya pada Maggie.
"Maggie, Apa yang membuatmu begitu bahagia? " Maxim bertanya tanpa menengok Maggie, dia tetap fokus menyetir.
"Kau! " saut Maggie dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Aneh Sekali, Ada apa dengan Maggie?
Sejak pagi aku tidak mengerti dengan ucapan atau tindakannya!" batin Maxim.
"Kak Maxim, Apa Emma masih bekerja di kantor?" tanya Maggie.
"Emma sekertaris lamaku! " ulang Maxim yang mendapat anggukan dari Maggie.
Tidak, dia tidak lagi bekerja di kantor .Memangnya kenapa Kau menanyakan tentangnya? " tanya Maxim dengan guratan di dahinya.
"Tadi pagi, Emma mengirimiku pesan dan dia ingin bertemu denganku di kantormu ! " jelas Maggie.
"Iya sudah, kalau begitu temui saja !" saut Maxim.
Maggie tersenyum dengan mengiyakan ucapan Maxim.
"Lagi pula, Maggie pasti kesepian jika harus berada di rumah sendirian" Maxim membatin.
**
"Bibi, Kenapa Tuan Maxim dan Nyonya Maggie lama sekali! " Tiffany memanyunkan bibirnya.
"Bersabarlah Tiffany, Sebentar lagi mereka pasti datang! " seru Emma.
"Tiffany lihatlah, itu mobil Tuan Maxim !" Ucap salah seorang Karyawan lain.
"Semuanya bersiaplah! " suara serak Tiffany terdengar memenuhi ruangan.
Maxim dan Maggie melangkah memasuki kantor.Maggie memegangi lengan Maxim dengan erat, saat lampu utama Kantor tidak menyala.Maxim mengernyitkan dahinya,Untuk pertama kalinya Kantornya gelap seperti ini.
"Kak Maxim, Mengapa kantormu seperti gua berhantu ? " Celetuk Maggie.
Maxim tentu saja merasa tersinggung dengan ucapan Istrinya itu, dia sendiri tidak tahu mengapa listrik di kantornya bisa padam seperti ini.
"Mana aku tahu, Jangan berpikir aku tidak punya uang untuk membayar tagihan listrik! " ketus Maxim.
Tentu saja tidak,
Maggie menjerit saat mendadak lampu ruangannya menyala.
"Ruangan ini menyala sendiri, bukankah itu menakutkan! "gumam Maggie dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh Maxim.
Maxim memutar malas bola matanya, dia benar benar dibuat heran dengan tingkah Maggie hari ini.
Maxim menatap seisi ruangan kantor, tidak ada satu karyawan pun di dalam kantornya.bahkan dia heran karena baru menyadari, jika satpam di depan kantornya juga tidak ada.
Maxim menggandeng tangan Maggie untuk masuk ke ruangannya. Maggie mengikuti langkah Maxim namun baru beberapa langkah keduanya di kejutkan dengan suara benda jatuh.
Maxim dan Maggie mengedarkan pandangannya, lalu tiba tiba Maxim dan Maggie dijatuhi puluhan kelopak mawar dari atas.Maggie dan Maxim saling memandang lalu mendongak ke atas, Terdapat beberapa karyawan Maxim yang tengah berdiri sembari bertepuk tangan.
Maggie dan Maxim lalu dikejutkan dengan kehadiran Emma, Tiffany juga para karyawan Maxim yang keluar dari ruang persembunyian mereka.
"Selamat hari jadi pernikahan Tuan! " ucap Emma, Tiffany juga karyawan lainnya bersamaan.
Tiffany dan Emma membawa Kue dengan lilin menyala yang telah dia siapkan untuk Atasannya itu.Maggie tersenyum dengan girang,dia tidak menyangka jika hari ini seluruh karyawan Maxim merayakan hari jadi pernikahan mereka.
...