You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me ~Part 44



Seorang pria mencurigakan yang bersembunyi di balik tirai, mendengarkan dengan seksama percakapan antara Maxim dan petugas polisi itu.


Tuan Maxim,kami telah menelusuri semua kecelakaan yang sempat menimpa anda ketika di Venesia. Pelakunya tak lain adalah suami dari wanita ini, dia Lesley Istri dari mendiang Tuan Arnold.


Apa? Istri?


Jadi Arnold dan Anna, -


Kami baru menikah dua bulan yang lalu, Kami berniat mengatakan semuanya pada Anna namun Kami tidak memiliki keberanian.


Lesley tertunduk lesu, wanita itu menatap ke arah lantai seolah takut saat dihadapkan pada Maggie dan Maxim seperti ini.


Untuk pria yang menabrak Tuan Maxim di Venesia, itu tak lain adalah Tuan Arnold dan Nona Anna. Mereka bertengkar dan kehilangan kendali sehingga tanpa sengaja mengenai Tuan saat berada di trotoar jalan.


Nona Lesley telah menceritakan semuanya pada Kami, dan Untuk kematian nona Anna kami menganggap kasusnya telah selesai. Nona Anna adalah Buronan kami saat di Venesia, dia dengan sengaja mencoba menghilangkan nyawa Tuan Arnold.


Nona Lesley sebagai saksi di tempat kejadian, dan Untuk kasus Nona Anna. anda tidak harus merasa bersalah karena memang Nona Anna telah melakukan banyak tindakan kejahatan. Nona Anna membawa kabur sejumlah uang milik pengusaha ternama Victor Wong, Nona Anna juga terlibat dalam kasus penipuan dan dia hendak mengelabuhi Anda Tuan Maxim. Maka dari itu, kami melakukan pencarian hingga ke New York.


Semua orang yang berada di ruangan itu begitu terkejut dengan kabar yang mereka terima.


Pria yang bersembunyi di balik tirai itu memutuskan untuk pergi, bersamaan dengan itu petugas polisi yang datang bersama Lesley juga pergi dari ruangan Maxim.


*


Satu Minggu kemudian.


Maggie mengaduk segelas teh yang telah ia campur dengan Lemon.Maggie yang sudah terbangun pagi itu, memutuskan untuk membangunkan Maxim.


Maxim sendiri tengah beristirahat di kamarnya, Maxim tak mengalihkan sedikitpun tatapannya pada Maggie . Maggie meletakan segelas teh yang sama dengan yang ia minum untuk Maxim.


"Selamat Pagi Kak" aku membawakan teh untuk mu,Minumlah selagi teh nya masih hangat.


Maxim bangkit dia memandangi Maggie dengan intens, Maxim menepuk ranjang di sebelahnya.


Kemari lah, temani aku!


Ini Sudah Siang, Mengapa Kau bermalas -malasan seperti ini?


"Aku lapar " Maxim menatap Maggie dengan bibir yang sudah ia manyun kan.


Maggie beringsut menjauh saat Maxim semakin mendekat ke arahnya.


Maxim sudah berada di hadapan Maggie, Maxim menempelkan bibirnya di pipi Maggie.


Maggie mencegah Maxim yang akan mengecup bibirnya dengan tangan.


Kak Maxim apa yang kau lakukan? Bi.. bisakah Kau sedikit menjauh dariku? a.. aku tidak nyaman dengan bau keringatmu?


Maxim mengernyitkan dahinya, tanpa Maxim sadari Maggie mengulum senyum saat Maxim mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri.


Bukankah Kau selalu menyukai bau keringat ini,apalagi saat kita berolahraga di malam hari.


"Maxim menatap Maggie dengan seringai nakal" Kau hanya mengerjai ku kan ? .


Maggie menggeleng, dia kembali memasang wajah memelas nya untuk meraih simpati Maxim.


Kak Maxim aku benar benar tidak nyaman dengan bau tubuhmu, Kau membuatku ingin muntah.


"Apa? "Maxim menatap tidak percaya pada Maggie, lagi lagi dia mencium aroma tubuhnya sendiri.


Kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu, Maggie hanya menganggukkan kepalanya.


Maggie menyentuh mulutnya, dia merasa benar benar ingin muntah setiap Maxim mendekat ke arahnya.


Awalnya Maggie hanya ingin mengerjai Maxim, namun dia malah merasa Mual setiap kali Maxim mencoba mendekatinya.


Maxim selesai dengan ritual mandinya, dia tidak melihat Maggie di kamarnya.


