You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me ~Part 9



Maggie tengah sibuk menggambar desain baru, Maggie menulikan telinganya. Beberapa Karyawan Maxim menatap Maggie dengan sebelah mata, saat mengetahui Maxim menginap di Kantor. Yang artinya meninggalkan Maggie sendirian di rumah.


Maggie mencoba mengabaikan berbagai sindiran, yang sayup sayup terus menyeruak telinganya.


Maggie sudah menyelesaikan beberapa desain bajunya, kini dia menyimpannya dalam map. Maggie akan memberikan desain itu pada penjahit, Mungkin esok hari karena ini telah larut.


Maggie menguap, dia mengecek jam di ponselnya. sudah hampir Jam 8 malam. Maggie masih memantau pintu ruangan Maxim, namun Maxim tidak kunjung membuka pintu ruang kerjanya.


Seisi Kantor mulai sepi, jam kerja beberapa Karyawan telah usai. hanya tinggal Cleaning Service dan Security yang masih bekerja.


itupun mereka yang telah berganti Shift.


Maggie melihat Maxim keluar dari ruangan, Maggie hendak menyapa Maxim.


Maggie mengerutkan dahi saat Maxim tidak menoleh sedikitpun padanya,


Maggie menatap dari kejauhan saat mobil Maxim, tidak berhenti. melewati dirinya begitu saja, seakan Maggie benar benar orang asing.


 


🔥🔥🔥


 


Maggie berjalan menuju halte, dia tertatih dengan mengelus kedua lengannya. Maggie merutuki kebodohannya yang tidak membawa Jaket. Cuaca malam ini begitu dingin, Maggie duduk menanti kendaraan. Entah itu Taxi atau Bus yang penting dia bisa kembali ke apartemen.


Setelah Cukup lama, Akhirnya sebuah Taxi melintas dan berhenti di halte tepat Maggie menunggu.


 


🔥🔥🔥


 


Maggie menekan angka yang menjadi kode apartemen Maxim. Maggie mengerutkan dahi, saat apartemen masih dalam keadaan gelap.


Maggie menyalakan senter di ponselnya, lalu mencari Saklar .Maggie menghembuskan napasnya kesal, tanpa perlu mengecek kamar Maxim. Maggie tahu pria yang berstatus Suami nya itu, tidak kembali ke apartemen. entah kemana pria itu selalu pergi malam hari, dan keesokan paginya Maxim akan sudah berada di kantor.


Satu Minggu sudah Maggie menjalani hari hari yang membosankan seperti ini. tanpa bercerita tanpa bersuara, bahkan tawa Maggie ikut teredam,bersama Gelapnya apartemen yang selalu ia nyalakan lampunya sepulangnya dari Boutique.


Maggie bahkan hanya Melihat Maxim saat pria itu keluar dari ruangannya.Seperti saat kejadian di Kantor tadi.Selalu Saja Seperti itu, Maggie bahkan tidak tahu untuk apa dirinya menyandang Status Istri Seorang Maxim Orlando.


 


🔥🔥🔥


 


Maggie selesai berbicara pada penjahitnya, dia akan kembali ke meja kerjanya. namun sang penjahit menghentikan langkahnya,Penjahit itu seolah meminta bantuan pada Maggie. Maggie mengiyakan permintaan penjahit itu, dan berlalu kembali ke meja kerjanya.


Maggie mengecek ponselnya, dia mencoba mengetuk ruangan Maxim. namun tidak ada sahutan apapun, Maggie membuka perlahan pintu ruangan Maxim.


Pantas Saja tidak ada Sahutan, rupanya tidak ada Siapapun. Maggie sedikit berpikir ,Maggie meninggalkan ruangan Maxim setelah meletakan memo untuk Maxim.


 


🔥🔥🔥


 


Maggie melihat beberapa kain dengan mencocokkan sampel yang dia bawa. Maggie terlihat kebingungan, ini untuk pertama kalinya dia terjun langsung memilih Kain.


Setelah Cukup lama berkutat di tengah gundukan Kain, Maggie beralih ke tempat benang yang masih berada dalam Satu Toko yang sama.


Maggie menyeka keringat yang muncul di keningnya, Maggie menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala.


Astaga! baterai ponselnya kehabisan daya.


Maggie tidak tahu saat ini Jam berapa, dia bergegas kembali dengan berjalan Kaki mencoba mencari Taxi.


Maggie bernapas lega saat telah Sampai di apartemen. Maggie menekan kodenya seperti biasa. Maggie hampir berteriak saat dia melihat Maxim tengah duduk di depan televisi.


Maggie menetralkan dirinya yang sempat terkejut, dengan sosok Maxim yang kini ada di Apartemen.


