
Maxim menahan tawanya saat mengingat alasan semalam Maggie menangis. Maggie yang tengah mengunyah roti gandum di dalam mulutnya, mengerutkan dahi saat melihat Maxim makan dengan mengulum senyum sejak tadi.
"Kak Maxim mengapa terlihat begitu bahagia hari ini?" Maggie membatin.
Maxim sendiri tidak memperhatikan Maggie, yang sejak tadi tidak melepaskan matanya dari Maxim barang sedetik pun.
Maggie membuat suara agar mendapat perhatian Maxim, tidak menunggu lama. setelah Maggie berpura terbatuk-batuk, Maxim Segera memusatkan perhatian penuh pada pemilik mata sewarna madu itu.
"Maggie mengapa Kau tidak berhati hati, pelan pelan saja memakannya. tidak ada yang akan merebut dan meminta makananmu".
Akhirnya aku mendapat perhatianmu Kak " Celetuk Maggie ".
"Kau ini bicara apa, sedari tadi aku memperhatikanmu " Maxim mengelus puncak kepala Maggie dengan penuh kasih sayang.
"Bohong, Sejak tadi Kau sibuk dengan lamunanmu dan tersenyum sendiri tanpa menghiraukan aku ".Maggie memanyunkan bibirnya hingga membuat Maxim merasa begitu gemas dengan tingkah Istrinya itu.
Jadi Kau marah padaku, Karena aku mengabaikan mu ? Maxim menahan dagu Maggie agar tidak menundukkan pandangannya.
Maggie mengangguk pelan, Maggie memejamkan matanya saat Maxim memandanginya dengan begitu mesra.
Maxim mengecup bibir Maggie,Maggie membalas dengan hal yang tak kalah manisnya.
Maggie menjerit saat merasakan tubuhnya melayang, Maxim menggendongnya hingga mau tak mau Maggie melingkarkan Kakinya di pinggang Maxim agar tak terjatuh.
"Kak Maxim Kau harus ke kantor bukan " Maggie memainkan hidung Mancung Maxim dengan ibu jarinya.
Maxim hanya tersenyum dengan tetap melangkah ke kamar utama.Di tengah suasana hangat pagi itu, ponsel Maxim yang berada di dalam saku berdering.
Maxim mengabaikan ponselnya, hingga beberapa kali ponselnya kembali berdering.
Kak Maxim lihatlah dulu siapa yang menelpon mu, mungkin ada hal penting yang harus kau tahu.
"Hari ini, aku tidak akan ke kantor karena ada hal yang lebih penting yang ingin aku lakukan bersama dengan mu".
Maggie menatap dengan bingung saat Maxim menurunkannya, dan menyuruhnya bersiap secepat mungkin.
Sembari menunggu Maggie berganti pakaian, Maxim mengecek ponselnya. Dahi Maxim mengerut kala melihat nama Daniel dan Tiffany yang bertengger dalam log panggilannya.
Maxim enggan membaca pesan yang di kirimkan oleh Tiffany, bagi Maxim melihat nama Daniel saja sudah merusak suasana hatinya.
"Kak Maxim Apa aku terlalu lama berganti pakaian? "Maggie muncul di belakang Maxim.Maxim segera menyimpan ponselnya ke dalam saku.
" Tidak, apa Kau sudah siap? " tanyanya kemudian, yang diangguki oleh Maggie.
Keduanya melangkah ke dalam mobil, Maxim melajukan kendaraannya meninggalkan Mansion mewah mereka.
Selepas kepergian Maxim dan Maggie, datang mobil lain dari arah berlawanan menuju Mansion Maxim.
Tiffany mengendikkan bahunya saat Daniel meminta ia menghubungi Maxim atasannya.Tiffany sendiri tidak tahu menahu apakah Maxim akan datang atau tidak hari ini ke kantor .
Tiffany meninggalkan Daniel yang kembali mendatangi kantor Maxim, sebelum itu Tiffany memberikan segelas kopi untuk Daniel .Tiffany hanya menggelengkan kepalanya melihat Daniel yang kembali datang ke kantor ini untuk menemui Maxim
**
Maggie berkaca kaca melihat pemandangan di hadapannya, betapa bahagianya Maggie. Maxim memberinya kejutan dengan mengajak dirinya berbelanja kebutuhan calon anak mereka.
"Kak Maxim Apa arti semua ini?"Maggie menatap dengan binar haru yang tak mampu ditutupi.
Maxim hanya meraih dan menggenggam erat jemari Maggie, lalu mengajaknya memilih dan memilah semua perlengkapan bayi.
