
Maxim tengah memimpin rapat, bersama Maggie dan Karyawannya yang lain.
Sekretaris Maxim Emma ,terlihat mencatat semua perkataan Maxim. Maggie yang duduk di seberang Maxim mencuri pandang ke arah pria yang berstatus Suaminya itu.
Maggie terus menatapi wajah tampan Maxim, entahlah. dalam hati Maggie ia bahagia bisa melihat wajah Maxim dengan jarak sedekat ini, Maggie begitu betah menatap Maxim.
Maggie tersadar, saat mendengar gelak tawa beberapa Karyawan Maxim yang lain. Maggie menoleh ke semua orang, dia tersenyum canggung.
Maggie merasa malu tertangkap basah mencuri pandang pada Maxim. Maxim juga menatap tajam ke arahnya. Maggie Menundukkan kepalanya,dia mencoba menyembunyikan rasa malu nya dan mungkin rasa takutnya.
🔥🔥🔥
Maggie kini kembali ke Apartemen, dia tengah membaca buku di sofa dengan segelas Jus Jeruk di tangannya.
Maxim melewati Maggie begitu saja, dia terlihat rapi dengan setelan jasnya. mata Maggie tentu saja mengikuti langkah Maxim.Maggie ingin sekali menyapa pria itu, menanyakan kemana dan dimana pria itu tidur?
Sayangnya Maggie tidak memiliki keberanian itu, Maggie menatap sendu pintu Apartemen yang telah tertutup rapat.
Apa yang aku harapkan dari Maxim? bahkan melihat kehadiran ku saja,enggan di lakukan oleh pria yang menyandang status suaminya itu.
Maggie memilih masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuh lelahnya. Hatinya juga lelah, Maggie ingin menjalani kehidupan normalnya. Maggie bahkan merasa dirinya seperti robot,yang tidak pernah seceria dulu.Maggie ingin bisa berbincang dengan Maxim meski bukan sebagaimana Status mereka.
🔥🔥🔥
Maggie terbangun sangat pagi, dia memilih membersihkan dirinya.Maggie merasa dia membutuhkan udara segar, Maggie memilih berjalan jalan pagi di sekitaran Apartemen.
yang pasti Maggie membutuhkan kegiatan yang tidak monoton. Maxim? entahlah Maggie sendiri tidak tahu kemana perginya suami sementaranya itu.
Maggie berlari kecil dengan training Olahraga,kaos lengan pendek dengan handuk kecil yang ia letakkan di lehernya.
Maggie menyeka keringatnya, dia duduk di bangku yang ada di pelataran Apartemen.
Boleh aku duduk di sini? Maggie mengerutkan dahi,saat hidungnya menghirup parfum seorang pria. suara berat yang begitu asing di telinganya.
Maggie mendongak melihat uluran tangan seseorang.
Maggie lalu diam, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Perkenalkan Aku Chris , dengan senyum hangat yang di tampilkan pria itu Maggie menatap tangan Chris yang telah terulur tepat di depan wajahnya.
Maggie menghembuskan kasar napasnya. meski enggan berkenalan,namun Maggie tidak bisa bersikap tidak sopan pada orang lain.Maggie lalu membalas uluran tangan Pria itu.
Maggie ."Ucapnya dengan melepaskan tautan tangannya dari Chris ".
Chris menjatuhkan dirinya di sebelah Maggie.
Maggie tidak begitu menghiraukan Chris.
lagi lagi Chris mengajaknya berinteraksi.
Chris memberikan air mineral untuk Maggie. Kau terlihat lelah. Ambil lah!
Maggie menatap botol air mineral pemberian Chris di tangannya.
Jangan hanya menatapnya, aku tidak mencampurkan apapun pada minuman itu.
Maggie masih tak bergeming. dia hanya menatap botol itu cukup lama.
Chris meletakan botol itu di tangan Maggie, memaksa wanita itu untuk menerima air mineralnya.
Maggie menatap ragu, ia takut jika Chris bukanlah orang baik. Maggie melihat sekitar Apartemen. Cukup ramai, dia bisa berteriak seandainya Chris berniat jahat padanya.
Jika Kau masih ragu, Kau bisa tanyakan pada penjual yang ada di seberang apartemen ini. Aku tadi membelinya di sana, Sebelum aku kemari menghampirimu.
Maggie mengecek tutup botol yang memang masih tersegel, Maggie menatap Chris yang masih menenggak air di botol yang sama.
