
"Selamat Siang Tuan Maxim " Tuan Daniel sudah menunggu anda sejak dua jam yang lalu.
Apa Kau tidak menyampaikan pesanku padanya Tiffany?
Su.. sudah Tuan, tapi Tuan Daniel tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan anda.
Kalau begitu biarkan saja dia menunggu, aku tidak akan menemuinya.
Tapi Tuan,
Tiffany Tolong buatkan aku kopi, dan kerjakan saja pekerjaanmu!
Lalu bagaimana dengan Tuan Daniel?
Suruh Saja dia untuk pulang, aku masih punya banyak pekerjaan yang harus di kerjakan.
Baik Tuan, Akan Aku sampaikan sesuai perintah mu.
*
Tiffany berjalan kembali ke ruangan Maxim setelah menyiapkan kopi untuk Atasannya itu.
Daniel yang tengah memperhatikan suasana kantor Maxim, melihat Wanita yang tadi memintanya untuk menunggu.
" Wanita itu kan sekretaris Maxim" gumam Daniel dalam hatinya.
Aku harus berbicara dengannya, bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan maaf dari Istri Maxim.
Daniel mencegat Tiffany yang terlihat memegang nampan berisi segelas kopi.
Nona Tunggu, Nona Sekretaris!
Bagaimana, Apa Maxim sudah datang?
Tuan lebih baik Kau pulang saja, Tuan Maxim tidak bisa menemui mu .
Apa Kau sudah memberitahu pada Maxim jika aku telah menunggunya sejak pagi.
Sudah aku katakan dan jawabannya masih
sama ,Tuan Maxim memintamu untuk pulang .
Tiffany melenggang pergi, dia kembali ke ruangan Maxim untuk mengantarkan kopi.
Daniel melihat Jam tangan yang melingkar di lengan kanannya. Sesekali matanya menelisik ruangan Lobi tempat ia menunggu Maxim menyelesaikan Pekerjaannya.
Tiffany sendiri ikut memperhatikan Daniel dari balik meja kerjanya.Tiffany tidak bisa melepaskan matanya dari Daniel, yang sejak pagi tadi masih bersikukuh duduk di tempat yang sama untuk bisa bertemu dengan Maxim.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dua manusia ini?
Yang satu menolak untuk bertemu dan yang Satunya dengan keras kepalanya terus menunggu. Sungguh dua orang yang membingungkan.
Tiffany yang tidak tega melihat Daniel pun, akhirnya berniat membuatkan minuman untuk Daniel.
Tuan, ini untuk mu!
Nona Sekretaris, Aku tidak membutuhkan minuman. Bisakah Kau temui lagi Maxim dan Katakan padanya jika aku akan terus menunggu sampai dia mau menemui ku.
''Tapi Tuan, aku tidak bisa".
Tiffany melihat ke arah jemari tangannya yang kini di genggam oleh Daniel.
Aku mohon bicaralah sekali lagi pada Maxim,katakan saja padanya aku akan terus datang dan menunggunya sampai dia mau menemui ku.
Tiffany merasa gugup di tatap sebegitu tajamnya oleh manik hazel milik Daniel. entah mengapa tanpa diminta, kepalanya mengangguk sebagai jawaban dengan sendirinya.
Daniel menorehkan senyum atas anggukkan yang di berikan Tiffany.
Daniel yang menyadari tindakannya sendiri yang masih menggenggam jemari Tiffany akhirnya melepaskan genggaman itu.
"Maaf, aku tidak berniat buruk padamu ". Daniel menggaruk tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung yang menderanya.
Tiffany tersenyum getir karena dirinya pun merasakan hal yang sama.Tiffany juga merasa canggung dihadapan Daniel. Tiffany sendiri tidak tahu,mengapa ia tidak tega melihat Daniel menunggu begitu lama,bahkan hampir seharian penuh dia hanya duduk dan tetap menunggu Maxim atasannya.
Tiffany kembali duduk dan menyelesaikan sisa pekerjaannya, Daniel juga kembali duduk di lobi.
Daniel melihat sebuah kertas dan ballpoint tersedia di meja.Daniel meraih kedua benda itu, tangannya tampak menorehkan beberapa kalimat di kertas itu.
Daniel melangkah pergi dari kantor Maxim, setelah menitipkan selembar kertas yang ia tulis pada Security yang ada di sana.
**
Maxim meregangkan otot ototnya, dia bergegas merapikan berkas dan bersiap untuk pulang.
Maxim tidak berniat menemui Daniel, semenjak melihat air mata Maggie pagi tadi Maxim kehilangan selera untuk bertemu dengan Daniel.
