You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me ~Part 45



"Selamat Pagi "


"Selamat Pagi". duduklah!


Maxim melepas satu Kancing Kemeja atasnya, dia membuka Kaca mata hitam yang di kenakan.


"Siapa Namamu? " Maxim masih menatap ke arah berkas di hadapannya.


"Tiffany, Tuan" . gadis berlesung pipi itu tertunduk malu saat Maxim menanyakan namanya.


Maxim sendiri hanya mengangguk, dia lantas meminta Tiffany untuk duduk di meja kerjanya.


Maxim mulai membuka lembar demi lembar, berkas yang telah lama tidak di sentuhnya itu.


Tiffany gadis keponakan Emma, mantan Asisten Maxim tak henti memandangi paras tampan yang di miliki Maxim.


Maxim sendiri, tidak menyadari Jika Asisten barunya selalu memperhatikan gerak geriknya dari ruangan kerjanya yang berada di sebelah ruangan Maxim.


*


Mengapa Kak Maxim tak kunjung mengangkat panggilan dariku?


Apa dia masih marah padaku, karena Kejadian pagi tadi?


Maggie berdiri di depan meja rias, dia bingung saat Maxim tak kunjung menerima Panggilan darinya.


Maggie kembali men dial Kontak Maxim, namun hasilnya tetaplah sama.


Maggie melirik ke arah jam dinding yang terpasang manis menghadap ke arahnya.


Aku bawakan Kak Maxim makan Siang Saja!


Ah, iya benar!


Maggie bergegas menyiapkan makan Siang untuk Maxim, ia hanya tinggal menatanya Karena tadinya Maggie ingin Maxim pulang ke rumah untuk makan siang berdua dengannya.


*


Maxim Sendiri Sibuk dengan tumpukan


berkas yang nampak menggunung itu ,Sesekali Maxim meregangkan otot ototnya yang terasa Kaku.


Tiffany, Wanita yang baru menjadi Asisten Maxim itu tak pernah fokus pada berkas di meja Kerjanya. Sesekali Tiffany mencuri pandang pada Maxim, Tiffany sendiri tipikal gadis yang berwawasan luas, tak ayal jika Emma bibinya memutuskan mengirim Tiffany sebagai pengganti dirinya.


Astaga, Mengapa dokumennya banyak Sekali!


"Seluruh tubuhku benar benar terasa pegal " Keluh Maxim.


*


"Mengapa tidak sejak dulu, bibi Emma meminta ku untuk menggantikan posisinya?" gumam Tiffany dalam hati.


Tiffany, Bisakah Kau buatkan aku secangkir kopi?


Maxim menatap ke meja Tiffany untuk pertama Kalinya,bahkan hanya menatap selama beberapa detik lalu kembali fokus pada berkas di hadapannya.


Baik, tuan. Saya akan membuatkannya!


Tiffany berjalan meninggalkan meja kerjanya, dia begitu bahagia saat mendengar permintaan Maxim tadi.


Tiffany tersenyum saat dia akan kembali ke ruangan Kerjanya, dia bahkan tak memperhatikan sekitarnya.


Tiffany begitu kegirangan, dia berjalan dengan kaki yang begitu cepat. Tiffany yang tidak melihat kedatangan Wanita lain dari arah yang berlawanan,tanpa sengaja menabrak Wanita itu.


Dugh....


Aww, Panas Sekali!


"Nona, Apa Yang Kau Lakukan ? Kopi ku Jadi tumpah seperti ini? "Keluh Tiffany.


"Maaf tapi, aku sungguh tidak sengaja ,Aku tidak melihat dengan baik tadi".


Maggie memegangi tangannya yang terkena tumpahan air kopi yang masih panas.


Tiffany bangkit, dia menatap ke arah Maggie dengan kesal. Tiffany tidak mendengarkan permintaan Maaf Maggie, dia memilih mengabaikan Maggie dan kembali membuatkan kopi yang baru.


"Astaga, Makanannya pasti berantakan " Maggie merapikan baju yang di kenakan, dia berpegangan pada dinding agar bisa berdiri.


Maggie lalu kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan Kerja Suaminya.


Maggie tersenyum, dia berjalan dengan berjinjit saat melihat Maxim sedang berdiri memunggunginya.


Maggie berhati hati, agar dia tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Maggie mengendap, dia meletakan kotak makan Siangnya dengan hati hati.


Cup...


Setelah mendaratkan kecupan manis di pipi Maxim, Maggie memeluk Maxim dari belakang, dia melingkarkan tangannya di pinggang Maxim.


Maxim menoleh, dia mengangkat kedua alisnya.


