
Lebih dari seharian Maggie mengurung dirinya sendiri di kamar. Maggie masih memilih duduk menyendiri di kamarnya, dia enggan melakukan aktifitasnya. bahkan untuk sekedar mengisi perutnya saja, tidak ia lakukan sejak kemarin.
Maggie begitu malas, dia ingin menghindari Anna yang wajahnya sangat menyebalkan untuk di lihat.
Maggie memutuskan untuk merapikan dirinya sendiri, dia memiliki keinginan untuk menjenguk Ayah dan Ibunya.
Maggie yang berniat membersihkan diri di kejutkan dengan kedatangan Anna yang tiba tiba memasuki kamarnya tanpa permisi.
Dimana Kau menyembunyikan Maxim? Anna masuk dan menggeledah kamar Maggie, bahkan Anna mengecek kamar mandi dan setiap sudut ruangan kamar Maggie tanpa terlewat satu inci pun.
Maggie menatap malas ,akan sikap Anna yang semakin hari semakin membuat ia muak melihatnya.
Kau pasti menyembunyikan Maxim? cepat beritahu aku dimana Maxim?
Kak Maxim tidak ada di sini, pergi lah dari kamarku Anna."Maggie membuang tatapan nya ke arah pintu, Seolah menunjukkan jalan keluar ".
Kau pasti berbohong, Katakan dimana Maxim jangan membuat ku bertindak kasar padamu Maggie.
Anna mengangkat tangannya ke udara,Anna hendak melayangkan tangannya ke pipi Maggie. Maggie dengan secepat kilat menahan tangan Anna yang akan menampar pipinya.
Maggie menatap Anna dengan mata merah padam, dia memelintir lengan Anna dengan satu tangannya.
Maggie meraih tangan Anna yang lain dengan tangannya yang bebas.
Apa selama ini Kau berpikir aku diam karena aku takut, Kau salah jika berfikiran seperti itu Anna.
Kau memang penakut, Wanita seperti mu hanya bisa menangis seharian penuh meratapi kesedihannya berhari hari. "Anna berucap diiringi seringai di bibirnya".
aku hanya tidak ingin mengotori tanganku dengan menyentuhmu! Maggie menatap tajam Anna yang masih memasang wajah menyebalkan nya.
Lihatlah ! sekarang tangan mu menyentuhku, Bisa Kau lepaskan?
Maggie semakin bertambah kesal saat Anna kembali memancing emosinya.
Apa Kau tidak akan melepaskan tanganku, kita ini teman.Maksudku,Kau istri pertama Maxim, dan aku calon Istri keduanya bukan.
Bisakah kita berdamai,Kau dan Aku akan membagi waktu untuk menghabiskan hari dengan Maxim dengan bergantian.
Anna Kau benar benar tidak tahu malu, aku semakin yakin untuk tidak berpisah dengan Maxim.
Baiklah ,Kalau begitu coba saja kau halangi pernikahan ini Maggie.
Aku ingin melihat seberapa sanggup Kau mempertahankan Maxim.
Kau bertindak curang dengan memanfaatkan hilang ingatan Kak Maxim untuk mencapai tujuan buruk mu itu .
Ck,Anna berdecih. Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau diam tanpa melakukan apapun, meski kau mengetahui kebenarannya?
C'mon Maggie, katakan saja semuanya pada Maxim dan coba saja batalkan acara pernikahan ini.
Aku menantang mu dengan terbuka, kita akan lihat. Siapa yang akan di pilih oleh Maxim, Kau atau aku!
Keluar dari kamar ku Anna, Maggie menatap Anna dengan kesal.
Anna mengangkat bahunya acuh, aku juga betah berlama lama di kamar ini. Kamar ini juga akan menjadi milikku Maggie, Kau harus mempersiapkan diri untuk berbagi dengan ku.
Anna melenggang pergi saat tidak menemukan Maxim,Maggie memijat kepalanya selepas kepergian Anna yang sudah menghilang di balik pintu.
Jika Kak Maxim tidak tidur bersama Anna, lalu dimana dia semalaman ini? "gumamnya dalam hati".
Maggie berpikir keras akan keberadaan Maxim, dia mengurungkan niatnya untuk menemui Ibu dan Ayahnya.
Anna memilih keluar Mansion mencari Maxim, Maggie menatap punggung Anna yang menghilang di balik pintu utama.