Maxim keluar dari ruangannya, dia masuk ke mobil dan berniat kembali ke rumah.Maxim bergegas melajukan kendaraannya agar dia tidak harus terjebak hujan, dia ingin segera bertemu Maggie.
Astaga, kenapa mendadak turun hujan seperti ini !
Tiffany berdecak malas, kala melihat hujan mengguyur jalanan dengan begitu deras.
Tiffany yang hendak melangkah keluar kantor mendadak di hentikan oleh salah satu security yang berjaga di lobi kantor.
Nona Tiffany, ini ada sebuah memo untuk Tuan Maxim.Karena Tuan Maxim telah pulang, jadi aku menitipkannya padamu.
Tiffany membolak-balikkan Kertas yang dia terima lalu memasukannya ke dalam tas. Tiffany kembali melanjutkan langkahnya, rasa lelah telah bersarang di seluruh tubuhnya.Tiffany hanya ingin segera bertemu dengan Kasur kesayangannya.
**
Daniel memijat hidungnya, dia dengan malas memasukkan beberapa buah ke dalam mulutnya.
Hacih..
Daniel menggapai tissue untuk membersihkan kotoran yang bersarang di hidungnya.
Sekembalinya Daniel dari kantor Maxim, dia harus merasakan sakit karena kehujanan.Cuaca yang mendadak berubah menyebabkan dia kini terserang flu.
**
Maggie mengeratkan baju hangat yang ia kenakan,Maggie juga mengangkat kedua kakinya dan memeluk erat kedua lututnya.
Astaga dingin sekali!
gerutu Maggie dengan menarik tinggi selimutnya hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Maxim mengibaskan jas yang di kenakan, Maxim berjalan memasuki rumah. Maxim berharap Maggie menyambutnya dengan handuk dan juga teh hangat serta sebuah senyuman manis.
Sayang ,Aku pulang!
Maxim melonggarkan dasi yang sejak tadi melingkar di lehernya, Maxim juga melepaskan kancing kemeja yang membungkus tubuh atletisnya.
"Kemana Maggie? Mengapa dia tidak menyambut ku " batinnya bergumam.
Maxim dengan semangatnya membuka pintu, dia menatap tidak percaya pada apa yang di lihatnya.
Maggie telah tertidur pulas dengan selimut yang menggulung tubuhnya bak kepompong.
Astaga, rupanya dia tertidur!
Padahal aku sangat ingin menghabiskan malam dengan nya.
Maxim melewati Maggie dengan sedikit kesal karena Maxim tidak mengira Maggie akan terlelap begitu awal.
**
Kebiasaan Maggie yang kehausan di tengah malam membuat tidurnya sedikit terusik.
Maggie meregangkan otot ototnya, dia menutup mulutnya yang dengan tangan saat menguap begitu lebar.
Maggie melihat di sebelahnya, tidak ada Maxim di sana. Maggie membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Setelah menenggak segelas air hingga tandas, Maggie berniat mengecek keberadaan Maxim.
Terdengar sebuah suara yang Maggie yakini suara Televisi. Maggie melangkah menuju ke arah sumber suara.
Senyum Maggie melebar kala melihat Maxim tertidur di sofa, rasa bersalah sedikit memenuhi hatinya.
"Kak Maxim pasti kelelahan seharian bekerja, dan aku bahkan tidak menyambutnya pulang". Maggie mendekati Maxim, Maggie duduk di sebelah Maxim. Maxim tertidur dengan sangat pulas, Maggie mengusap pipi Maxim dengan perlahan.
Kau lihat Sayang betapa tampan tampan ya Ayahmu ini. Ucap Maggie sembari mengelus pipi Maxim dan satu tangannya mengelus perut yang masih datar itu.
Maggie dengan usilnya menganggu tidur Maxim, jemarinya tak henti bergerak di sekitar wajah Maxim.
Maggie yang sudah kehilangan rasa kantuknya sibuk menganggu tidur Maxim. Maxim yang tadinya begitu terlelap, akhirnya terbangun karena keusilan yang sejak tadi Maggie ciptakan.
Suara serak milik Maxim menyita perhatian Maggie. Maggie sedang asyik, menggelitik tubuh pria yang telah memberinya buah hati yang kini masih dalam kandungannya.
Maxim mengucek kedua matanya, Manik setajam Mata Elang itu terbuka.Maxim yang telah menyadari kehadiran Maggie seketika tersenyum.
Maxim mengubah posisinya menjadi duduk, Maggie masih terus menatap wajah Maxim.
Kening Maxim mengerut saat melihat Maggie meneteskan air mata.
Maggie kenapa Kau menangis?
Bukannya menjawab pertanyaan Maxim, Maggie malah semakin terisak. Maxim dilanda kebingungan dia sendiri tidak tahu mengapa Maggie mendadak menangis.
...