Maxim tersenyum saat melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin, Maxim bahkan menyemprotkan begitu banyak parfum di tubuhnya.


Aku yakin kali ini, Maggie pasti akan betah berada di sampingku. Maxim kembali mencium aroma tubuhnya sendiri.


Astaga! Sepertinya aku terlalu banyak memakai parfum .Maxim menggosok hidungnya sendiri, Maxim merasa parfumnya begitu menyengat indera penciumannya.


Maggie yang baru saja memasuki kamar mengibaskan tangannya ke udara, mencoba menetralisir aroma maskulin yang memenuhi kamarnya.


Hai..


Maxim berjalan mendekati Maggie, Maggie menatap dengan kedua alis menyatu.


Stop!


"Jangan mendekat Kak Maxim ". teriak Maggie dengan menggerakkan jemarinya sebagai tanda.


Memangnya kenapa?


Maggie aku, -


Kak Maxim diam di sana, Jangan mendekatiku!


Kembali Maggie mencegah Maxim yang hendak melangkah ke arahnya.


Maggie menutup mulutnya, dia berjalan melewati Maxim .Maggie memuntahkan isi perutnya, namun tidak ada apapun yang keluar kecuali air liurnya sendiri.


Maggie membersihkan mulutnya,agar mengurangi rasa pait di dalam rongga mulutnya. Maggie menyalakan kran air dan berulang kali membasuh wajahnya.


Maxim berdiri di balik pintu kamar mandi, dia menunggu Maggie keluar dari kamar mandi.


Maxim hendak mengetuk pintu kamar mandi, tepat saat itu Maggie membuka pintunya.


Aww...


Kak Maxim, Mengapa Kau memukulku!


Aku tidak berniat melakukannya, aku tadi ingin mengetuk pintu lalu mendadak Kau membuka pintunya. Jadi aku tidak sengaja mengenai Kepalamu.


Sudahlah, Jangan mencari alasan Kak Maxim!


Menjauh lah, Jangan terlalu dekat denganku!


"Apa? " Maggie aku sudah mandi dan tidak ada bau keringat.


Maggie membulatkan kedua matanya dengan lebar.


Maxim mencoba memeluknya dari depan, dan saat Maxim benar benar mendekap tubuhnya.


Maggie tidak lagi bisa menahan rasa mual di perutnya, ia memuntahkan semua makanan yang telah dia makan saat sarapan tadi.


Sontak Maxim melepaskan dan menjauhkan tangannya dari Maggie saat Maggie muntah tepat di bajunya dan mengenai seluruh pakaian yang Maxim kenakan.


Astaga Maggie, apa Kau sengaja?


Maggie menatap dengan raut tidak enak pada Maxim, Maggie benar benar tidak tahu mengapa ia bisa bisanya memuntahkan semuanya tepat di tubuh Maxim.


Kak Maxim Maafkan aku!


Aku Sungguh tidak sengaja melakukannya, aku kan sudah bilang sejak tadi. Jangan mendekat tapi Kau tidak mendengarkan aku.


Maxim menatap tidak percaya semuanya benar benar mengenai bajunya, Maxim melewati Maggie untuk kembali membersihkan dirinya.


Maggie menggigit bibirnya sendiri, dia menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Maggie terusik saat mendengar ponsel milik Maxim berdering, diraihnya benda pipi itu.


Maggie menatap nama Emma tertera dengan jelas di sana.


Hallo ... "Selamat pagi Tuan".


Tuan Maxim ,Saya sudah mendapatkan pengganti asisten untuk menggantikan posisi saya.


"Selamat Pagi Emma, ini aku Maggie. Kak Maxim masih membersihkan diri, aku akan menyampaikannya pada Kak Maxim".


Maggie mematikan sambungan telepon dari Emma.


"Siapa? Maxim keluar dengan pakaian yang sudah ia ganti".


Emma menelpon dan dia bilang jika dia sudah mendapatkan asisten baru untukmu.


Baiklah, Kalau begitu aku akan pergi ke kantor!


Maxim yang masih setengah kesal pergi begitu saja, bahkan tanpa meminta ponselnya yang ada di genggaman Maggie.


Maggie menatap nanar punggung Maxim yang telah lenyap di balik dinding.


"Apa Kak Maxim marah padaku? "gumamnya kemudian.


Mengapa juga aku harus muntah tepat di tubuh Kak Maxim?


Dasar bodoh...bodoh...bodoh.... !


Maggie menggerutu tiada henti.


...


See You ❤


*author ucapkan banyak banyak Terima Kasih untuk semua doa kalian :)