Maggie bergegas menemui Jasmine di kamarnya, Jasmine dan Aldrich melihat kegelisahan di wajah Menantunya itu.
Maggie sayang ada apa nak?
Aldrich lebih dulu bertanya pada Maggie.
Apa semuanya baik baik saja nak? Jasmine ikut menimpali suaminya,Jasmine sendiri tidak tahu apa yang sedang di resah kan Maggie saat ini.
Apa Mommy tahu dimana Kak Maxim, sejak semalam aku tidak melihatnya?
Maaf tuan besar, ada yang mencari nona Maggie. "ucap maid itu sembari menudukkan kepala".
Maggie mengernyitkan dahi, saat mendengar ucapan maid itu.
*
Ayah....
Ibu..
Maggie sedikit berlari ke arah kedua orang tuanya, Maggie memeluk keduanya bergantian.
Tuan Louis Kau jauh jauh datang kemari? aku sungguh senang atas kehadiranmu. "Aldrich membuka percakapan dengan Ayah Maggie ".
Jane merangkul Maggie dengan sesekali mencium kening dan pipi putrinya itu. Jasmine hanya memperhatikannya dari tempat dia dan Aldrich duduk saat ini.
Aku kemari untuk membawa putriku kembali ke rumah kami.Louis melihat kedua orang tua Maxim dengan bergantian.
Apa yang kau bicarakan tuan Louis? Kami tidak mengerti dengan ucapan mu. "Jasmine terlihat mengerutkan dahinya".
Nyonya Jasmine aku tahu ini mungkin bukanlah urusan kami. tapi sebagai Ayah Maggie, aku tidak terima jika Maggie harus mengalami semua ini dalam pernikahannya.
Aku tidak bisa melihat putriku menikah dengan pria yang akan memiliki dua Istri.Aku masih bisa menjaga Maggie dengan sisa tenaga ku, selama aku masih bisa bernapas tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitinya.
Maggie ayo, ikut pulang bersama kami nak! Jane mengusap lembut pipi putrinya, dia menatap Maggie dengan tatapan sendu.
tapi Ayah, Kau tidak tahu -
Ayah hanya memintamu pulang nak, kali ini saja tolong turuti Ayahmu. Jane menatap Maggie dengan air mata yang mulai meluncur bebas di pipinya.
Maggie menatap Aldrich dan Jasmine yang terlihat menggelengkan kepala.
Maggie dilanda kebingungan, ia tidak bisa mengabaikan orang tuanya ataupun kedua mertuanya.
Maggie tetaplah disini nak, Kau tidak bisa meninggalkan Mommy nak. Jasmine menggenggam erat tangan Maggie.
Maafkan aku Mommy, aku harus menjelaskan semua kepada Ayah dan Ibu.
untuk saat ini, mungkin ada baiknya jika aku berada di rumah Ayah.
Jasmine menggeleng keras, genggamannya kian mengerat pada tangan Maggie.
Maggie cepatlah sayang!
Suara Jane kembali menginterupsi kedua mertua dan menantu itu.
Maggie melepaskan tangan Jasmine dengan berat hati, terlihat Jasmine berusaha mempererat genggamannya namun Maggie berusaha melepasnya.
Daddy tolong jaga Kak Maxim untukku, Mommy aku mohon jangan membuatku semakin berat untuk pergi.
Jasmine kembali terisak, dia semakin banyak mengeluarkan air matanya itu.
Aldrich menahan bahu Jasmine yang hampir saja terjatuh ,saat Jasmine benar benar tidak bisa menahan Maggie agar berada di Mansion nya.
*
Maxim membuka perlahan matanya, sekelebat pria terjatuh dan menyentuh aspal kembali berputar di kepalanya.
Pria yang terbaring itu menyebut nama Maggie sesaat sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Maggie.... mengapa nama itu yang ada dalam ingatan ku, dan siapa pria yang tergeletak di trotoar jalan itu. Apakah itu aku ?
Maxim bangkit dan keluar dari ruang kerjanya, dia turun dan melihat kedua orang tuanya. Jasmine menangis dan Aldrich sedang berusaha menenangkannya .
💋💋💋
See you ❤
Terima Kasih untuk kalian Semuanya .Terima Kasih untuk bentuk dukungannya baik like, komen dan vote nya sejauh ini.