
Maxim memejamkan matanya, dia mengabaikan Maggie karena masih merasa kesal.
Kak Maxim, aku membuatkan kopi untukmu !
Maggie meletakkannya di nakas yang teepat di sebelah Maxim ,Maggie menatap punggung Maxim yang tertelungkup.
Maggie memutari ranjang ,dia meraih satu bantal dan membawa nya menuju sofa. Maggie membaringkan tubuhnya di sana, ia berbalik memunggungi Maxim.
Keesokan paginya.
Maggie bangun karena haus, ia segera mengikat asal rambutnya dan pergi ke dapur. Maggie meraih gelas mengisi air itu dengan air putih.
Bersiaplah, kita akan pulang!
Suara Maxim membuat Maggie hampir tersedak.Maggie lalu memilih mengangguk, dia tidak tahu harus bagaimana. mengingat kejadian semalam membuat Maggie enggan memancing emosi pria itu.
🔥🔥🔥
Maggie dan Maxim berada di parkiran halaman Apartemen Maxim. kebiasaan Maxim yang selalu keluar dan lebih dulu meninggalkan Maggie di mobil sudah tak asing lagi untuk Maggie.
Hah...
helaan napas panjang Maggie terdengar, Maggie keluar dan mengikuti Maxim yang sudah terlebih dulu melangkah .jarak mereka belum terlalu jauh, Maggie berjalan dengan santai. ia merasa lelah karena perjalanan jauh mereka, di tambah sikap pria itu yang kembali acuh padanya.
Maggie... !
Suara bariton lain terdengar menggema di koridor Apartemen. Maggie yang merasa memiliki nama itu pun menoleh, Maggie mengernyit saat mendapati Chris berdiri tak jauh darinya.
Maxim sedikit menoleh, ia hanya menatap lelaki itu sekian detik lalu kembali berjalan.
Maggie, hai! bisakah kita duduk dan mengobrol dulu sebentar? "Chris memasang wajah memelas nya".
Maggie memutar malas bola matanya, Ia tahu Chris menguras emosinya.Maggie melirik ke arah Maxim ,sepertinya pria itu tidak peduli dengan Chris yang mencoba mengajaknya mengobrol.
"Ayo lah, Apa yang kau tunggu? "Suara bising Chris kembali menyeruak telinga Maggie.
Maggie memijat dahinya, dia lalu mengiyakan permintaan tetangga Apartemennya itu.
Maggie dan Chris duduk di teras Apartemen yang multi fungsi dengan bangku dan taman buatan di sekitar Apartemen.
Maggie Apa tadi itu kakak mu?" Chris kembali membuka percakapan".
"Dia suami ku", Maggie segera menutup telinganya ,ketika Chris hampir membuat gendang telinganya sakit karena teriakan nya itu.
"Apa??" Chris dan teriakannya.
"Maggie menatap tajam ke arah Chris". Kecilkan suara mu Chris,Kau berisik sekali !
Maaf aku hanya terlalu kaget saja ! aku tidak menyangka ,tetanggaku Istri seorang pengusaha ternama di New York itu .
Maggie ,sebelumnya aku tidak tahu kalau kau Istri dari Pengusaha kaya itu .Aku selalu menonton berita tentangnya,namun Anna James dulu kekasihnya bukan .aku selalu melihat berita tentang mereka.
Maggie diam mendengarkan Chris berkomentar.
Lalu kapan kalian bertemu dan memutuskan menikah? Chris berceloteh tiada henti.
Maggie kembali diam ia sedang mencerna semua pertanyaan Chris .
Apa kau dan pria itu menikah karena perjodohan? Atau Kau dan dia memiliki skandal?
Apa kau merebut pria itu dari seorang Anna James? jika benar itu sungguh prestasi yang luar biasa.
Maggie kemudian membenarkan dalam hati ucapan Chris. bukankah Maxim memang terpaksa menikahinya, untuk menyenangkan hati Jasmine Ibunya.
tapi di detik selanjutnya ia menatap kesal pada Chris.
Aku bukan perusak hubungan orang Chris, dan jika kau tidak tahu yang sebenarnya lebih baik diam lah.
Maggie hendak bangkit meninggalkan Chris, namun tangannya tertahan oleh tangan Chris .
Maxim menatap tajam ke arah bangku taman, tepat Maggie dan Pria yang tidak di kenalnya duduk mengobrol. Maxim dapat melihat tangan Chris berusaha menahan tangan Maggie yang hendak pergi.
Maxim mengeratkan cengkeramannya pada besi yang menjadi pagar balkon Apartemennya.
Maggie apa kau mau ikut bersamaku? "Chris menyodorkan sebuah tiket untuk Maggie ".
tidak "Maggie kembali hendak melangkah.
Hai ,sudahlah jangan terlalu memikirkan perkataan ku! .Aku tidak bermaksud untuk membuatmu berpikiran buruk tentang pernikahan kalian.
"Maggie menundukkan kepalanya,ia enggan memikirkan ucapan Chris tapi ia juga tidak bisa membantah kenyataan yang ada".
