You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 56



Maxim memandangi gelap malam yang kian pekat, suara guntur bergemuruh dan kilauan petir menandakan akan terjadi hujan yang begitu lebat.


Maxim menoleh ke arah pintu kamar, tidak ada tanda tanda jika Maggie akan kembali. Maxim bahkan sudah menunggunya sejak tadi, dia mulai merasa gelisah karena waktu telah menunjukkan 10.00 malam.


Maxim menyingkirkan egonya kali ini, dia mencoba menghubungi Maggie. namun,samar samar Maxim mendengar dering ponsel Maggie di Walk in Closet.


Maxim mengikuti indera pendengarannya, Maxim sedikit lega karena berpikir Maggie mungkin berada di sana.


Maggie, Kau..


Maxim tak menemukan Maggie, hanya ponselnya saja yang tergeletak di nakas.Maxim meraih ponsel Maggie, dia mencoba mencari petunjuk di ponsel itu.namun, tidak ada yang Maxim dapatkan.


Maxim semakin merasa cemas, saat hujan mulai mengguyur Singapore dengan begitu lebatnya disertai angin dan petir.Maxim tak memikirkan dirinya sendiri, dia bergegas mengendarai mobil dan mencari Maggie di sepanjang jalan. pikiran Maxim berkecamuk, dia benar benar takut jika Maggie benar benar meninggalkannya.


Maxim menghentikan kendaraannya, saat di depannya banyak kendaraan yang berbaris entah karena apa. Maxim menggerutu karena dirinya ikut terjebak di kemacetan ini.


Maxim menekan beberapa kali klakson mobilnya, berharap ia bisa melewati segera jalanan ini. Maxim yang di landa rasa penasaran,bertanya pada pejalan kaki yang akan melewati mobilnya.


"Tuan Tunggu, apa kau tahu penyebab kemacetan panjang ini?". ucap Maxim setelah kaca mobilnya terbuka.


Aku rasa ini Kecelakaan Tuan, tadi terlihat seorang wanita muda tergeletak bersimbah darah. aku rasa wanita itu berniat mengakhiri hidupnya sendiri,ia sengaja berdiri di tengah jalan hingga akhirnya dia tertabrak karena cuaca hujan seperti ini membuat beberapa pengendara tidak terlalu fokus.


Deg...


Maxim seolah merasa jantungnya di tusuk,tangannya bergetar hebat.bahunya menegang, Kakinya melangkah dengan sendirinya. otaknya seolah memaksa dia untuk melihat korban kecelakaan itu, hatinya berdoa semoga itu bukanlah seseorang yang tengah di carinya.


Maxim memberanikan dirinya menembus kerumunan, Semakin Maxim mendekat semakin besar pula ketakutannya. Maxim yang berhasil menembus kerumunan, tidak dapat melihat dengan jelas karena seperti yang di katakan pejalan kaki itu. Tubuh Wanita itu bersimbah darah, dan wajahnya tidak dapat di kenali.


Maxim terdiam seribu bahasa, ia memikirkan cara bagaimana ia dapat mengenali ciri ciri Maggie. Maxim teringat tentang,cincin pernikahan mereka berdua.


"Aku tidak akan melepaskan cincin pernikahan kita Kak,sampai kapanpun dan aku berjanji untuk itu ".


Maxim mendekati para petugas yang tengah mengamankan lokasi kecelakaan, Maxim mendekati mayat wanita itu dan melihat kedua jari tangan wanita itu. tidak ada cincin tersemat di jari wanita itu.


"Apa Kau mengenal korban Tuan? "


"Ah, Tidak aku hanya memastikan sesuatu.maaf telah menganggu tugas anda".


Maxim melangkah kembali dengan perasaan yang sedikit lega. namun, Maxim masih berpikiran yang tidak tidak ia hanya takut Maggie mengalami hal serupa seperti itu.


"Tidak Tidak Maggie bukan Wanita lemah, dia tidak akan melakukan hal konyol seperti itu".Maxim menyakinkan dirinya sendiri dengan berharap jika Maggie akan segera ia temukan.


**


Maxim tertidur dengan kelelahan, kepalanya terasa berat. Maxim bahkan mengalami flu, karena semalaman dia menerjang hujan dan mencari Maggie.


Maxim tidak menemukan Maggie hingga dini hari, Maxim terbaring di sofa. Maxim menggigil kedinginan, dia mengigau nama Maggie.


**


Di lain tempat, Maggie tengah sibuk mengurus pekerjaan barunya. beruntunglah ia karena Maggie bekerja sebagai perakit bunga. Setidaknya Maggie tahu banyak hal tentang bidang ini, karena orang tuanya juga penjual bunga.


