
Tiffany ada apa, Apa Kau tidak suka dengan menu makanannya? " Daniel menatap Tiffany dengan alis menyatu.
Tiffany menggelengkan kepalanya, tangannya hanya memainkan makanan yang tersaji di piring.
"Lalu, kenapa tidak Kau makan?" Daniel kembali meneliti raut wajah teman barunya itu.
"Aku tidak tahu kabar tentang nyonya Maggie, dia pergi ke luar negeri seorang diri.Aku dan bibi ikut terlibat dalam rencana kepergian ini. bagaimana jika nanti Tuan Maxim marah dan memecat ku? " Tiffany menelan kasar saliva nya, dia sibuk berdialog dengan suara hatinya.
"Kau pasti tengah melamun yang tidak tidak kan?"Daniel menggeleng melihat Tiffany terus saja sibuk dengan lamunannya.
"Apa, apa maksudmu?aku tidak berpikiran kotor, aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja". Tiffany membuang tatapannya ke arah lain, saat Daniel menatap lekat dan teramat dekat dengan wajahnya.
Tiffany memotong stik dan memasukan ke mulutnya, Tiffany kesal karena Daniel terus saja melihat gerak gerik dirinya.
Daniel meletakan alat makan di tangannya, dia sedikit memajukan duduknya agar bisa menggapai Tiffany.
Tiffany tertegun saat Jemari Daniel mengusap sisa makanan yang mengotori sudut bibirnya,Daniel dengan perlahan membersihkannya. Tiffany diam seribu bahasa, keringat dingin melandanya. Tiffany merasa gugup akan semua perlakuan manis Daniel padanya.
**
Jasmine mengingat akan permintaannya pada Maggie saat hari dimana Maxim dan keluarganya hampir saja di permalukan.Jasmine ingat jika dirinya yang memohon pada Maggie atau lebih tepatnya memaksa Maggie agar menyelamatkan kehormatan keluarga besarnya.
"Jasmine ada apa?" Aldrich mengelus pelan lengan istrinya itu.
"Aku merasa bersalah pada Maggie, dia menjadi Istri Maxim karena permintaan dariku.aku malu jika mengingat hari itu, sungguh aku tidak memikirkan apapun, saat itu yang aku pikirkan adalah kehormatan Maxim.aku merasa menjadi ibu mertua terburuk yang pernah ada".Jasmine tertunduk lesu mengingat hari dimana dia menempatkan Maggie sebagai pengganti Anna, Wanita yang hampir menghancurkan dan mempermalukan Maxim di depan relasi yang menjadi tamu undangan.
"Aku sangat mengerti perasaanmu Jasmine,jika orang lain berada di posisimu atau mungkin aku yang berada di dalam situasi seperti saat itu. hal yang sama pasti akan aku lakukan,Semua Orang Tua tidak ingin menempatkan anak anaknya dalam lubang kesedihan. Kau Ibu terbaik untuk Maxim sejauh yang aku tahu,Maxim tidak pernah mengeluh pada kita tentang hubungannya bersama Maggie. Anggap saja putra kita bahagia, dan itu karena Kau telah berhasil memilih wanita yang tepat untuk putra kita"Aldrich mengusap air mata Jasmine dengan tangan kokohnya.
Jasmine hanya mengangguk mengiyakan.
**
Maxim menggosok telapak tangannya yang kedinginan, dia melirik dengan meneliti satu persatu pengunjung kafe yang tengah di datangi.
"Cuacanya benar benar tidak mendukung, bagaimana bisa aku mencari Maggie dengan keadaan hujan lebat seperti ini".Maxim menghembuskan napas kasarnya.
Maxim yang mulai bosan menunggu hujan reda memutuskan untuk keluar menerjang hujan yang tak kunjung berhenti sejak dua jam yang lalu.
Maxim berdiri sembari membawa selembar foto Maggie yang telah dia cetak, Maxim tidak bisa hanya diam dan duduk menunggu hujan yang entah kapan akan mereda.
Bruk.
Langkah Maxim terhenti karena Maxim menabrak seorang wanita yang bertubuh gempal .
"Maafkan aku Nyonya, aku sedang, terburu buru tadi. aku tidak memperhatikan sekitarku".
Tolong Maafkan aku!
"Tidak apa, aku juga bersalah karena tidak memperhatikan langkah kakiku karena aku sibuk bermain ponsel".
Wanita itu meraih poto yang terjatuh di lantai,kening wanita bertubuh gempal itu mengerut saat melihat foto yang di ambilnya.