"Kau disini, Sedang apa? "


Maggie mengernyitkan dahinya, dia menatap Maxim dengan wajah masam.


Maxim mengangkat bahunya acuh, dia memilih mengabaikan Maggie. Maxim kembali duduk di meja kerjanya, Maggie menatap dengan bibir yang sudah ia manyun kan.


"Kak Maxim aku minta maaf, aku sungguh tidak berniat membuatku terkena muntahan ku ".


Aku sendiri tidak bisa mencegah perutku, yang mendadak mual saat kau mendekat pagi tadi.


"Kak Maxim, Kau dengar tidak? " Maggie menggoyangkan lengan Maxim beberapa kali.


Maxim sendiri tidak merasa kesal, namun melihat Maggie merengek seperti itu membuat Maxim sedikit ingin menggoda Maggie dengan berpura mengacuhkannya.


Maxim bersikeras, memasang wajah datar di hadapan Maggie.


Maggie yang mulai gelisah, tanpa berpikir panjang mengambil inisiatif untuk mendapatkan maaf dari Maxim.


Astaga, Apa yang Kau Lakukan Maggie?


Kau lihat sendiri saja, mengapa bertanya padaku!


"Maggie, aku tahu Kau duduk.tapi apa harus dengan seperti ini? akan ada Karyawan yang melihatnya? " Maxim mempertahankan wajah datarnya ".


Maggie mengabaikan Ocehan Maxim, dia bahkan tetap mempertahankan posisinya yang duduk di pangkuan Maxim.


"Permisi Tuan, ini Kopi yang Kau minta". Tiffany terpaku, dia menatap tidak percaya pada apa yang ada di depan matanya.


Maggie yang sedang membuka kancing kemeja Maxim, seketika menghentikan gerakan tangannya.


Tiffany menunduk, dia meletakan kopi dan berlalu meninggalkan ruangan kerja Maxim begitu saja.


"Astaga, Siapa Wanita itu?


Beraninya dia menyentuh bos tampan incaran ku? " Tiffany menggerutu, dia yang menatap ke arah kaca pembatas memilih menutup kain yang menjadi penutup jendelanya.


Selepas kepergian Tiffany, Maxim yang tidak lagi bisa menahan tawanya tertawa dengan cukup keras membuat Maggie menatap dengan heran ke arahnya.


Apa Yang Kau tertawa kan Kak Maxim?


Tentu Saja, Kau, -


"Mengapa aku? " tanya Maggie dengan kerutan di keningnya.


Kau tidak lihat tadi, Asisten ku memandang mu dengan tatapan yang begitu terkejut.


Benarkah? Astaga!


Maxim mengangguk, dia memainkan surau Maggie dengan lembut.


Pasti Wanita itu berfikiran yang tidak tidak tentangku, Astaga bagaimana ini?


"Biarkan Saja, Kau memang begitu agresif " Maxim menatap Maggie dengan mengulum senyum.


Maggie menatap tajam ke arah Maxim, dia menolak pemikiran itu.


"Tidak, aku tidak agresif padamu " .Kapan aku bertingkah agresif padamu?.


Baru saja Kau melakukannya, Kau akan membuka kemeja ku tanpa melihat situasi. Maxim terkekeh.


"Bukan Seperti itu, aku hanya ingin memeriksa goresan merah yang ada di lehermu".


Menatap ke wajahku, dan beralibi memeriksa lukaku!


"Benarkah begitu? " Maxim semakin ingin menggoda Maggie .


Sungguh Kak Maxim aku hanya ingin memeriksa Luka mu saja!


Kalau begitu obati lukaku?


"Kau tidak marah padaku?" Maggie balik bertanya.


Maxim menatap Maggie dengan alis terangkat, marah untuk apa?


Untuk kejadian pagi tadi, Maggie memperhatikan wajah Maxim yang berada tepat di depannya.


"Kau harus mengobati lukaku? "Maxim menatap Maggie tanpa berkedip.


"Dimana Lukanya?"


Di sini, Maxim menyentuh hatinya sendiri.


Maggie menatap Maxim dengan mata berbinar, Setelah banyak hal yang terjadi. Maggie tidak bisa membohongi dirinya, jika dia merindukan saat saat seperti ini.


Maxim mendaratkan kecupan di kening Maggie, Maxim mempererat pelukannya dia bahkan mengangkat Maggie agar duduk di meja kerja Maxim.


Maxim menatap Maggie, dengan sendirinya Maggie memejamkan matanya.


...


See You. ❤


Jangan lupa tinggalkan, like komen, dan vote nya .


Happy Weekend😘.