
Maggie sayang ada apa nak? Kau melamun sejak tadi, bahkan Kau terlihat sedang banyak pikiran. "Jane menepuk pelan bahu Maggie putri semata wayangnya".
Tidak Ibu, Aku hanya memikirkan Kak Maxim saja. dia sedang sakit, jadi aku tidak tega meninggalkannya terlalu lama.
Jane mengangguk mengerti, ia lalu membelai pipi Maggie.
Ibu bangga padamu nak, Kini Kau jauh lebih dewasa dari sebelum Kau menikah. "Jane tersenyum".
Maggie tersenyum mendengar ucapan sang ibu.Maggie merasa lega sudah menceritakan semuanya, dari awal mula mereka terpaksa menikah.sebab Maggie harus menggantikan posisi Anna, yang memilih meninggalkan Maxim sendirian di pelaminan. Maggie tidak benar benar menceritakan semuanya, satu hal ia rahasiakan dari Jane, yaitu tentang surat perjanjian antara dirinya dan Maxim.
"Ibu, aku sudah terlalu lama di sini. Aku akan datang kembali nanti, apa Ibu mengijinkan ku pulang? ".
Jane tersenyum ia lalu mengangguk antusias.
Kau bisa kemari jika Suami mu sembuh nanti, Ibu juga harus mengurus Ayahmu. Kesehatan Ayahmu sedikit memburuk, karena musim hujan di sini sudah mulai menyambangi New York.
Maggie melangkah mendekati Ayahnya ,yang terbaring sama seperti Maxim. namun bedanya, Ayah Maggie sakit karena faktor cuaca, sedangkan Maxim karena terlalu banyak mengkonsumsi Alkohol.
Ayah Cepatlah Sembuh! " Maggie mencium kening Louis ".
"Aku pergi Ibu. Dah Ibu "
Maggie melambaikan tangannya dari balik kaca Taxi yang ia pesan.
🔥🔥🔥
Maggie menyalakan ponselnya, ia mengerutkan dahi saat, terdapat 23 kali panggilan tak terjawab dari Zavier. Zavier menghubunginya, namun Maggie lupa jika ponselnya dalam mode silent.
Pak tolong percepat laju kendaraannya. "Maggie menatap cemas pada layar ponselnya, ia bertambah cemas saat Zavier tidak bisa ia hubungi kembali".
Maggie berlari masuk saat sudah sampai di halaman Mansion, ia berlari dengan tergesa .
Maggie berhenti tepat saat berada di ambang pintu tempat Maxim terbaring, Kamar Clara.
Zavier menatap Maggie yang tengah menyeka keringatnya.
Maaf nona, Saya telah membuat anda Khawatir. "Zavier menundukkan kepalanya".
Maggie menggeleng keras.
Tidak apa, ada apa Kau tadi menghubungiku Zavier? "Maggie masih berusaha menormalkan deru napasnya ".
Tidak nona Maggie, bukan apa apa. Tuan muda Maxim baik baik saja, namun dia terus memanggil namamu hingga berulang kali. "Zavier mendongak melihat wajah Istri Bos mudanya itu".
Apa? Benarkah? " Maggie menatap ke arah Zavier dengan kerutan di dahinya ".
Zavier mengangguk, ia lantas berpamitan pada Maggie untuk kembali bekerja.Maggie mengiyakan ucapan Zavier dan membiarkan Zavier kembali bekerja.
Maggie menghampiri Maxim.Perlahan ia memberanikan diri untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang Maxim.
Aku merindukanmu Kak, Sungguh. "Maggie menatap Maxim dari tempat kepalanya bersandar, Maggie yang memang sudah merindukan Maxim menatap Maxim dengan tatapan yang sulit di artikan".
Maggie yang berniat mencium bibir Maxim terkejut mendengar dering ponsel Miliknya.
Astaga,mengagetkan saja !"Maggie menggerutu kesal".
Elsa..
Maggie mengangkat panggilan Elsa dan menjauh menuju balkon, Maggie tidak ingin menganggu istirahat Maxim.
Maxim sendiri masih betah dengan mata yang terus menutup itu.
Ada Apa El? "Maggie mengawali percakapan".
Maggie, ada kabar baik tentang Kakak."Suara Elsa terdengar riang dari seberang telepon".