"Bukankah ini Maggie ?" gumam Nyonya Sarah.
Siapa sebenarnya pria di hadapan ku ini?Mengapa dia memiliki foto Maggie?
Nyonya Sarah sibuk menerka dalam isi kepalanya, dia lalu mengembalikan foto itu pada Maxim.
"Ini milikmu tuan" Nyonya Sarah memberikan foto itu pada Maxim.
Maxim menerimanya, dia segera menyimpan foto itu ke dalam saku kemejanya.
Maxim akan melewati Nyonya Sarah, namun ia kembali menahan langkah kakinya.
Nyonya, apa kau tidak keberatan jika aku meminta bantuan mu?
Nyonya Sarah tampak berpikir, hingga dia memutuskan untuk membantu Maxim. entah mengapa Nyonya Sarah merasa, dirinya harus membantu Maxim.
Apa Kau pernah melihat wanita yang ada dalam foto ini?
"Bolehkah aku tahu, untuk apa Kau mencari wanita yang ada di foto itu?" Nyonya Sarah memicingkan mata.
Wanita dalam foto itu adalah Istriku,kami berselisih karena sesuatu hal.
Apa Kau mencintai Istrimu itu tuan?
Iya, aku sangat mencintainya.namun, aku belum sempat mengatakan itu padanya.
"Ah, Maafkan aku Nyonya. Aku terlalu banyak bicara" Maxim segera mengusap kasar air mata sialan yang hampir menetes di wajah tampannya.
Nyonya Sarah melihat tindakan Maxim, seulas senyum dia berikan pada Maxim.
Aku belum pernah melihatnya. namun,
"Namun apa Nyonya? "Kini Kening Maxim lah yang mengerut.
"Begini tuan, kebetulan aku memiliki toko bunga. ini alamatnya, datang saja besok pagi".Nyonya Sarah memberikan Kartu namanya pada Maxim.
Tapi Nyonya aku tidak sedang memerlukan bunga,aku sedang mencari Istriku.
Nyonya Tunggu!
Hai,
"Astaga Aneh sekali, aku meminta bantuan pada orang yang salah.dia malah mempromosikan Toko Bunga nya sendiri" Maxim melenggang pergi dari Kafe.
**
Maggie menguap, dia menahan kantuk yang mulai menyapa kedua bola mata sewarna madu miliknya itu.Maggie masih betah memandangi potret Maxim yang di pegang nya.
Maxim kembali ke apartemen tempat dirinya menginap, Maxim membuka seluruh pakaiannya yang sudah basah kuyup terkena hujan.
"Apa yang sedang Kau lakukan di sana Kak? " Maggie memejamkan matanya, dia membayangkan senyum tampan Maxim.
"Hah,Aku merindukan mu Maggie" Maxim mengecup foto Maggie dengan membayangkan jika Maggie benar benar di hadapannya.
Maggie segera membuka matanya, pandangannya meneliti seisi kamar. Maggie memegangi tengkuknya, dia benar benar seolah mendengar Maxim memanggil namanya.
Mengapa Kau selalu mengganggu ku Kak?, bahkan saat aku memutuskan untuk menjauhi mu,bayanganmu selalu datang, seolah menghantui tidur malam ku.
Ya Tuhan,Aku bahkan tidak pernah merasakan tidur dengan tenang selama di sini.
Maggie mengusap pipinya yang telah basah air mata tanpa di sadari.
"Aku pikir dengan menjauh darimu, akan memudahkan ku untuk melupakanmu. namun, yang terjadi malah sebaliknya".Maggie mengusap wajah Maxim yang tersenyum dalam foto.
Maxim mengecup foto Maggie, dia tersenyum menatap foto Maggie dan mulai memejamkan matanya.
Sekelebat ucapan Wanita bertubuh gempal yang di temui di kafe, membuat Maxim mengurungkan niatnya untuk tidur.
Maxim bangkit dan meraih kartu nama yang di berikan wanita itu.
"Aku tidak tahu mengapa? tapi aku rasa, ucapan Wanita itu seolah memberiku sebuah teka teki".Maxim membaca kembali kartu nama itu.
"Baiklah, aku akan mengunjungi Toko Bunga itu besok pagi.Setidaknya itu akan menghilangkan rasa penasaranku" Maxim menyimpan kembali kartu nama Nyonya Sarah.
Maxim mematikan lampu kamarnya, dia merebahkan tubuh kokohnya.
Malam itu hujan tidak mereda sedikitpun, ia terus menyambangi bumi hingga dini hari.
...