
Maggie berusaha menutup pintu kamarnya dengan sekuat tenaga,Maggie semakin takut saat melihat sebuah sepatu pria menahan pintu kamarnya hingga Maggie kesusahan menutup rapat pintu kamarnya.
"Astaga,Kaki siapa itu? " batin Maggie ketakutan,Maggie menelan saliva nya dengan susah payah.
Maggie meraih tongkat yang tergelatak di dekat pintu, dia mengayunkan tongkat itu setelah dirinya tidak lagi mampu menahan beban pintu kamarnya.
Bugh
Pergi sana, berani beraninya kau membuntuti ku. Kau pikir aku akan diam saja hah!
Rasakan ini.
Bugh
Maggie memukuli Pria yang mengenakan topi dan kacamata itu tanpa ampun, Maggie mengerahkan seluruh tenaganya.Maggie terus memukuli Pria itu, hingga raungan kesakitan terdengar di telinganya.
Aww, Maggie hentikan!
"Suara ini tidak asing untukku, Suara ini mirip seperti suara Kak Maxim" .Maggie sedikit terdiam setelah mendengar suara Pria itu.
"Tidak, dia bukan Kak Maxim. Mana mungkin Kak Maxim ada di sini" batinnya kembali bergumam.
"Darimana Kau tahu namaku?
Kau pasti sudah lama memata-matai ku bukan? " Maggie akan kembali melayangkan tongkat itu pada pria yang ia kira orang jahat.
Kau, -
Tongkat itu terlepas begitu saja dari tangan Maggie,saat Maxim membuka kacamata dan melepaskan topi yang menutupi kepalanya.
"Kak Maxim" gumamnya.
Maggie mengernyitkan dahinya, dia setengah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Maggie menepuk pipinya lumayan keras, dia mengerjapkan kedua matanya.
Tidak, ini tidak mungkin. pasti ini khayalanku saja!
"Maggie, ini aku Maxim!" Maxim bangkit dari lantai dan berdiri tepat di hadapan Maggie.
Maxim mengernyitkan dahinya, karena Maggie masih terlihat tidak percaya dan menganggap ini hanya khayalannya saja.
Plak.
Untuk kedua kalinya, Maggie menampar kembali pipinya sendiri.
Maxim membulatkan matanya, dia tidak mengerti mengapa Maggie harus menampar kembali pipinya sendiri.
Maxim menahan tangan Maggie yang ingin menampar kembali pipinya, Maxim menatap Maggie.
Ini bukanlah mimpi, berhentilah menyakiti dirimu sendiri!
Kau dengar aku Maggie?
"Kau pasti bercanda bukan,Kak Maxim tidak mungkin ada di sini.
Kau pasti berbohong kan?" Maggie terus menolak mempercayai kehadiran Maxim.
Maggie memejamkan matanya,dia berharap Maxim akan pergi setelah dirinya kembali membuka matanya.
Maxim merasa kesal karena Maggie seperti sedang menguji kesabarannya.Maxim tersenyum bak devil, dia mendekap kedua pipi Maggie saat Maggie memejamkan matanya.
Kedua mata Maggie melotot karena terkejut, saat pria yang ternyata memang Maxim mengecup keningnya tanpa aba aba.
**
"Akan lebih baik jika kita berteman saja Daniel, aku tidak ingin memikirkan tentang cinta terlebih dulu " .Tiffany memainkan ballpoint di tangannya, hatinya tidak baik baik saja setelah menolak permintaan Daniel yang tadi menyatakan perasaannya.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus membalas budi pada bibi Emma.aku harus mengesampingkan perasaanku, saat ini aku harus fokus pada pekerjaan dan aku harus mengutamakan bibi Emma " Tiffany mencoba mengusir setitik rasa yang sebenarnya mulai tumbuh di hati kecilnya.
Daniel menyandarkan kepalanya pada meja di hadapannya, dia masih berada di restoran setelah Tiffany pergi terlebih dulu.
"Apa yang aku lakukan,Mengapa aku bisa jatuh hati pada Sekretaris Maxim?
tujuanku kemari hanya untuk mendapatkan Maaf dari Istrinya Maxim"Daniel mengusap kasar wajahnya.
"Sial,aku membenci situasi ini "Daniel pergi dari restoran itu, hatinya terluka setelah mendapat penolakan dari Tiffany.
**
Maxim mengusap bekas tamparan di pipi Maggie dengan tangannya,Matanya tak berpaling dari wajah Maggie satu detik pun.
Maggie menjadi gugup dan juga takut, dia seolah berada di ujung jurang. Maggie tidak tahu. harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Maxim setelah banyak hal yang terjadi pada keduanya.
Maggie, aku -
Maggie!
Maxim dan Maggie menoleh bersamaan,Maxim memicingkan matanya saat mendapati pria yang memeluk Maggie kembali muncul di hadapannya.
Maggie ada apa dengan pipimu,pipimu terlihat memerah sekali!
Semburat merah muncul di kedua pipi Maggie,Maggie tidak mengerti bagaimana dia akan menjelaskan ini.akan terasa konyol jika Edward tahu Maggie menampar pipinya sendiri bukan.
Edward melihat ke arah Maxim, dahinya mengerut dalam menandakan ketidaktahuan nya tentang Maxim.
