You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 64



Maxim sampai di depan kamar Maggie, Maxim mencoba mengetuk pintu kamar Maggie. Maxim tidak mendapat jawaban apapun, Maxim mencoba mengetuk pintunya sekali lagi. Maxim menekan tuas kamar Maggie, dan kekhawatiran mulai menyelinap di hatinya .


"Kenapa pintunya tidak terkunci, Apa terjadi sesuatu?" Maxim bergerak cepat dengan masuk tanpa berpikir apapun.


Maggie, -


Dimana dia?


Maxim meletakan paper bag yang di bawanya di ranjang,Maxim melihat Seprai yang sudah di ganti oleh Maggie. Maxim tersenyum saat telinganya mendengar gemericik air yang berasal dari kamar mandi.


Maxim memandangi pintu kamar mandi yang tertutup itu.Maxim lalu melangkah mengunci pintu kamar Maggie, dia membaringkan dirinya di ranjang Maggie.


Bermenit-menit kemudian Maggie tak kunjung menyudahi ritual berendam nya.Maxim mulai jenuh duduk diam menunggu Maggie. Maxim melangkah mendekati pintu kamar mandi dan diketuknya pintu itu.


"Maggie, Mau sampai kapan Kau berendam? Keluarlah, atau Kau ingin aku yang masuk? " Teriak Maxim sembarangan.


Maggie terperanjat mendengar teriakan Maxim, dia segera keluar dari bath up dan membilas dirinya menyudahi ritual berendam nya.


"Jangan lakukan itu, atau aku akan menendang masa depanmu" Balas Maggie dengan ikut berteriak.


Maggie menahan rasa bahagianya, ternyata Maxim ada di kamarnya. namun, dia berpura kesal pada Maxim.


Maxim yang mendengar celotehan Maggie seketika merapatkan kakinya menutupi masa depannya yang terancam di tendang oleh Maggie.


pintu kamar mandi terbuka, Maggie mendelik kesal karena Maxim memandanginya dengan wajah yang mengesalkan.


Minggir, aku akan berganti baju!. "Maggie akan melewati Maxim.


Tunggu, aku sudah menyiapkan gaun untukmu!


Maxim berjalan meraih paper bag yang tadi dibawanya.dia memberikan itu pada Maggie, dia meminta Maggie mengenakan gaun pemberiannya.


"Untuk apa aku memakai ini? " Maggie mengernyit saat melihat gaun berwarna hitam diberikan padanya.


"Kau akan memakainya sendiri atau aku yang pakaikan? " Maxim kembali menggoda Maggie.


"Tidak perlu,Baiklah aku akan memakainya sendiri ".Maggie berdecak malas dan mengganti pakaiannya.


"Dasar menyebalkan! " gumam Maggie yang sempat di dengar Maxim.


Maxim terkekeh melihat Maggie kesal seperti itu, batinnya berucap dia begitu merindukan momen momen seperti ini.


Maxim mengetukkan jemarinya di dinding, dia menunggu Maggie keluar dari persembunyiannya.


"Apa semua wanita menghabiskan waktu selama ini untuk berendam, mengganti pakaian lalu merias diri?".


Aku hanya memerlukan waktu kurang dari satu jam untuk menyiapkan diriku, dan dia memerlukan waktu hampir 2 jam lebih dan entah butuh berapa jam lagi untuk Maggie menyiapkan dirinya.


Saat Maxim mulai kesal dan mengoceh, Maggie di dalam tengah menarik napas dalam dalam dan memberanikan dirinya keluar dari walk in closet.


Cekrek.


Sontak Maxim menoleh ke arah Maggie berdiri dengan gaun yang melekat sempurna di tubuh ramping Maggie.


Maxim menelan kasar saliva nya, gaun pilihannya begitu terkesan indah dan menakjubkan.Mata Maxim layaknya mesin barcode,tidak satu inci pun terlewati dalam pandangannya.


Warna hitam membuat Maggie terlihat lebih bercahaya, dia menjelma bak manekin. kulit putih halusnya terpampang begitu nyata karena Maxim memilihkan gaun tanpa lengan yang menjadi model gaun favorit Maggie.


Maggie tertunduk malu, gaun Maxim tidak terlalu panjang ataupun pendek.Maggie tidak berani menatap Maxim, Maggie tidak memakai riasan yang terlalu tebal.Maggie terperanjat saat sebuah tangan mengangkat dagunya.


Kau terlihat begitu mengagumkan malam ini!


Pujian Maxim membuat hati Maggie berbunga, ribuan kupu kupu seolah terbang mengelilinginya.


Maxim memaksa Maggie agar menatapnya, Maggie yang tidak bisa berkata apapun hanya diam menuruti keinginan Maxim.Meski sebenarnya begitu banyak tanya untuk Maxim dalam kepalanya.