Maggie, Tolong antar kan pesanan ke alamat ini.Maggie membaca sekilas alamat yang di berikan untuknya, Maggie tersenyum dalam hati saat melihat sepeda yang akan di gunakan untuk dirinya sebagai alat transportasi.


"Untung Saja Clara pernah mengajariku, jika tidak. mungkin saja aku akan menyesali nya, karena mulai hari ini Sepeda akan menjadi teman dan alat transportasi ku ".gumam Maggie.


Maggie mengayuh sepedanya, matanya dengan jeli melihat nama nama jalan yang di lalui. Maggie mengikuti arah petunjuk plang plang jalan yang terpasang.


Maggie menyeka keringatnya, dia berhasil menemukan alamat si pemesan. Maggie kembali ke toko dan merangkai kembali bunga bunga yang beraneka rupa itu.


"Apa Kau merasa kesulitan Maggie?" Maggie menoleh saat Wanita bernama Sarah mengajaknya berbincang.


Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. jika ada kesulitan, hubungi saja aku menggunakan ponsel milik toko ini.


"Baik Nyonya "ucap Maggie disertai senyuman.


Nyonya Sarah pergi meninggalkan toko, dia mempercayakan toko ini pada dua orang pegawainya dan Maggie salah satunya.


**


Tiffany bagaimana ini bisa terjadi?


Bibi, aku juga tidak tahu. Saat aku menghubungi Tuan Maxim untuk rapat, dia tidak mengangkatnya sejak pagi. Lalu, aku meminta satpam kantor untuk mengecek keadaannya di rumah, lalu satpam itu menghubungiku dan keadaaan Tuan Maxim sudah seperti ini.


Jika Tuan Maxim seperti ini, apa mungkin dia sudah menyadari jika Maggie pergi dari Mansion ini? " Emma melihat wajah pucat Maxim.


"Bibi, aku rasa juga begitu " timpal Tiffany.


Maxim terpaksa di bawa ke Rumah Sakit, demamnya begitu tinggi dan akan lebih baik jika dia berada di Rumah Sakit karena akan ada Suster dan Dokter yang berjaga.


Sekiranya itulah yang ada dalam pemikiran Seorang Emma, mantan sekretaris Maxim.Emma yang terbiasa bekerja dengan Maxim, telah menganggap Maxim seperti putranya sendiri.


**


Manik hitam Maxim perlahan terbuka,aroma obat obatan menyapa indera penciuman Maxim.Maxim memegangi kepalanya sendiri, Maxim mengedarkan pandangannya.dahinya mengerut, saat menyadari dirinya berada di ruangan serba putih. sedangkan, seingatnya dia tengah berada di sofa Mansion nya sendiri.


Maxim menyandarkan kepalanya dia kini setengah berbaring ,Maxim lalu tersenyum. Maxim mengira jika mungkin Maggie telah kembali ke Mansion,saat Maxim demam lalu Maggie membawanya kemari.


"Aku tahu Kau pasti tidak akan bisa menjauh dariku Maggie". batin Maxim bergumam.


Maxim mengernyitkan dahi dengan heran,cukup lama Maxim menunggu kedatangan Maggie.namun,hingga satu jam berlalu Maggie tak kunjung menampakkan diri.


Cekrek ...!!


Maxim menatap pintu yang terbuka dengan tergesa,kerutan di dahinya semakin dalam saat dia melihat kedatangan Emma.


Emma yang memasuki ruangan menangkap wajah datar Maxim ,saat dirinya telah masuk.


"Kau sudah bangun tuan,apa Kau merasa lebih baik?". Emma meletakan keranjang berisi buah di nakas.


"Apa Kau tahu siapa yang membawaku Kemari Emma?".


"Apa selama aku disini ,Istriku kemari?".


Emma menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Maxim menanyakan banyak hal padanya. Emma memilih mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kondisi Maxim.


"Tuan, Kau harus banyak banyak istirahat, makanlah buah buahan ini agar Kau lekas sembuh ". Ucap Emma yang hanya mendapatkan anggukan dari Maxim.


"Maaf Tuan, yang membawamu kemari Satpam Kantormu bersama Tiffany. namun, karena 3 hari ini Tiffany sibuk dengan pekerjaannya. jadi, aku menyempatkan diri menjenguk keadaanmu".Emma menundukkan kepalanya .


"Apa Kau bilang Emma, Aku disini selama 3 hari? "Maxim menatap tak percaya pada Emma.


Emma mengangguk mengiyakan.


"Astaga, lalu selama itu kemana Maggie pergi".Maxim membatin.


...


*Jangan Lupa Like, komen dan Vote yah.


See you ❤