Maggie lalu memutar penutup botol, dia ikut menenggak air itu hingga tersisa separuh.Maggie mengerutkan dahi saat mendengar tawa seseorang.
Apa yang Kau tertawa kan? Maggie memicingkan matanya pada Chris karena tawa pria itu begitu lepas. Membuat beberapa pasang mata menoleh padanya.
Chris menghentikan tawanya. Tidak ada hanya saja, Kau yang membuat ku ingin tertawa.
Hahaha.....kembali gelak tawa pria itu menggelegar.
Maggie Mendengus Kesal. orang asing ini menertawakannya yang entah karena apa.
Melihat raut Kesal Maggie,Chris lantas menunjuk wajah Maggie.
Maggie mengernyit,satu alisnya terangkat.
apa? Maggie semakin tidak mengerti dengan alasan dibalik tawa Chris.
Chris jangan membuat ku marah. cepat katakan!
apa ada yang salah dengan wajahku? Maggie menahan amarahnya saat melihat Chris hanya diam dengan menahan tawa.
Chris menunjukkan ponselnya, dia menekan menu kamera menggantinya dengan kamera depan. Memberikannya pada Maggie.
kedua bibir Maggie tersenyum saat melihat maskara yang ia kenakan melebar kemana mana.
Chris memberikannya sapu tangan ,Maggie menerimanya.
🔥🔥🔥
Ting Tong....
Maggie melangkah membuka kode ruangan Apartemen.Maggie terkejut setelah pintu apartemen terbuka. Maxim dan Emma Sekretaris Maxim berdiri di balik pintu,dengan Maxim yang berada ditengah .
Emma duduk dia memperkenalkan suaminya pada Maggie. Tuan Maxim mabuk berat,Kami tidak Sengaja melihat dia berjalan keluar dari sebuah Club.
Emma yang melihat atasannya terlihat kehilangan kesadaran, meminta suaminya untuk mengantarkan atasannya itu ke Apartemen bersama dirinya.
Setelah Kepergian Emma dan Suaminya, Maggie menghembuskan napas lelahnya.dia Menatap Wajah Maxim yang terpejam. Sungguh Maxim nampak tenang dengan posisi tidurnya yang seperti ini.
Seandainya aku bisa selalu melihat mu tertidur damai seperti ini, Maggie memberanikan diri untuk mengusap wajah pria itu dengan tangannya.
Maxim menggeliat, dia merangsek ke dalam tubuh Maggie yang duduk di sebelah Maxim yang terbaring. Maggie tersentak saat Maxim melingkarkan tangannya di pinggang Maggie, lalu merebahkan kepalanya di paha Maggie.
Maggie menahan napasnya, dia merasa begitu aneh seolah ada listrik yang menyengat tubuhnya. Maggie merasa canggung, namun seulas senyum terbit saat Maggie bisa sedekat ini. walaupun ini hanya bersifat sementara saja, setidaknya itu akan menjadi kenangan indah untuk Maggie ingat suatu hari nanti.
Maggie mempersiapkan diri, jika memang usia pernikahannya hanya satu bulan.
Maggie menguap, dia ingin mengangkat Maxim .memindahkannya ke ranjang ,namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan pelukan Maxim di pinggangnya.
Astaga! bagaimana ini, Kak Maxim pasti akan marah jika aku tidur di sini? Maggie menyerah, dia terkalahkan oleh rasa kantuk yang mendera matanya. Maggie menunggu Maxim melepaskan cekalan tangannya, namun hingga bermenit-menit tidak ada perubahan.
Maggie dan Maxim tidur dengan Posisi yang begitu damai, Tangan Maggie menyentuh puncak kepala Maxim dan Satu Tangannya menyentuh pipi Maxim.
Maxim sedikit menggeliat dengan tersenyum, dalam mimpinya Maxim merasa hangat berada dalam pelukan Anne. Maxim begitu posesif memeluk Anne. bunga itu tidur membuat alam bawah sadar Maxim menganggap Maggie adalah Anne.
Ann.... e....
"Aku Merindukanmu " terdengar Rintihan Maxim di dalam pangkuan Maggie, Maxim mengeratkan pelukannya hingga Maggie sedikit menggeliat.
Keduanya kembali terlelap, hingga mentari kembali menyinari bumi.
*Budayakan tinggalkan like Setidaknya untuk menghargai kami 💋💋💋
See You ❤