
Anna berdecak kesal saat ia tidak menemukan Maxim di kantornya yang berada di New York. Anna memilih kembali ke Mansion dengan memesan Taxi Anna bepergian di New York dengan leluasa.
Maxim memandangi Jasmine yang matanya sembab karena tidak berhenti menangis sejak tadi.
Mommy, sudahlah jangan menangis lagi Mom. biarkan saja Maggie pergi, mungkin dengan seperti ini Aku dan Anna akan bisa berbahagia tanpa menyakitinya lebih jauh.
Jasmine menatap berang pada putranya itu, Aldrich ikut terkejut mendengar ucapan putra sulungnya itu.
permisi Tuan,,,
Seorang maid kembali menyela percakapan ketiga orang itu.
Ada apa ? Aldrich menyahuti ucapan maid itu.
Ada Seorang wanita yang mencari nona Maggie tuan.
*
Jasmine dan Aldrich berjalan terlebih dulu, sedangkan Maxim mengekor di belakang kedua orang tuanya.
Seorang Wanita mengedarkan pandangan, semuanya masih sama seperti beberapa bulan yang lalu saat ia mendatangi resepsi pernikahan sahabat Kakaknya.
Pintu utama itu terbuka lebar, menampakan tiga orang penghuni Mansion itu.
Bibi Jasmine....
Elsa berlari memeluk Jasmine, Maxim mengernyitkan dahinya mendapati adik Leon ini berkunjung ke Mansion nya.
Aldrich tersenyum dengan mengelus puncak kepala Elsa yang sudah ia sayangi seperti putrinya Clara.
Elsa menatap sekelilingnya, matanya mencari sosok yang sejak kemarin ingin ia temui karena mengabaikan semua panggilan masuk dari dirinya.
Elsa hal penting apa yang membawamu kemari nak? "Jasmine menjauhkan tubuhnya agar bisa mengamati ekspresi Elsa".
Aldrich tersenyum melihat sedikit senyum terlukis di wajah Jasmine istrinya.
Elsa Kau bisa mengatakan semuanya nanti, sekarang istirahatlah nak .Kau pasti lelah berjam jam duduk di dalam pesawat.
Elsa menggeleng, dia kembali mengedarkan pandangannya. Elsa yang tak kunjung menemukan Maggie memutuskan untuk bertanya.
Bibi dimana Maggie , aku tidak melihatnya? Aku kemari untuk menemuinya, bisakah bibi memanggilnya?
Aldrich dan Jasmine tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan Elsa.
Maggie tidak ada di sini El, dia kembali ke rumah orang tuanya dan itu lah penyebab mata sembab Mommy .
Sontak saja, Elsa menengok ke arah Maxim yang menjawab pertanyaannya.
Wow benarkah?
Seketika perhatian semua orang teralihkan pada wanita yang berdiri di ambang pintu, wanita itu tak lain adalah Anna.
Jasmine menatap dengan amarah yang sudah memuncak, sejak tadi ia menahan diri untuk tidak melampiaskan amarahnya pada Wanita yang kini ada di hadapannya. Jasmine merasa kian tersulut emosinya, karena ucapan Anna.
Elsa melangkah mendekati Anna, dengan gerakan secepat kilat Elsa sudah berdiri tepat di hadapan Anna.
Plakkk..
Plakkk..
Plakkk..
Tiga tamparan keras mendarat di pipi Anna sekaligus, Jasmine dan Aldrich tampak terkejut dengan tindakan bar bar Elsa.
Maxim menatap tidak percaya pada apa yang di lihatnya, Anna menatap Elsa dengan tajam seperti banteng yang siap menyerbu targetnya.
Anna menatap Elsa dengan mata yang merah padam menahan emosi, pipinya terasa panas akibat tamparan tadi. Anna tidak menyangka akan mendapat tindakan brutal,dari adik sahabat Maxim ini.
Elsa tak kalah tajam menatap Anna dengan menegaskan rahangnya, dan sedikit mengangkat dagunya ke atas.
Berani nya Kau menamparku gadis manja! Anna menatap tajam Elsa di hadapannya dengan memegangi sebelah pipinya .
Satu tamparan untuk menyadarkan mu bahwa Maggie adalah Istri dari Maxim Orlando.
Tamparan kedua untuk sikap kurang ajar mu pada Maggie, karena berusaha merebut suaminya.
yang ketiga karena Kau menjadi parasit dalam keluarga ini, Kau hanya benalu yang merusak ketentraman Mansion ini.
Elsa apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh menampar Anna, dia, -
Dia pantas mendapatkan itu Kak,oh tidak. seharusnya aku lebih keras lagi menamparnya tadi.