Chris menatap tidak enak hati pada Maggie ia sungguh tidak bermaksud membuat Maggie bersedih.
Maggie, aku -
"Chris lain kali saja kita bahas ini, aku sangat lelah."
Maggie melenggang pergi meninggalkan Chris sendirian,Chris menatap punggung Maggie yang sedikit bergetar.
🔥🔥🔥
Maggie yang tengah membaca buku menoleh,dia menatap heran pada Maxim .
Dia siapa?" Maggie balik bertanya".
Maxim melipat tangannya di depan dada,ia melangkah ke arah balkon.
Pria yang mengajak mu mengobrol siang tadi .
Maggie menutup bukunya, ia menjerit kaget saat tiba tiba hujan dan petir menyambangi Singapore.
Maggie berlari ke arah Maxim dengan kencang dan tanpa sengaja kakinya tergelincir.
Ahh..
Maxim menoleh dan dengan gerakan cepat dia berlari ke arah Maggie menangkap tubuh Istrinya itu.
"Maggie menatap wajah Maxim yang berada tepat di depan wajahnya, tangan Maxim menahan pinggang dan tubuhnya."cukup lama Maggie dan Maxim dalam posisi seperti itu ,hingga bunyi bel yang berbunyi membuat keduanya saling memutuskan kontak mata.
Maxim berjalan membuka pintu, sebuah buket bunga tergeletak di depan pintu. dia meraih buket bunga itu, "Sorry " kalimat yang terselip di buket bunga.
Maggie mengernyit saat Maxim memberikan bunga itu padanya. dari Kekasihmu?
Maxim merebahkan tubuhnya di ranjang,dia berbalik memunggungi Maggie. Maggie menjauhkan bunga itu dari indera penciumannya, dia membuangnya ke tong sampah .
Hacih....
Hacih....
Maggie hendak berjalan menuju ranjang, setelah menjauhkan bunga yang membuat ia alergi. Maggie alergi dengan bunga Aster. meski Orang tuanya memiliki lahan bunga yang luas dan menjadi pemasok bunga, namun itu tak bisa mengubah alergi yang menjadi tabiatnya sejak kecil.
Kak Maxim... ! "Maggie tiba tiba berteriak karena listrik di Apartemennya mendadak padam".
Ck. ada apa? Maxim berdecak kesal, ia membuka matanya, gelap itulah yang Maxim tahu.
Kak Maxim aku takut! Maggie kembali merengek ketakutan.
"Maxim mengulum senyum,Maxim menduga jika Maggie terkadang memiliki sisi cengeng tersendiri".
Ada apa? Maxim berucap datar, ia mendadak ingin menjahili Maggie .
Kak Maxim aku sungguh takut, ruangannya gelap sekali!.
Maxim semakin di buat gemas ,saat suara Maggie menyiratkan ketakutan yang sangat kentara.
Kemari lah ! Aku ada di ranjang bukan, melangkah lah perlahan."Maxim kembali menyahuti Maggie".
Astaga!
"Maggie menggigit bibir bawahnya,dia memberanikan diri melangkah ke tempat Maxim".
Maxim duduk di ranjang, dengan mengulum senyum. bisa ia dengar,langkah Kaki Maggie menuju ke arahnya.
Dugg....
Maggie meringis, saat kakinya tersandung kaki ranjang yang tidak terlihat karena gelap.
Astaga sakit sekali! "Maggie mengusap wajahnya yang basah karena air mata".
Maxim mengernyit saat tidak mendengar suara Maggie. Dia menyalakan ponselnya dan sialnya baterai ponselnya lowbat.
Maxim beranjak dia menyingkap tirai yang menutupi jendela. dengan Seperti ini Maxim bisa melihat Maggie karena cahaya bulan.
Maxim mendekat dia berjongkok di hadapan Kaki Maggie, Maxim mengusap jempol Kaki Maggie yang berdarah.
"Ini hanya tergores sedikit, Maxim mengusapnya beberapa kali".
"Apa masih sakit?" Maxim mendongak, dia mendapat gelengan dari Maggie. Maxim dan Maggie kembali bertatap mata, Maggie mengingat dirinya yang hanya mengenakan kemeja pria itu, sungguh ia merasa risih dengan posisinya saat ini.
Maggie lalu membuang tatapannya terlebih dulu, Maxim kembali menunduk namun ia membulatkan matanya .saat melihat paha mulus Maggie terpampang di depan matanya, Maxim menelan kasar saliva nya.
Maggie mengenakan kemejanya lagi, dan Maxim baru menyadari itu.
Maxim bangkit dia duduk ke arah ranjang, Maggie yang masih ketakutan merangsek dengan tergesa mengikuti Maxim naik ke ranjang.
Maxim yang tidak siap, dia tidak bisa menahan tubuh Maggie yang tiba tiba merangsek ke pelukannya.
Cup
Bibir Maggie dan Maxim bertubrukan, Maggie melebarkan matanya. Maxim membeku, dia diam menatap Maggie yang kini berada di atasnya.
💋💋💋
Like komennya ditunggu...
Maaf banget kemarin ga sempet up karena ga ada waktu buat ngetik.🙏
See you ❤