Benarkah ,Kabar baik apa El? " Maggie tak kalah bersemangat menyahuti kabar baik tentang Leon ".
Kakak Sudah menggerakkan beberapa jemarinya, meskipun masih sekecil itu tapi aku bahagia Maggie. Sungguh aku dan Dr.Sarah saja sempat terkejut melihatnya semalam, dan sewaktu Dr Sarah memeriksa Kakak.
Dr. Sarah bilang padaku, jika fungsi motorik Kakak telah bereaksi kembali. "Elsa terdengar bahagia dari semua ucapannya".
Maggie apa kau bisa kemari? aku sangat ingin bercerita padamu Maggie?. "Rengek Elsa dari balik telepon".
Maaf El, aku sedang tidak di Singapore. Aku ada di New York."Maggie menggigit bibirnya sendiri".
Elsa mengerutkan dahi, Kau di New York? sedang apa Kau di sana Maggie. Mengapa Kau tidak mengajakku? aku juga merindukan New York. "Elsa mendengus kesal".
Kau benar Maggie, sayangnya Aku masih harus menjaga Kakak. "Elsa menekuk wajahnya" .
"Maggie, jangan Pergi..
Maggie, tunggu aku. "
Maggie...
Maggie mengerutkan dahi, ia memutar kepalanya menatap ke arah Maxim yang terbaring.
Apa aku tidak salah dengar? Kak Maxim mengigau namaku."gumam Maggie dalam hati".
"El nanti aku matikan dulu yah, Kak Maxim sedang sakit. Aku akan melihat keadaannya dulu ".
Maggie mematikan ponselnya, ia kembali
masuk ke dalam Kamar.
🔥🔥🔥
Maggie duduk di sebelah Maxim, Maggie mengulurkan tangannya menyentuh wajah Maxim.
Astaga panas sekali, Kak Maxim Demam tinggi.
Maggie keluar kamar, ia memanggil Zavier untuk meminta Zavier membawakan Dokter ke Mansion .
Zavier bergegas melaksanakan perintah Atasannya itu, ia segera menjemput Dokter pribadi keluarga Mansion ini.
Maggie kembali ke kamar, ia melangkah dengan raut wajah cemas yang sangat terlihat.
Kak Maxim mengapa Kau sampai seperti ini?
Maggie mengelus wajah Maxim dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Maggie, Jangan Pergi!
Maafkan aku Maggie, Maafkan aku ". kembali Maggie mendengar Maxim mengigau namanya.
Kak Maxim aku tidak akan Pergi, aku ada di sini Kak. "Maggie menggenggam jemari Maxim ".
Maxim berhenti mengigau, namun Maxim masih memejamkan matanya.
Maggie mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya, dia melangkah meninggalkan Maxim dan membuka pintu.
Zavier dan Seorang Pria paruh baya mengenakan Pakaian Dokter berdiri di balik pintu.
Maggie mempersilahkan Dokter itu untuk memeriksa Maxim.
Dokter itu mulai memeriksa Maxim, Maggie memperhatikan semua ucapan Dokter itu yang tengah berbicara padanya.
🔥🔥🔥
Maggie melepas atasan yang ia kenakan, dia benar benar ragu untuk melepaskannya. Maggie mengingat ucapan Dokter tadi, jika metode Skin to Skin lebih ampuh untuk menurunkan Demam yang kelewat panas seperti yang terjadi pada Maxim.
Maggie lalu menoleh pada Maxim yang masih belum membuka matanya, Maggie lalu mematikan lampu kamarnya.
Maggie membuang kasar napasnya. ia kini telah melepas semua kain yang melekat di tubuhnya tetapi menyisakan pakaian dalam.
Maggie memberanikan diri, mendekatkan tubuhnya pada Maxim hanya mengenakan celana pendek.Maggie dan Maxim memakai satu selimut yang sama.
Maggie mencoba memeluk Maxim, panas tubuh Maxim langsung dapat Maggie rasakan.
Maggie menatap rahang kokoh Maxim, dia merangsek memeluk Maxim. meski Maggie sangat malu untuk melakukan semua ini, tapi demi kesembuhan Suaminya. Maggie melawan rasa malunya, ia menetralisir rasa gugupnya ketika merasakan kehangatan dalam posisi seperti ini.
..
Jangan lupa, like komen dan vote yah.
See You ❤