Dan,-
Kembali Elsa mengerahkan tenaganya untuk menampar Anna ,bahkan kali ini Elsa mengeluarkan seluruh tenaganya, terlihat dari Anna yang terhuyung jatuh menyentuh lantai.Anna tak bisa menahan keseimbangannya, karena tamparan Elsa sungguh tak terduga.
yang terakhir ini karena Kau membuat bibi Jasmine menangis karena Maggie memilih pergi dari Mansion ini.
Cukup ...Elsa hentikan!
Suara bariton milik Maxim membuat Elsa menoleh ke arah pria itu.
Maxim berjalan ke arah Elsa,ia menatap tajam Elsa dengan netra hitam pekat miliknya.
Jika saja Kau bukan adik sahabat ku,aku pasti akan memukulmu El.Kau sudah bertindak di luar batas Elsa.
Aku bertindak di luar batas, lalu bagaimana dengan mu Kak?
Kau mengabaikan janjimu padaku? bukankah seharusnya Kau menjaga sahabatku Maggie, Kau malah berniat menduakan nya?
Apa tindakanmu itu benar? Seandainya Kak Leon bangun dari komanya, aku pasti akan memintanya untuk memukul kepala mu ini Kak.
Sekelebat bayangan Maxim yang tengah berdiri di sebuah Rumah Sakit kembali terlintas, tunggu ! Kak Maxim.
Maxim memegangi kepalanya, dia memundurkan langkahnya. Anna segera berlari memapah Maxim dengan membawa pergi Maxim dari ruang tamu.
Elsa tenanglah sayang!
Jangan terlalu keras pada Maxim nak, Memory Maxim harus diingatkan secara perlahan. Nyawa Maxim akan dalam bahaya jika dia dipaksa untuk mengingat semuanya sekaligus.
Elsa merasa bersalah atas semua tindakannya tadi, ia menundukkan kepalanya.
Bibi Maafkan aku!
aku sungguh tidak mengerti,tentang kondisi Kak Maxim yang sebenarnya.
Jasmine mengangguk,dia tersenyum penuh arti dengan raut yang tampak berbinar.
Elsa menatap curiga pada senyum yang terpatri di wajah Jasmine itu.
Bibi kau tidak memarahi aku?"Elsa mengerutkan dahinya tersirat kebingungan di wajah gadis itu".
Dari mana Kau dapatkan keberanian itu? Kau tadi sangat pemberani. Maggie harusnya melihat mu melakukan itu pada Anna, Bibi tidak menyangka di balik karakter manja yang melekat dalam dirimu,rupanya Kau gadis yang pemberani." Jasmine kembali menguraikan senyumannya,Aldrich ikut menorehkan senyum kedua sudut bibirnya melengkung ke atas .
Jasmine ajaklah Elsa untuk beristirahat ke kamar tamu!
Jasmine mengangguk, ia berjalan dengan sesekali bercengkerama dengan Elsa.
*
Di satu sisi Maggie berbaring dengan rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya.
Jane mengolah bubur sum sum kesukaan Maggie, Maggie mengeluhkan kepalanya sakit pada sang ibu satu jam setelah dirinya sampai di rumah yang sudah lama ia tinggalkan.
Maggie masih betah memejamkan mata sewarna madu itu, Meski jauh di relung hatinya ,batinnya menerka akan keberadaan Maxim yang belum sempat ia temukan.
Louis menatap dokumen di tangannya, dia menatap ke arah pintu kamar Maggie yang masih tertutup rapat.
Jane yang sudah menyelesaikan ritual memasaknya, hendak menemui Maggie di kamarnya. Louis mengekor di belakang Jane membawa Serta dokumen yang telah ia siapkan.
Maggie tersenyum saat mendapati, Kedua orang tuanya mendatangi dirinya di kamar.
Apa kepalamu masih terasa sakit?" Louis mengelus puncak kepala putrinya itu dengan sayang ".
"Maggie mengangguk, hanya sedikit Ayah". Maggie menatap penuh tanda tanya,Ayahnya terlihat tak bahagia.
Maggie sayang makanlah! Jane hendak menyuapi Maggie namun Maggie menolaknya dengan halus.
Jane menarik Louis agar keluar dari kamar Maggie, saat melihat Louis hendak menunjukkan dokumennya di depan Maggie.
Jane apa yang kau lakukan? Maggie harus menandatangani dokumen ini secepatnya. "Kesal Louis pada Jane Istrinya.
Biarkan Maggie menikmati makanannya dulu, setelah itu baru bicarakan masalah ini. Aku tahu perasaanmu, tapi jangan membuat putri kita merasa tertekan karena sikapmu. "Jane melembutkan nada bicaranya pada Louis".
Louis mengangguk pelan, ia menatap nanar dokumen di tangannya.
💋💋💋
*See You ❤
*Ada yang bisa nebak ngga nih dokumen apa yang ada di tangannya Ayah Maggie?
*Terima Kasih untuk kalian semuanya, dukungan kalian like, komen dan vote nya semangat author*.
*happy weekend yah.