Pejamkan matamu!


aku akan menutup matamu dengan kain,aku akan membawamu ke suatu tempat.


**


Tak membutuhkan waktu begitu lama, Maxim dan Maggie sudah berada di depan pintu kamar Maxim.


"Tunggu,aku akan membuka penutup matanya".Maxim melepaskan kain penutup mata Maggie.


Maggie menutup mulutnya dengan tangan, dia menoleh pada Maxim. Sebuah ruangan dihiasi dengan ornamen dan pernak pernik indah seperti lilin, balon, bunga dan beberapa kotak hadiah berukuran besar berjajar rapi di kamar itu.


Maggie, Semua ini untukmu!


"Kak Maxim tapi untuk apa semua ini?".


Kau akan tahu,saat Kau membuka semua hadiah ini!


"Kau menyiapkan semua ini untukku?


benarkah? ".


Maxim tersenyum dan menuntun Maggie di depan sebuah kotak besar. Maxim meminta Maggie untuk membuka kotak itu satu persatu.


Maggie melangkah meraih kotak pertama di hadapannya.Jemari lentiknya membuka kotak itu perlahan, sebuah balon keluar saat Maggie membukanya.


Balon? "gumam Maggie.


Maggie melihat sesuatu di balon itu, sebuah gulungan kertas kecil. Maggie menoleh ke arah Maxim, Maxim memberinya tanda untuk tetap melihat semua isi kotak kotak itu.


Maggie membuka gulungan kertas kecil itu, dan membaca tulisan yang tertera di kertas itu.


"Mata gadis itu sebening embun pagi,senyumnya memiliki keindahan tersendiri.Maggie jika Kau membaca tulisan ini, ketahuilah jika aku sangat bahagia saat kau tersenyum". Maggie tidak tahu mengapa genangan mulai berkumpul di kedua matanya.


Maggie menoleh pada Maxim, Maggie kembali mengangguk saat Maxim memberinya isyarat untuk melangkah lagi dan membuka kotak berikutnya.


Maggie berjalan pelan, dia kembali membuka kotak dihadapannya, sama seperti sebelumnya. sebuah gulungan terselip di balon itu, Maggie meraih gulungan itu lalu dibacanya tulisan dalam kertas itu.


"Aku ingin Kau tahu, saat senyuman mu tidak pernah kulihat lagi. Aku tidak pernah merasakan kedamaian di setiap tidur malam ku,Izinkan Aku Meminta Maaf padamu atas kesalahan yang ku lakukan padamu.


Tolong Maafkan aku! ".


Maggie menyimpan kertas kedua itu, lalu melanjutkan langkahnya.Maggie membuka kotak ketiga di hadapannya.


"Aku ingin Kau tahu jika selama ini, berada di sisimu adalah kedamaian yang sesungguhnya.Aku tidak pernah merasakan kedamaian saat kau berada jauh dariku".


Maggie melakukan hal yang sama, dengan membuka satu per satu kotak dan membaca gulungan kertasnya.


Maggie tidak mampu menahan rasa harunya, dia sudah berkali kali menghapus air mata yang menetes setiap kali membaca kata demi kata dalam setiap gulungan kertas.


Sampailah Maggie pada kotak yang terakhir, Maggie mengernyit saat melihat begitu banyak balon terbang saat kotaknya dia buka. Maggie membulatkan matanya saat tulisan yang begitu berbeda dengan yang lainnya,cukup membuatnya tertegun dan berada dalam puncak haru yang sesungguhnya.


Maggie menutup mulutnya, dia tidak menyangka pada apa yang di dilihatnya kali ini.


Sebuah tulisan berukuran besar terpampang jelas di hadapan Maggie.sebuah kalimat yang begitu ingin dia dengar sejak menikah bersama Maxim.


I Love U.


Maggie menoleh pada Maxim yang tengah menatap dirinya dari tempat dia berdiri.Maggie berjalan dengan mata yang sudah buram, dia tidak lagi sanggup menahan semua kebahagiaan yang membuncah di hatinya.


Sebuah penantian yang selama ini ingin dia dengar, hari ini hari itu telah tiba di depan matanya.


Maggie memeluk Maxim dengan tangis bahagia, namun Maxim mengira jika Maggie menangis karena tidak menyukai kejutan ini.


"Maggie kenapa kau malah menangis?" Maxim mengusap pelan punggung Maggie yang bergetar hebat dalam pelukannya.


"Apa Kau tidak menyukai kejutan ini? "Maxim merasa cemas karena mengira usahanya gagal.


Maggie masih memeluk Maxim dengan menumpahkan tangis bahagianya.setelah merasa cukup, Maggie melepaskan pelukannya dan menatap Maxim dengan semua rasa yang bercampur dalam hatinya.


...