Maggie menutup pintu, dia berjalan melewati Maxim.Kebingungan melandanya, dalam hati dia membatin.


Menyapa, Tidak, Menyapa, Tidak, Menyapa, Tidak, -


Sudahlah!


 


🔥🔥🔥


 


Maggie meneruskan langkahnya, dia melewati Maxim begitu saja. Maxim menatap tidak suka pada Maggie, Maggie yang merasa di perhatikan mencoba berhenti dan sedikit menoleh pada Maxim.


Kedua Manik itu beradu pandang, Maggie segera melepas kontak matanya terlebih dulu.


Apa Kau sudah puas menjajakan tubuhmu, Atau Kau sudah puas memamerkan paras yang Kau miliki pada Semua Pria di luar Sana. Maxim begitu Sarkas mengatakan semua itu. Maggie menatap tidak suka ,akan semua ucapan Maxim tentang dirinya.


Apa Yang Membuatmu Berpikiran Seperti itu tentangku? Maggie Masih mencoba bersikap Sabar menghadapi Maxim.


Maxim menunjukkan jarinya di hadapan Maggie, Sikap Sok polos mu itu. Kau bersikap Seolah Wanita Suci, namun Nyatanya Kau menjajakan tubuhmu di luar sana dengan pakaian yang mempertontonkan bahu seperti itu. Kau pikir aku akan tergoda dengan cara berpakaian mu yang seperti itu.


Kau Salah besar.


Maxim melenggang pergi meninggalkan Maggie yang tengah menatapnya dengan mata berkaca kaca.


Maggie menatap dirinya di cermin, disisi mana yang membuat dirinya nampak seperti Wanita penggoda.


Maggie hanya menyukai model pakaian yang terbuka, dia nyaman mengenakannya. hanya itu, tidak ada maksud dan tujuan tertentu. Sebegitu Tidak sukanya Kah Kak Maxim padaku? .Maggie memejamkan matanya, merasakan kembali air matanya mengalir bahkan lebih deras dari sebelumnya.


Maggie mengusap air mata sialan itu, ini ke sekian Kalinya Maggie menangisi pria itu.


 


🔥🔥🔥


 


Maggie mencoba melupakan perkataan dari mulut pedas Maxim Semalam,tentang penampilannya yang terkesan seperti wanita penggoda.


Maggie mencoba mengenyahkan Luka di hatinya ,Dia tidak mau terlalu larut .ikut terbawa perasaan ,membuat semuanya menjadi rumit. Maggie yang sudah siap pergi Ke Kantor, dikejutkan dengan Suara gaduh yang berasal dari dapur.


Prang....


Maggie keluar dari kamarnya, dia melangkah ke asal Suara. Maggie menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


Astaga!


Apa Kau berniat menghancurkan dapur?


Maggie Menggeleng tidak percaya, saat melihat kondisi dapur yang jauh dari kata rapi.


Maxim menoleh menatap dengan jengah pada Maggie. Ini dapurku, Mau aku hancurkan itu bukan urusanmu!


Baiklah Kau benar,Lagi pula aku hanya menumpang di sini. Jadi terserah Kau Saja!


Maggie hendak kembali ke kamarnya. teriakan Maxim menghentikan langkah Kakinya.


Arghh....


Maxim menutupi wajahnya dengan Tutup penggorengan. Maggie menahan tawanya, saat melihat sisi lain dari Maxim hari ini.


Maxim mengurungkan niatnya untuk memasak, dia meninggalkan Ikan yang masih mentah begitu saja.


Maggie yang bersembunyi di balik pilar, masuk ke dapur menyelesaikan masakan Maxim yang masih setengah jadi.


Hanya dalam 20 menit, Maggie menyelesaikan dan membersihkan dapur itu. Maggie kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, Karena baju yang di pakai sudah basah oleh keringat.


Maggie meraih Jaket, Ia membawa nya untuk berjaga jaga, jika terpaksa harus menunggu lama di Halte seperti waktu itu.


Maxim mendengar Suara pintu utama tertutup. Maxim keluar dia hendak meraih kunci mobil, Maxim mengendus harum makanan. Secara alamiah perut Pria itu bereaksi, Maxim mendadak merasa Lapar.


Maxim melenggangkan kakinya,tangannya terulur membuka tudung saji. Maxim menatap lapar pada ikan yang sudah matang di hadapannya.


Maxim makan dengan begitu lahap, apalagi ikan goreng adalah Salah Satu kesukaannya.


💋💋💋


Mohon dukungan nya untuk cerita ini, Vote dan Komen yah guys.


See You ❤