Maxim dan Edward saling menatap satu sama lain,Edwar lalu menatap dan mendekati Maggie.
"Maggie, Siapa Pria itu ?
Mengapa Kau membawa pria ke dalam kamarmu malam malam seperti ini" Edward menarik Maggie menjauh dari Maxim.
Maggie menatap Maxim sebentar lalu melihat Edward yang mencurigai Maxim.
Kemari lah, Ikuti aku!.
Maggie membawa Edward keluar dari kamarnya.
Ed dengarkan aku, Pulang lah dan selesaikan saja tugas kuliah mu. Kau harus mendapat nilai terbaik bukan?
Maggie, aku tahu itu. aku kemari hanya ingin mengantar makanan saja, tapi aku tidak mengerti dengan pria asing dalam kamarmu itu.
"Pria asing itu suami ku, andai saja kau tahu itu. Kau pasti tidak akan mempermasalahkannya Ed".gumam Maggie dalam hati.
"Kenapa Maggie malah melamun? " Edward melambaikan tangannya di depan wajah Maggie.
Maggie ,Apa Kau yakin akan membiarkan pria itu di sini?
"Kau tenang saja Ed, dia tidak akan menyakitiku" Maggie berusaha menetralkan kecemasannya di hadapan Edward.
"Baiklah,aku percaya kau bisa menjaga dirimu sendiri.tapi aku akan menemui pria itu sebentar, akan ku beri dia peringatan". Edward melangkah dan berhenti di depan Maxim.
Maxim mengernyitkan dahi saat Edward meneliti dirinya, dari ujung kepala hingga kaki.
"Sepertinya Maggie benar, Maggie bisa mengalahkan pria ini,terlihat dari memar yang pria ini alami. aku yakin Maggie yang melakukan semua ini, dia sungguh wanita super " gumam Edward ,dalam hatinya dia terkekeh.
Maggie tidak mengerti dengan sikap Edward yang hanya diam lalu tersenyum setelah keluar dari kamarnya.
"Maggie Kau sungguh hebat,baru kali ini aku melihat bukti kekuatan wonder women secara langsung" tawa Edward begitu keras.
Maggie kebingungan mencerna ucapan Edward.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? "pada akhirnya Maggie mengutarakan rasa penasarannya.
Kau yang membuat pria itu mengalami memar di seluruh tubuhnya kan, memar memar itu terlihat begitu gelap.itu artinya kau memukulnya dengan sangat keras.
Aku pergi dulu!
Edward terus tertawa dan melangkah meninggalkan Maggie.
Selepas kepergian Edward, Maggie kembali teringat jika luka Maxim di sebabkan oleh dirinya.
"Ya Tuhan, Kak Maxim.
Dia pasti kesakitan,aku harus melihat keadaannya".
Maggie kembali masuk ke dalam kamarnya, dia merasakan kembali kecanggungan dalam situasi seperti ini.
Keheningan terjadi diantara kedua manusia yang sebenarnya saling merindukan itu.baik Maggie ataupun Maxim mereka sama sama bingung,keduanya sibuk bergelut dengan isi kepala masing masing.
Maggie meremas ujung gaunnya,dia masih berdiri di belakang pintu. Maxim masih menahan nyeri yang mulai dia rasakan di sekitar punggung, dan lengannya.
Maxim meringis kesakitan dan itu membuat Maggie memusatkan perhatiannya pada Maxim. Maggie sontak berjalan mendekati Maxim.
Maggie membulatkan matanya saat melihat luka pukulannya pada Maxim.Maggie menelan kasar saliva nya.Maggie membenarkan ucapan Edward tentang luka ini.
Aku akan mengambil air dingin untuk mengobati lukamu!
Maggie pergi dan Maxim hanya diam memantau pergerakan Maggie.Kedua sudut bibir Maxim terangkat ,senyum terbit di wajah Maxim.
Maxim meringis kembali saat melihat kedatangan Maggie, dia kembali meraung kesakitan sembari memegangi bahunya.
Maggie memberanikan diri untuk mendekati Maxim dan menyingkirkan rasa canggung pada dirinya. dia harus mengobati luka Maxim, Maggie tidak tega membiarkan Maxim merasakan sakit karena ulahnya.
Maxim tersenyum bak devil, dia ingin sedikit menggoda Maggie.
Tolong bantu aku melepaskan pakaianku!
pinta Maxim saat Maggie sudah tepat ada di hadapannya.
Maggie mengangguk, dia mendekati Maxim. tangannya mulai membuka jaket yang digunakan Maxim.Maggie juga melepas kaos hitam berlengan pendek milik Maxim.
Maggie mulai mengobati luka Maxim dengan kompres, Maggie hampir saja menangis saat mendengar Maxim meringis kesakitan.
Tidak ada percakapan apapun antara Maxim dan Maggie .Maggie hanya diam dan fokus mengobati luka Maxim,Maxim sibuk menyusun kalimat dalam kepalanya untuk meminta maaf pada Maggie.
"Kemana semua huruf dalam kepalaku? kenapa rasanya semua huruf itu menghilang " batin Maxim .
Maggie menahan air matanya saat mengobati luka Maxim.
...