Maggie berhenti melangkah saat melihat Sepasang sepatu berwarna merah muda. Maxim ikut memperhatikan jemari Maggie yang terjulur ke arah sepatu itu.namun, saat Maggie melangkah mendekati rak sepatu dan melihat lihat isinya. Maxim meraih ponselnya dan jarinya sibuk menari di atas benda pipih itu.
"Kak Maxim apa ini bagus?'' Maggie melihat ke arah Maxim, Maxim hanya mengangguk kecil.
Maggie melihat lihat pakaian bayi yang terpajang di toko, Maggie tertarik pada sepasang pakaian kembar yang menyita perhatiannya.
"Kak Maxim lihatlah, ini lucu sekali bukan?" Maggie kembali berniat menunjukkan sepasang pakaian kembar itu pada Maxim.
"Lebih baik aku memilih semuanya sendiri, percuma juga bertanya pada Maxim dia sibuk dengan ponselnya". gerutu Maggie pada dirinya sendiri .
Maggie melenggang pergi tanpa menghiraukan Maxim, Maggie kesal karena Maxim sejak tadi mengabaikannya.
**
Tiffany menunjukkan pesan yang dikirim oleh Maxim pada Daniel, Tiffany berharap Daniel secepatnya pergi dari Kantor Maxim.
Tiffany sendiri bukannya tidak suka akan kehadiran Daniel, Tiffany hanya tidak ingin matanya sibuk mengagumi wajah Daniel hingga membuatnya kehilangan fokus dalam bekerja.
**
"Kemana Maggie? "gumam Maxim saat menyadari Maggie tidak berada di dekatnya.
Maggie hendak meraih Botol Bayi,dengan sedikit berjinjit Maggie berusaha meraihnya. namun sialnya botol itu terlalu tinggi untuk Maggie gapai, bahkan Maggie mengutuk karyawan yang meletakkannya di bagian atas hingga susah untuk di jangkau.
Maggie hampir saja terjatuh karena berusaha menggapai botol itu, Maggie dengan reflek memegang bahu seseorang yang menahan tubuhnya agar tidak terjerembab ke lantai.
Hati hati Maggie, Lain kali mintalah bantuan ku.Kau sedang hamil, bagaimana jika Kau terjatuh!
Maggie melihat kecemasan terpatri jelas di mata Maxim, pria yang menolongnya adalah suaminya sendiri. Maggie yang tadinya ingin memarahi Maxim seketika bungkam, saat melihat kekhawatiran tergambar di wajah Pria yang akan segera menjadi Ayah dari bayinya.
"Maafkan aku Kak Maxim. "Maggie semakin terharu, saat Maxim berlutut di hadapannya dan tanpa di duga Maxim mencium perut Maggie .
"Ayah akan menjagamu sejak hari dimana Ayah tahu kau hadir di tengah tengah kami sayang ". Maxim mengelus perut itu, dan mengecupnya beberapa kali.
Pipi Maggie memanas saat melihat banyak pengunjung yang memperhatikan mereka berdua.
**
"Sungguh Suami idaman " Ungkapan beberapa pengunjung toko terdengar di telinga Maggie.
"Aku ingin suami seperti pria tampan itu". timpal pengunjung lain.
"Betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan suami seperti tuan tampan itu".
"Astaga, sisakan satu pria seperti itu untukku Tuhan".
Pujian dan kekaguman tak henti mengalir sepanjang Maggie dan Maxim berbelanja, terlebih semenjak kejadian dimana Maxim mencium perut datar Maggie di depan umum tadi.
Setelah mengakhiri sesi drama romantis mereka di toko perlengkapan bayi, Maxim mengajak Maggie untuk segera kembali ke Mansion.
Maggie kembali dibuat cemberut, Karena lagi lagi Maxim sibuk dengan ponselnya.Maggie mengernyitkan dahinya,saat melihat Maxim tersenyum di depan layar ponselnya.
Maggie semakin dibuat kesal,saat Maxim memasangkan kain untuk menutupi kedua matanya.
"Kak Maxim sebenarnya ada apa? Mengapa mataku di tutup seperti ini? ".Maggie menghentakkan kakinya ke lantai dengan cukup keras, namun Maxim tak mengindahkan ucapan Maggie .
Maggie berjalan mengikuti arahan Maxim yang menuntunnya.
Sekarang aku akan membuka penutup matanya, kau harus membuka matamu saat aku selesai menghitungnya.
Iya iya...Aku mengerti.
Maggie menuruti ucapan Maxim, hingga saat hitungan Maxim telah selesai. Maggie menutup mulutnya dengan tangan, saat matanya menangkap sebuah hal yang tak terduga di hadapannya.
Astaga, Kak Maxim ini...
....
Jangan Lupa Like,komen,dan tambahkan ke favorit yah.
Terima Kasih semuanya 😘.